REVIEW Bittersweet Love

“….Dalam hidup ini terkadang kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak menyenangkan. Kesedihan, kehilangan, dan mungkin berbagai macam cobaan lainnya. Tapi justru itu yang membuat kita jadi lebih kuat…” (hlm. 103)

“….terkadang hidup memang berjalan tak sesuai keinginan, banyak cobaan datang menghadang dan yang harus kamu lakukan adalah menerimanya dengan lapang dada. Semua yang terjadi pada pernikahan orangtuamu, jadikan pelajaran untukmu nanti.” (hlm. 103)

GagasDuet kali ini ditulis oleh Netty Virgianti & Aditia Yudis. Dua cerita yang masih memiliki benang merah. Mbak Netty dari sisi Nawang, gadis pemberontak yang aslinya hatinya rapuh. Sedangkan Aditia Yudis dari sisi Joana, gadis rapuh yang lubuk hatinya memiliki sifat pemberontak. Nawang dan Joanan sebenarnya bukanlah anak yang nakal. Meskipun Nawang sering ikut tawuran, dan Joana sering bolos sekolah. Semua itu hanyalah pelarian dari jiwa mereka yang kosong. Sebagai manusia yang juga berbagi keluarga, saya bisa merasakan atas apa yang dialami Nawang dan Joana. Dan seumur-umur baru buku inilah terbitan GagasMedia yang bikin nangis tersedu-sedu pas bacanya! Berbagi itu memang tidak mudah, perlu proses untuk menjalaninya.

“Bukan hanya kamu saja yang orangtuanya bercerai dan menikah lagi. Banyak anak-anak lain yang juga mengalaminya, tapi mereka tetap baik-baik saja! (hlm. 53)

 

“…Percayalah, dengan berbagi kamu ndak akan kehilangan apa-apa. Bukannya sekarang kamu malah punya banyak saudara?” (hlm. 104)

Take It – Netty Virgianti

Nawang masih ingat jelas dinding bercat kuning gading di kamar mungilnya di bagian samping rumah, yang penuh dengan poster-poster bergambar kelinci – binatang kesayangannya. Dulu ayah dan ibunya menghadiahi sepasang kelinci di ulang tahunnya yang ke lima belas. Sepasang kelinci yang diberi nama Ciko dan Coki itu membuat Nawang betah bermain berjam-jam – menggendong dan mengejar-ngejar keduanya di halaman sempit belakang rumah. Tapi entah karena sakit atau memang waktunya telah tiba, keduanya mati dalam waktu yang hampir bersamaan. Seminggu lamanya Nawang tak berhenti menangisi Ciko dan Coki, dan setelah itu ia tak mau lagi memelihara kelici ataupun hewan lain sebagai pengganti Ciko dan Coki. Nawang tak mau kehilangan lagi. bahkan rasa sedih karena kematian Ciko dan Coki masih ia rasakan hingga kini.

Dan sekarang, Nawang tidak hanya kehilangan sepasang kelincinya, tapi juga kedua orang tuanya. Bukan karena meninggal dunia, melainkan karena keduanya membuat Nawang seolah hidup sebatang kara saat ini. Kehilangan perhatian dan kasih sayang yang selama ini khusus dicurahkan kepadanya.

“Kadang-kadang sebagai orangtua, kami sering bertindak egois. Merasa yang terpenting adalah kebahagiaan kami sendiri, tak peduli dengan perasaan kalian. Untuk itu Ayah minta maaf. Niat kami menyatukan kembali hati yang dulu sempat terpisah, malah membuat kamu dan Jo merasa tersingkir.” (hlm. 86)

Pulang – Aditia Yudis

Aku belum menemukan bentuk kehilangan yang menyenangkan. Semua rupa kehilangan rasanya selalu meninggalkan luka, kesedihan, dan penyesalan. Memang terkadang tidak selalu seperti itu, minimal salah satu dari rasa itu akan menghampiri. Sampai sekarang pun rasa sedih karena berpulangnya bunda masih sering menyerbu hatiku. (hlm. 142)

“Tante Ajeng ada bukan untuk menggantikan posisi bundamu, Jo. Beliau hadir untuk membantu merawatmu dan ayahmu. Tante Ajeng sama sekali tidak pernah berniat menggeser posisi bundamu, baik darimu atau ayahmu.” (hlm. 232)

Selama ini aku merasa terlalu menutup hatiku, seharusnya aku menyadari

Jika ayah patut bahagia. Bahwa bunda sudah pergi – bunda takkan pernah tergantikan posisinya, tapi Tante Ajeng layak mendapatkan kesempatan. Selama ini Tante Ajeng selalu baik padaku meski aku selalu memperlakukannya semena-mena. Semestinya aku tahu, ia tak pernah mencoba menjadi bunda, ia hanya menunjukkan betapa ia menyayangiku seperti ia sayang pada ayah. Aku adalah bagian tak terpisahkan dari ayah, ia tak mungkin hanya mencintai ayahku saja. Tante Ajeng bilang tak mungkin mencintai dengan setengah-setengah, cinta adalah totalitas. (hlm. 234)

Keterangan Buku:

Judul                : Bittersweet Love

Penulis              : Netty Virgianti & Aditia Yudis

Editor               : Kinanti Atmarandy

Proofreader      : Resita Wahyu Febiratri

Penata letak      : Ilham P. Winasis

Desain sampul  : Dwi Annisa Anindhika

Penerbit            : GagasMedia

Terbit               : 2012

Tebal                : 244 hlm.

ISBN               : 979-780-544-1

10 thoughts on “REVIEW Bittersweet Love

  1. Pingback: #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca versi @lucktygs | Luckty Si Pustakawin

  4. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s