Feeds:
Tulisan
Komentar

demi bisa nonton The Tarix Jabrix 2,
saya rela pergi dari Metro (Lampung) menuju ke Jatinangor (Jawa Barat, Bandung Coret! :p)

dapet Tiket jam 21.45,
memang sengaja pengen nonton malem,
(walaupun jam segini, ternyata yang nonton rame bo!)

baiklah,
saya tidak akan menceritakan sinopsis ceritanya,
nanti seperti spoiler! :)

iklan bertebaran di mana-mana:
Class Mild:
-di mobil barang yang Desta jadi sopirnya
-di Tiang waktu TJ nongkrong di jalan raya
-di kardus waktu Cacing mau angkut-angkut barang mau ngekos
-di gerobak tukang gorengan yang pake helm
-di jalan
-di adegan TJ cs pas ketemu Bony cs

TEH GELAS:
-Di kosan (sering banget ini)
-Di kantin kampus

ada CIPAGANTI dan HONDA jugaaaaa….

sungguh iklannnya banyak sekali!!
setidaknya ada empat iklan tersebut yang terlihat oleh mata saya

para krunya pada nongol:
liat ni sutradaranya…IQBAL RAIS
(tampak gendut yaaa?!?)..hahaha…(Mbak Mia pintar mengurus suami)

sutradara muda ini (yang juga nikah muda, bentar lagi gendong anak loh! :p),
saya jamin bakal sukses dengan film terbarunya ini,
pasti bakal nembus SATU JUTA PENONTON!!

Dalam setahun (2008) Iqbal Rais,
seorang sutradara muda asuhan Hanung Bramantyo ini mampu membuat dua film.
Setelah sukses dengan The Tarix Jabrix 1-nya (yang ditonton sebanyak 903.603 orang –Kompas, 26 Oktober 2008-),
Hilman Mutasi dkk beraksi kembali dengan menyajikan tontonan yang segar dan mengelitik, namun tak sekedar tawa sesaat.

sungguh saya iri!! masih muda tapi sudah sukses! :)

ada juga RAYMOND PANG..
setelah sukses jadi tukang genteng di SI JAGO MERAH,
kini eksis di TJ 2 berperan menjadi tukang fotokopi
(lihat adegan bertemunya Ciko dan Lili)

eh,
Saiful Jamil a.k.a Hanung Bramantyo nongol lagi!!
(eksis om! :p)

sebagai anak perpus,
saya suka sekali adegan pas Coki dan Lala bertemu pertama kali,
settingnya tuh loh di PERPUSTAKAAN!!
halah-halah…gini nih jiwa pustakawin abiss!! :D

Rumahnya Tralala Trilili = Rumah Airin (Si Jago Merah) ?!?!?
(lihat review Si Jago Merah, klik di sini:
http://www.facebook.com/notes.php?id=1243844964&start=10#/note.php?note_id=40385957692)

kata-kata lucu:
-VEBI (vespa biru)
-what’s up menjadi waslap
-akhirnya dadang juga! (ini mah ada di TJ 1)
-cacingan deh lu!

The Changcuters: kok pada jerawatan ya?!? terlebih Erick
(kalo’ ga salah mulai syutingnya akhir februari)
coba tebak, siapa yang ga dapet pacar di TJ2?!?

Kata-kata bagus ni buat di inget:
-Hidup di Jakarta membuat orang egois
-Hidup di Jakarta terlalu bersaing
-Di Jakarta emang berat, ga manusiawi!
-Persahabatan bukan dalam ingatan, tapi dalam hati

Film yang ditunggu-tunggu di bulan Maret. Kambing Jantan: SEBUAH FILM PELAJAR BODOH. Kok rasanya CINTAKU BERAT DIONGKOS PACARAN ALA LDR lbh cocok ya?!?!

Bukan…bukan..
Bukan bermaksud membandingkan antara buku dan film.

Tapi, rasa kekonyolan di film kurang begitu greget. Padahal di awal film sudah pas. Namun, makin ke belakang, cerita yang dibahas bukan kekonyolan si Kambing. Justru percintaan segitiga antara Kambing, Kebo dan Ine.

