Label Pustakawan 2012

1

“Google can bring you back 100,000 answers, a librarian can bring you back the right one.”  ― Neil Gaiman

JANUARI. Semester baru, semester genap. Apakah perjuangan menjadi pustakawan sudah berakhir?! Belum… ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

Saya pikir setelah bukunya 85% dibarcode saya bisa leyeh-leyeh…OMG…ternyata awal tahun udah ada ribuan buku pelajaran baru Dinas Kota yang menunggu diolah.

 

Mulai semester genap, disiplin murid dalam meminjam dan mengembalikan buku sudah 70% stabil. Kalau yang 30% itu memang susah. Yaaa.. wajarlah..namanya murid, banyak sifat, banyak tipe :p Disiplin berarti sama dengan minimnya uang denda. Udah jarang banget yang kena denda. Harus cari akal. Saya memohon sebuah permintaan kepada kepala sekolah.

 

Karena sudah melihat perpustakaan yang berkembang pesat, kepala sekolah mengabulkan permintaan terakhir di tahun pelajaran ini. Saya minta sebuah komputer lagi. Bukan untuk saya, tapi untuk murid. Selama ini kelabakan melayani murid dalam hal pelayanan rujukan cepat. Saat mencari sebuah data untuk tugas sebuah pelajaran.

 

Padahal saya mengentri koleksi dan pelayanan jadi satu saja sudah bikin pusing, ditambah lagi muirdnya nanya tugas ini-itu yang gak ada di buku. Bapak kepala sekolah baik banget. Saya minta satu, dikasih tiga komputer sekaligus. Plus sebuah printer! ξ\(´▽`)/ξ

2

Printer ini dijadikan pemasukan untuk perpustakaan. Meskipun uang denda sudah jarang, pemasukan tetap berjalan berkat murid-murid yang ngeprint tugas.  Ternyata responnya melebihi target. Dari pemasukan murid-murid yang ngeprint tugas, bisa buat langganan banyak majalah; Gaul, Idol, Teens, Story, Gadis, Kawanku, Aulia, Hidayah, Intisari, dan Trubus. 

 

 

Ada sebuah percakapan menggelitik di suatu siang:

“Bu, kok gak ada majalah buat cowok sih?”

“Kan kamu bisa baca Hidayah ama Trubus..”

“Yang khusus cowok, kayak majalah cewek-cewek ini..” sambil membolak-balik sebuah majalah cewek.

“Pantes ya cewek-cewek pada pinter, di majalah dikasih tips gimana bersahabat dengan mantan, cara mendapatkan cowok impian, apa penyebab jomblo….”

😀😀😀😀

3

Saya juga pernah ditegur guru. Tidak hanya sekali. Tetapi beberapa kali:

“Mbak, kok sekarang ada majalah kayak ginian?”. Guru tersebut menunjuk majalah-majalah remaja. Padahal ada Hidayah, Trubus dan Aulia juga loh…😉

“Namanya juga remaja, Bu. Masak cuma di suruh baca Horizon aja?” jawab saya sambil nyengir :p

Ternyata, sekarang banyak juga guru yang pinjam majalah. Waktu saya buat empat bundel kliping resep masakan dari guntingan-guntingan koran, dibilang kurang kerjaan. Sekarang? Malah banyak banget yang pinjem buat praktek resep masakan itu, hehe.. Yup, salah satu fungsi perpustakaan adalah sebagai tempat rekreasi. Gak melulu cuma buat serius belajar kan?!😉

Gak cuma guru, satpam juga. Kalau yang ini awalnya saya gak tahu. Baru ngeh pas beliau nanya buku 100 Cerita Klasik yang dibacanya kemarin malam. Maklum, di malam hari perpustakaan sebagai tempat istirahatnya yang piket jaga malam hari. Beliau bilang, bukunya bagus buat bahan cerita kalo ngedongengin anaknya. Aahhh…ikut bahagia rasanya saat mendengar itu.

