Feeds:
Tulisan
Komentar

Si Jago Merah

Sesuai nazarku pada anak-anak kosan (aku kan nenek mereka!? ^-^), kalo’ lulus cum laude (halah, nyombong! ^-^) mau ntraktir nonton di Bioskop. Kata mereka mau nonton film apa aja asal jangan Ayat-ayat Cinta (yaiyalah, mana mungkin tho??, mentang2 AAC mengantarkanku gelar sarjana, aku cukup tau diri ).

Dan, timingnya pas banget, Si Jago Merah produksi Starvision and Hanung Bramantyo Production baru dua hari nongol di 21, jadi kita (berduapuluh satu orang) nonton rame-rame tgl. 14 Nov ’08. Jadi, ya masih hangat-hangatnya ni film.

**************************************************************************************************
Film yang berawal dari ide seorang yang “bermimpi memadamkan api sejak kecil” (siapa coba?! Hayo, ngaku?!? ^-^) ini berkisah tentang empat mahasiswa yang menjadi pemadam kebakaran.

“Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat…” adalah kalimat awal pembuka film ini yang meluncur dari mulut seorang aktivis kampus, Rojak Panggabean, Semester empat, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, asal Medan. Wah, kalimat ini persis sekali seperti ucapan seorang temanku di kampus yang seorang aktivis kampus seperti Rojak ini ^-^

Kemudian, Gito Prawoto asli Sidoarjo yang kuliah di Fakultas Hukum, semester empat, doyan banget dugem. (Eit…eit…yang jadi DJ di adegan ini Mas Iqbal ya?? a.k.a. sang sutradara ni film ^-^)

Dede Rifai adalah mahasiswa semester enam, kuliah di Fakultas Ekonomi, Sunda pisan euy! Demen banget liat cewek-cewek cakep (Ya ndak papa tho, normal itu, lha kalo’ demen cowok baru yang repot! ^-^)

Terakhir, ada Kuncoro Prasetyo si anak Teknik Kimia semester enam. Gayanya njawi bangget!! Phobia ma tempat-tempat sempit. Paling pasrah diantara yang lain, sesuai dengan motto hidup: Gimana ramenya aja!

Yang membuat mereka bersama-sama adalah keempatnya terancam D.O. gara-gara menunggak uang kuliah selama 4 semester berturut-turut. (Agak aneh juga siy, untuk ukuran sebuah universitas swasta, lima juta untuk biaya selama empat semester, di universitas negeri aja lebih dari segitu?)

Semenjak itu, kehidupan mereka mulai berubah. Mulai dari (tiba-tiba) jadi pada miskin mendadak, ngekos super meriah, makan seadanya, dikejar-kejar preman, sampe kisah suka duka mereka jadi petugas pemadam kebakaran. Mereka yang dulunya pecundang, berakhir menjadi pahlawan. (Masih tipikal film-film Indonesia, film yang berakhir Happy Ending)

*************************************************************************************************
Kata-kata pilihan:
 Mahasiswa tidak disiplin. Itulah yang dikatakan Kodrat Firasat (Indra Birowo) saat melatih mereka pada pelatihan pemadam kebakaran. Yup, anak-anak zaman sekarang sering kalah sebelum perang!
 Anak muda nggak kenal sejarah. Kata-kata itu terucap saat mereka melecehakan Si Jago Merah. Seperti Ir. Soekarno bilang: JAS MERAH! (Apa coba kepanjangannya??)
 Pantang pulang sebelum diterima. Rojak tak mau menyerah saat mereka ditolak jadi pemadam kebakaran.

Adegan yang luchuuu:
 Saat Rojak dapet telpon dari orang rumah, dan berkata dengan nada mengumpat menggunakan bahasa Batak. Dan…ternyata Si Ibu Dosen yang diomongin bisa fasih bahasa Batak juga. Kyaaa!!! Malangnya nasibmu, Rojak! (Bude ma Nancy ketawanya paling kenceng, secara mereka orang Batak! ^-^)
 Waktu kali kedua mereka dapet panggilan, (lagi-lagi) nggak ada kebakaran. Eh, ada nenek2 minta tolong ambilin si Puspus. Dikira kucing, nggak taunya ular gede banget! (Dita nggak kuat nonton adegan ini, dia phobia ular)
 Adegan hujan buatan saat Gito PDKT ma Airin, konyol! (jangan-jangan, abis nonton ini ada yang mempraktekkannya, qiqiqiqiqi……)
 Pas Airin dianterin ke restoran naik Si Jago Merah. Orang-orang yang ada di restoran langsung pada ngacir, dikira ada kebakaran.
 Mereka ke kampus menendarai Si Jago Merah yang bisingnya membuat gaduh seisi kampus. Wah, nggak kebayang klo ada kayak gini beneran! ^-^

Beberapa fakta yang diselipkan dalam ceritanya:
 Pemadam kebakaran yang dibutuhkan adalah empat ribu personil, sedangkan yang tersedia hanya dua ribu saja, itu pun enam puluh persennya sudah berumur.
 Di Jakarta, tiap kelurahan seharusnya punya mobil pemadam kebakaran, berarti harus ada 265 mobil pemadam kebakaran. Faktanya, hanya ada 150 unit mobil. Berarti kurang berapa coba? (hitung sendiri yak!)

(Film adalah arsip sosial yang menangkap jiwa zaman masyarakat saat itu –Ekky Imanjaya dalam A to Z About Indonesian Film).
Isu hangat yang melanda masyarakat Indonesia juga diselipkan di sini:
 Dede Rifai. Hidup berkecukupan, ternyata selama ini ayahnya seorang koruptor. Hidupnya pun berubah drastis karena kejadian tersebut.
 Berbeda dengan Gito, mahasiswa asli Sidoarjo menjadi korban dampaknya Lumpur Lapindo yang tak berkesudahan hingga sekarang.
 Sally, wanita simpanan seorang pejabat yang tak peduli apa omongan orang.
 Kemudian ada Nola, tipe cewek zaman sekarang (smoga aku tidak termasuk di dalamnya); matre, hobi belanja, maunya seneng aja giliran cowoknya susah ditinggal (untung pas trakhir Nola setia pada cowoknya).

Pemainnya:
 Desta Club 80’S. Makin sering aja nongol di film. Walaupun di film yang sebelumnya kurang begitu dapet (mungkin karena bukan film berkualitas). Makanya, mestinya Desta lebih selektif memilih peran (kayak peran di sini yang unik)
 Ringgo Agus Rahman. Perannya nggak jauh beda ma peran sebelumnya yang melekat: gokil, lucu, dan Sunda abis! Liat muka Ringgo aja udah bikin geli, qiqiqiqi….
 Judika. Wah, buat edisi perdana dia berakting di layar lebar, mantab kali! Logat Medannya pas!
 Ytonk 80’S. Walaupun porsinya tidak begitu besar dibandingkan tiga tokoh utama lainnya, justru perannya yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam kebakaran besar itu.

Beberapa hal yang mengganggu:
 Kisah cinta Gito dan Airin yang penuh “air” dan “api” masih tampak seperti sinetron Indonesia pada umumnya. Selalu bertemu tak sengaja dan berulang-ulang.
 Di awal film, Si Jago Merah terlihat tua dan tak terurus. Tapi, saat Si Jago Merah mulai beraksi kok kelihtan kinclong?? Bahkan terlihat seperti mobil pemadam kebakaran yang masih gress..
 Adegan pelatih cewek yang terjatuh. Adegan ini tampaknya mengulang adegan Carrisa Puteri di The Tarix Jabrix.