Si Kebo yang terlalu posesif. Pacaran mahal ala telepon. Pokoknya lebih fokus ke tema hubungan jarak jauh a.k.a LDR.

Yang bikin lucu justru si Hariyanto yang susah d lafalkan menjadi Harimoto eh malah Ajinomoto, mahasiswa asal Kediri (yang ditunjukkannya lewat kaos yang dikenakannya: I LOVE KEDIRI). Edric Tjandra sangat pas membawakan peran ini. Nggak ngomong aja mukanya dah bikin ketawa. Muka Cina tapi berlogat Jawa.. ;p

Oya, pas di perpustakaan. Buku FINANCE, kan termasuk keuangan. Kok klasifikasinya 975?? Truuuusss..yang nyangkut ke buku lagi nih, ada adegan Kambing ngedudukin buku. Wah, ini mah pelecehan terhadap buku!?! (jjiiiaahhh…mentang-mentang anak perpus..hehe..)

Film ini rasanya lebih condong ke Cinta Brontosaurus (buku keduanya Raditya Dika). Ini menurutku loh….

PS:
Foto-foto ini diambil dari: http://kambingjantanthemovie.com

Perempuan Berkalung Sorban

Niat nonton pas edisi perdana, apa daya di Museum KAA dari pagi mpe sore, malemnya pulang selalu tepar. Alhasil, aku baru nonton hari sabtu (18 jan 09). Ini pun memaksa Resty Padang yg udh nonton duluan. Hhhmmm..lg beruntung, dapet pin ma kartu pos Perempuan Berkalung Sorban ;p

Jarang-jarang nonton malam minggu, males ramenya itu loh! Dan..emang bener rame! Ada sekitar 5 baris adalah rombongan bapak-ibu gitu. Kayaknya ni efek pasca AAC, membangkitkan minat orang datang ke Bioskop. Hal ini jg terjadi wktu nonton Doa Yang Mengancam (di barisan depan banyak bapak-bapak). Kayaknya nama Hanung udah jaminan para orang tua tersebut untuk nonton film ke bioskop.

PBS adalah salah satu dunia pararel perempuan. Narasi panjang perempuan mendapatkan hak-haknya. (PBS: Narasi Panjang Pembebasan Perempuan – Pikiran Rakyat, 14 Jan 09)

Film yang berdurasi 130 menit ini (lama loh bwt ukuran film Indonesia, tp wajar klo di liat jalan ceritanya) mencoba menghadirkan metafora bahwa pesantren bisa lebih buruk dari sebuah penjara.

Dalam salah satu scene. metafora tersebut dijabarkan lewat dialog Annisa kepada sejumlah srantriwati yang kabur dari pesantren. Santriwati ini kabur setelah buku bacaan yang disebut haram oleh pemilik pesantren dibakar.

Ketika di tangan Hanung, novel ini tidak hanya memberdayakan kaum perempuan saja. Tapi Hanung telah memvisualisasikan kisah tersebut sebagai sebuah drama yang memiliki daya pikat.

Namun terlepas dari kualitas filmnya, Hanung sepertinya harus waspada bahwa film ini telah membawanya pada permainan api bisa kapan saja menyulut kontroversi. (PBS:Bola Panas Dari Hanung Bramantyo – Republika, 14 Jan 09).

Ada satu adegan (adegan kaca….), ni mirip ma adegan di AAC (ni efek samping berulang kali nonton AAC gara-gara skripsi, mpe hapal adegan demi adegan! ;p). Oya, pas nikah backsoundnya jg mirip AAC (apa krn music directornya sama ya??). Lho, kok aku jadi banding-bandingin ma AAC?? ga bermaksud kok ;p

Satu lagi, keseringan adegan makan. Kayaknya lebih dari lima kali deh adegan dialog di meja makan.

(Lagi-lagi) Hanung nongol di filmnya sendiri. Jadi tukang pos ;p Sutradara satu ini lumayan sering nongol. Sebelumnya, Hanung pernah nongol di Lentera Merah dan Jomblo. Di The Tarix Jabrix juga pernah. (lho..lho..kok malah ngomongin sutradaranya?!? yg penting kan ga ngegosipin, pisss… ;p)

Yang aku suka adalah diselipkannya tentang pentingnya perpustakaan (halah, mentang-mentang anak perpus! ^-^). Wah, buat junior-juniorku yang belum USMAS, bisa nih buat di jadiin bahan skripsi (ya ampyun…nenek-nenek sindrom skripsi film nih!)