Selain bisa membeli majalah, pemasukan dari ngeprint bisa buat beli buku-buku fiksi ciamik kayak Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika, Kening-nya Fitri Tropika, Unforgettable-nya Winna Efendi, dan lain-lain.

Dulu pernah janji ama murid, mau ngasih penghargaan buat pengunjung perpustakaan terbaik. Saya tepati janji itu. Perpustakaan hanya memberikan dua reward. Terpilihlah Candra Arianto kelas XI IPA 2 dan Miftahul Jannah Kelas X.3. Muridnya banyak yang mau, karena merasa rajin, hehe… (>.^)

 

4

Tiap bulan, biasanya ada pemeriksaan. Kadang dari Dinas Kota, Pustakardok, Dinas Provinsi, dan lain-lain. Kalau dulu saya suka cemas karena administrasi perpustakaan gak komplit, sekarang kalau ada pemeriksaan kapan saja, gak perlu khawatir. Semuanya sudah ada datanya lengkap. Ini berkat SLiMS🙂

Bahkan di FEBRUARI kedatangan Walikota Metro dan Kepala Disdikbudpora sekaligus. Deg-degan banget waktu bapak walikota minta praktekkin langsung cara kerja pelayanan otomasi. Patut berbangga. Di Metro baru satu-satunya sekolah yang menggunakan sistem otomasi. Bahkan sekolah yang berlabel SBI yang dananya luar biasa, perpustakaannya masih manual. Pasca kunjungan walikota dan Kadis Disdikbudpora tempo hari, sekolah-sekolah lain disarankan mengikuti jejak sekolah kami.

MARET Tepat setahun lulus, ada dua mahasiswa D3 yang magang di perpustakaan. Bulan inilah saya bisa napas, karena ada dua bantuan tenaga.

APRIL. Kedatangan lagi berkardus-kardus buku. Padahal bulan ini sibuk-sibuknya mendata peminjaman buku kelas XII yang sebentar lagi lulus. Alhamdulillah, tahun ini murid-muridnya yang menyumbang buku cukup banyak. Murid-murid kelas XII sebagai syarat bebas perpustakaan diwajibkan menyumbang buku fiksi. Yang tidak perpanjang buku lebih dari seratus hari diwajibkan menyumbang kamus, hehe..

5

MEI adalah bulan yang istimewa bagi saya. Akhir Mei, saya mendapat surat panggilan bimtek di Bandung. Yang lebih surprise lagi adalah hari itu adalah bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Sungguh bahagia yang berlipat di mana saya bisa menginjakkan kaki (lagi) di Bandung. Dan yang lebih amazing lagi, saya bisa merasakan indahnya sebuah hotel mewah yang dulunya hanya bisa dinikmati dari luar saat masa-masa magang di Museum KAA. Rasanya kayak mimpi..😀

 

6

Ada pengalaman yang sebenarnya bikin malu sih.. ( ʃ⌣ƪ) Biasanya saya ke Bandung hanya menggunakan jas bus. Tapi saya diketawain bapak-bapak guru di sekolah; “Oalah, mbak..mbak..wong gratis kok malah milih susah. Tinggal naik pesawat cepet nyampe.” 

Maklum, selain sebelumnya belum pernah naik pesawat (sungguh terlalu.. :p), waktu itu lagi hangat-hangatnya berita pesawat yang jatuh dan menewaskan banyak korban. Jelas bikin ketar-ketir donk. Mungkin ini jalannya harus merasakan namanya naik pesawat. Tumben-tumbenan banget bus Pahala Kencana maupun Keramat Jati penuh semua. Gak kebagian tiket. Alhasil mau gak mau akhirnya naik pesawat adalah pilihan terakhir. Tegang? Sudah pasti.

