Kalau novel Ayat-ayat Cinta punya Fenomena Ayat-ayat Cinta, maka Laskar Pelangi punya Laskar Pelangi: The Phenomenon.
Belitong pun terkena dampaknya. Bahkan, di Pulau Belitong ucapan selamat datangnya berbunyi: “Selamat Datang di Bumi Laskar Pelangi”. Dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur, Juli 2008, kontingen Babel diberi nama “Laskar Pelangi”.
Apa yang menyebabkan tetralogi Laskar Pelangi begitu meledak di pasaran?
Pertama, teori momentum. Lima tahun terakhir, peta buku best seller kita didominasi buku jenis metro pop. Saat jenis buku dominan itu menurun, kebetulan Laskar Pelangi hadir, menyajikan warna baru.
Kedua, terjadi situasi dimana orang sedang kehilangan pegangan. Butuh role model, kata Andrea. Bener juga siy, dulu da da’i kondang gara-gara poligami jadi merosot tajam popularitasnya, ada remaja yang jadi panutan karena jilbabnya ternyata diketahui ‘gemar’ merokok. Bu Mus datang, menjadi ‘pahlawan’ sesungguhnya yang patut digugu dan ditiru.
Ketiga, subtansi buku. Bila buku Ayat-ayat Cinta cerminan pencarian model bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan yang benar secara Islam, buku Laskar Pelangi cerminan orang yang mencari model bagaimana learning yang benar.
Keempat, faktor media. Walaupun tidak otomatis, tapi tak bisa diabaikan. Bahkan, setelah tampilnya Laskar Pelangi di Kick Andy, turut mendongkrak penjualan bukunya.
Kelima, faktor ‘sektarian’. Tetralogi Laskar Pelangi menggunakan sentimen Islam, dan khususnya Muhammadiyah. Bagaimanapun ada 30 jutaan warga Muhammadiyah. Meski mereka cair, tapi bisa mengkristal dengan sentimen ini.
Keenam, faktor Melayu. Ada pesan orang bijak, “Jangan kau pinjamkan uang pada orang Melayu, karena nanti putus perkara. Tapi kalau kau pinjamkan kata, dia akan berpanjang cerita.” Orang Melayu dikenal pandai bercerita. “Hanya karena saya orang Melayu itulah yang bisa saya jelaskan mengapa saya bisa menulis,” papar Andrea.
Di bab PENDIDIKAN INKLUSI BERMODAL NALURI PEDULI, PENGUAT SEMANGAT GURU MELARAT, HOWARD GARDNER ASAL BELITONG, dan RAHASIA GURU BIKIN SISWA GILA ILMU yang dituliskan secara berurutan ini cocok banget buat yang punya jabatan guru. Menyentuh, memikat dan membangkitkan semangat.
Saat baca bab MELAYU PEMALAS: MITOS ATAU REALITAS?, aku senyum-senyum sendiri (mungkin karena aku sering mengalaminya ^-^). Bukan hanya Melayu yang menerima stereotype buruk, banyak daerah dan suku lain di Nusantara yang juga terlekati citra buruk: kurang beradab, pelit, tukang dandan, tak bisa pegang janji, fanatik kedaerahan dan sebagainya. Walhasil, apa pun citra tentang Melayu, juga tentang Indonesia, pemalas atau kerja keras, yang terpenting adalah bagaimana integritas dan mentalitas kita menyikapi keadaan itu. Itulah salah satu ruh yang disebarkan fenomena Laskar Pelangi.
BERBURU TANDA TANGAN DEMI MAS KAWIN adalah bab yang membuatku terbahak-bahak. Mirip kayak sinetron aja (atau lebih bagus dari sinetron?? ^-^). Ini kisah asmara antara dua anak muda yang bernama Mega Hutagama dan Teguh Oktavianto yang benih cintanya bersemi dalam gerbong sumpek kereta api ekonomi Surabaya-Malang. Benih itu tumbuh berkat siraman inspirasi buku Edensor. Saat Teguh menyatakan ingin menjalin hubungan yang lebih serius, Mega dengan sponta memberi syarat: “Aku mau maharnya buku Edensor yang ada tanda tangannya Andrea Hirata.”
Ada lagi, Novi meminta calon suaminya membelikan novel Maryamah Karpov sebagai mas kawin. Bahkan dia meminta Maryamah Karpov lebih dahulu. Ampyun!
Terakhir, bab NYALI GADIS PONTI JELAJAHI BELITONG adalah yang paling ‘gila’. Sindrom akibat baca tetralogi Laskar Pelangi itulah yang kemungkinan mengantarkan Rika menjalani petualangan keluar pulau pertamanya yang beraneka warna. Mirip aneka warna pelangi. Rika sempat harus mendorong sendiri angkot mogok yang ia tumpangi, memperoleh pelajaran disiplin dari sopir Bus Damri yang selalu tepat waktu, hingga pernah digelandangi mobil polisi gara-gara nekat menaiki tower Telkomsel setinggi 75 meter, di Desa Gantung, demi melihat langsung wajah bolong-bolong daratan Belitong dari atas. Hmm…petualangan yang ‘gila’!! ^-^
Andrea bermimpi bahwa film Laskar Pelangi akan diputar secara nasional setiap Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, sebagaimana film G-30/S, yang ditayangkan rutin setiap tanggal 30 September, pada zaman Orde Baru. Hmm…semoga saja mimpi yang ini jadi kenyataan…amin…

Wawww…. luar biasa! BEli ahhh
Thanx infonya!!
Aku jg Laskar PElangi’s Freak neh
salam kenal,
kita tunggu filmnya!! ^-^
Tadi baru dari Gramedia, niat beli buku ini. Coba baca dikit, tapi keterusan, ampe tentang Rika. Jadi batal belinya
Semua ceritanya “gila”. Luar biasa!
Tabik dari Pontianak.
wah,
kudu wajib beli!!
dijamin nyesel ga beli!
(lha yg jualan sebenernya sp yaa?) ^-^