Walaupun skripsiku ttg AAC (yang telah mengantarkanku pd gelar sarjana), walaupun sutradara, penulis skenario dan beberapa kru lainnya sama dengan AAC (ya iyalah, mereka kan satu tim!^-^), setelah nonton ini kuakui aku lebih suka PBS. Lebih berisi. Lebih banyak makna dan pesan yang tersembunyi dalam film ini.

Rectoverso

Aku dah nyidam buku ini udah lama bgt, tiap ke palasari keabisan mulu sih! Akhirnya dpt jg sekitar 2 minggu yg lalu, ini jg nitip Tessa (thks, Tes! ;p)

Udah tau donk lagu MALAIKAT JUGA TAHU?? Msh da yg bingung apa maknanya?? Sipa yg dimaksud malaikat?? Baca aja, dijamin sedih! Ga disangka siapa yg disebut malaikat!?

PELUK jg dalem, aku paling suka kata-kata yg ini:
Hati adlh air. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu.

Dihalaman 29, ada AKU ADA yang dalam versi lagunya dinyanyikan Dee feat Arina Mocca. Aku paling suka lirik ini, ngena bgt!! (halah, curhat colongan!? ;p)
Percayakah kamu? Aku selalu ada. Ke dalam perasaan inilah engkau akan bermuara, ke dalam perasaan inilah engkau akan pulang dan bertemu aku lagi. Dan perasaan itu dapat engkau nikmati sekarang, di dalam hati. Tanpa perlu mati. Sekarang.

11 cerita yang mengena, kudu beli! ;p

Catan Hati Seorang Istri

Buku ini aku beli atas rekomendasi dari dosen pembimbingku waktu msh nyusun skripsi, buat nambah-nambah referensi, katanya. Makanya, buku ini sebenarnya bukan buku baru, yang aku beli pun udah cetakan kedelapan.

Susah jg nyari buku ini, di mana-mana abis. Akhirnya aku menemukan buku ini di toko buku kecil. Sayangnya, pas beli buku ini ada kejadian ga enak, penjualnya nanya2 poligami, bete, mentang2 beberapa buku yg aku beli ttg nikah2, ini kan demi skripsi, bukan ngebet kawin, hugs…

Isinya langsung aku baca habis dalam semalam. Paling suka ma judul SAYA TIDAK INGIN CEMBURU…, ya ampyun yg ini gila bgt!! Ini bisa disebut tragedi spongebob!!

Paling sedih tu yang PEREMPUAN ISTIMEWA DI HATI ABI AGIL. Ini ceritanya aku bgt, persis!! Bedanya, mungkin di akhir cerita. Papaku nikah lagi. Semua ada hikmahnya.

Pokoknya, buku ini bagus buat yang udah berkeluarga atau yang belum nikah juga cocok (seperti aku), biar tahu suka duka berkeluarga ;p

3 DOA 3 CINTA

Berkisah tentang kehidupan tiga anak santri, di Pondok Pesantren Al-Hakim, Bantul Yogyakarta.

Huda, yang diperankan oleh Nicholas Saputra selalu merindukan figur ibunya yang telah meninggalkannya ke pesantren sejak berumur 11 tahun.

Rian adalah seorang santri yang berasal dari Surabaya. Pemeran pendukung terbaik FFI 2008 kmrn dimainkan oleh Yoga Pratama. Terobsesi dengan handycam, hingga berujung pada suatu peristiwa. Tak rela saat ibunya menikah lagi, padahal saat bapaknya belum genap setahun meninggal. Sama nasib kita! Ada adegan saat dia ingin melampiaskan kemarahannya dengan mandi, mendinginkan otak, patut ditiru! ;p

Kemudian ada Syahid (Yoga Bagus) yang awal mulanya berambisi ingin jihad di jalan Allah. Syahid adalah contoh korban rakyat kecil, terdesak saat berurusan dengan uang.

Ada Donna Satelit (Dian Sastro) yang berperan sebagai penyanyi dang duth (sesuai tulisan di film ini) di pasar malem. Sayang, logat jawanya kurang medok (menurutku loh….)