Eyaaammpyunnn… sungguh norak sekali ya? Pas udah naik, eh ternyata biasa aja yaaa… beginilah kalau takut akan sesuatu sebelum mencobanya.. ( ʃ⌣ƪ)

Selama di Bandung ini ada banyak sekali ilmu yang didapat; bisa berkenalan dengan pustakawan (guru atau Tata Usaha yang merangkap menjadi pustakawan) di seluruh Indonesia. Beruntungnya, sekolah saya terpilih diantara 100 sekolah di Indonesia.

Ya, dilema perpustakaan sekolah selain minimnya buku-buku yang layak, juga minimnya tenaga perpustakaan yang khususnya putakawan. Bayangkan, dari 100 peserta hanya 13 yang asli pustakawan dan lulusan dari Jurusan Ilmu Perpustakaan. Benar-benar mahluk langka…. d(*⌣*)b

JUNI, harusnya libur seperti murid-murid. Tapi ternyata menjadi panitia Penerimaan Siswa Baru. Dan diminta Pustakardok untuk membantu Rumah Pintar di Yosomulyo yang menjadi perwakilan Kota Metro dalam lomba perpustakaan desa. Alhamdulillah, ternyata Rumah Pintar masuk tiga besar tingkat provinsi.

Selain itu, hal mengharukan yang terjadi di bulan ini adalah terbitnya buku tulisan murid-murid kelas XII yang baru saja lulus. Terima kasih untu Yunita (IPS 1), Alifia, Iluh, Puji, Ratna dan Via (IPA 2), serta Yogi (IPS 2) yang telah menorehkan pengalamannya selama di sekolah lewat buku ini:

7

JULI. Pergantian ajaran baru. Harusnya ada buku-buku dari Pemerintah Pusat. Tapi kami bersembilan, pustakawan dengan masing-masing sekolah yang berbeda, kompak menolak buku-buku tersebut. Mengapa? Buku-bukunya tidak sesuai kurikulum. Dari segi isi, baik guru maupun murid juga kurang nyaman dengan tatanan bahasanya yang kaku dan tidak menarik. Tidak ada di dunia ini yang namanya gratis. Begitupun dengan buku-buku tersebut. Dana transportasinya tidak sedikit. Kami sepakat, lebih baik anggarannya untuk yang lain. Karena masing-masing perpustakaan sekolah, memiliki kebutuhan yang lebih mendesak.

Ajaran baru berarti ada murid-murid baru. Jika tahun lalu mulai menggunakan barcode, tahun ini kartu perpustakaan otomatis menjadi kartus OSIS. Tiap murid sudah memiliki barcode masing-masing sesuai nomor induk siswa:

8

AGUSTUS kedatangan dua belas mahasiswa jurusan pendidikan yang PPL di sekolah selama dua bulan. Dan seperti mahasiswa yang PPL sebelumnya, mereka ditempatkan di perpustakaan sebagai basecamp-nya. Jujur saya menyukai kedua belas mahasiswa ini dibandingkan dengan mahasiswa yang PPL sebelumnya. Rajin, mereka datang sebelum saya. Pagi-pagi sudah menyapu ruangan, tugas yang biasanya saya lakukan setiap hari.

Bahkan jika saya kerepotan shelving buku ke rak, ada beberapa yang dengan sigap turut membantu. Kalau saya kelabakan menghadapi murid yang menanyakan tugas ataupun meminta bantuan saat masalah dengan printer, juga ada beberapa yang membantu menghadapi murid-murid ini.

Buku-buku yang di shelving ke rak setiap minggunya:

9

SEPTEMBER adalah bulan terberat yang harus dilalui di tahun ini. Kenapa? Saya musti meninggalkan sekolah selama sebulan untuk diklat Itu artinya perpustakaan akan saya tinggal. Udah cemas bagaimana nanti. Untungnya masih ada mahasiswa-mahasiswa yang PPL di sekolah,. setidaknya perpustakaan tidak terlalu terbelengkalai.

