REVIEW Hujan dan Teduh

Hujan dan Teduh

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka.

Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan.

Ya, jalanmu dan jalanku.

Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh.

Pernahkah kau mendengar kisah mereka?

Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan.

Seperti itulah cinta kita.

Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan…

Tas selempang berisi buku-buku yang lumayan tebal membenani bahu kiri Bintang, sementara tas jinjing berisi perlengkapan untuk tugas akhir drama membenani tangan kanannya. Namun, dua beban yang berimbang di kanan dan di kiri tubuhnya itu tidak menghalangi Bintang untuk berlari menuju kelas pukul tujuh yang akan diisi oleh UAS.

Pukul tujuh kelas pertama yang mesti dihadiri Bintang hari ini. Kelas paling pagi dengan dosen paling tidak biasa. Terlambat satu menit saja ia tidak akan membiarkan mahasiswa masuk kelas dan menolak semua tugas mereka pada hari itu. Bintang, yang terlambat bangun karena alarm handphone-nya tidak berbunyi lantaran habis baterai, harus berlari setengah terbang untuk menghemat detik demi detik yang dengan gesit melarikan diri darinya. Ia tidak boleh terlambat. Tidak pagi itu.

Satu per satu anak tangga dilewatinya dengan cekatan untuk menuju kelasnya di lantai empat. Ia sengaja tidak menggunakan elevator karena pada jam-jam tersebut elevator sedang ramai-ramainya. Naik tangga lebih menghemat waktu walau m embuatnya terengah-engah. Bintang melambatkan langkah di tangga yang menuju lantai empat karena kehabisan napas. Di dua anak tangga terakhir, sebelum berbelok, ia benar-benar berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena mendengar nama Noval disebut-sebut.

Bintang yang merasa sudah cukup mendengar pembicaraan tersebut meneruskan langkahnya walau tubuhnya terasa lemas. Ia melewati dua perempuan yang barusan mengobrol, yang satu mengenakan kaus ungu, yang satu lagi berkemeja hitam. Dari sudut matanya, Bintang bisa melihat bahwa dua perempuan tersebut tampak kaget dan saling menyikut.

Bintang berjalan santai melewati mereka. Di balik punggungnya, kedua perempuan tersebut bertukar pandang. Bertanya-tanya apakah Bintang mendengar apa yang mereka bicarakan.

Ada banyak kecintaan yang dimiliki oleh mahluk hidup yang dianugerahi hati dan akal, di antaranya adalah kecintaan terhadap minat. Kecintaan terhadap minat dan kecintaan terhadap pasangan ada kalanya tarik-menarik. Membuat satu pihak merasa tidak dimengerti dan pihak yang lain merasa diabaikan. (hlm. 48)

Cinta membutuhkan penghargaan melalui kesetiaan. Sebuah prinsip lama muncul dalam pikirannya. Untuk membentuk sebuah hubungan diperlukan persetujuan dari kedua pihak, tapi untuk memutuskan hubungan hany diperlukan hilangnya cinta dari satu pihak saja. Dan Bintang yakin, semakin hari cinta Noval kepadanya semakin berkurang. Ia tidak bisa memaksakan.

Yang agak saya bingungkan dari buku ini adalah, kenapa harus ada cerita lama antara Bintang dan Kaila yang tidak berhubungan dengan cerita hidup Bintang bersama Noval? Mungkin, jika rasa traumanya bersama Noval dijadikan masa lalu dan menjadikan rasa cintanya kepada Kaila di masa mendatang justru terasa lebih masuk akal. Kenapa? Karena seseorang yang mengalami penyimpangan ketertarikan terhadap seseorang, biasanya disebabkan oleh masa lalu. Dan saya merasakan justru di buku ini malah kebalikannya.

Saat membaca kovernya yang dilabeli; Juara Pertama 100% Roman Asli Indonesia, saya tertarik untuk membelinya. Apalagi saya sudah membaca Kau: Cinta Pada Pandangan Pertama,buku Juara Kedua 100% Roman Asli Indonesia terlebih dahulu. Mungkin karena label itulah ekspetasi saya agak berlebih terhadap buku ini. Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bukan tidak menarik, tapi tidak sesuai ekspetasi seperti saat membelinya. Meskipun begitu, buku yang saya baca ini telah memasuki cetakan kedelapan. Apalagi penulisnya masih muda, patut diacungkan jempol karena bisa menulis sesuatu cerita dengan tema ‘yang tidak biasa’.

“Setiap orang ada pasangannya, dan orang baik itu diperuntukkan bagi orang baik juga. Gue lihat tuh lo orang baik. Mungkin pernah berbuat salah, tapi lo udah balik ke jalan yang bener lagi.” (hlm. 195)

Keterangan Buku:

Judul                            : Hujan dan Teduh

Penulis                          : Wulan Dewatra

Editor                           : Jenny Jusuf

Proofreader                  : Christian Simamora, Resita W. Febiratri

Penata letak                  : Dian Novitasari

Desain sampul              : Jeffri Fernando

Penerbit                        : GagasMedia

Terbit                           : 2012 (Cetakan kedelapan)

Tebal                            : 248 hlm.

ISBN                           : 979-780-498-4

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

19 thoughts on “REVIEW Hujan dan Teduh

  1. salam kenal ^^
    bingung nih tny sama siapa, kyknya ke kamu aja deh.
    aq lagi laper buku – buku kisah nyata. yang bagus apa ya?
    thanks before ^^

  2. Pingback: #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  3. Aku suka perumpamaan hujan.
    Banyak postinganku di blog, yang lagi-lagi menyebutkan hujan di sana.
    Ada suasana lain yang kurasakan ketika terdengar rintik hujan, tercium aroma tanah yang berbeda. Ya aku selalu suka hujan. Ketika hujan bisa nambah inspirasi buat nulis, suasana jadi melow gitu, hehe

  4. sy pernah baca novel ini . Suka skali dengan perumpaan hujan dan teduh, ditakdirkan bertemu tetapi tidak bersamaan dalam perjalanan . Kebetulan sy sangat suka hujan, jadi dibaca deh dalam sehari ..hehe

    iya sih, sy juga sempat bingung dengn pengangkatan kkisah masa lalu bintang dengan keyla, tp yah mungin bs dijadikan alasan konflik untuk perpisahan bintang dengan noval, (eh ? mudah2n ga salah ingat..hehe )

    • Filosofinya bagus, tapi malah isi ceritanya membingungkan. Penulisnya punya buku baru, judulnya Memento, semoga lebih baik dari ini..😉

    • Aku udah baca tulisannya yang lain, di GagasDuet; Harmoni. Ciri khas penulisnya, mengambil tema ‘dark’. Tema yang jarang diangkat penulis lain :))

  5. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Memorable Quotes | Luckty Si Pustakawin

  6. Aku agak spechless pas tau inti buku ini hahahaha
    Tapi, nggak mengurangi kesukaan aku akan buku ini sih. Terlebih aku suka hujan. Dan kovernya juga bagus :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s