**************************************************************************************************
Dalam setahun, Iqbal Rais, seorang sutradara muda asuhan Hanung Bramantyo ini mampu membuat dua film. Setelah sukses dengan The Tarix Jabrix-nya (yang ditonton sebanyak 903.603 orang –Kompas, 26 Oktober 2008-), Hilman Mutasi dkk beraksi kembali dengan menyajikan tontonan yang segar dan mengelitik, namun tak sekedar tawa sesaat.

Soundtrack film yang punya jargon Pantang Pulang Sebelum Padam ini diisi oleh The Changcuters dengan lagu Sang Penakluk Api (Mereka juga nongol sebentar di tengah cerita ^-^), dan di novelkan oleh Ninit Yunita.

Klo kata yang punya ide cerita (Fajar Nugross) bilang:
Pantang nonton, tanpa bawa pasangan!!
(Deritanya kita-kita yang jomblo doonnnkkk!!)

Aku memang udah rencana mau baca buku ini, niatnya sabtu ato minggu pas ga magang. Ternyata, hari kamis jaringan internetnya eror dari pusat, otomatis ga bisa entri data sama sekali. Gini nih kalo’ ketergantungan ma teknologi.

Akhirnya, daripada bengong, aku putuskan baca buku ini.

**********************************************************************************************************

“Penyakit bangsa kita yang paling parah adalah mentalitas, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah.” (Presiden SBY)

Aku ga menjabarkan buku ini secara mendetail, ntar malah dikira kampanye! ^-^
Cukup bab yang judulnya sama dengan judul buku ini: HARUS BISA!
Dijelaskan bahwa dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya: “Harus Bisa!” Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: “ Kita jangan jadi bangsa yang cengeng dan manja.”
Ada satu hal yang membedakan pemimpin dan pengikut: pemimpin mencintai tantangan, namun pemimpin akan secara alami terpompa adrenalinnya. Semakin besar tantangan, semakin semangat dia.

Karena itulah SBY mengamuk ketika mengunjungi gemap bumi di Simeuleu tahun 2005, dan di Bengkulu tahun 2007, di mana beberapa camat/bupati lari menyelamatkan diri meninggalkan rakyat yang butuh pertolongan. Pada saat yang bersamaan, SBY sangat terkesan dengan Gubernur Sumatera Barat yang turun ke lapangan dan menangani korban gempa dengan professional, penuh persiapan dan dedikasi.

Di halaman 121, ada foto Jambore Pramuka 2006 di Jatinangor, Jawa Barat. Hmmm….ni mengingatkanku pada mama. Dulu aku hampir berantem karena Jambore. Aku pengen banget jadi panitia Jambore Pramuka (kapan lagi ada di Jatinangor?), sementara mama juga bersikukuh pengen ikutan buat delegasi dari Lampung. Nah, permasalahannya siapa yang di rumah kalo dua-duanya ga da yang ngalah?? Mama bilang, dia janji ni trakhir kesempatan ikut Jambore Pramuka. Akhirnya aku yang mengalah walaupun mupeng ngeliat temen-temen kampus pada jadi panitia. Tapi, aku pasti akan menyesal kalo’ waktu itu nggak nurutin permintaan mama. Karena itu memang Jambore terakhirnya, bahkan di tahun yang sama, beberapa bulan dari kepulangannya dari Jambore Pramuka, mama memang benar pergi selama-lamanya.

Di halaman 379, ada foto Presiden SBY bersama para Duta Besar ‘nonton bareng; film Ayat-ayat Cinta.

Di halaman 399, ada foto Setiap ke luar negeri, Presiden SBY selalu mengunjungi toko buku.

Seven Social Sins
(Tujuh Dosa Sosia)

Politics without principle
Wealth without work
Pleasure without conscience
Knowledge without morality
Commerce without humanity
Worship without sacrifice

Quoted by Mahatma Gandhi
In ‘Young India,’ 1924

Alhamdulillah,
Akhirnya Ayat-ayat Cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…
(5 Nov 08)

Akhirnya,
Aku bisa membuktikan bahwa aku bisa!!

Bisa menjadi lulusan pertama dari Lampung,
Bisa menjadi edisi perdana kajian film,
Bisa menjadi yang pertama menggunakan analisis semiotika,
Bisa lulus dengan cum laude,

“Joker adalah sosok kecil yang bodoh dan berbeda dari sosok lainnya. Dia bukan keriting, wajik, hati atau skop. Dia bukan sembilan atau delapan, raja atau pangeran. Dia orang luar. Dia ditempatkan dalam pak yang sama seperti kartu lainnya, tetapi dia bukan termasuk kelompok itu. Oleh karena itu, dia dapat dibuang tanpa ada seorang pun merasa kehilangan.”
(Misteri Soliter – Jostein Gaarder)

Dan aku…
adalah joker itu…

Setiap orang pasti akan bertemu dengan gelar sarjananya,
Hanya waktu saja yang membedakan,
Dan hari ni aku bisa membuktikannya,

Sebuah perjuangan kecil teruntuk malaikatku, mama yang genap dua tahun pergi…

Baru saja berakhir,
Hujan di sore ini,
Menyisakan keajaiban,
Kilauan indahnya pelangi….
(Ipang – Sahabat Kecil)

(DYM) Doa Yang Mengancam

doa-yang-mengancam

Sekali lagi, Hanung Bramantyo berkarya lewat film religius (yang akhir-akhir ini jadi tren di 2008). Awalnya aku sempet pesimis ma ni film, khawatir kayak film-film religius lainnya yang terkesan menggurui. Makanya, aku ga sabaran pengen nonton secepat mungkin. Pengen cepet-cepet me-reviewnya. Bela-belain balik ke Jatinangor demi nonton hari pertama (tgl. 9 Okt ’08). Ternyata, waktu liat di 21 Jatos, si mbak petugasnya bilang: “Wah, ga tau ya bakal ada apa enggak. Lagian film yang keluar masih baru semua.”.

Wah, gila ‘kali lo! mending DYM-lah yang diputer daripada film-film yang ga jelas itu, umpatku dalam hati sambil melirik poster-poster yang lagi dipajang. Bukannya apa-apa, tu film ga da yang nonton, penonton Indonesia kan sekarang udah cerdas, ga sekedar nonton film yang cuma pamer body!! Duh, pedes, pedes!!

Pas ke BSM, DYM udah ada. Pas di cek, ternyata yang kosong jam 7 malem. Mikir-mikir, pulang ke Jatinangor pasti bisa jam 11an, mana cewek-cewek pula! Sebenarnya aku ga masalah, tapi yang laen pada ga berani resiko plg mlm. Yasud, gagal deh nonton!

Oktober kerjaanku hanya berkutat dengan skripsi, bercinta dengan komputer, mengautiskan diri di kamar bersama tumpukan buku-buku demi ngejar sidang November. Nonton DYM-pun belum tersampaikan. Mungkin Allah menyuruhku konsen ke skripsi baru boleh dibukakan jalan buat nonton DYM ^-^ Alhamdulillah, akhirnya tgl. 24 Okt ‘08 di 21 Jatos ada juga. Aku nonton jam 19.30 WIB, sekalian meregangkan otak yang seharian bimbingan..