Diklat usai. OKTOBER datang. Saatnya membereskan pekerjaan yang tertunda. Alamaaakkk….perpus tanpa pustakawan itu ibarat taman tanpa bunga. Saya kembali berjibaku dengan buku, buku, dan buku. Printer sempat rusak. Komputer banyak virus. Buku-buku banyak yang lenyap tanpa jejak. Bayangkan buku-buku Harry Potter yang merupakan koleksi pribadi, hilang tak berbekas. Dan cuma bisa ikhlas. Mudah-mudahan kalau ada rejeki, saya mau membelinya lagi.. ;’)  Bahkan majalah dan tabloid banyak yang raib. Padahal itupun juga banyak koleksi pribadi. Alhasil saya sempat frustasi. Dan untuk sementara waktu, memberhentikan langganan majalah. Sempat sedih juga bahwa selama ini sudah susah payah jungkir balik merintis dari awal malah terbelengakalai gini. Saya gak bisa menyalahkan siapa-siapa. Dan ini memang sudah resiko jika meninggalkan selama sebulan.

Oya, waktu itu saya sudah berjanji kepada murid-murid untuk memberikan reward kembali. Kali ini agak berbeda. Jika dulu hanya dua, sekarang empat. Tiga untuk individu sebagai pengunjung terbaik, dan satu untuk kelas sebagai pengunjung terbaik.

10

Dipilihlah Febri Arianto dari XII IPA 4, Inayah Sari dari XII IPS 3, dan Siti Minatus Syarof dari XI IPA 4. 11

Dan pengunjung terbaik adalah kelas X.7, karena baik laki-laki maupun perempuan sangat rajin ke perpustakaan. Terlebih jika ada jam kosong, mereka rajin ke perpustakaan; ada yang memang nyari tugas di komputer, baca majalah, main scrabble, main catur, hot spot-an sekedar searching atau main game, nonton TV, atau sekedar leyeh-leyeh ngadem di ruang buku. 12 13 14

Kali ini juga masih aja banyak yang protes seperti dulu, karena dia merasa rajin tapi gak menang. Kalau dulu masih suka nguber-uber mereka buat ngisi daftar hadir di buku pengunjung, sekarang banyak juga yang tanpa disuruh, kalau masuk perpustakaan langsung nulis. Dengan alasan, biar dapet reward, gyahahahaa.. :p

Bapak Kepala Sekolah sungguh perhatian. Saya seringkali mengatakan bahwa selalu kekurangan buku-buku pelajaran Agama Islam, Sejarah dan Pkn. Akhirnya permintaan saya terwujud. Proposal di acc untuk pembelian buku-buku tersebut. Begitu datang, belum sempat diolah, sudah dibooking murid untuk dipinjam. Mungkin khawatir takut gak kebagian. Alhasil, begitu selesai dibarcode, langsung ludes dipinjam! (´⌣`ʃƪ)

15

NOVEMBER. Seperti Gemini pada umumnya, saya tipe pembosan. Baru genap setahun, saya gemas ingin ubah perpustakaan lagi Dulu sempat kepikiran, karya-karya murid saat pelajaran Seni Budaya bagus-bagus. Kenapa tidak dipajang di perpustakaan? Ahaaa..ternyata Bu Bernas, guru Seni Budaya pun berpikiran sama. Akhirnya dipilihlah beberapa karya murid untuk dipajang di perpustakaan. Ada kebanggaan tersendiri bagi murid yang karyanya dipajang. Yang gak dipajang protes, katanya punya mereka pun tak kalah bagus. Sabar ya, maklum perpustakaannya hanya ruangan kecil. Gak kuat menampung semua karya..😀 16 17

Alhamdulillah, bulan ini mengantarkan Nova Nur Aziyah, XI IPA 4 juara 3 lomba Menulis Perjalanan yang diadakan FLP Lampung. Buku antologinya sebentar lagi terbit. Oya, dia sedang mempersiapkan tulisan untuk beberapa buku. Sungguh berpotensi.