Kata-kata yg kusuka:
1. Kalau gini gimana mau maju?? Kalau mau maju ya baca buku (halah, mentang2 aku anak perpus! ;p)
2. Bagaimanapun ibumu, surga itu tetap di telapak kaki ibu. Kita harus tetap menghormatinya. (hmmm…jd kangen mama!)

Adegan lucu:
1. Saat subuh, ada santri yang ketiduran
2. Mereka bertiga suka mengintip Romonya yg sedang ….
3. Saat Zainal dituduh keluyuran, gara2 tragedi baju merah kotak2 ^-^

Di sini juga ada tentang poligami, sodomi, jihad, dlll.

Tiga doa, tiga cinta.
Mereka punya impian dan harapan yang berbeda…

Maryamah Karpov

mk1

Ayah juara satu seluruh dunia, , arsitek kasih sayang yang tak pernah bicara, selalu mampu mengubah hal-hal sederhana menjadi memesona.

Aku bersumpah akan ke sekolah setinggi-tingginya, ke negeri mana pun, apapun rintangannya, apa pun yang terjadi, demi ayahku.

Aku seperti terbimbing invinsible hand, tangan yang tak tampak

Bukan main dangdut India

Biduan bergoyang, hatiku bimbang

Kemarin sore masih berjaya

Hari ini sehelai sepinggang

Bang Zaitun, adalah bukti nyata akibat poligami

Lihatlah aku, aku anak sungai, bumi, api dan anginmu, pulang, pulang untukmu.

Sakit gila nomor sebelas: ingin jadi jagoan seperti dalam film.

Sakit gila nomor tiga puluh: merasa dirinya seperti Dewa Marduk pujaan kaum sesat Babilonia, bisa menghidupkan orang mati.

Mereka kesatria di tanah nan peduli. Medali harus dikalungkan di leher mereka.

Para penganggur bertempur setiap hari melawan pesimis yang menggerogoti pelan-pelan, waktu yang hamper habis, kesempatan yang kian tipis, saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, dan harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang terlupakan.

Pelajaran moral nomor enam belas, yaitu diperlukan penyelidikan paling tidak tujuh tahun, untuk benar-benar tahu bahwa seorang pria bukan bajingan.

Pelajaran moral nomor tujuh belas: jika anda berencana poligami, jangan memelihara ayam.

Hidup untuk memberi, memesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Cinta buta telah berubah jadi halusinasi, penyakit gila nomor dua puluh dua.

Sakit gila nomor empat puluh satu: keranjingan manggung.

Sakit gila nomor tiga puluh delapan: membiarkan diri ditipu kacamata.

Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal yang baru.

Cinta rupanya dapat menisbat waktu, hingga tak berarti.

Cinta, bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi pasti berbanding lurus dengan gila.

BAB favorit:

1. Mozaik 5: Fine by Me, Kins

Mengingatkan saat sidang skripsi ;p

2. Mozaik 29: Dua Alis Naik tiga kali

Badanku panas dingin. Ada yang tak beres dalam mulutku, di belakang, sebelah kiri. Ketika meludah, merah. Gigi yang tak diundang, tumbuh disitu. Betapa murah hati Tuhan, dalam usia dewasa ini, aku masih diberi gigi. Sayangnya, dapat dikatakan, berdasarkan pendapat awamku, tak ada lagi tempat di gusiku untuk kelebihan gigi itu. Tapi ia ngotot, menyeruak, menabrak gusi yang rapat menudunginya. Tak ada masalah dengan geraham yang gagah perkasa itu, tapi gusinya luka. (Huaa….ini persis pengalamnku kmrn sblm semingu hari-H wisuda, dasyat luar biasa sakitnya!)

Aku emang sengaja nggak mereview tentang bukunya secara detail,

Biar penasaran ^-^

Bgmn dengan kamu??

Si Jago Merah

Sesuai nazarku pada anak-anak kosan (aku kan nenek mereka!? ^-^), kalo’ lulus cum laude (halah, nyombong! ^-^) mau ntraktir nonton di Bioskop. Kata mereka mau nonton film apa aja asal jangan Ayat-ayat Cinta (yaiyalah, mana mungkin tho??, mentang2 AAC mengantarkanku gelar sarjana, aku cukup tau diri ).