**************************************************************************************************
Adegan diawali dengan suasana pasar yang riuh, ricuh, ramai, becek, kotor. Banyak pedagang dan para kuli berbaju lusuh. Bahkan, buat makan pun mereka mengutang. Wah, sangat Indonesia sekali! Sangat berbeda dengan gambaran sinetron-sinetron Indonesia yang sok mewah!?!? Baru di awal cerita, aku terbesit dalam pikiranku: wah bisa jadi judul skripsi, Representasi Kemiskinan dalam Film DYM :)

Madrim (diperankan Aming) adalah tokoh utama yang bekerja keras membanting tulang dengan gaji yang tak seberapa, bahkan kerap ditagih hutang. Keadaan tambah diperparah saat istrinya, Leha (Titi Kamal) yang tak tahan hidup miskin minggat dari rumah. Hingga akhirnya Madrim diusir dari kontrakan yang tak kunjung dibayar.

Madrim pun menumpang tidur di musholla yang dijaga Kadir (Ramzi). Pas adegan Kadir tidur, ada buku kumpulan doa (aku punya ni buku zaman SD, persis bgt!). Setelah menerima nasehat dari Kadir, sahabatnya, akhirnya Madrim pun bekerja siang malam dan berdoa dengan sungguh-sungguh hingga air mata selalu jatuh mengiringi doanya. Bukannya berkah yang di dapat, rejekinya tambah seret, hingga ia jatuh sakit. Bahkan tidak mau makan, biar mati sekalian, kata Madrid.

Kesabarannya habis, Madrim memanjatkan doa dengan nada yang mengancam, “ Aku capek. Aku akan murtad, aku akan berpaling kepada setan!”. Madrim meninggalkan pasar, berjalan tak tentu arah saat hujan deras hingga tersambar petir.

Dia ditemukan warga Desa Cigundul, Banten Selatan, dibopong ke rumah sang kepala desa, diperankan Jojon. Saat Madrim ngelirik, para warga yang menduga dia mati jadi ketakutan (Ini malah membuat penonton terbahak! ^-^) Nah, dari sinilah Madrim menyadari kekuatannya untuk membaca masa lalu orang melalui foto. Foto pertama yang dibacanya adalah foto anak si kepala desa yang telah setahun minggat dari rumah. Mereka pun berkelana mencari si anak yang ditemukan di sebuah mall, sedang disandera seorang bandit. (lagi-lagi) adegan ngocol terjadi, si bapak (Jojon) langsung melemparkan bogemnya pada si bandit. Ternyata si anak lagi syuting, ditandai dengan marahnya sang sutradara. Ada-ada aja! ^-^ (kalo’ di Tarix Jabrix, Hanung jadi cameo. Nah, gantian nih di film ni Iqbal Rais nongol sebagai sutradara, simbiosis mutualisme! ^-^)

Kehidupan Madrim berubah saat polisi (Berliana Febrianti) menawarinya untuk bekerjasama menjaring para penjahat lewat foto-foto mereka. Seperti dilaporkan oleh pembawa acara berita, Valerina Daniel, dalam waktu seminggu pihak kepolisian menjaring 50 penjahat sekaligus. Agak aneh juga siy, segampang itukah polisi-polisi Indonesia? Kalo’ iya, wah polisi-polisi yang abis nonton ini, kayaknya bakal ngikutin ide untuk merekrut orang seperti Madrim! ^-^

Hingga akhirnya seorang penjahat kelas kakap, Tantra (Dedi Sutomo) yang mulanya berniat membunuhnya, malah memeliharanya, bahkan menggajinya 10 juta/bulan. (Sayang, ga dijelaskan apa kerjaannya). Madrim pun kaya mendadak. Uang bagaikan tak berharga. Dia sengaja datang ke pasar untuk memperlihatkan bahwa dia sekarang berduit, didampingi bodyguard dan naik mobil mewah. Utang-utangnya pun dibayar. Anak-anak kecil mengikutinya yang menebar uang ke jalanan. Atas anjuran Kadir, Madrim mengunjungi emak dan membawanya ke Jakarta. Melalui foto, dia bisa membaca masa lalu emaknya, yang ternyata dulunya adalah kupu-kupu malam. Dia syok.

Bukannya bahagia, Madrim kian bertambah stress dengan kemampuannya. Dia pun mengancam Tuhan (lagi). Menyuruh-Nya membiarkan dia agar menjadi seperti orang biasa. Bukannya hilang, malah kekuatannya bertambah. Dia masih punya kekuatan, sayangnya waktu liat foto SBY ga dijelasin dia ngeliat kejadian apa. (Takut disensor kali ya?? ^-^) Dia juga bisa melihat masa depan. Masa depan yang pertama kali terbaca adalah masa depan suster yang merawatnya, yang diperankan Zaskia. Agak ganjil setting di adegan ini. Di awal, terlihat bahwa RS. Seroja adalah RS. Kristen, sebenarnya siy ga masalah. Cuma ga nyambungnya, si suster kan berjibab. Seandainya suster ga berjilbab tentu lebih masuk akal. Memasukkan Zaskia di peran ini jadi terkesan memaksakan (?!?)

Dari hari ke hari, Madrim mandi duit. Tapi dia tak bahagia. Sepi. Hampa. Hingga dia tak sengaja dipertemukan dengan istrinya, untuk terakhir kalinya. Si Leha bunuh diri, loncat dari gedung. Madrid merasa hidupnya tak berarti lagi, dia pun ingin mengakhiri hidupnya seperti istrinya itu. Untunglah ada Kadir yang mencegahnya dan mengajaknya kembali ke jalan-Nya.

Cerita diakhiri dengan kehidupan di pasar, membuka warung makan. Dan menemukan jodohnya (lagi).

**************************************************************************************************
Ada kalimat Kadir yang menggelitik namun sarat makna.
“Mungkin Lo belom ketemu ma si sakinah, si mawadah, si karomah.”
“Emangnya Gue asisten Allah?!”
“Allah lagi sibuk.”
“Semua bisa sakit, yang udah naik haji sepuluh kali juga bisa sakit!”
“Pake’ ketemu setan aja wudhu?! Sekalian aja mandi wajib!”
“Bisnis akhirat, ngajar ngaji.”

Kata-kata Madrim juga:
“Penyakit orang miskin, curigaan!”
“Tuhan bisa kesel, katanya Maha Pengasih?!”
“Jadi perempuan jangan pasrah!”

Kalimat yang paling kusuka:
“Wayang ibarat cermin, seperti melihat kita sendiri”

**************************************************************************************************
Film yang diadaptasi dari cerpen Jujur Prananto yang dimuat di Kompas, 15 April 2001

Diakhir cerita tertulis:
“Dedicated to My Noura…”
Askurifai berpendapat bahwa kehadiran sutradara di lapangan, selain dibekali skenario dan shooting script juga membawa pribadi dan subjektivitasnya (Baksin, 2003:80).


