Berkisah tentang kehidupan tiga anak santri, di Pondok Pesantren Al-Hakim, Bantul Yogyakarta.
Huda, yang diperankan oleh Nicholas Saputra selalu merindukan figur ibunya yang telah meninggalkannya ke pesantren sejak berumur 11 tahun.
Rian adalah seorang santri yang berasal dari Surabaya. Pemeran pendukung terbaik FFI 2008 kmrn dimainkan oleh Yoga Pratama. Terobsesi dengan handycam, hingga berujung pada suatu peristiwa. Tak rela saat ibunya menikah lagi, padahal saat bapaknya belum genap setahun meninggal. Sama nasib kita! Ada adegan saat dia ingin melampiaskan kemarahannya dengan mandi, mendinginkan otak, patut ditiru! ;p
Kemudian ada Syahid (Yoga Bagus) yang awal mulanya berambisi ingin jihad di jalan Allah. Syahid adalah contoh korban rakyat kecil, terdesak saat berurusan dengan uang.
Ada Donna Satelit (Dian Sastro) yang berperan sebagai penyanyi dang duth (sesuai tulisan di film ini) di pasar malem. Sayang, logat jawanya kurang medok (menurutku loh….)
Kata-kata yg kusuka:
1. Kalau gini gimana mau maju?? Kalau mau maju ya baca buku (halah, mentang2 aku anak perpus! ;p)
2. Bagaimanapun ibumu, surga itu tetap di telapak kaki ibu. Kita harus tetap menghormatinya. (hmmm…jd kangen mama!)
Adegan lucu:
1. Saat subuh, ada santri yang ketiduran
2. Mereka bertiga suka mengintip Romonya yg sedang ….
3. Saat Zainal dituduh keluyuran, gara2 tragedi baju merah kotak2 ^-^
Di sini juga ada tentang poligami, sodomi, jihad, dlll.
Tiga doa, tiga cinta.
Mereka punya impian dan harapan yang berbeda…