Sesuai nazarku pada anak-anak kosan (aku kan nenek mereka!? ^-^), kalo’ lulus cum laude (halah, nyombong! ^-^) mau ntraktir nonton di Bioskop. Kata mereka mau nonton film apa aja asal jangan Ayat-ayat Cinta (yaiyalah, mana mungkin tho??, mentang2 AAC mengantarkanku gelar sarjana, aku cukup tau diri ).
Dan, timingnya pas banget, Si Jago Merah produksi Starvision and Hanung Bramantyo Production baru dua hari nongol di 21, jadi kita (berduapuluh satu orang) nonton rame-rame tgl. 14 Nov ’08. Jadi, ya masih hangat-hangatnya ni film.
**************************************************************************************************
Film yang berawal dari ide seorang yang “bermimpi memadamkan api sejak kecil” (siapa coba?! Hayo, ngaku?!? ^-^) ini berkisah tentang empat mahasiswa yang menjadi pemadam kebakaran.
“Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat…” adalah kalimat awal pembuka film ini yang meluncur dari mulut seorang aktivis kampus, Rojak Panggabean, Semester empat, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, asal Medan. Wah, kalimat ini persis sekali seperti ucapan seorang temanku di kampus yang seorang aktivis kampus seperti Rojak ini ^-^
Kemudian, Gito Prawoto asli Sidoarjo yang kuliah di Fakultas Hukum, semester empat, doyan banget dugem. (Eit…eit…yang jadi DJ di adegan ini Mas Iqbal ya?? a.k.a. sang sutradara ni film ^-^)
Dede Rifai adalah mahasiswa semester enam, kuliah di Fakultas Ekonomi, Sunda pisan euy! Demen banget liat cewek-cewek cakep (Ya ndak papa tho, normal itu, lha kalo’ demen cowok baru yang repot! ^-^)
Terakhir, ada Kuncoro Prasetyo si anak Teknik Kimia semester enam. Gayanya njawi bangget!! Phobia ma tempat-tempat sempit. Paling pasrah diantara yang lain, sesuai dengan motto hidup: Gimana ramenya aja!
Yang membuat mereka bersama-sama adalah keempatnya terancam D.O. gara-gara menunggak uang kuliah selama 4 semester berturut-turut. (Agak aneh juga siy, untuk ukuran sebuah universitas swasta, lima juta untuk biaya selama empat semester, di universitas negeri aja lebih dari segitu?)
Semenjak itu, kehidupan mereka mulai berubah. Mulai dari (tiba-tiba) jadi pada miskin mendadak, ngekos super meriah, makan seadanya, dikejar-kejar preman, sampe kisah suka duka mereka jadi petugas pemadam kebakaran. Mereka yang dulunya pecundang, berakhir menjadi pahlawan. (Masih tipikal film-film Indonesia, film yang berakhir Happy Ending)
*************************************************************************************************
Kata-kata pilihan:
Mahasiswa tidak disiplin. Itulah yang dikatakan Kodrat Firasat (Indra Birowo) saat melatih mereka pada pelatihan pemadam kebakaran. Yup, anak-anak zaman sekarang sering kalah sebelum perang!
Anak muda nggak kenal sejarah. Kata-kata itu terucap saat mereka melecehakan Si Jago Merah. Seperti Ir. Soekarno bilang: JAS MERAH! (Apa coba kepanjangannya??)
Pantang pulang sebelum diterima. Rojak tak mau menyerah saat mereka ditolak jadi pemadam kebakaran.
Adegan yang luchuuu:
Saat Rojak dapet telpon dari orang rumah, dan berkata dengan nada mengumpat menggunakan bahasa Batak. Dan…ternyata Si Ibu Dosen yang diomongin bisa fasih bahasa Batak juga. Kyaaa!!! Malangnya nasibmu, Rojak! (Bude ma Nancy ketawanya paling kenceng, secara mereka orang Batak! ^-^)
Waktu kali kedua mereka dapet panggilan, (lagi-lagi) nggak ada kebakaran. Eh, ada nenek2 minta tolong ambilin si Puspus. Dikira kucing, nggak taunya ular gede banget! (Dita nggak kuat nonton adegan ini, dia phobia ular)
Adegan hujan buatan saat Gito PDKT ma Airin, konyol! (jangan-jangan, abis nonton ini ada yang mempraktekkannya, qiqiqiqiqi……)
Pas Airin dianterin ke restoran naik Si Jago Merah. Orang-orang yang ada di restoran langsung pada ngacir, dikira ada kebakaran.
