REVIEW Cinta Di Saku Celana

 

Membahas cinta memang tiada habisnya. Tapi kali ini berbeda. Apa jadinya jika cinta di saku celana?!? Starvision mempersembahkan, Cinta Di Saku Celana, dari cerpen Fajar Nugros Cinta Di Saku Belakang Celana dalam buku I Did’nt Lose My Heart, I Sold It On eBay.

 

Menuangkan novel ke film memang tidaklah mudah, apalagi cerpen menjadi film. Fajar Nugros untuk kali kedua menuangkan cerpen dalam film. Kedua sisi yang digarapnya.

 

Film adalah arsip sosial yang menangkap jiwa pada zaman masyarakat itu. Seorang pakar film, Siegfried Kracauer menyatakan bahwa pada umumnya dapat dilihat dari teknik, isi cerita dan perkembangan film suatu bangsa hanya dapat dipahami jika perkembangan itu dilihat dalam hubungannya dengan latar belakang perkembangan sosial budaya bangsa itu. Kutipan ini pernah saya baca di buku A to Z About Film Indonesia yang ditulis Ekky Imanjaya.

 

Kalau masih kuliah, pengen deh buat skripsi: Representasi Masyarakat Urban dalam Film Cinta di Saku Celana ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

 

Punya cerita cinta di saku celana?!? Kirim pengalamanmu, ada hadiahnya loh!

 

Blognya keren, gak sekedar promosi filmnya, tapi juga berbagai artikel yang dikaitkan dengan isi cerita film ini. Misalnya, ada ulasan asal mula saku celana.

http://filmcintadisakucelana.tumblr.com/

 

 

Trailer Cinta Di Saku Celana:

http://www.youtube.com/watch?v=ndl-jxBrnxA

 

CINTA DI SAKU CELANA menurut versi para seleb:

http://www.youtube.com/watch?v=hfFJO4zHffQ

 

Review bukuku, dimasukin ke tumblr film ini loh.. ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

 

http://filmcintadisakucelana.tumblr.com/post/22785605034/reviewbuku

 

 

Ini cerpen “Kusimpan Cinta Di Saku Belakang Celana”:

 

“Kau tahu ancaman hukuman apa yang menjeratmu anak muda?” tanya perwira Polisi itu, “Kau meledakkan kios laundry!” lanjut sang perwira dengan nada meninggi, “Ledakannya menakutkan banyak orang, menghancurkan satu bangunan,” tambahnya, “Teroris macam apa kamu meledakkan tempat laundry?” “Saya bukan teroris.” Jawabku pendek.  “Lalu apa tujuanmu?” perwira itu balas bertanya.

 

Suatu hari ketika tengah menaiki Trans Jakarta, saya bertemu cinta. Sejak itu, saya selalu menaiki Trans Jakarta pada jam yang sama. Berharap bertemu cinta. Dan ternyata memang ia selalu pergi dan pulang entah dari mana dengan Trans Jakarta pada jam yang sama setiap harinya. Cinta begitu membekas dihati saya. Keinginan untuk memilikinya begitu kuat. Maka setelah keinginan itu tak terbendung, saya pergi ke pasar Tanah Abang.

 

“Tanah Abang?” “Ya.” Jawabku pada si perwira Polisi. “Kenapa kau malah pergi ke Pasar Tanah Abang?” “Makanya diem dulu!”

 

Dan saya pun terdiam ditengah pasar itu. Memperhatikan orang yang berlalu-lalang. Sesak. Peluh-peluh berjatuhan. Transaksi terjadi di segala sudut, tawar-menawar, pilih memilih. Sampai akhirnya semua kesesakkan itu menjadi biasa dimataku hingga aku mampu melihat mana yang tak biasa. Aksi pencopet di sudut pasar.

 

“Kau.” Bisikku pada si pencopet. “Aku membutuhkan bantuanmu.” “Bantuan apa?” tanya si pencopet. “Keahlianmu.” Jawabku. “Apa keahlianku?” si pencopet balik bertanya. “Mencopet.” Ujarku cepat. “Kau menuduhku?” tanya si pencopet lagi, tetap dengan nada suara yang tenang. “Aku bisa berteriak sekarang dan orang-orang akan melihat kemari, sementara dompet itu ada dibalik bajumu.” “Apa yang bisa aku bantu?” “Copetkan untukku. Dan aku akan membayarmu.” “Apa?” “Akan kutunjukkan padamu.” *

 

Maka begitulah, aku dan pencopet itu menaiki Trans Jakarta yang sama dengan yang dinaiki Cinta. Aku menjelaskan pada si Copet apa yang harus dilakukannya dengan jelas hingga ia mengangguk berkali-kali, menghisap rokoknya, dan berkata ‘mudah-mudah’ beberapa kali.