26 September 2008
Laut Biru yang Bikin Haru…
Untuk pertama kalinya, pulang ke Lampung ngeteng a.k.a. putus-putus naek bus empat kali bus plus naek kapal pas siang-siang (biasanya kena malem klo pas di kapal). Akhirnya aku bisa liat laut yang biru dengan jelas!! Senangnyaaa…apalagi pas di kapal dapet view yg bagus liat lautnya. Kereeen!! Aku kebagian di dek kapal atas, pas deket corong suara pemberangkatan kapal, jadi bisa liat-liat orang hilir mudik plus mobil-mobil yang berderet antri masuk kapal.

Dari style-nya, aku menebak penumpang-penumpang kapal sebagian besar adalah pemudik yang akan berlebaran di kampung halamannya (seperti aku!)
Tapiiii…!!! Buanyaaak bgt orang yang nggak puasa!?!? Pada makan cuek bebek (loh, bebek ikut mudik?! ^-^) Apakah pemudik tergolong musafir?? Aku mah, selagi kuat, kenapa tidak melanjutkan puasa. Toh, aku kuat juga nyampe rumah. Entahlah kalo’ orang lain.

Ternyata, terminal di Merak baru, pindahnya lumayan jauh dari kapal. Wah, kasian banget orang-orang yang bawaanya banyak. Untungnya, aku dan Apri pulang sama-sama hanya membawa satu ransel ajaa…!! Klo kayak gini, kuli-kuli barang jadi laku, gpplah buat penghasilan mereka, berbagi rejeki buat orang lain kan juga pahala tho?!

27 September 2008
Seperti Desa Mati
Masih syok dengan keadaan di rumah. Mati lampu, pemadaman total dari sebelum puasa mpe aku pulang blm juga berakhir. Ya ampyun, Metro Utara gelap total, seperti nggak ada kehidupan. Nggak ada lampu yang nyala, nggak bisa denger radio, apalagi suara TV, nggak bisa minum dingin (kulkas nggak kepake), masak nasi pun kembali ke kompor (magic com nganggur), mandi pun musti irit air (masih mending punya sumur, bayangin aja di rumahku yang nggak punya sumur!), solat teraweh ke mushola pun muaaales bgt rasanyaaa…secara gelap gulita gitchuuu…!?!

Papa bilang: jangan ngeluh, bukan hanya kita kok yang gelap-gelapan. Semua tetangga juga nasibnya sama kayak kita. Biar ngerasain susahnya zaman dulu pas nggak ada listrik. Hiks…

29 September 2008
Reuni SMANSA
Gini nih resiko mati lampu, musti irit batere HP. Secara ngecharger-nya aja butuh perjuangan, musti ke rumah ibu (my step mother) yang beda daerah. Gara-gara irit batere HP, aku baru tau dadakan kalo ada reuni SMANSA. Mana baju keriting semua. Bodo ah! (tetanggaku malah pada beli setrika areng, nyetrika kayak gitu butuh tenaga ekstra loh!)

Pas aku cerita ma temen2, bukannya mereka turut berduka, malah diketawain. “Makanya pindah aja dari Metro Utara, Luck”. Argh….!! Terlebih temen SMANSA yang rumahnya di daerah Metro Utara (terdiri dari tiga desa ini) hanya hitungan jari, nggak nyampe sepuluh orang.

30 September 2008
Malam Takbiran yang Mencekam
Aku (dan orang-orang) di sini berharap (setidaknya) malam takbiran kali ini lampu akan menyala walaupun (cuma) sehari sajaaa…
Nyatanya…mungkin Allah sedang menguji kami, di saat yang lain bersuka cita menyambut lebaran, aku (dan orang-orang di sini) harus berupaya lebih ekstra menghadapi malam takbiran dengan cahaya dari lilin yang kian redup termakan dinginnya malam.

Masyarakat marah. Marah pada siapa?? Pada pemerintah?? Tau apa pemerintah penderitaan kami yang dibiarkan terlunta-lunta sebulan lebih?! Bendera-bendera partai berkibar di jalanan saling berlomba unjuk gigi menuju garis pemilu. Buat apa?? Masalah listrik aja nggak becus!! Fuih…

Malam takbiran seharusnya diisi dengan alunan suara-suara takbir yang menggema di masjid-masjid…yang ada masyarakat marah…sudah jengah dengan semua ini…trafo-trafo listrik dibakar massa yang mulai menggila…benar-benar malam takbiran yang mencekam….

30 September?? Bukankah hari ni G/30S/PKI??

1 Oktober 2008
Hujan Turun di Hari Lebaran Pertama
Ini kali kedua lebaran dengan keluarga baru.
Rute lebaran hari pertama juga berbeda mulai dua tahun ini.

Hujan mulai mengguyur Lampung: Metro – Pekalongan – Purbolinggo – Raman Aji – Pakuan Aji – Sukadana – Kota Gajah. Hmmm…tampaknya hujan rata di mana-mana. Dari balik mobil, aku melihat tetesan hujan membasahi tanah dan pohon-pohon yang kehausan. Pohon-pohon singkong disepanjang jalan Sukadana menari-nari saat hujan menghampiri, daun-daun pohon kelapa meliuk-liuk tertiup angin. Tanah merona merah tersapu hujan..

Seperti pelangi, setia….menunggu hujan reda…. (ERK-Desember)

5 Oktober 2008
Gurame Bakar
Sudah menjadi ritual di hari kelima lebaran, aku reunian ma temen-temen SD. Reuni sama dengan gurame bakar. Yup, setiap reunian SD, menu kami adalah gurame bakar plus sambal terasi, mantab deh! Tahun ini yang gendong anak baru Isti, gimana tahun depan ya?? Yang pasti tahun depan, status kami (insyaallah) melepaskan label mahasiswa.

6 Oktober 2008
Tragedi Tai Kucing
Nggak tau kenapa, dari dulu aku tak pernah menyukai binatang, sekalipun binatang itu lucu!! Eits, tapi bukannnya benci loh! Tapi, yang perlu digarisbawahi: aku tak suka memelihara binatang! Males aja joroknya, hueks..!! terlebih lagi mahluk yang bernama K.U.C.I.N.G. ! !

Hari ni aku bersama Mbak Erni lebaran ke rumah Bu Masna (teman mama ngajar di SD). Rumahnya banyak sekali kucing, di mana-mana, di teras, di dapur, bahkan di ruang tamu. Aku sih nggak masalah selagi kucing-kucing itu tak menggangguku. Sehabis itu, aku ke rumah Om Rono, sekalian mau minta potong rambut ma Tante Sures (mumpung gratis! ^-^). Nyampe di rumah Om Rono, aku (dan Mbak Erni) merasa bau-bau kucing di rumah Bu Masna tadi masih mengikuti kami. Ah..mungkin hanya perasaan saja, pikirku. Tapi, kok nggak ilang-ilang ya?? Dari kami di ruang tamu sampe pindah ke ruang belakang, teuteup aja bau-bau kucing itu masih ada. Aku periksa sandal, jangan-jangan nempel di tapak bawah, nggak ada. Kuperiksa motor, siapa tau, nggak ada juga. Akhirnya, kami (pun) membau-baui baju kami masing-masing dari jilbab, baju hingga celana. Nggak ketemu juga sumber bau kucing itu. Ternyataaaa….!!! Tersangkanya adalah tasku!! Hugs…bau tai kucing, kayaknya waktu pas tas itu di taruh di kursi ruang tamu yang kursinya (abis) di pub-in kucing sialan..huhuhu…!! Huaaaa……tai kucing sialan!!

