(REVIEW) Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World

Masih ingat Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dengan cerita sekolahnya yang berada di gerbong kereta?!? Sampai sekarang saya punya keinginan memiliki gerbong perpustakaan seperti yang dialami Totto-chan saat sekolah! :p Buku ini ibarat sekuelnya. Wow, pas liat fotonya ternyata cantik banget!! =)
Totto-chan kini sudah dewasa. Ia sekarang menjadi aktris terkenal dan punya banyak penggemar. Tapi Totto-chan tak pernah melupakan masa kecilnya. Karena itulah Totto-chan langsung setuju ketika UNICEF menawarinya untuk jadi Duta Kemanusiaan.
Sejak itu, Totto-chan berkunjung ke banyak negara dan menemui berbagai macam anak. Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat ketika sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang.
Simak penggalan kalimat yang ditulis Miss. Kuroyanagi di Tanzania, tempat pertama kali beliau melaksanakan tugasnya: ‘Aku bertemu anak laki-laki berumur enam tahun di Tanzania, namanya Rogati. Normalnya anak laki-laki seumur itu bersekolah di sekolah dasar, tapi ia sangat kecil dan hampir tak bisa berdiri, berjalan, atau bicara. Yang bisa ia lakukan hanyalah merangkak di tanah yang dingin. Itulah akibat kelaparan. Ketika seorang anak tidak mendapatkan makanan, bukan hanya tubuh yang berhenti bertumbuh tetapi juga otak, karena otak juga memerlukan gizi. Saat itu aku tak tahu bahwa kelaparan bisa begitu mengerikan. Aku benar-benar shock.’ (hal.26)
Atau pengalaman Miss. Kuroyanagi saat berkunjung di Vietnam: ‘Ada anak perempuan berumur sepuluh tahun yang kehilangan lengan kiri dan kedua matanya ketika bom sisa perang tiba-tiba meledak. Kini matanya digantikan mata buatan dari kaca, tapi ia cantik dan pintar. Sambil meraba huruf-huruf Braille pada buku pelajaran, ia membacakan isinya padaku. Akibat kemiskinan, seringkali anak-anak terluka saat membantu orangtua mereka di ladang, ketika bom sisa-sisa perang meledak tiba-tiba. Sedih sekali ketika seseorang menyadari bahwa tak ada usaha apa pun untuk mencegah kecelakaan semacam ini pada masa depan.’ (hal.122)
Lewat buku ini, Totto-chan ingin menceritakan pengalamannya saat bertemu anak-anak manis itu supaya semakin banyak orang bisa membantu anak-anak dunia menggapai masa depan yang lebih baik.
Berikut daftar negara yang dikunjungi Miss. Kuroyanagi:
– Tanzania, 1984
– Nigeria, 1985
– India, 1986
– Mozambik, 1987
– Kamboja dan Vietnam, 1988
– Angola, 1989
– Banglades, 1990
– Irak, 1991
– Etiopia, 1992
– Sudan, 1993
– Rwanda, 1994
– Haiti, 1995
– Bosnia-Herzegovina, 1996

Lahir di Tokyo, Tetsuko Kuroyanagi merupakan putri dari pemain biola terkenal dan salah satu tokoh pertelevisian popular Jepang.
Ia mempelajari opera di Tokyo College of Music, dan memutuskan untuk jadi aktris ketika lulus. Sebagai aktris panggung dan televisi, ia memenangkan berbagai penghargaan untuk perannya yang luar biasa dalam Master Class karya Terrenceb McNally dan Three Tall Women karya Edward Albee. Ia juga berperan dalam Lettice and Lavage karya Peter Shaffer serta Marlene karya Pam Gem. Pada tahun 1972 Tetsuko mempelajari seni peran panggung di Mary Tarcai Studio, New York.
Tetsuko juga seorang penulisb dan ahli panda. Selain mengarang Panda and I, ia juga menjabat sebagai anggota dewan di Worldwide Fund for Nature Jepang. Memoir masa kecilnya, edisi bahasa Jepang Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela telah terjual lebih dari tujuh juta eksemplar dan masih menjadi buku terlaris di Jepang. Buku tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan di 33 negara lain. Totto Foundation -yang dibiayai dari royalti bukunya- mendukung Japan Theater of the Deaf yang memberikan pelatihan profesional kepada aktor-aktor tuli.
Sukses internasional Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela mengantarnya menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF pada tahun 1984. Tetsuko Kuroyanagi juga dianggap sebagai penulis kisah-kisah humoris dan merupakan contributor rutin di beberapa majalah sastra. Ia adalah anggota International Pen Club.
Ketika seorang pria kehilangan apa yang mereka bangun, sepertinya mereka langsung hancur. Kurasa mereka cenderung berpegang erat pada idealism, sementara para wanita lebih realistis. Itulah yang dilihat saat Miss. Kuroyanagi melihat para korban perang maupun bencana.
Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci , kita dilahirkan untuk saling mengasihi.

Keterangan Buku:
Judul : Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa : Ribkah Sukito
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2010
Tebal : 328 hal.
ISBN : 978-979-22-5010-7

One thought on “(REVIEW) Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World

  1. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s