 

“Boleh aku bertanya?” tanya si Copet. “Ada yang belum jelas?” tanyaku khawatir. “Apa itu cinta?” tanya si Copet serius. “Kenapa kau begitu ingin aku mencopetkannya untukmu?” “Cinta itu…” *

 

Bus Trans Jakarta berhenti. Pintu elektriknya dibuka secara manual. Aku menatap satu-persatu pada mereka yang melompat turun dari angkutan massal itu. Tapi sang pencopet tak keliatan. Sial!

 

Sehari-dua hari kemudian, aku menaiki Trans Jakarta berjadwal seperti biasa yang dinaiki Cinta. Tapi Cinta tak lagi kutemui. Tanpa kupikir terlalu panjang, aku sudah tahu jawabannya. Si pencopet mencuri untuk dirinya sendiri.

 

“Lalu?” tanya si perwira Polisi tak sabar menunggu akhir cerita.  “Saya kembali ke Tanah Abang pak, mencari si pencopet.” Jawabku.  “Berhasil kau temukan dia?” tanya si Polisi. “Biasanya, jika seseorang pernah melakukan, ia akan melakukannya lagi,” ujarku, “Maka jika aku pernah menemukan, aku akan menemukannya lagi.” “Jadi kau menemukannya lagi?” tanya si Perwira Polisi. “Tengah mencopet seperti biasa.” Jawabku pendek. “Apa yang kau lakukan?” tanya si Perwira, “Kau membunuhnya?” “Tidak.” Jawabku, “Kali ini aku meneriakinya, COPET!”

 

Dan orang-orang yang berdesakan itu menghentikan langkahnya, wajah mereka memutar kesana kemari dengan mata mencari-cari. Aku tinggal mengangkat tanganku dan menunjuk tepat ke hidung si Copet, tepat ketika sebuah dompet tergenggam di tangan kanannya. Sekejap, orang-orang menghantam si Copet.

 

“Kali ini dia mati?” tanya si Perwira. “Tidak.” Jawabku, “Ia hanya babak belur dan cukup buatku untuk mencengkeram kerah kaos bututnya dan bertanya; dimana cinta? Dimana cinta?!” “Ia menjawab?” “Dengan terbata-bata.” “Apa katanya?” cecar si Perwira Polisi. “Ia bilang, usai mencuri cinta dari pemiliknya, si copet menaruh cinta di saku belakang celana jinsnya.” “Cinta masih ada disaku si Copet?” “Itu dia.” “Kenapa?” “Copet mencuci celana jins itu di tempat laundry.” “Oh.” Desah si Perwira. “Karena itu kau meledakkan tempat laundry itu?” *

 

“Beberapa hari yang lalu, seorang laki-laki mencucikan celana jinsnya disini, Anda ingat?” tanyaku pada si pemilik laundry. “Tiap hari ada laki-laki yang mencucikan celananya disini, secara orientasi seksual saya normal, saya akan lebih membantu jika orang yang Anda cari adalah perempuan.” Jawab si pemilik laundry seraya melipat pakaian yang menumpuk dihadapannya. “Orangnya tinggi, sedikit kurus, ada tato Mickey Mouse dibahunya.” Ujarku. “Maaf saya tak ingat.” Jawab si pemilik laundry, “Tapi saya akan ambilkan celana itu jika Anda membawa kuitansinya.” “Tolonglah saya.” Kataku mengiba. “Apa yang bisa saya bantu?” tanya si pemilik laundry, tanpa menghentikan aktivitasnya. “Saya membutuhkan celana itu, ada sesuatu di saku belakangnya.” “Apa?” “Sesuatu bernama cinta.” “Apa itu cinta?” tanya si pemilik laundry, “Kenapa kau terlihat putus asa?” “Cinta itu…” *

 

