REVIEW Memoritmo

 

memoritmo

“One good thing about music, when it hits you, you feel no pain.”  ― Bob Marley

Jujur, hal yang mendorong saya untuk membeli buku ini adalah COVER! Covernya sangat ciamik. Kedua, melihat ada dua nama yang tulisannya sangat ingin dibaca; Eross Chandra dan Vabyo. Ketiga, tagline buku ini; Ada cerita dalam setiap nada. Wah, bisa dipastikan ini berhubungan dengan musik!

Pas buka halaman demi halaman, alamaaaaakkk…kenapa fontnya terlalu imut?!? d(*⌣*)b

Saya kira ini merupakan kumpulan cerpen bertema musik. Ternyata ini adalah kisah para penulisnya tentang musik.

Dibuka dengan tulisannya Eross Chandra yang berjudul Across the Universe. Merupakan judul lagu The Beatles yang ditulis oleh John Lennon ini pertama kali muncul pada album Gonna Change Our World pada bulan Desember 1969.

Jai guru dewa om yang menjadi penggalan terkenal dalam lagu ini memiliki makna harfiah “Glory to the shining remover of darkness.”

Awalnya, Eross suka dengan bagian hook dan sing along yang ada di refrain lagu ini: “nothing’s gonna change my world.”, lirik ini rasanya dapat membuat anak SD atau SMP untuk ‘melawan’ dan percaya pada mimpinya. Itulah yang Eross alami. Selama bertahun-tahun, berbekal petuah satu kalimat dari John Lennon, Eross tidak pernah berhenti bermimpi dan mencntai musik. Eross tahu betul rasanya menjadi outside. Latar belakang perceraian keluarga, membuatnya lebih nyaman dengan dengan dunia yang ia imajinasikan sendiri dibanding dunia luar. Dan jawaban untuk semua hal yang berseberangan dengan apa yang dia mau adalah; “nothing’s gonna change my world.”, kemudian melanjutkan apa yang dia percayai dengan tenang.

Ini lagunya yang bisa didengarkan di youtube:

http://www.youtube.com/watch?v=UlcDqRkrRLQ

Favorit saya yang kedua adalah Sahabat Gelap yang ditulis oleh Vabyo. Karena latar belakangnya seorang penulis, maka tulisannya pun seperti menulis cerpen. Singkat dan selipan kekonyolan tentang dirinya sendiri saat masih berseragam putih abu-abu.

Sahabat Gelap merupakan judul lagu Kubik, sebuah band kombinasi darkwave, heavy metal, dan electronic tahun 1999, lagu ini ditulis oleh Deluciva Lusimers. Lagu ini merupakan single dari Kubik yang masuk dalam album kompilasi Indonesia Best Alternative.

Ada kalanya dengan mendengarkan sebuah lagu akan mengantarkan kita pada suatu memori. Pada suatu masa dimana kita mengalami kenangan tertentu. Bisa suka cita, bisa duka cita. Saya bisa seharian mendengarkan satu lagu sampai puluhan kali saat bad mood, atau saat galau, atau saat apapun tergantung suasana hati.

Saat mengerjakan skripsi, saya bisa ratusan kali mendengarkan Ayat-ayat Cinta-nya Rossa. Mengapa? Karena skripsi saya membedah film tersebut. Dengan mendengarkan lagunya berulang-ulang, biar penghayatannya berasa ke film tersebut, wkwkwk.. ( ʃ⌣ƪ)

Saat-saat rindu rumah, sebagai anak rantau, Hanya Satu-nya Mocca dan Ibu-nya Iwan Fals selalu menjadi lagu wajib yang harus didengarkan menjelang tidur.

Oya, ada lagu yang mengingatkan saya akan mama. Pas mama masih ada pernah nanya ke saya saat mendengarkan sebuah lagu berbahasa Inggris yang diputar di radio. Meskipun tidak mengerti artinya, mama bilang sepertinya lagu itu sedih sekali. Saya pun membelikan kasetnya. Lagu itu adalah Anyone-nyaRoxette.

