Aku memang udah rencana mau baca buku ini, niatnya sabtu ato minggu pas ga magang. Ternyata, hari kamis jaringan internetnya eror dari pusat, otomatis ga bisa entri data sama sekali. Gini nih kalo’ ketergantungan ma teknologi.
Akhirnya, daripada bengong, aku putuskan baca buku ini.
**********************************************************************************************************
“Penyakit bangsa kita yang paling parah adalah mentalitas, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah.” (Presiden SBY)
Aku ga menjabarkan buku ini secara mendetail, ntar malah dikira kampanye! ^-^
Cukup bab yang judulnya sama dengan judul buku ini: HARUS BISA!
Dijelaskan bahwa dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya: “Harus Bisa!” Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: “ Kita jangan jadi bangsa yang cengeng dan manja.”
Ada satu hal yang membedakan pemimpin dan pengikut: pemimpin mencintai tantangan, namun pemimpin akan secara alami terpompa adrenalinnya. Semakin besar tantangan, semakin semangat dia.
Karena itulah SBY mengamuk ketika mengunjungi gemap bumi di Simeuleu tahun 2005, dan di Bengkulu tahun 2007, di mana beberapa camat/bupati lari menyelamatkan diri meninggalkan rakyat yang butuh pertolongan. Pada saat yang bersamaan, SBY sangat terkesan dengan Gubernur Sumatera Barat yang turun ke lapangan dan menangani korban gempa dengan professional, penuh persiapan dan dedikasi.
Di halaman 121, ada foto Jambore Pramuka 2006 di Jatinangor, Jawa Barat. Hmmm….ni mengingatkanku pada mama. Dulu aku hampir berantem karena Jambore. Aku pengen banget jadi panitia Jambore Pramuka (kapan lagi ada di Jatinangor?), sementara mama juga bersikukuh pengen ikutan buat delegasi dari Lampung. Nah, permasalahannya siapa yang di rumah kalo dua-duanya ga da yang ngalah?? Mama bilang, dia janji ni trakhir kesempatan ikut Jambore Pramuka. Akhirnya aku yang mengalah walaupun mupeng ngeliat temen-temen kampus pada jadi panitia. Tapi, aku pasti akan menyesal kalo’ waktu itu nggak nurutin permintaan mama. Karena itu memang Jambore terakhirnya, bahkan di tahun yang sama, beberapa bulan dari kepulangannya dari Jambore Pramuka, mama memang benar pergi selama-lamanya.
Di halaman 379, ada foto Presiden SBY bersama para Duta Besar ‘nonton bareng; film Ayat-ayat Cinta.
Di halaman 399, ada foto Setiap ke luar negeri, Presiden SBY selalu mengunjungi toko buku.
Seven Social Sins
(Tujuh Dosa Sosia)
Politics without principle
Wealth without work
Pleasure without conscience
Knowledge without morality
Commerce without humanity
Worship without sacrifice
Quoted by Mahatma Gandhi
In ‘Young India,’ 1924