Dan, timingnya pas banget, Si Jago Merah produksi Starvision and Hanung Bramantyo Production baru dua hari nongol di 21, jadi kita (berduapuluh satu orang) nonton rame-rame tgl. 14 Nov ’08. Jadi, ya masih hangat-hangatnya ni film.

**************************************************************************************************
Film yang berawal dari ide seorang yang “bermimpi memadamkan api sejak kecil” (siapa coba?! Hayo, ngaku?!? ^-^) ini berkisah tentang empat mahasiswa yang menjadi pemadam kebakaran.

“Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat…” adalah kalimat awal pembuka film ini yang meluncur dari mulut seorang aktivis kampus, Rojak Panggabean, Semester empat, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, asal Medan. Wah, kalimat ini persis sekali seperti ucapan seorang temanku di kampus yang seorang aktivis kampus seperti Rojak ini ^-^

Kemudian, Gito Prawoto asli Sidoarjo yang kuliah di Fakultas Hukum, semester empat, doyan banget dugem. (Eit…eit…yang jadi DJ di adegan ini Mas Iqbal ya?? a.k.a. sang sutradara ni film ^-^)

Dede Rifai adalah mahasiswa semester enam, kuliah di Fakultas Ekonomi, Sunda pisan euy! Demen banget liat cewek-cewek cakep (Ya ndak papa tho, normal itu, lha kalo’ demen cowok baru yang repot! ^-^)

Terakhir, ada Kuncoro Prasetyo si anak Teknik Kimia semester enam. Gayanya njawi bangget!! Phobia ma tempat-tempat sempit. Paling pasrah diantara yang lain, sesuai dengan motto hidup: Gimana ramenya aja!

Yang membuat mereka bersama-sama adalah keempatnya terancam D.O. gara-gara menunggak uang kuliah selama 4 semester berturut-turut. (Agak aneh juga siy, untuk ukuran sebuah universitas swasta, lima juta untuk biaya selama empat semester, di universitas negeri aja lebih dari segitu?)

Semenjak itu, kehidupan mereka mulai berubah. Mulai dari (tiba-tiba) jadi pada miskin mendadak, ngekos super meriah, makan seadanya, dikejar-kejar preman, sampe kisah suka duka mereka jadi petugas pemadam kebakaran. Mereka yang dulunya pecundang, berakhir menjadi pahlawan. (Masih tipikal film-film Indonesia, film yang berakhir Happy Ending)

*************************************************************************************************
Kata-kata pilihan:
 Mahasiswa tidak disiplin. Itulah yang dikatakan Kodrat Firasat (Indra Birowo) saat melatih mereka pada pelatihan pemadam kebakaran. Yup, anak-anak zaman sekarang sering kalah sebelum perang!
 Anak muda nggak kenal sejarah. Kata-kata itu terucap saat mereka melecehakan Si Jago Merah. Seperti Ir. Soekarno bilang: JAS MERAH! (Apa coba kepanjangannya??)
 Pantang pulang sebelum diterima. Rojak tak mau menyerah saat mereka ditolak jadi pemadam kebakaran.

Adegan yang luchuuu:
 Saat Rojak dapet telpon dari orang rumah, dan berkata dengan nada mengumpat menggunakan bahasa Batak. Dan…ternyata Si Ibu Dosen yang diomongin bisa fasih bahasa Batak juga. Kyaaa!!! Malangnya nasibmu, Rojak! (Bude ma Nancy ketawanya paling kenceng, secara mereka orang Batak! ^-^)
 Waktu kali kedua mereka dapet panggilan, (lagi-lagi) nggak ada kebakaran. Eh, ada nenek2 minta tolong ambilin si Puspus. Dikira kucing, nggak taunya ular gede banget! (Dita nggak kuat nonton adegan ini, dia phobia ular)
 Adegan hujan buatan saat Gito PDKT ma Airin, konyol! (jangan-jangan, abis nonton ini ada yang mempraktekkannya, qiqiqiqiqi……)
 Pas Airin dianterin ke restoran naik Si Jago Merah. Orang-orang yang ada di restoran langsung pada ngacir, dikira ada kebakaran.
 Mereka ke kampus menendarai Si Jago Merah yang bisingnya membuat gaduh seisi kampus. Wah, nggak kebayang klo ada kayak gini beneran! ^-^