7 Oktober 2008
Melahap Buku
Hari ni terakhir aku di rumah, seharusnya jadi hari terberatku (setiap) meninggalkan rumah. Dan (memang) berat kurasakan. Bayangin, dari kemarin di rumah nggak da listrik, bahkan airpun tak ada. Jadi ya (otomatis) blm mandi dari kemarin, hihi!!

Mau keluar nggak enak dong klo blm mandi, gila aja apa keluar rumah nggak mandi (dari kemarin! ^-^)

Daripada aku berbete2 ria di hari terakhir di rumah, mending kuabiskan waktu untuk baca2, dari jam 8an pagi mpe jam 5an sore, nggak kerasa ada lima buku yang kulahap (hap!)

• Bintang Bunting
Kalo kita nyangka ini cerita seorang tokoh bintang yang bunting, salah banget! Bercerita ttg Audine yang tak bisa membedakan antara mimpi dan nyata, Adam (suami Audine), Mada (peramal…), Raeli (pemilik salon). Awalnya, ceritanya agak membingungkan, terkesan loncat2 kali’ ya?? Kisahnya menarik saat di akhir cerita yang tak disangka-sangka.
“…kalo takut mati itu kayak ketakutan kita kalo lagi nyetir dalam sebuah perjalanan.”
“…takut ga tau jalanlah, takut abis bensinlah, takut ada apa-apa pas nyampe, karena ga ngerasa punya tempat tinggal di tujuan.”
(hal. 79)

• Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka
Bercerita tentang kisah seorang penyiar, Brama dan kehidupan di radio. (tampaknya tak jauh berbeda dengan keseharian sang penulis yang memang bekerja di salah satu radio terkemuka di bandung). (lagi-lagi) kelemahan Valiant Budi yang (juga penulis Bintang Bunting), selalu hambar diawal cerita walaupun sebenarnya ini bukan cerita biasa. Terbukti akhir cerita (yang selalu) jadi sisi menariknya. Tap salut deh buat Valiant Budi yang bercerita ttg tema yang tidak biasa.
“Sempurna bukan berarti ga ada cacat. Kita sebagai manusia terlalu sibuk membuat patokan sempurna, terlalu sibuk membuat pagar-pagar standar, jadinya segala sesuatu yang nggak sesuai dengan patokan dan pagar2 tadi, kita anggap cacat dan di bawah standar. Justru adanya cacatlah yang membuat sesuatu begitu sempurna.” (hal. 73)

• Malaikat Jatuh
Buku ini berisi kumpulan cerpen karya Clara Nag yang terdiri dari 10 cerita; Malaikat Jatuh, Negeri Dadu, Makam, Di Uluwatu, Lelaba, Hutan Sehabis Hujan, Akhir, Barbie, Bengkel Las Bu Ijah, Istri Paling Sempurna. Semuanya bercerita tentang hubungan antara ibu dan anak, bahkan kematian. Setiap cerita dikemas dengan menarik dengan jalan cerita yang tak gampang di tebak.
“Ibu, panggilnya dalam senyap.
Dia merindukan suara lengkingan ibu yang bergetar melewati awan-awan putih.
Dia selalu berpikir guntur adalah perpanjanagn suara ibu dari kejauhan, suara yang sama seperti suara hangat yang berasal dari sudut hatinya yang paling dalam.” (hal.18)

• Kepompong
Karya Indah Darmastuti ini bercerita tentang hubungan dua manusia yang sama-sama mencari arti apa itu hidup dan apa itu cinta, antara Prasasti (Gadis Jakarta yang hidup di Bandung) dan Pramono (Pemuda Solo keturunan keluarga Keraton).
“Setiap manusia adalah ‘ratu’ bagi dirinya sendiri; bisa menjadi rusak atau baik oleh pikiran dan perasaan ketika sedang memimpin diri dalam hidupnya. Tak ada yang bisa memaksa seseorang jadi penolong atau pendosa, pemaaf atau pendendam.”

• Travel Trails. Balik kanan: Barcelona!
Ni buku udah lama, tapi aku baru baca ^-^
Sebenarnya biasa saja, kisah tentang empat sekawan dari sejak zaman mereka ingusan yang berujung pada cinta yang terpendam. Yang bikin menarik adalah kisah empat orang dengan setting yang berbeda-beda yang ditulis keroyokan oleh empat pengarang pula. Ada Farah yang memendam cinta dengan Francis, teman sebangku saat sekolah; Yusuf a.k.a. Ucup yang diceritakan tampak hobi melakukan hal-hal nekat; Retno, gadis ayu yang paling ‘normal’ diantara yang lain; dan Francis, si pianis yang akan menikah dan mengakibatkan mereka berempat yang telah bertahun-tahun tak bertemu kembali bertatap muka.

8 Oktober 2008
(Kembali) Menuju Jatinangor (Lagi)
Hal berat apa yang ada dalam hidupku? Salah satunya adalah balik (lagi) ke Jatinangor. Rasanya buueraaat banget ninggalin rumah! Tapiiii….kalo nggak inget skripsi yang deadlinenya November (semoga!), aku pasti masih betah berlama-lama di rumah (walaupun listrik belum hidup hingga aku pulang). Hmmmm…tampaknya ni (adalah) mudik lebaran terakhirku ke Jatinangor, karena tahun depan aku (insyaallah) bakal di Lampung selama-lamanya..

(Film) Laskar Pelangi

Aku nulis ini masih hangat dalam pikiranku, mumpung belum HILANG INGATAN (Rocket Rockers). Maklumlah aku kan pelupa. Dan juga, mumpung belum mudik ke Lampung, yg mau ke warnet aja jauh plus mahal.

Nah, film yang kutunggu-tunggu ini (bahkan mengalahkan rencana mudikku!), emang ga salah sebagai film yang dinanti bulan ini walaupun banyak banget film-film Indonesia yang rilis (dan semuanya pun digilas oleh LP!).

Padahal aku dah cemas, jangan-jangan ni film ga da di 21 Jatos. Soalnya posternya ga dipajang, masih ditulisan coming soon. Yang aku bikin khawatir juga, penghuni Jatinangor yang dominannya adalah mahasiswa, hari gini pasti udah mudik. Duh, males banget klo ke Bandung, pasti bakal ga kebagian! Ternyata eh ternyata, pas ke bioskop, udah rame. Kalo nonton AAC, saingannya ma ibu-ibu, nonton LP saingannya ma anak-anak. Berasa nonton Doraemon liburan seru! ^-^

Btw, aku ga akan membandingkan novel ma filmnya. Riri Reza juga bilang: novel dan film adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama seni bertutur dengan kata, sedangkan film adalah seni bertutur dengan kata dan gambar. Makanya, buat yang nonton LP, jangan lagi menyamakan antara novel dan film (ini pernah jadi usulan skripsiku loh bwt AAC, tapi ga jadi! Malah ngangkat poligaminya! ^-^)
**************************************************************************************************
Cerita pun dimulai, diawali cerita dari sudut pandang Ikal dewasa (Lukman Sardi) ke masa kanak-kanak..