 

Di penghujung DESEMBER. Sekolah sudah tidak aktif belajar karena sudah selesai Ujian Akhir Semester. Ternyataaaaa…perpus malah justru banjir murid yang sibuk remedi. Jadi yaaa..hampir 80% pada remedi semua. Alhasil banyak banget yang sibuk cari tugas, baik di buku maupun di komputer.

18

Bahkan dua minggu musti pulang sore. Itupun muridnya susah banget disuruh pulang. Biasanya yang ampe sore gini karena mau main game atau sekedar ngadem di selipan rak-rak buku sambil majalah. Ampe meriang gitu pas minggu terakhir. Ngedrop karena gak istirahat. Sampe gejala typus. Untung sakit cuma sebentar. Memang butuh stamina yang kuat untuk menjadi super librarian! ( ‘̀⌣’́)9

Beruntung sekali dengan keterbatasan kemampuan saya yang ala kadarnya, berhadapan dengan murid-murid unyu. Terkadang mereka membantu shelving buku ke rak, membantu nempel-nempel barcode atau labelling, nge-cap buku baru, terkadang rebutan buat pake komputer demi bunyi dari barcode buku yang keluar saat ada yang mengembalikan atau meminjam. Tidak hanya murid, bahkan kepala sekolah pun pengertian. Kepala sekolah mana yang turun tangan langsung membersihkan kaca dan pernah mengepel lantai perpustakaan. Terima kasih ya, pak..🙂

Perjalanan menuju perpustakaan yang layak masih sangat panjang. Dengan hanya mengeluh tentu tidak akan menghasilkan apa-apa. Tapi berbuat sebisa dan semampu kita, meskipun itu hanya kecil, akan terasa manfaatnya. Orang yang bahagia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

19Tulisan Sebelumnya:

Label Pustakawan di 2011

https://luckty.wordpress.com/2012/01/14/label-pustakawan-dan-aroma-buku-di-2011/

47 thoughts on “Label Pustakawan 2012

  1. Lengkap banget mbak dari januari sampai desember.
    Keren juga tuh sekolahnya dan murid2 nya.
    coba aja murid-murid di seluruh Indonesia ni seneng baca buku pas jam kosong. Pasti lebih maju, daripada ngotak-ngatik HP atau kerjaan yang gak berguna

    • iya, generasi sekarang adalah generasi merunduk alias sibuk dengan BBnya. Sebenernya banyak kok yg suka baca, hanya biasanya kendala memang gak ada sarana yg memadai..🙂

  2. ya bener itu kenapa tidak ada majalah khusus cowok..
    malah dikampus saya pernah pinjam majalah gadis dari teman saya untuk baca baca pengen tau aja isinya seperti apa hahaha

    • gyahahahaha…bener kan brarti.. :p
      begitu banyak majalah cewek, tapi begitu minim majalah cowok,
      itupun majalah cowok cenderung ke tema ‘dewasa’ :p

  3. Seru banget kerja di perpustakaan mbak!! Sayang aku udah nggak sekolah. Emang sih kerja di kampus, tapi akses ke perpustakaan nggak ada buat karyawan. Huhu..

  4. yaampun, perpus sekolahnya asyik banget😦 perpus sekolahku garing bener, minim hiburannya-_- kalo perpus sekolahku kayak gitu, tiap hari nongkrong di perpus deh gakmau keluar wkwk

  5. haha… ngakak pas baca kepolosan anak cowok pas bilang,”Pantes ya cewek-cewek pada pinter, di majalah dikasih tips gimana bersahabat dengan mantan, cara mendapatkan cowok impian, apa penyebab jomblo….”