Beberapa fakta yang diselipkan dalam ceritanya:
 Pemadam kebakaran yang dibutuhkan adalah empat ribu personil, sedangkan yang tersedia hanya dua ribu saja, itu pun enam puluh persennya sudah berumur.
 Di Jakarta, tiap kelurahan seharusnya punya mobil pemadam kebakaran, berarti harus ada 265 mobil pemadam kebakaran. Faktanya, hanya ada 150 unit mobil. Berarti kurang berapa coba? (hitung sendiri yak!)

(Film adalah arsip sosial yang menangkap jiwa zaman masyarakat saat itu –Ekky Imanjaya dalam A to Z About Indonesian Film).
Isu hangat yang melanda masyarakat Indonesia juga diselipkan di sini:
 Dede Rifai. Hidup berkecukupan, ternyata selama ini ayahnya seorang koruptor. Hidupnya pun berubah drastis karena kejadian tersebut.
 Berbeda dengan Gito, mahasiswa asli Sidoarjo menjadi korban dampaknya Lumpur Lapindo yang tak berkesudahan hingga sekarang.
 Sally, wanita simpanan seorang pejabat yang tak peduli apa omongan orang.
 Kemudian ada Nola, tipe cewek zaman sekarang (smoga aku tidak termasuk di dalamnya); matre, hobi belanja, maunya seneng aja giliran cowoknya susah ditinggal (untung pas trakhir Nola setia pada cowoknya).

Pemainnya:
 Desta Club 80’S. Makin sering aja nongol di film. Walaupun di film yang sebelumnya kurang begitu dapet (mungkin karena bukan film berkualitas). Makanya, mestinya Desta lebih selektif memilih peran (kayak peran di sini yang unik)
 Ringgo Agus Rahman. Perannya nggak jauh beda ma peran sebelumnya yang melekat: gokil, lucu, dan Sunda abis! Liat muka Ringgo aja udah bikin geli, qiqiqiqi….
 Judika. Wah, buat edisi perdana dia berakting di layar lebar, mantab kali! Logat Medannya pas!
 Ytonk 80’S. Walaupun porsinya tidak begitu besar dibandingkan tiga tokoh utama lainnya, justru perannya yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam kebakaran besar itu.

Beberapa hal yang mengganggu:
 Kisah cinta Gito dan Airin yang penuh “air” dan “api” masih tampak seperti sinetron Indonesia pada umumnya. Selalu bertemu tak sengaja dan berulang-ulang.
 Di awal film, Si Jago Merah terlihat tua dan tak terurus. Tapi, saat Si Jago Merah mulai beraksi kok kelihtan kinclong?? Bahkan terlihat seperti mobil pemadam kebakaran yang masih gress..
 Adegan pelatih cewek yang terjatuh. Adegan ini tampaknya mengulang adegan Carrisa Puteri di The Tarix Jabrix.

**************************************************************************************************
Dalam setahun, Iqbal Rais, seorang sutradara muda asuhan Hanung Bramantyo ini mampu membuat dua film. Setelah sukses dengan The Tarix Jabrix-nya (yang ditonton sebanyak 903.603 orang –Kompas, 26 Oktober 2008-), Hilman Mutasi dkk beraksi kembali dengan menyajikan tontonan yang segar dan mengelitik, namun tak sekedar tawa sesaat.

Soundtrack film yang punya jargon Pantang Pulang Sebelum Padam ini diisi oleh The Changcuters dengan lagu Sang Penakluk Api (Mereka juga nongol sebentar di tengah cerita ^-^), dan di novelkan oleh Ninit Yunita.

Klo kata yang punya ide cerita (Fajar Nugross) bilang:
Pantang nonton, tanpa bawa pasangan!!
(Deritanya kita-kita yang jomblo doonnnkkk!!)

Aku memang udah rencana mau baca buku ini, niatnya sabtu ato minggu pas ga magang. Ternyata, hari kamis jaringan internetnya eror dari pusat, otomatis ga bisa entri data sama sekali. Gini nih kalo’ ketergantungan ma teknologi.