Ada satu lagi yang mengingatkan akan kenangan tentang mama. Waktu itu, Kenangan Terindah-nyaSamson lagi booming banget. Seperti ababil lainnya, saya juga menggunakan NSP tersebut. Tiap mama nelpon, beliau selalu bilang; “Lagunya bagus. Jangan diganti ya.” Dan itu adalah NSP yang saya gunakan saat terakhir kali mama menelpon. Berbulan-bulan saya masih setia menggunakan NSP tersebut hanya demi kerinduan kepada mama yang pergi selamanya.

Saya gak akan pernah bosan dengan semua lagunya Sheila on 7. Ah, ababil tahun 90-an mana ada sih yang gak suka Sheila on 7? Bagi saya, mereka itu memiliki kenangan yang amat mendalam (mulai lebay deh). Kali pertama nonton konser saat SMP, ya nonton Sheila on 7 di Gedung Saburai, Bandar Lampung yang musti ditempuh kurang lebih dua jam dari rumah.

Saya nonton bareng ketujuh teman yang semuanya perempuan. Kapasitas gedung yang hanya memuat seribu penonton, membludak menjadi empat ribu penonton. Inilah kali pertama ada konser di Indonesia yang memakan korban. Kalau nggak salah ada lima yang meninggal. Dan belasan yang luka-luka akibat tergencet atau sesak napas. Untuk kami bertujuh selamat, meski sempat terpisah-pisah.

Meski jadi trauma nonton konser, tapi justru makin menguatkan suka dengan lagu-lagu Sheila on 7. Tiap mendengar lagu-lagu mereka terutama dalam album Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan, memori saya langsung teringat kejadian Tragedi Saburai tersebut. Saya masih ingat sekali saat Duta dibisiki panitia bahwa ada yang meninggal dalam konser tersebut, Duta menangis. Acara pun bubar setengah acara. Dan lagu Sephia-lah yang menjadi lagu terakhir yang Duta nyanyikan. Jadi suka merinding sendiri tiap denger lagu itu. Tetangga sebelah rumah ada yang baru saja melahirkan. Iseng-iseng saya mengusulkan nama; Sephia, seperti judul lagu itu. Sekarang Sephia sudah besar, kelas 6 SD.

Kalau luar negeri, saya nggak pernah bosan denger semua lagunya The Cranberries, The Corrs, dan Link Park. Jaman sekolah punya kasetnya lengkap. Bahkan saat rusak, saya membeli (lagi) yang baru hanya demi mendengarkan lagu-lagunya.

Jaman kuliah, ketika mata kuliah Bahasa Inggris, dosen memberikan tugas untuk menuliskan sebuah lagu kesukaan kita. Dan disuruh memberikan alasannya. Saya memilih Ode to My Family-nya The Cranberries. Lagu ini menemani saya sampai sekarang, seperti jimat saat mengalami masa-masa terpuruk. Suara Dolores dalam lagu ini sungguh menyayat hati… (⌣̩_⌣̩)\(‘́⌣’̀ )

The Cranberries – Ode to my family (lyrics)

http://www.youtube.com/watch?v=hjWWsp0tjtg

Jadi, lagu apa yang paling bermakna dalam hidupmu? Mungkin pertanyaan itu dapat menyulitkanmu. Memilih satu di antara sekian banyaknya lagu yang secara tidak langsung memiliki banyak andil dalam pembentukan pemikiran kita.

“Life is for the living. Death is for the dead. Let life be like music.  And death a note unsaid.”  ― Langston Hughes, The Collected Poems

Keterangan Buku:

Judul                            : Memoritmo

Penulis                          : Ade Plaoh, Anto Arief, Cholil Mahmud, Eross Chandra, Galih Sakti, Hasief  Ardiansyah, Kartika Jahja, Maradilla Syachridar, Meng, Mikkael Johani, Rain Chudori, Sammaria Simanjuntak, Sarah Deshita, Vabyo

Editor                           : Syafial Rustama

Proofreader                  : Resita Wahyu Febiratri

Penata letak                  : Gita Mariana

Desainer sampul           : Gita Mariana

Penerbit                        : Bukune

Terbit                           : September 2012

ISBN                           : 602-220-072-5

7 thoughts on “REVIEW Memoritmo

    • iya, suka gak tahan liat cover unyuuu…
      ini bukan kumpulan cerpen sih, tapi kumpulan kenangan penulisnya tentang sebuah lagu favorit mereka..😉

  1. Pingback: GIVEAWAY #bukukevin | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s