Untuk pertama kalinya Ikal sekolah dan menggunakan sepatu pink (yang nantinya buat pengganjal meja di rumahnya). Lintang datang pertama kali ke sekolah, dan bertemu Ibu Mus yang terharu melihatnya.

Penampilan pertama Mathias Muchus sebagai Said Seman a.k.a. ayahnya Ikal, tampak klimis. Padahal aku membayangkannya, sosok lugu namun tegas. Terlebih lagi saat Ikal pertama kali sekolah, ayah Ikal tampak lebih menclang dibandingkan dengan bapak-bapak lainnya yang mengantarkan anaknya untuk pertama kali sekolah.

Ikal, Lintang, Mahar lebih ditonjolkan dibandingkan tokoh LP yang lain. Harun juga mendapatkan porsi yang lumayan. Dia muncul pertama kali saat jadi penyelamat untuk kegenapan sepuluh siswa. Setiap adegan, Harun selalu tampil dengan kaos kaki warna-warni hingga saat Ikal berimajinasi bertemu A Ling (berbaju merah) justru yang terlihat adalah kaos kaki Harun (yang juga merah!)

Si Borek a.k.a Samson yang mempraktekkan “penyakit gila no.5” ini mendapat porsi saat mendoktrin Ikal untuk praktek sedot dada dengan bola tennis agar tampak kekar. Sayang, cuma sekilas. Tapi cukup bikin ketawa loh! ^-^

Trapani, yang menderita mother copmplex tak ditampilkan. Mungkin agak berat kali yaa…Sahara juga tampil dengan jilbab kumalnya, dan selalu paling religius.

Ikal yang diperankan Zulfany (12 tahun) sangat cocok. Berambut Ikal dan tampak menjiwai. Yang paling ngocol saat ia pertama kali bertemu A Ling (seutuhnya). Berambut klimis (menggunakan minyak rambut ayahnya) dan bergaya ala Rhoma Irama (seperti poster). Dan selalu bersemangat membeli kapur tulis! ^-^

Adegan yang paling ditunggu-tunggu tentunya saat Ikal bertemu pertama kalinya dengan tangan-tangan pemberi sekotak kapur alias A Ling, diperankan Levina (13 tahun). Hingga akhirnya saat Ikal membeli kapur untuk kesekian kalinya, dia tak mendapati tangan A Ling kembali. Adegan di toko Sinar Harapan menurutku agak lebay. Pertama kali liat tangan A Ling, tiba2 adegan slow motion dan ada bunga. Dipertemuan keduanya, lebih lebay lagi. Saat Ikal menatap mata A ling, tiba2 adegan slow motion (lagi) dan kali ni dipenuhi banyak bunga. Mungkin ni sekedar buat penonton terbahak (termasuk aku! ^-^). Nah, saat Ikal tahu A Ling pergi ke Jakarta, barang-barang yang ada di toko Sinar Harapan runtuh satu per satu. Ini mungkin menggambarkan runtuhnya hati Ikal yang tak bisa bertemu A Ling kembali.

Lintang, yang selalu menaiki sepeda menantang matahari, harus menunggu buaya yang menyeberang hingga ia hampir telat saat cerdas cermat. Peran yang dimainkan Ferdian (13 tahun ini) tampak menjiwai peran Lintang. Matanya sangat berbicara.

Sembilan anggota LP itu hanya berdiri, tanpa suara, tanpa kata. Ibu Muslimah menahan air mata sekuat tenaga. Mereka semua memandang sosok Lintang yang gosong oleh matahari. Tak ampun lagi, Ikal berlari dan berlari mengejar Lintang yang semakin menjauh. Tak ada yang bisa menangkis tragedi yang menimpa Lintang.

Kejadian yang membuatku menyentuh adalah saat Lintang tak lagi bisa sekolah. Adegan Lintang menggendong adiknya, dan memasak air. Deg…itu sedih banget! Sampai aku meneteskan air mata. Ini mengingatkanku saat kehilangan mama, aku juga begitu. Bedanya, aku lebih beruntung dari Lintang dan bisa melanjukan pendidikan sampai saat ini.

Mahar, adalah tokoh LP yang ditonjolkan selain Ikal dan Lintang. Diperankan Verrys Yamarno (12 tahun) yang menurutku paling cakep ini (dibanding dengan tokoh lain) sungguh lucu. Dengan radio andalannya, dia selalu menghibur Ikal saat dirundung asmara. Contohnya saja saat menyanyi Bunga Seroja diiringi tarian tokoh LP yang lain, tampak melayu sekali! Dan Mahar tak lupa dengan kata-kata andalannya: Boy!

Adegan Mahar yang paling menggelitik (dan cukup panjang) saat diamanahi jadi ketua karnaval. Demi mendapat inspirasi, Mahar kegilaan sendiri. Nyanyi-nyanyi sendiri. Loncat ke sana- ke sini. Hingga mendapat ide saat di atas pohon. Di karnaval (pasti) adegan yang ditunggu-tunggu penonton. Sangat mengocok perut, apalagi saat mereka nari kesetanan (kegatelan) akibat ulah jail Mahar, demi mendapatkan piala.

Pasca Pak Harfan (Ikranagara) meninggal juga mengaduk emosi. Saat Bu Mus kehilangan harapan, dan tak mengajar selama lima hari. Teman seperjuangannya pun, Pak Bakrie telah pindah ke SD PN. Ada juga Pak Mahmud (Tora Sudiro) yang membujuknya (berulang kali) untuk pindah ke SD N. Datanglah Pak Zulkarnaen, pembangkit semangat Bu Mus untuk mengajar kembali. Apalagi dia terenyuh saat mendapati kelasnya terisi semua kesepuluh muridnya, dan dia ajar oleh si jenius Lintang.

Cerita diakhiri Ikal (yang telah dewasa) kembali ke tanah kelahirannya. Dan bertemu Lintang (yang diperankan Ariyo Bayu yang tampak terlalu cakap untuk memerankan Lintang, keingetnya pas dia main jadi kakaknya Callista di The Trix Jabrix). Lintang yang tak mau anak-anaknya bernasib (sama) sepertinya. Di akhir cerita, Lintang berpesan pada anaknya: belajar yang rajin dan (kelak) bisa seperti Ikal. Sebuah selipan pesan moral yang bagus sekali.

**************************************************************************************************

Ceritanya memang berbeda dari novelnya. tapi, sekali lagi: jangan membandingkan film dan novelnya.

Pendapat Krevolin, seorang penulis skenario Hollywood dan pakar dari UCLA, bahwa ketika seorang penulis skenario mengadaptasi sebuah novel, maka ia tak mempunyai hutang terhadap karya asli. Tugas seorang penulis skenario ketika mengadaptasi suatu karya ke dalam skenario film bukanlah mempertahankan sebanyak mungkin kemiripan dengan cerita asli, tapi membuat pilihan terbaik dari materi untuk menghasilkan skenario sebaik mungkin. Dengan demikian penulis skenario berhak mengambil keputusan lain berdasarkan interpretasinya.
Dan (untuk kesekian kalinya) Salman Aristo telah membuktikannya!!

