(REVIEW) Firebelly: Novel Perjalanan Menuju Inti Pemikiran

Sebenarnya saya sangat berharap dapat buku ini dari peri buku, tapi setelah sekian lama terbit, buku ini tak kunjung dibuntelkan buat saya. Untunglah di perpus ada buku ini sebanyak tiga eksemplar, dan saya bisa numpang baca untuk mereview isinya! :p

Kehidupan memiliki banyak tepi yang kasar: tepi yang embawa kita mendekat seperti tebing di atas ngarai yang menarik, tepi yang mendorong kita menjauhi tutup bergerigi dari kaleng logam yang terbuka. Ada ketegangan antara keinginan untuk melihat tepi itu, merasakannya, merabakan tangan kita di atasnya, dan hasrat untuk menarik diri ke tempat yan aman dan nyaman. Kita bisa ragu-ragu dan tidak punya keyakinan. Kita bisa duduk dan merenungkan tentang tindakan kita berikutnya. Kita bisa melengos dari sisi itu dan bertindak seakan-akan sisi itu tidak ada. Namun kita hanya bisa begini sebentar saja; pada akhirnya kita tetap harus memilih. (hal.35)

Kalimat di atas merupakan awal paragrap novel ini, kalimat yang langsung mengena dan memikat. Mengingatkan tulisan khas Paulo Coelho atau Jostein Gaarder yang disetiap tulisannya tak hanya bertutur, tapi juga bermakna dan berfilosofi.

Dalam novel ini, kita dituntun memaknai hidup oleh seekor katak yang tidak sempurna. Firebelly, katak kecil berperut merah-api. Dua kakinya bunting di bagian depan dan belakang. Dengan kondisi tubuh seperti itu, dia menjadi katak pendia, perenung, dan sangat suka mengamati. Di toko yang menjual binatang peliharaan, dia mengisi waktunya bersama katak tua bijak yang menceritakan petualangannya sebagai katak liar dan apa makna menjadi binatang peliharaan.

Kata-kata bijak dalam novel ini:

1. Berharap akan hal-hal yang kemungkinan tidak akan terjadi bisa berbahaya. (hal.80)
2. Kalau kamu menghabiskan terlalu banyak waktu dengan berharap tanpa sebab, mungkin akhirnya kamu akan tergelincir ke dalam ketiadaan harapan, ke dalam hampaan. (hal.81)
3. Berharaplah akan hal-hal yang dapat kamu capai dengan usahau sendiri. (hal.81)
4. Terkadang ketika kita kesulitan untuk menentukan pilihan, kita membutuhkan orang lain untuk membantu kita menentukan pilihan itu. (hal.91)
5. Kehidupan bagaikan kupu-kupu yang berjuang membebaskan dirinya sendiri dari kepompong. (hal.135)
6. Kadang-kadang ketika pertanyaan itu benar-benar sulit, yang penting bukanlah encari jawaban, melainkan encari pertanyaan baru, yang lebih bisa diterima akal. (hal.149)
7. Terkadang kita harus menyakiti diri kita sendiri, sampai kita tidak merasakan apa-apa. Lalu kita bisa menyusun kebali kepingan-kepingan itu dan akhirnya memahami apa makna dari semua itu. (hal.195)
8. Yang kamu perbuat mungkin tampak tidak penting sekarang, tapi itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih serius. (hal.199)
9. Yang kamu perbuat dapat menarikmu ke sebuah jalan yang dari situ kamu akan sangat sulit untuk kembali. Kamu akan mulai tergelincir dan tidak akan menyadarinya sampai kamu mencapai dasarnya. (hal.199)

Judul : Firebelly: Novel Perjalanan Menuju Inti Pemikiran

Penulis : J.C. Michaels

Penerjemah : Rahmani Astuti

Penerbit : Serambi

Terbit : September 2010

One comment on “(REVIEW) Firebelly: Novel Perjalanan Menuju Inti Pemikiran

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s