    dipikir-pikir bener juga. kenapa majalah banyaknya buat cewek ya?haha

  6. Pingback: Birthday Giveaway | Luckty Si Pustakawin

  7. Dari tadi ngomeng ngomeng di blog mbak Luckty, gak papa ya mbak..😛 Seneng banget soalnya aku baca tentang perpus ini.

    “Bu, kok gak ada majalah buat cowok sih?” –> eaaaaa

    • Semester kemaren berhenti dulu beli-beli majalah ama tabloid, abisnya pada disobek/gunting tak bersisa, apalagi kalo ada K-Pop… dananya dialihkan beli novel-novel unyu…😀

      Oya, bulan lalu aku buat giveaway ttg PERPUSTAKAAN ama PUSTAKAWAN loh… ternyata banyak yang respon..😀
      http://t.co/G27m0fz6wW

      • iya emang mbak. kalo majalah mah bakalan digunting-gunting sama segelintir siswa. apalagi kalo gak ada librariannya. wuuh! tambah!

  8. Subhanallah… salut banget sumpah.🙂 terualah kreatif dan inisiatif, karena ini isnpiratif sekali😉 aku pernah bbrp bulan magang jd librarian.. hehehe boseenn. Dulu aku emg gk suka baca.
    Eh Ngemeng2, ini Metro Lampung??

  9. Pingback: Belajar Library 2.0 dengan Lucty Giyan Soekarno | anarizka

  10. Pingback: Label Pustakawan 2014 (Part 1) | Luckty Si Pustakawin

  11. Pingback: Label Pustakawan 2014 (Part 2) | Luckty Si Pustakawin

  12. Pingback: Label Pustakawan 2015 (Part 1) | Luckty Si Pustakawin

  13. Pingback: Giveaway Pustakawin | Luckty Si Pustakawin

  14. Pasca kunjungan walikota dan Kadis Disdikbudpora tempo hari, sekolah-sekolah lain disarankan mengikuti jejak sekolah kami. Uidih keren!
    Baru tau Siti Minatus Syarof disini juga, nggak nyangka, kenal dia dulu lewat online juga, sama-sama suka Harry Potter, kalo saya jadi murid situ mungkin kayanya bakal suka ngedekem sampai sore😀
    Aih udah kaya rumah aja ya, takut ditinggalin lagi, jadi kacau semua gitu, sedih atuhmah.

  15. Salut sama perjuangan kakak deh, bahkan iri. kapan bisa menipis perandaian ini dan langsung bergerak melakukan hal yang aku inginkan. ingin ada perpus di lingkungan ku tinggal. tidak ada tempat layak sih, aku melirik mushollah, apa disana boleh ya kak? rasanya juga minder, takut pada ngak setuju nantinya.

  16. Dulu waktu tau kalau sering pinjem buku di perpus dapet penghargaan aku jadi keranjingan pinjem juga😀 sampai pinjem kartu perpus temen hahaha
    tapi nggak menang, nggak masalah yang penting buku di perpus habis kulahap🙂

  17. ya ampun makin suka dan salut dengan pengalamannya mba lucky, berasa nonton film deh, padahal cuma baca kisahnya. jadi penasaran dgn tahun selanjutnya.🙂

  18. Ini bisa jadi inspirasi bagi pustakawan lainnya. Memberikan reward kepada muri-murid di sekolah bagi yang paling rajin mengunjungi perpustakaan. Walaupun tak semuanya membaca buku, tapi mudah-mudahan secara perlahan minat baca bisa timbul dalam benak mereka.

  19. Yaelah, ini mah perpusnya keren banget.. Disediain majalah, permainan, novel fiksi, beda jauh ma perpus SMA ku. Perpus SMA-ku suram, gelap, dan pengap. Koleksi itu-itu aja. Jadi, rada malas datang kesana -___-