Salut juga buat Riri Reza dan Mira Lesmana yang mau mengangkat novel menjadi filmnya, mengutip kata-kata di Majalah Tempo (September 2008): Melukis Pelangi di Layar Perak.

yang pasti, ga akan rugi nonton film ini.
TOP dah!

Buku ini aku beli waktu pas ada bedah bukunya di Gramedia cab. Merdeka. Dari dua puluh satu cerita, semuanya berisi kisah andy masa lalu dan di akhir cerita setiap judulnya dikaitan dengan tema Kick Andy. Isinya dibawakan seperti kita menulis catatan harian, ringan dan mengalir.

BUKU. ini judul favoritku. Diceritakan bahwa Andy sangat menggilai buku. “Suatu ketika nanti, jika mampu, saya akan membeli buku sebanyak-banyaknya”, Ujarnya. Akupun juga begitu, walaupun sering dikatakan sinobis oleh seorang teman, aku menutup telinga. Bukannya tanpa alasan, aku sering gelap mata membeli buku, prinsipku, mumpung di Bandung, coba kalau balik ke Lampung. Cari buku susahnya minta ampun!

Saat membaca judul KANKER, cerita ini mengingatkanku pada mama yg telah tiada. Ceritanya mirip dengan Kakaknya Andy. Mirip, bahkan persis. Tentang jiwa yang digerogoti kanker payudara, yang berujung pada kematian. Pesan yang bisa di ambil dari kisah ini, kita tidak boleh menyerah walaupun kematian sudah di ujung mata..

Cerita tentang GURU, aku juga pernah mengalaminya. Pas SMP kelas 1, guru Fisika menyuruh aku dan teman-teman untuk les dengannya. Ternyata, setiap ulangan, anak-anak yang les dengannya, selalu di beri bocoran soal ulangan sebelum hari-H. Kejadian ini terulang saat kelas 2 SMA. Guru Matematikaku, yang juga wali kelasku ini kelakuannya mirip guru Fisikaku SMP, dengan skandal yang sama; menganakemaskan murid-murid yang les dengannya. Mungkin itulah salah satu faktor aku kerap mengatakan benci IPA. Aku menceritakan kejadian ini pada mama, yang juga guru SD selama lebih dari 25 tahun. Dia pernah bilang: “Jangan lihat labelnya sebagai guru, lihat dia sebagai manusia biasa.”. Kata-kata itu terekam dalam ingatanku. Memandang orang jangan melihat dia sebagai apa, tapi mengapa dia seperti itu. Dan..Andy ternyata berpikiran tak jauh berbeda: Sekarang jika ada guru yang melakukan ‘kesalahan’, saya tidak semata-mata melihat apa yang mereka lakukan, tetapi mencoba memahami mengapa mereka melakukannya.

Yang menyentuh, adalah bagian cerita TALI CINTA. Lagi-lagi, yang dialami Andy, aku juga pernah mengalaminya. Di bagian ini, Andy berontak dan memusuhi ibunya sampai bertahun-tahun lamanya akibat cerita masa lalu, yang semuanya karena cinta. Aku merasakan ini setahun kebelakang, ketika papa menikah lagi, aku merasa beliau mengingkari janjinya dengan mama. Aku merasa saat beliau memutuskan menikah lagi, berarti melupakan mama. Aku juga pernah bertanya padanya: Apakah bila di ruang hati ada yang baru, akan melupakan ruang-ruang yang lama?? Apakah sudah tidak berarti lagi ruang-ruang yang lain, meskipun ruang-ruang itu kecil?? Papa menjawab, “Di dalam hati tidak hanya terdapat satu ruang, ruang yang sudah terisi tidak mungkin bisa digantikan yang baru, ruang akan tetap ada dan selalu ada.” Hmm…ternyata hidup tak semudah yang kita bayangkan. Semuanya butuh proses untuk memahami dan menerimanya.

KATA HATI juga bagus. Ceritanya mungkin terdengar egois. Yup, bagaimana tidak terdengar egois bila kita sangat berpendirian keras pada prinsip kita, sekalipun orang menyepelekan kita. Andy menulis di akhir cerita ini: tidak seorang pun berhak menentukan masa depan kita selain diri kita sendiri. Ikutilah kata hatimu.

Aku nilai lima bintang buat buku ini, kudu wajib beli karena banyak memuat pesan untuk semangat menjalani hidup.

Mudik, Skripsi dan Rumah

Rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak suka, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah & semesta sebagai dunianya & tiada tempat lain ke mana ia bs pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya. (Seno Gumiro Ajidarma-”Aku kesepian, sayang”)

Jam sudah menunjukkan pukul 00.47 WIB, jemariku masih menari di atas keyboard hitam. Epson C90 pun masih bising mengeluarkan lembar demi lembar skripsiku. Kadang, aku jadi nggak enak ma anak-anak kosan yang tertidur lelap, terganggu oleh teriakan printer ini. Maafkan aku teman…

Daripada aku bengong nungguin hasil print-an yang lumayan lama (buanyak!), mending aku nulis-nulis (makanya hasilnya nggak jelas gini?!)

Hmmm…lima hari lagi aku mudik. Lima hari lagi?? Bagiku itu serasa cepat. Aku sampai bingung membagi waktu antara magang, ngerjain skripsi, bimbingan. Pokoknya aku pulang BAB 3 harus udah beres, biar lebaran nggak kepikiran! :(

“Kau tak dapat menghindari waktu. Kau dapat menghindari para Raja dan Kaisar dan mungkin Tuhan, tapi kau tak dapat menghindari sang waktu. Waktu mengikuti setiap langkah kita, karena segala sesuatu di luar kita terbenam dalam kesementaraan ini.” (Misteri Soliter-Jostein Gaarder)

Huaa….rasanya tidur adalah paling indah yang kudambakan saat ini. Saur nanti pun rasanya berat banget! Belum cucian plus setrikaan menumpuk. Semuanya harus selesai sebelum pulang. Hugs…

Nggak sabar pengen pulang ke rumah; nggak sabar pengen ngerasain selimut tweety kesayangan yang biasanya kalo’ aku nggak di rumah cuma di simpen di lemari; nggak sabar makan gurame bakar, terong bakar (mantab!), sambel terasi, sayur asem (coba ada mama…)

Biasanya dua minggu sebelum lebaran aku pasti udah pulang. Udah heboh duluan mudik, sekalipun ada UTS, tetep aja bela-belain pulang. Tapi, lebaran kali ini beda. Kenapa? Karena ini mungkin tahun kelimaku puasa di Jatinangor. Jadi rasanya nggak seheboh dulu. Mungkin juga karena mikirin skripsi yang nggak beres-beres. Yang paling mempengaruhi sih karena mau nonton Laskar Pelangi dulu. Daripada nangis darah ketinggalan nonton!? (ini mah lebay! J). Oh sebegitu addictnya aku ma Laskar Pelangi?? Entahlah…

Memang, sejauh-jauhnya kita merantau. Suatu hari kita pasti ingat rumah. Teman-teman Padang’ers udah pada balik ke rumah (daripada kena tiket yang mencekik!). Si bude pun udah berangkat ke Medan (Edan, pulang balik 3 juta bo!), Ivo pun nggak pernah pulang ke Kalimantan. Seharusnya aku bersyukur tiap lebaran masih bisa pulang, cuma nyebrang doang, nyampek deh! Lebaran kali ini aku pulang tanpa naik Kramat Jati ato Pahala Kencana, aku mencoba naik putus-putus a.k.a. mengeteng. Bisa liat laut nih!

