
Dari covernya saja sudah mencuri perhatian. Coba lihat ada lima menara yang terlihat?! Menara apa sajakah?!? ;p
Setting buku ini perpaduan antara Padang-London-Jawa
Dimana kemerdekaan anak yang baru belajar punya cita-cita? Kenapa masa depan harus diatur orang tua? Itulah pemikiran awal Alif sewaktu Amaknya menyuruhnya sekolah di pesantren, dibandingkan ke sekolah negeri.
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggallah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahan, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Setiap orang minang yang saya kenal, pastilah punya jiwa seperti kata-kata di atas. Jiwa merantau. Tak terkecuali Alif si pemeran utama di novel ini. Berasal dari kampung di pinggir Danau Maninjau, Bayur namanya. Maninjau lebih dikenal orang luar karena lumayan populer sebagai kota asal Buya Hamka, ulama sastrawan karismatik yang tersohor.
Perbedaan antara RM yang ada di Lintas Sumatera dan Lintas Jawa adalah derajat pedasnya rendang. Semakin menjauh dari Padang semakin tidak pedas.
Dengan merantau ke tanah Jawa dan belajar di Pondok Madani, dia menemukan teman-teman selain urang awak. Ada Raja Lubis dari Medan yang gemar membaca, hobi utamanya membaca buku, atau tepatnya kamus tebal. Ada Said Jufri yang berasal dari Surabaya, walau berwajah Arab tapi medok suroboyoan. Kemudian ada Dumajid dari Sumenep. dan Terakhir ada Baso dari Goa yang ada di khusus bab RAHASIA BASO. “Hapalan hapalan… hanya hapalan Alquran inilah yang bisa aku berikan untuk membalas kebaikan mereka kepadaku. Aku ingin mereka punya jubah kemuliaan di depan Allah nanti.” begitu prinsip Baso.
Mereka disebut Sahibul Menara. Tepat di samping kanan Masjid Jami, menjulang menara yang dilhami arsitektur gaya Turki yang kokoh, efisien tanpa melupakan keindahan. Menara dipucuki oleh sebuah kubah metal yang mengkilap dan lancip ujungnya. Di leher kubah ini menyembul empat corong pengeras suara yang selalu setia mengabarkan panggilan shalat sampai berkilo-kilo meter jauhnya. Di menara itulah mereka sering berkumpul.
Banyak orang melihat bahwa pondok adalah buat anak yang cacat produksi. Baik karena tidak mampu menmbus sekolah umum dengan baik, atau karena salah gaul dan salah urus. Pondok dijadikan bengkel untuk memperbaiki yang rusak. Bukan dijadikan tempat untuk menyemai bibit unggul. Kehidupan mereka jauh dari anggapan tersebut.
Entah kenapa, orang Minang lebih suka mengirim anaknya sekolah ke Bandung daripada ke kota lain. Seperti ada love affair antara Minangkabau dan Tanah Parahiyangan. Entah kebetulan, di Minang juga ada wilayah yang disebut Pariangan. Tapi alasan praktisnya mungkin karena Bandung cukup dekat dan lebih murah. Yogya murah tapi jauh. Jakarta dekat tapi mahal. Saya juga sepaham dengan pemikiran di atas, ketika saya kuliah di UNPAD, teman sekelas ada lima yang asli Padang, belum lagi ada beberapa yang berdarah minang. Di kosan juga begitu, ada beberapa teman yang keturunan Minang. Bahkan sering ada plesetan UNPAD adalah Universitas Padang! =) Karena seringnya saya bergaul dengan teman-teman Padang, saya juga dikira orang Padang. Ya ampyun, muka dan suara saya apa kurang Jawa ya?! >.<
Di sini juga dibahas tentang suku-suku di Minang. Nama suku utama adalah Koto, Piliang, Bodi dan Chaniago. Lalu keempat suku ini beranak-pinak menjadi puluhan nama suku lain yang sangat variatif.
Beberapa quotes yang bermakna:
- Utlubul ilma walau bisshin, artinya; tuntulah ilmu walaupun ke Negeri Cina
Mari kita didekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin.
-Bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia.
-Beruntunglah kalian sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan kalian ke surga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata dan hati kalian.
-Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju. I'timad ala nafsi, bergantung pada diri sendiri, jangan dengan orang lain. Cukuplah bantuan Tuhan yang menjadi anutanmu.
-Bersamalah yang menjadi semen dari pertemanan yang lekat.
-Going the extra miles. Tidak menyerah dengan kata-kata.
-Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah.
-Bahkan keajaiban-keajaiban bisa diciptakan dengan usaha-usaha tak kunjung menyerah.
-Sayidina Ali pernah bilang, ikatlah ilmu dengan mencatatnya. Proses mencatat itulah yang mematri kosa kata baru di kepala kita.
-Kata ikhlas bagai obat yang, yang merawat hati dan memperkuat raga.
man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.
Ceritanya memang belum selesai, karena buku ini terdiri trilogi. Kita tunggu saja lanjutannya.