  20. Enak juga ya kak Luckty kalo bisa gabung jadi anggota di perpustakaan kakak…
    Di kampusku perpustakaannya tidak selengkap punya kakak.
    Emang sih perpus kami sudah berbasis e-library, aplikasi yg memudahkan untuk mencari kode buku yang diinginkan.
    Tapi agak susah bergerak dengan nyaman di perpus kampus. Sedikit-sedikit jika ingin mengambil buku itu harus diambilin sama penjaga perpusnya, agak berbeda dengan salah satu perpustakaan universitas negri di dekat rumah.
    Perpus univ negri itu ada 3 tingkat dan banyak sekali kategori bukunya dan mengambil buku untuk dibaca bebas, asal dikembalikan ke tempat asal sesuai dengan kodenya misal Psikologi 151.34

    Dan komentarku di label pustakawan 2011, aku juga kasi komentar tentang Scrabble.
    Ternyata perpustakaan kakak juga ada permainan scrabble. Jadi aku menarik kesimpulan kalau di setiap perpustakaan sebenarnya ada permainan scrabble untuk mengasah otak.

    oiya kak, aku jadi teringat waktu SMP. Perpustakaan itu bukan hanya untuk membaca, juga bisa menjadi tempat remedial.
    Pernah dapat nilai merah di mata pelajaran Bahasa Mandarin, lau se atau guru mandarin yg sekaligus menjadi penjaga perpus, menyuruh kami yg mendapat nilai merah untuk ujian remedi di perpus (biar gampang diawasi) setelah kuku tangan kami serta betis kena sasaran rotan (maklum sekolah cina agak keras).
    Perpus juga bisa jadi tempat untuk berdiskusi kalau guru berhalangan hadir, jadinya gak bosan berada di kelas yang super ribut.

    oh ya kak, apakah pernah ada kunjungan siswa lain ke perpustakaan kakak?
    Misalnya sebagai tamu gitu?
    mohon jawab pertanyaan aku ya kak. makasi🙂

  21. Duh, Mbak. Baca tulisan ini jadi keinget perpustakaan SMA ku dulu, deh. Jauh dari kata keren. Serius! Selain penjaga perpus yang hobinya makan sama nonton gosip, buku-bukunya pun nggak memadai. Masih sangat kurang. Kadang satu buku cuma ada satu atau dua. Jadi kalo mau pinjam harus nunggu yang pertama punjam balikin dulu baru bisa gantian. Lebih kesalnya, udah ngincer buku itu, eh, pas dibalikin keduluan dipinjem orang lain. Semoga aja sekarang perpusnya jauh lebih baik daripada zamannya aku dulu.

  22. Jadi yg keren itu perpustakaannya apa yang ngelola? Nah lo siapa? Umm umm satu lagi yang mengisi keseharian perpustakaan (murid-murid tercinta).
    Smua ikut andil dah…🙂

  23. “Di penghujung DESEMBER. Sekolah sudah tidak aktif belajar karena sudah selesai Ujian Akhir Semester. Ternyataaaaa…perpus malah justru banjir murid yang sibuk remedi. Jadi yaaa..hampir 80% pada remedi semua. Alhasil banyak banget yang sibuk cari tugas, baik di buku maupun di komputer.”

    Hahaha, iya banget perpus buat ngerjain remedi. Atau bolos kalo males sama pelajaran di kelas *ups*. Ternyata kalo murid-murid merdeka, bebas tugas sehabis ujian, tidak dengan pustakawan ya. Banyaknya ‘jam kosong’ menjadikan perpus dibuat sebagai base camp alhasil pustakawannya kebagian lembur😀

  24. Beruntung sekalii perpustakaan yg punya pustakawan sebaik mba Luckty, karna sejujurnya aku belom pernah liat ada perpustakaan SMA yg sekeren inii, perpustakaan ku (dulu) gelap dan gak ada novel fiksinya *sedih*. Jadi kalau mau pinjem novel harus ke perpustakaan daerah yang jauhnya kebangeten. Di perpustakaan daerahku kalau telat ngembaliin buku sanksinya bukan denda mbaa, tapi penalti ga boleh pinjem buku selama jumlah hari keterlambatan, jadi buat orang yg demen banget pinjem macam aku inii hukuman kek gitu lebih serem daripada denda hihhii^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s