REVIEW ½ Pecah ½ Utuh

Sebagian besar kehidupan yang dianggap ‘berhasil’ di mata orang lain, dimulai dari kondisi sulit hingga akhirnya mampu dimenangkan. Ibarat telur yang harus dipecahkan terlebih dahulu sebelum digunakan, demikian pula manusia juga harus mengalami jatuh bangun, atau bahkan perasaan yang hancur untuk bisa memunculkan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Tidak ada masalah terlalu besar untuk disesali dan dilalui, juga tidak ada masalah yang terlalu kecil untuk diremehkan. Semua permasalahan kehidupan justru akan mengantarkan kita untuk meningkatkan kemampuan menghadapi masalah yang lebih besar. Ketika kita setia kepada perkara-perkara kecil, maka kita pun akan setia untuk menghadapi perkara-perkara yang lebih besar.

Seperti pada buku sebelumnya yang meledak di pasaran; Setengah Isi Setengah Kosong, buku ½ Pecah ½ Utuh ini juga mampu memberikan cambuk semangat untuk menghadapi hidup dengan lebih membuka mata dan hati lebar-lebar! ( ‘̀‘́)9

Kewenangan diberikan kepada seseorang untuk melayani orang lain, bukan untuk berkuasa, memerintah, atau justru memperkaya diri sendiri. Jabatan dan kewenangan adalah sesuatu yang diberi untuk membantu orang lain (pengikut), bukan sesuatu yang diperjuangkan atau dicari-cari dengan lobi tertentu dengan uang dan sebagainya. (hlm. 20)

Tidak ada kegairahan dalam pelayanan yang mudah ketika langit bersih dan biru. Tidak ada kesenangan dengan sekadar mengerjakan hal-hal yang siapa pun dapat dikerjakan. Namun, ada kepuasan yang sangat manis untuk diambil, ketika kita mencapai tujuan yang kita pikir tidak akan kita capai. (hlm. 27)

Dua paragraf di atas sangat #JLEB banget. Dalam bekerja, kita memang harus memposisikan di menjadi pelayan. Berhubung saya bekerja di sekolah, jadilah saya pelayan bagi murid-murid unyuu.. ( ʃ⌣ƪ)

Ada banyak sekali kalimat favorit yang bertebaran dalam buku ini:

  1. Hidup ini adalah gema, apa yang diperbuat suatu kali akan berbalik untuk menerimanya kembali entah dalam bentuk apa menurut caranya sendiri. Jika kita selalu melakukan hal-hal rutin dan telah menjadi kebiasaan, maka kita pun akan memperoleh apa yang telah kita lakukan tersebut. Inilah salah satu hukum kehidupan. Tidak ada bagian kehidupan yang parsial dan terpisah satu dengan yang lainnya. Kehidupan adalah peristiwa yang saling kait-mengkait, punya sebab akibat, serta memiliki dampak jangka panjang dan pendek. (hlm. 41)
  2. Melalui pembelajaran tentang kehidupan, seseorang akan semakin matang dalam menghadapi setiap masalah. Kita tahu bahwa kita memiliki kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan, namun dengan memilih untuk fokus kepada apa yang masih menjadi kelebihan kita, kehidupan pun akan berjalan dinamis. (hlm. 68)
  3. Dengan memilih untuk berpikir positif, semangat optimisme dan cara pandang yang positif akan mengalir dalam menghadapi kehidupan yang semakin hari semakin sulit. Daripada terus-menerus menggerutu akan apa yang kita alami saat ini, ada baiknya kita mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup hingga memungkinkan kita masih tetap berjuang. (hlm. 99)
  4. Kita hidup dengan apa yang kita peroleh. Kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan. (hlm. 122)
  5. Perilaku bahagia menarik hal-hal yang membuat bahagia. Orang bahagia menarik orang bahagia. Pikiran dan perilaku bahagia membawa hasil yang membahagiakan. (hlm. 155)
  6. Perubahan itu menyakitkan dan tidak mengenakkan bagi sebagian besar orang yang mengikutinya, namun tidak ada perbaikan tanpa perubahan. Ketika perubahan terjadi, kita tidak perlu melawan, namun mengikutinya sepanjang searah dengan visi utama dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai spriritual serta hidup kita. (hlm. 190)
  7. Kadang-kadang dalam hidup ini bukan hanya menyangkut seberapa cepat kita mendayung perahu, melainkan seberapa kuat arus tersebut yang menyerang perahu kita.
  8. Jika engkau menginginkan kebahagiaan selama satu jam, tidurlah sebentar. Jika engkau menginginkan kebahagiaan selama satu hari, pergilah memancing. Jika engkau menginginkan kebahagiaan selama satu bulan, menikahlah. Jika engkau menginginkan kebahagiaan selama setahun, warisilah kekayaan dan jika ingin kebahagiaan seumur hidup, tolonglah orang lain. (hlm. 200)
  9. Masa depan adalah milik mereka yang mampu bekerja keras dan berbagi dengan sesama sebagai wujud ungkapan syukur atas rahmat dari Sang Pencipta. (hlm. 205)
  10. Seseorang lebih mudah hanyut dalam simpati mereka yang mengalami kegagalan daripada memberi acungan jempol dengan rela kepada orang lain yang sudah lebih dahulu berprestasi. Seseorang juga jauh lebih mudah untuk mencemooh dan mencibir seseorang yang bisa lebih dahulu melakukan yang terbaik, daripada memberi pujian dan bersedia belajar untuk turut serta dalam melakukan perbuatan baik tersebut. (hlm. 230)
  11. Berusahalah untuk tidak menjadi orang sukses, tetapi lebih kepada menjadi orang bernilai. (hlm. 247)

Nah, kurang ciamik apalagi coba buku ini? Meski jarak antar paragraf lumayan rapat, untung tertolong dengan jenis font yang nyaman untuk membaca. Wajib baca, apalagi yang sedang galau menghadapi hidup! #eaaaa (´⌣`ʃƪ)

Keterangan Buku:

Judul                : ½ Pecah ½ Utuh

Penulis              : Parlindungan Marpaung

Editor               : Yugha Erlangga, Rizal Pahlevi Hilabi

Desain cover    : Sonny Sonatha

Desain isi          : Nala

Penerbit            : Erlangga

Tebal                : 329

ISBN               : 978-602-7596-03-0

2 thoughts on “REVIEW ½ Pecah ½ Utuh

  1. Makasih reviewnya mba😀 ini nih bagus banget Masa depan adalah milik mereka yang mampu bekerja keras dan berbagi dengan sesama sebagai wujud ungkapan syukur atas rahmat dari Sang Pencipta. (hlm. 205)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s