resensi

REVIEW The Mark of Athena

Mestinya kita ingat bahwa selalu ada yang lebih hebat dari kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh besar kepala. (hlm. 572)

Kesukesan sejati menuntut pengorbanan. (hlm. 589)

Menurut legenda, bangsa Romawi dan Yunani takkan pernah berdamai. Legenda itu berpusat padaAthena. Athena tidak pernah memiliki pasangan atau kekasih sehingga dijuluki sebagai Athena Parthenos (“Athena Perawan”). Kuilnya yang paling terkenal di Akropolis diberi nama Parthenon. Bukan hanya menunjukkan keperawanannya tetapi juga menunjukkan perannya sebagai penegak aturan kesopanan seksual dan misteri ritual. Orang-orang Athena memberikan dewi Athena kemurnian keperawanan seperti ini untuk menopang dasar perilaku perempuan dalam masyarakat patriarki.

Percy, Frank, Hazel, Jason, Piper, Leo, dan Annabeth melakukan petualangan yang amat menegangkan. Mereka berlayar menuju negeri kuno di Roma menggunakan Argo II yang didesain layaknya trireme kuno, hanya saja berukuran dua kali lebih besar. Geladak pertama memuat koridor sentral yang diapit kabin-kabin untuk awak kapal. Di trireme biasa, sebagian besar ruang dalam kapal ditempati oleh tiga baris bangku untuk diduduki ratusan lelaki bersimbah peluh yang melakukan pekerjaan manual, tapi dayung buatan Leo otomatis dan dapat dilipat sehingga memakan ruang sedikit sekali dalam lambung kapal. Tenaga penggerak kapal  berasal dari ruang mesin di geladak kedua dan terbawah, yang juga memuat ruang kesehatan, palka, dan istal.

Tanda Athena merupakan garis penghubung antara patung tersebut dengan anak-anak sang dewi. Patung itu ingin ditemukan, hanya dapat dibebaskan oleh orang yang paling layak. Dan Annabeth, sebagai salah satu anak Athena yang terpilih mengemban tugas itu.

Athena Parthenos merupakan patung Yunani paling terkenal sepanjang masa. Tingginya dua belas meter, berbahan gading dan emas. Patung itu dulunya berdiri di tengah-tengah Parthenon di Yunani.

Ibu adalah yang paling ahli dalam segalanya, dan kita tidak boleh berkata lain. (hlm. 563)

Buku ini terdiri dari empat narator: Annabeth, Leo, Piper, dan Percy. Dan Annabeth menjadi tokoh sentral dalam seri The Heroes of Olympus yang ketiga ini.

Annabeth menghabiskan seumur hidupnya untuk belajar membaca orang lain. Kemampuan itu esensial untuk bertahan hidup. Dan itu akan menjadi salah satu senjata unggulannya dalam menghadapi lawannya.

Paling suka saat Leo, Hazel, dan Echo bertemu Narcissus yang terkenal dengan kenarsisannya. Ngikik banget baca adegan para peri hutan yang berebutan ingin mendapatkan tanda tangan Narcissus, mirip seperti segerombolan para ababil yang histeris melihat boyband lewat.. ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

Ya, ampun, demi dewa-dewi!

Nikahi aku, Narcissus!

Jangan, aku saja!

Bersediakah kau menandatangani posterku?

Jangan, tandatangani bajuku saja!

Jangan, keningku saja! (hlm. 91)

Adegan favorit kedua: Achelous saat memarahi Jason. Mereka berdebat apa definisi sebuah buku..ˇ)-c 

“Ini baru buku! Oh, harumnya bau kulit kambing! Lembutnya tekstur perkamen yang tergelar di bawah kakiku. Kalian tidak dapat menduplikasi sensasi tersebut di benda semacam itu. Dasar anak muda dan mainannya yang macam-macam saja. Jilid kertas. Kotak kecil pepat yang sulit dibuka kaki belah. Tetapi tetap saja buku bacaan tradisioonal. Ia takkan pernah menggantikan gulungan perkamen gaya lama!” (hlm. 352)

Beberapa kalimat favorit yang so sweet.. ✪‿✪

  1. Cinta ya cinta, bagaimanapun juga, tak peduli kita orang Yunani atau Romawi. (hlm. 239)
  2. Cinta dan perang selalu berjalan beriringan. Cinta dan perang merupakan puncak dari emosi manusia! Kejahatan dan kebahagiaan, keindahan dan keburukan. (hlm. 240)
  3. Kau cantik dan kuat. Dan aku tidak mau kau jadi orang Romawi. Aku ingin kau jadi Piper. Lagipula kita ini satu tim, kau dan aku. (hlm. 331)
  4. Kita akan terus bersama-sama. Kau takkan jauh-jauh dariku. Takkan pernah lagi. (hlm. 586)

Dari buku ini, kita dapat memetik pelajaran bahwa dalam kehidupan selalu ada yang lebih dari kita. Sifat sombong akan meruntuhkan seseorang dengan sendirinya. Dan Annabeth mempercayai itu. Kita, sebagai pembaca pun juga bisa meresapi arti pengorbanan yang dilakukan oleh Annabeth.

 

Beberapa penghargaan yang didapatkan serial ini:

  • #1 New York Times bestseller 
  • #1 Indie bestseller 
  • #1 USA Today bestseller 
  • #1 Wall Street Journal bestseller

Salut sekali dengan edisi Indonesia yang terbit tak lama setelah buku versi aslinya keluar. Jadi pembaca tak perlu menunggu terlalu lama untuk melahap isinya. Wajib baca donk bagi pecinta tulisan Rick Riordan yang menegangkan dan selalu memberi kejutan di akhir cerita. Dan buku ini bukan edisi terakhir, masih ada The House of Hades. Semoga cepet juga terbitnya.. (‾ʃƪ‾)

Keterangan Buku:

Judul                            : The Mark of Athena

Penulis                          : Rick Riordan

Penerjemah                  : Reni Indardini

Penyunting                    : Tendy Yulianes

Penyelaras aksara         : Putri Rosdiana

Penata aksara               : elcreative

Ilustrasi isi                     : Sweta Kartika

Desain cover                : Altha Rivan/ AJ Book Design

Penerbit                        : Mizan Fantasi

Terbit                           : Oktober 2012

Tebal                            : 604 hlm.

ISBN                           : 978-979-433-740-0

Cover asli:

Cover versi lain:

Penulisnya, Rick Riordan

3 thoughts on “REVIEW The Mark of Athena”

  1. Maubtanya dong kak. Kenapa mereka nyelametin nico dan menutup pintu ajal. Tujuannya apa? Dan bagaimana kronologi percy dan Annabeth masuk tartarus. Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s