Akhirnya, daripada bengong, aku putuskan baca buku ini.

**********************************************************************************************************

“Penyakit bangsa kita yang paling parah adalah mentalitas, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah.” (Presiden SBY)

Aku ga menjabarkan buku ini secara mendetail, ntar malah dikira kampanye! ^-^
Cukup bab yang judulnya sama dengan judul buku ini: HARUS BISA!
Dijelaskan bahwa dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya: “Harus Bisa!” Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: “ Kita jangan jadi bangsa yang cengeng dan manja.”
Ada satu hal yang membedakan pemimpin dan pengikut: pemimpin mencintai tantangan, namun pemimpin akan secara alami terpompa adrenalinnya. Semakin besar tantangan, semakin semangat dia.

Karena itulah SBY mengamuk ketika mengunjungi gemap bumi di Simeuleu tahun 2005, dan di Bengkulu tahun 2007, di mana beberapa camat/bupati lari menyelamatkan diri meninggalkan rakyat yang butuh pertolongan. Pada saat yang bersamaan, SBY sangat terkesan dengan Gubernur Sumatera Barat yang turun ke lapangan dan menangani korban gempa dengan professional, penuh persiapan dan dedikasi.

Di halaman 121, ada foto Jambore Pramuka 2006 di Jatinangor, Jawa Barat. Hmmm….ni mengingatkanku pada mama. Dulu aku hampir berantem karena Jambore. Aku pengen banget jadi panitia Jambore Pramuka (kapan lagi ada di Jatinangor?), sementara mama juga bersikukuh pengen ikutan buat delegasi dari Lampung. Nah, permasalahannya siapa yang di rumah kalo dua-duanya ga da yang ngalah?? Mama bilang, dia janji ni trakhir kesempatan ikut Jambore Pramuka. Akhirnya aku yang mengalah walaupun mupeng ngeliat temen-temen kampus pada jadi panitia. Tapi, aku pasti akan menyesal kalo’ waktu itu nggak nurutin permintaan mama. Karena itu memang Jambore terakhirnya, bahkan di tahun yang sama, beberapa bulan dari kepulangannya dari Jambore Pramuka, mama memang benar pergi selama-lamanya.

Di halaman 379, ada foto Presiden SBY bersama para Duta Besar ‘nonton bareng; film Ayat-ayat Cinta.

Di halaman 399, ada foto Setiap ke luar negeri, Presiden SBY selalu mengunjungi toko buku.

Seven Social Sins
(Tujuh Dosa Sosia)

Politics without principle
Wealth without work
Pleasure without conscience
Knowledge without morality
Commerce without humanity
Worship without sacrifice

Quoted by Mahatma Gandhi
In ‘Young India,’ 1924

Alhamdulillah,
Akhirnya Ayat-ayat Cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…
(5 Nov 08)

Akhirnya,
Aku bisa membuktikan bahwa aku bisa!!

Bisa menjadi lulusan pertama dari Lampung,
Bisa menjadi edisi perdana kajian film,
Bisa menjadi yang pertama menggunakan analisis semiotika,
Bisa lulus dengan cum laude,

“Joker adalah sosok kecil yang bodoh dan berbeda dari sosok lainnya. Dia bukan keriting, wajik, hati atau skop. Dia bukan sembilan atau delapan, raja atau pangeran. Dia orang luar. Dia ditempatkan dalam pak yang sama seperti kartu lainnya, tetapi dia bukan termasuk kelompok itu. Oleh karena itu, dia dapat dibuang tanpa ada seorang pun merasa kehilangan.”
(Misteri Soliter – Jostein Gaarder)

Dan aku…
adalah joker itu…

Setiap orang pasti akan bertemu dengan gelar sarjananya,
Hanya waktu saja yang membedakan,
Dan hari ni aku bisa membuktikannya,

Sebuah perjuangan kecil teruntuk malaikatku, mama yang genap dua tahun pergi…

Baru saja berakhir,
Hujan di sore ini,
Menyisakan keajaiban,
Kilauan indahnya pelangi….
(Ipang – Sahabat Kecil)

Tulisan Sebelumnya »