“Segala rasa dan hal-hal yang kita tahan dan coba lupakan, semakin kita jauhkan, akan semakin dekat di hati. Jika kita berada di pengasingan, kita akan selalu mengenang setiap serpihan memori dari tanah kelahiran kita.” (Eleven Minutes-Paulo Coelho)

Hah…udah jam 01.30 aja, gila ni printer lama juga kerjanya. Mungkin juga karena banyak banget ‘kali yaa?? 104 halaman nih!

Udah nggak loading nih…

Mataku udah lima watt…

Pernah TEROBSESI (Seperti yang dinyanyikan Rocket Rockers) pada seseorang?? Seseorang yang terobsesi pada sesuatu yang diinginkannya, akan melakukan apapun di luar kesadarannya. Bahkan bunuh diri pun dia lakukan demi mewujudkan obsesinya itu.

Cerita ini terinspirasi dari cerita-cerita Bunuh Diri Massal 2008,

Dan..semoga Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008 tidak mengurungkan niatnya untuk bunuh diri setelah membaca ini…. ^-^

***

Sekitar lima tahun yang lalu, tetanggaku yang namanya Marjinem meninggal akibat bunuh diri.

Dia gila, bahkan ada anaknya yang nurun sifat gilanya (emang gila bisa nurun?). Ini bukan bunuh diri pertama kalinya bagi dia. Ini adalah yang kedua kalinya.

Yang pertama, dia mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur rumahnya, beruntung tetangga sekitar sempat menolongnya. Sempat di rawat di rumah sakit beberapa minggu.

Yang kedua, (sepertinya dia sudah sangat mempersiapkan dengan matang agar tak gagal lagi) dia bunuh diri dengan cara menggantungkan diri di pohon plus memotong urat nadinya dengan sebilah pisau, bunuh diri kali ini berhasil sukses!

Dia ditemukan warga yang sedang ronda. Yang fantastisnya, waktu itu pas malam jum’at kliwon. Lengkap sudah keseraman yang terjadi!

***

Ada pohon bambu di depan rumah temanku semasa SMA, Rinjani namanya. Aku senang main ke rumahnya. Selain karena rumahnya di daerah pedesaan yang jauh dari bising kendaraan bermotor, Rinjani hanya tinggal bersama neneknya, jadi kami bisa main sepuasnya tanpa ada orangtuanya.

Hmm…pohon bambu?! Agak ganjil memang, pohon bambu itu cuma satu, di ujung halaman rumahnya. Pohon bambu kelihatan sudah berumur.

Aku pikir, dulu rumah Rinjani ini bekas pekarangan bambu, jadi wajar ada bambu yang tersisa. Tapi, mengapa hanya tersisa satu? Sengaja atau tak disengajakah ini? Setiap aku menanyakan ini pada Rinjani, dia selalu tak mau menjawab.

Akhirnya, pada suatu hari (saking penasarannya) aku bertanya langsung pada neneknya Rinjani. Dan, apa jawaban yang kudapatkan?? Neneknya bilang, dulu di pohon bambu itu ada sepasang kekasih yang gantung diri akibat hubungannya tak direstui.

Hah?? Makin penasaran saja aku. Siapakah sepasang kekasih itu? Aku pernah menduga, apakah mereka orang tua Rinjani??

Aku berpikr, mungkin pasangan bunuh diri ini mengira bahwa bila mereka tidak ditakdirkan di dunia, maka di alam baka mereka bisa bersama…

Entahlah, teka-teki itu belum terjawab hingga sekarang….

***

Sekitar dua minggu lebih aku mengikuti perkembangan Bunuh Diri Massal 2008 di internet. Dan…ternyata banyak yang mendaftarkan diri untuk bunuh diri. Bunuh diri dengan cara yang berbeda, dengan caranya masing-masing.

Dahsyat, negara ini banyak warganya yang ingin mengakhiri hidupnya!!

Sekarang,

19 September 2008,

Berarti tinggal tiga hari lagi menuju 22 September 2008,

Sayangnya, Bunuh Diri Massal hanya diperuntukkan bagi laki-laki.

Kenapa?

Lha, emangnya yang pengen bunuh diri cuma laki-laki??

Menurutku, justru lebih banyak perempuan yang punya alasan untuk bunuh diri

Seperti aku,

Yang ingin mengikuti ritual pemberhentian detak jantung itu,

Kalau aku mesti setia pada seseorang atau sesuatu, pertama-tama aku harus setia pada diriku sendiri dahulu. Kalau aku hendak mencari cinta sejati, pertama-tama aku harus mengeluarkan cinta-cinta yang biasa-biasa saja dalam diriku.

(Eleven Minutes – Paulo Coelho)

Mengapa??

Aku ingin bunuh diri agar bisa ketemu Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008 yang juga bunuh diri dalam acara itu,

Seperti pasangan kekasih bunuh diri di pohon bambu itu,

aku (berharap) bisa bertemu jodohku di alam baka, yaitu Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008

Dengan apa??

Yang pasti aku tidak menggunakan satu cara,

khawatir gagal seperti tetanggaku, Marjinem

Aku akan meminum obat nyamuk plus pisau yang tajam untuk menyayat urat nadiku…

Detik-detik menuju 22 September 2008…

Detik-detik menuju Bunuh Diri Massal…

Dan Takkan Pernah Menyesal, lagu Sheila On 7 mendengung di telingaku….

Karena aku (berharap) bertemu jodohku di alam baka, Ketua Panitia Bunuh Diri Massal.

NB:

Aneh sekali,

saat mau posting tulisan ini,

Jaringan internet lambat sekali,

Berkali-kali memposting gagal,

Apakah Tuhan tahu aku akan bunuh diri??

ksh komen d cerpenku ya,
biar lolos Bunuh Diri Massal 2008 ^-^

Di MPku:

http://luckty.multiply.com/journal/item/138/CERPEN_Berharap_Bertemu_Jodoh_di_Alam_Baka?replies_read=4

di MPnya Mas Fajar:

http://sutradarakacangan.multiply.com/journal/item/137/Kekasih_Di_Alam_Baka_-_Side-story_BDM_by_Luckty_Giyan_Soekarno?replies_read=1

Kerja ato Gelar??

Iklan A Mild bilang gini:

Daripada gak dapet-dapet kerja mending gak dapet-dapet gelar

( ) Gelar dulu

( ) Kerja dulu

Waktu liat iklan ini pertama kali,

Pas ma Tessa, kita lagi nonton TV di ruang tamu kosan.

Kontan, kita merasa ’kesentil’ ma iklan ini!!

Kita banget ya??? Hugs…

Jadi inget headline KOMPAS, 22 Agustus 2008:

”PENGANGGUR TERDIDIK 4,5 JUTA: Sedikitnya 30 Persen Lowongan dalam Bursa Kerja Tidak Terisi”

Waaaa….serem bgt!!

Ni lebih serem dari nonton film horor!!

Klo aku di suruh milih: Gelar ato Kerja??

Yang kujalani saat ini cari duit tapi nggak lupa mikirin kpn lulus…

Nyatanya…skripsi itu sempet terbengkalai…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »