REVIEW Veronika Memutuskan Mati

Kegilaan adalah ketidakmampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran.

Kita semua pernah mengalaminya.

Kita semua, apapun bentuknya, adalah gila. (hlm. 78)

Orang membiarkan dirinya menjadi gila hanya bila mereka dalam kondisi yang memungkinkannya menjadi gila. (hlm. 96)

 

Kita punya dua pilihan: mengendalikan pikiran atau dikendalikan oleh pikiran. (hlm. 125)

Ada tiga alasan saya menyukai buku ini. Mengapa? Pertama, tentu karena penulisnya, Paulo Coelho. Selain Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis (By The River Piedra I Sat Down and Wept), inilah buku favorit kedua. Kedua, tokoh utamanya, Veronika berprofesi sebagai pustakawan (seperti saya ✪‿✪). Ketiga, isi bukunya yang amat menarik, mengulas GILA dan BUNUH DIRI.

Apakah seseorang yang bunuh diri disebabkan karena patah hati, pekerjaan yang tak mulus, atau masalah keluarga? Veronika memiliki semuanya itu di usia ke dua puluh empat. Ia sudah cukup dewasa. Perempuan matang tahu apa yang diinginkan dan sepenuhnya mampu menentukan pilihannya. Hidupnya tidak bermakna, karena setiap hari terjadi hal yang sama. Karena itu ia memutuskan mati.

Selain Veronika, kita akan menemukan tiga tokoh lainnya yang lumayan dikupas; Mari mantan pengacara ternama, Zedka yang memiliki suami dan anak, dan Eduard anak seorang duta besar yang mengalami skizofren.

Mengapa Paulo Coelho amat ciamik dalam menjabarkan sesuatu yang disebut GILA dan amat detail tentang RUMAH SAKIT JIWA? Karena dia pernah mengalaminya sendiri. Tokoh Eduard seperti representasi dirinya saat dianggap gila oleh orang tuanya.

Menurut WIKIPEDIAMeskipun Coelho sangat berbakat menjadi penulis, ternyata orang tuanya tak pernah berharap agar anaknya kelak menjadi sastrawan. Mereka lebih suka jika kelak anaknya menjadi arsitek atau ahli hukum. Kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga agar anaknya tak semakin dekat dengan dunia tulis menulis. Namun tampaknya Coelho bukanlah tipe anak yang penurut. Larangan orang tuanya dan perjumpaannya dengan buku Henry Millerberjudul Tropic of Cancer semakin mengobarkan semangat pemberontakannya. Ayahnya melihat hal ini sebagai sebuah gejala gangguan kejiwaan dan akhirnya memasukkan anaknya ke sebuah rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa itu, Coelho harus menjalani terapi electroconvulsive. Terapi electroconvulsive adalah terapi dengan menyetrumkan aliran listrik ke tubuh penderita gangguan jiwa. Terapi ini tentunya bisa berdampak buruk pada jaringan saraf manusia. Terapi ini akhirnya dilarang di Brasil setelah Coelho mengungkap praktik keji ini di dalam novelnya “Veronika Memutuskan Mati”.  

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. (hlm. 2)
  2. Tidak ada barangkali, karena pilihan itu tidak ada. (hlm. 59)
  3. Kita boleh menangis, cemas, atau marah sebagaimana orang normal, asalkan kita sadar bahwa kita di atas sana jiwa kita terbahak-bahak melihat kesulitan yang kita hadapi. (hlm. 68)
  4. Cara terbaik menghindari masalah adalah dengan membagi tanggungjawab. (hlm. 92)
  5. Semakin besar kemungkinan seseorang bahagia, semakin tidak bahagia orang itu. (hlm. 96)
  6. Kita telah menggantikan hampir seluruh perasaan kita dengan rasa takut. (hlm. 136)
  7. Berlebihan merupakan ketidakseimbangan. (hlm. 155)
  8. Kita boleh bertindak salah dalam hidup ini, kecuali kesalahan yang menghancurkan diri kita sendiri. (hlm. 158)
  9. Tuhan ada dimana-mana, tetapi orang berpikir mereka harus mencari-cari. (hlm. 186)

Buku yang saya beli ini dulunya memasuki cetakan kelima di tahun 2007. Kali pertama membaca saat masa kuliah; masa kritis & krisis ( ʃ⌣ƪ)

Saya baca ulang dan buat review-nya kali ini dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia @BBI_2011 bulan Agustus yang bertema ‘1001 Books You Must Read Before You Die’. Buku ini amat sangat layak masuk kategori tersebut, kita tidak hanya diajak menelusuri arti hidup, tapi juga pengetahuan tentang gangguan jiwa, bahkan asal mula QWERTY pada mesin tik.

Jadilah seperti air mancur yang terus meluap, jangan seperti wadah di bawahnya, yang hanya bisa menampung. (hlm. 145)

Setelah membaca buku ini, kita berpikir bahwa hidup bahagia bukanlah hidup di zona nyaman. Sekali-kalilah agar keluar dari rel, agar tahu rasanya hidup yang berkelok atau bergelombang.. ( ‘̀‘́)9#sikap 

Karena semua orang punya khayalan, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan khayalan itu, maka keadaan ini membuat kita semua menjadi pengecut. (hlm. 176)

Setiap orang mempunyai keunikan, dengan kualitas, naluri serta kesenangan dan hasrat bertualang masing-masing. (hlm. 209) 

Cover versi baru:

 

Cover versi asli:

Versi poster filmnya:

Papi Paulo Coelho:

Veronika decides to die (book trailer)

Veronika decides to die (film trailer)

Advertisements

22 thoughts on “REVIEW Veronika Memutuskan Mati

  1. Hingga sekarang belum sempat baca Coelho yang ini, tapi kayaknya aku bakal lebih suka ini daripada Piedra, kayaknya sih… Tapi yg aku paling suka masih tetap Alchemist.

    1. Alchemist bukunya Paulo Coelho yang pertama kali kubaca, dan langsung bertekad pengen punya semua buku-buku yang ditulis Paulo Coelho.. :))

    1. aaakkk…buku ini cocok banget buat di baca pas mendalami di RSJ.
      Pernah dapet pasien kayak Veronika, Mari, Zedka dan Eduard gak?!? 😀

  2. Paulo Coelho aq lbh suka The Alchemist dan Fifth Mountain, pesan-pesannya bagus untuk membangun kehidupan. Sedangkan tipikal Veronika .. dan By The River … malah bikin depresi hehehe O’ya sama The devil & Miss Prym, itu juga lumayan menarik 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s