Mereka ke kampus menendarai Si Jago Merah yang bisingnya membuat gaduh seisi kampus. Wah, nggak kebayang klo ada kayak gini beneran! ^-^
Beberapa fakta yang diselipkan dalam ceritanya:
Pemadam kebakaran yang dibutuhkan adalah empat ribu personil, sedangkan yang tersedia hanya dua ribu saja, itu pun enam puluh persennya sudah berumur.
Di Jakarta, tiap kelurahan seharusnya punya mobil pemadam kebakaran, berarti harus ada 265 mobil pemadam kebakaran. Faktanya, hanya ada 150 unit mobil. Berarti kurang berapa coba? (hitung sendiri yak!)
(Film adalah arsip sosial yang menangkap jiwa zaman masyarakat saat itu –Ekky Imanjaya dalam A to Z About Indonesian Film).
Isu hangat yang melanda masyarakat Indonesia juga diselipkan di sini:
Dede Rifai. Hidup berkecukupan, ternyata selama ini ayahnya seorang koruptor. Hidupnya pun berubah drastis karena kejadian tersebut.
Berbeda dengan Gito, mahasiswa asli Sidoarjo menjadi korban dampaknya Lumpur Lapindo yang tak berkesudahan hingga sekarang.
Sally, wanita simpanan seorang pejabat yang tak peduli apa omongan orang.
Kemudian ada Nola, tipe cewek zaman sekarang (smoga aku tidak termasuk di dalamnya); matre, hobi belanja, maunya seneng aja giliran cowoknya susah ditinggal (untung pas trakhir Nola setia pada cowoknya).
Pemainnya:
Desta Club 80’S. Makin sering aja nongol di film. Walaupun di film yang sebelumnya kurang begitu dapet (mungkin karena bukan film berkualitas). Makanya, mestinya Desta lebih selektif memilih peran (kayak peran di sini yang unik)
Ringgo Agus Rahman. Perannya nggak jauh beda ma peran sebelumnya yang melekat: gokil, lucu, dan Sunda abis! Liat muka Ringgo aja udah bikin geli, qiqiqiqi….
Judika. Wah, buat edisi perdana dia berakting di layar lebar, mantab kali! Logat Medannya pas!
Ytonk 80’S. Walaupun porsinya tidak begitu besar dibandingkan tiga tokoh utama lainnya, justru perannya yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam kebakaran besar itu.
Beberapa hal yang mengganggu:
Kisah cinta Gito dan Airin yang penuh “air” dan “api” masih tampak seperti sinetron Indonesia pada umumnya. Selalu bertemu tak sengaja dan berulang-ulang.
Di awal film, Si Jago Merah terlihat tua dan tak terurus. Tapi, saat Si Jago Merah mulai beraksi kok kelihtan kinclong?? Bahkan terlihat seperti mobil pemadam kebakaran yang masih gress..
Adegan pelatih cewek yang terjatuh. Adegan ini tampaknya mengulang adegan Carrisa Puteri di The Tarix Jabrix.
**************************************************************************************************
Dalam setahun, Iqbal Rais, seorang sutradara muda asuhan Hanung Bramantyo ini mampu membuat dua film. Setelah sukses dengan The Tarix Jabrix-nya (yang ditonton sebanyak 903.603 orang –Kompas, 26 Oktober 2008-), Hilman Mutasi dkk beraksi kembali dengan menyajikan tontonan yang segar dan mengelitik, namun tak sekedar tawa sesaat.
Soundtrack film yang punya jargon Pantang Pulang Sebelum Padam ini diisi oleh The Changcuters dengan lagu Sang Penakluk Api (Mereka juga nongol sebentar di tengah cerita ^-^), dan di novelkan oleh Ninit Yunita.
Klo kata yang punya ide cerita (Fajar Nugross) bilang:
Pantang nonton, tanpa bawa pasangan!!
(Deritanya kita-kita yang jomblo doonnnkkk!!)