REVIEW We Love Stress

 

we love stress

“Problems are only opportunities in work clothes.” -Henri Kaiser

Seperti apa kehidupan di perkantoran di dalam gedung pencakar langit? Bukan, bukan hanya berisi kiprah profesionalisme dan segala ciri tindakan kerja. Arena kerja adalah panggung drama terbesar dalam kehidupan para pekerja dan professional, termasuk wanita karir tentunya.

Sebagian besar waktu wanita karir habis di kancah kerja, sebuah dunia yang berisi warna-warni peristiwa dengan menyertakan emosi. Selama belasan jam sehari perasaan dibawa berkelana mengarungi rutinitas kerja yang ada kalanya mencipratkan aneka entakan ke dalam hati. Banyak peristiwa dalam kesibukan kerja yang menyemprotkan semburat marah, tertekan, sedih, miris, geli, ataupun haru.

Ya, kantor menjadi wadah bagi hati yang bersedia kerja keras demi mendukung niat berbuat baik, dan berpenghasilan baik pastinya. Entah berapa banyak wanita karir yang harus berakrobat batin saat menunaikan pekerjaan yang diharapkan bisa dilakukan dengan perasaan nyaman, sementara kondisi sekelilingnya sarat tekanan.

“True friendship comes when silence between two people is comfortable.” -Dave Tyson Gentry

Pauline Leander menuangkan pengalamannya saat bekerja di perusahaan telekomunikasi ternama. Mengambil sudut pandang keseharian yang biasanya dialami para pekerja kantor. Bekerja di perusahaan telekomunikasi ternama dari pukul tujuh pagi sampai lima sore -jam kerja resmi, dalam praktik bisa terus berlanjut hingga pukul tujuh-delapan malam– dijepit jadwal padat, bergerak dari satu tempat rapat ke tempat meeting lain, dituntut mencapai target penjualan yang meningkat setiap bulan, apa yang paling dibutuhkan? Teman!

Keberadaan teman-teman di lingkungan kerja bukan tanpa maksud. Minimal delapan jam sehari dan lima hari seminggu bersama teman membuat kantor menjadi keluarga kedua. Kita harus pandai-pandai mencari 1001 sisi menyenangkan dari setiap teman.

Setiap teman punya keunikan yang diracik dari aneka adonan kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Bila bersedia bergaul dengan membuka pintu penerimaan selebar-lebarnya, mata batin kita bisa memandang sekaligus memahami bahwa setiap teman sungguh memiliki hati yang tulus. Dan itulah yang selalu ditumbuhkan dalam diri penulis sepanjang belasan tahun berada bersama rekan-rekan kantor.

Penulis merasa suasana kantor menyenangkan. Kehadiran teman-teman yang bersedia mendukung, tidak terpikirkan untuk saling silang dalam upaya menjatuhkan, dan selalu terbuka untuk bekerja sama menjadi anugerah keseharian yang tak henti untuk disyukuri.

Di sekolah yang umumnya didominasi oleh guru-guru yang umurnya dua kali lipat dari umur saya, otomatis saya seperti ‘anak’ mereka. Di perpus, saya hanya bersama koordinatornya. Itu pun hanya datang jika ada jam mengajar. Jarak ruang guru dan ruang perpustakaan cukup jauh, jadi saya jarang bergaul dengan yang lainnya. Jadilah saya lebih banyak bergaul dengan murid-murid unyu yang selalu memenuhi ruang perpustakaan setiap harinya. Saya menikmati bekerja di sekolah. Menjadi pustakawan adalah passion yang saya pilih. Sesuatu yang susah akan terasa mudah jika kita menikmatinya. Bekerja bukan semata-mata hanya untuk meraup uang sebanyak mungkin, tapi lebih kepada rutinitas yang kita nikmati. Menjadi pustakawan memang tidak akan bisa kaya harta, tapi kaya ilmu #eaaa #DitibanBuku (ˇ▼ˇ)-c∨ˇ)

Favorit  saya adalah Toko Serbaada. Penulis menceritakan toko serbaada yang ada di dalam kantornya, mulai dari pemesanan satu kontainer edamame, kacang bulu khas Jepang yang ditanam dan diproduksi di Jember, ada juga bebek rendam cabai hijau yang tak tanggung-tanggung langsung dari daerah asalnya di Padang Pariaan, Sumatera Barat, es krim Ben & Jerry yang dijual secara kreatif dengan mekanisme online order oleh agen tunggal dan langsung diantar ke alamat pemesan, demam Cross KW 1, dan lain-lain.

Bekerja di mana pun, ternyata tidak luput dengan yang namanya konsumtif. Selama dua tahun lebih bekerja di sekolah, belum pernah satu pun tergiur ikutan membeli barang. Saya suka diledekin ibu-ibu kalau ada yang jual peralatan rumah tangga macam wajan anti gores, wajan sehat, wajan cepat matang, wajan alami, wajan bikin masakan enak (gimana gak enak kalo yang dimasak pas demo adalah udang dan cumi :p) dan macam wajan-wajan lainnya. Saya suka ngeles dengan alasan, kalau saya beli sekarang, pas berumah tangga nanti tipe wajannya udah gak musim lagi, gyahahaha.. ~~~(/´▽`)/

Gak cuma ibu-ibu yang demam beli ini itu kalo ada yang jualan mampir ke sekolah. bapak-bapak juga gak kalah konsumtif. Penjualan paling laku keras kalo udah menyangkut urusan kesehatan. Madu yang mujarab, alat olahraga yang bikin sehat, kacamata yang mengurangi minus, vitamin yang menambah stamina, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang dijual, apalagi secara kredit, pasti laku keras! (´⌣`ʃƪ)

Pada dasarnya, setiap manusia sampai kapan pun mudah membuat daftar kekurangan dan keanehan yang tidak disukai dari orang lain. Pilihan ada pada diri kita sendiri: maukah kita menyusun daftar kelebihan dan keunikan yang kita hargai dari teman-teman di sekitar kita? Bila ya, berarti kita dapat selalu memuja hari-hari berat di tempat kerja dan di mana pun kita berada. Ada warna-warna bernuansa indah yang dihadirkan oleh setiap dari mereka.

Buku ini memang cocok bagi para pekerja maupun calon pekerja. Bekerja dengan segala rutinitas tidak selalu membosankan, tergantung pelakunya bagaimana menikmatinya. Racikan kata demi kata yang disampaikan penulisnya menuangkan kisah penuh warna; ringan dan lucu, tapi menyentuh, tentang kehidupan di perkantoran, terutama kebersamaan dengan rekan kerja. Jika kita menikmati pekerjaan kita, yakinlah bahwa tempat kerja seperti rumah kedua.

“Life is a great big canvas, and you should throw all the paint on it you can.” -Danny Kaye

Keterangan Buku:

Judul                : We Love Stress

Penulis              : Pauline Leander

Desain sampul  : Mila Hidajat

Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Jakarta

Tebal                : 144 hlm.

ISBN               : 978-979-22-9203-9

One thought on “REVIEW We Love Stress

  1. Cerita tentang wanita karier ya? Ah, idaman banget suatu saat bisa jadi seorang businesss-woman dengan kesibukannya yang luar biasa. Mungkin stress kali ya karena terlalu sibuk, sampe nggak sadar kalau ternyata masih jomblo #eeaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s