“Jadi si pemilik laundry tak mau membantu?” tanya si Perwira. Aku menggeleng. “Ia tetap memintaku menunjukkan kuitansi celana itu.” “Kau tak kembali pada si Copet dan meminta ia menyerahkan kuitansi itu?” Aku mengangguk. “Lalu?” tanya si Perwira. “Kuitansi itu ia simpan di dalam dompet bututnya.” Jawabku, “Dompet itu hilang dicopet ketika si copet dipukuli beramai-ramai.” “Perfect.” Ujar si Perwira Polisi, ia berjalan mondar-mandir di ruangan tempat aku diinterogasi itu. “Si copet akhirnya kecopetan juga.” Kata si Perwira kemudian. “Lalu kau kembali ke tempat laundry itu?” “Begitulah.” Jawabku. “Dengan membawa bom?” tanyanya.  Aku mengangguk. “Apa yang terjadi kemudian aku sudah bisa bayangkan.” Jawab si Perwira.  “Tidak seperti yang Anda bayangkan.” Ujarku. “Saya hanya berniat menakut-nakuti si pemilik laundry,” lanjutku, “Dan mulanya ia memang takut.” “Jadi si pemilik laundry memang berniat memiliki cinta?”

 

Hari itu, datang si Copet mencucikan celananya. Ia menyerahkan beberapa potong kaos butut dan satu stel celana jins belel. Dengan hidung tertutup, si pemilik laundry merogoh saku celana jins itu satu demi satu. Biasanya, ia menemukan sebungkus rokok, selembar uang atau tisyu berisi nomor telepon seseorang. Tapi hari itu, di saku belakang celana jins belel itu, ia menemukan sesuatu…

 

“Cinta?” “Ya, dimana kau menyembunyikannya?” tanyaku, “Serahkan padaku atau kuledakkan tempat ini!” teriakku pada si pemilik laundry, lututnya kulihat mulai bergetar.  “Maaf anak muda,” kata si pemilik laundry, “Seumur hidup, aku menderita, hidup mencuci kotoran banyak manusia, sampai aku menemukan cinta di saku belakang celana itu.” “Aku tak peduli, serahkan padaku atau kuledakkan tempat ini!” seruku. “Tidakkah kau iba padaku?” tanya si pemilik laundry, “Hidupku menjadi berarti setelah memiliki cinta.” “Aku hitung sampai tiga, atau kuledakkan tempat ini?!” “Baiklah.” Kata si pemilik laundry kemudian. Ia merogoh saku belakang celananya, lalu menyerahkan cinta kepadaku. “Milikilah.” Ucapnya. Mataku berbinar menatap cinta yang diserahkan padaku. Mendadak aku merasa bahagia. Aku segera meraih cinta yang disodorkan si pemilik laundry dan menaruhnya disaku belakang celanaku. “Terimakasih.” Jawabku pada si pemilik laundry. Tapi sebelum aku berlalu, ia memanggilku. “Anak muda,” katanya, aku menoleh, “Tanpa cinta itu, hidupku tak berarti, dan aku tak mau sisa hidupku berakhir ditempat laundry ini, bersama pakaian kotor sendirian tanpa cinta.” “Apa yang bisa kubantu?” tanyaku. “Serahkan bom itu padaku.” *

 

“Jadi bapak Perwira Polisi yang terhormat,” kataku kemudian, “Saya tidak meledakkan tempat laundry itu.” lanjutku. “Ini soal hidup dan mati. Saya harus melakukan sesuatu untuk cinta. Cinta bagi saya adalah… ” “YA.” Si Perwira memotong kata-kataku. “Dari ceritamu tadi, aku tahu sekarang apa arti cinta itu.”  “Bapak bisa memahami apa yang saya lakukan?” tanyaku.  “Bisa.” Jawabnya seraya menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggungnya, “Saya bisa memahaminya.” Lanjut si Perwira, tangan kanannya kali ini bergerak ke wajahku dengan cepat, sekilas aku melihat moncong pistol itu. Sekilas, aku melihat percikan api dan suara yang memekakkan itu. DOR!

 

Tubuhku terlempar dari kursi dan terhempas kelantai ruangan. Saat menggelepar, aku masih bisa merasakan saku belakang celanaku dirogoh paksa oleh Perwira Polisi itu. Tanpa cinta, hidupku tak berarti lagi. Ketika cinta berpindah genggam ke tangan si Perwira, aku menghembuskan nafas terakhirku. ***

 

Masih penasaran juga?!? Tonton filmnya mulai 28 Juni 2012 di bioskop-bioskop kesayanganmu. Mudah-mudahan ampe Lampung.. (‾ʃƪ‾)

 

Ingat, kesempatan itu dikejar, bukan untuk ditunggu! #eaaa  ( ‘̀‘́)9 

 

About these ads

2 thoughts on “REVIEW Cinta Di Saku Celana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s