REVIEW Pintu Harmonika

Adakah surga di bumi?

Buat gue ada. Letaknya nggak jauh dibelakang ruko bokap gue. surga gue hanya sepetak tanah kosong yang ditumbuhi aneka rumput, semak-semak, lumut, dan ilalang, yang nggak pernah sepi dari suara jangkrik dan reruntuhan tembok bau pesing bergrafiti norak.

Herannya, setiap gue berada di situ, gue merasa bebas dan damai. Bukan cuma gue, tapi demikianlah arti kosong buat teman-teman yang kemudian menjadi seperti adik-adik gue sendiri, Juni dan David. Di sana, walaupun nggak selalu main bareng, kami membentuk ikatan yang sulit diceritakan. Kami seolah mengerti satu sama lain dan saling menyayangi. (hlm. 195)

Pernah beberapa kali setiap melintasi deretan ruko yang kini makin menghiasi kota kecil tempat kami tinggal, berpikiran apakah enaknya tinggal di ruko? Tidak punya halaman dan tetangga. Jaman sekolah, saya pernah diajak seorang teman ke rumah saudaranya yang memiliki ruko. Ketika masuk ke lantai dua, meskipun ruko ini berlevel ‘mewah’, sangat terasa sekali hawa pengapnya. Lebih enak rumah biasa yang dilengkapi kaca dan memiliki halaman rumah. Kita tidak bisa mencium bau rumput yang tersiram air hujan atau menanam bunga di halaman rumah.

Mungkin itulah yang dirasakan tiga tokoh utama dalam novel ini. Rizal si #selebtwit yang eksis di dunia maya, tapi kesepian di dunia nyata. Juni yang kena skors akibat mem-bully temannya di sekolah dan Davidyang khawatir akan mamanya yang tidak membuat kue senyum malaikat lagi. Novel ini terdiri dari tiga narator. Masing-masing memiliki masalah yang berbeda. Representasi dari problematika masalah yang dialami remaja, serta disisipi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Kalau sedang sama-sama kabur ke sana, mereka sebetulnya malah asyik dengan dunia mereka masing-masing. Rizal membawa laptop dan ngeblog atau cengar-cegir sendirian main Twitter. Juni pasti lagi baca. David, kalau nggak main sama Diba, mampir dengan sepedanya lalu ikutan baca koleksi komik Detektif Conan punya Juni. Meskipun begitu, di balik aktivitas mereka masing-masing, ada yang menyatukan mereka. Perasaan bebas dan aman, juga terlindungi. Itulah surga bagi mereka.

Bagi gue, ketika respons untuk petualangan impian gue masuk ke dunia maya, awalnya gue kaget. Ternyata gue mendapatkan begitu banyak cinta. Gue merasa disayang. Walau nggak sebanding –karena tak akan tertandingi- ini seolah mengisi kehilangan gue akan ibu. (hlm. 128)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Kasih sayang Ibu benar-benar nggak bersyarat. (hlm. 80)
  2. Ibarat seorang pesulap andal, tepukan lembutnya benar-benar mengangkat separuh beban hati gue. (hlm. 119)
  3. Karena katanya sekalipun lagi sakit banget, kalau kita tersenyum, sakitnya akan berkurang. (hlm. 27)
  4. Sepanjang hidup kita, segala macam emosi sering terkumpul mengendap dan akhirnya menjadi “racun” yang memotivasi tindakan dan keputusan kita. (hlm. 183)
  5. Life is like a piano. The white keys represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too. (hlm. 283)

Dari segi cover, unyu sangat. Cover asli berupa ruko yang dihuni Rizal, Juni dan David. Setelah cover utama dibuka, ada cover (lagi) di dalamnya. Baru terlihat apa itu surga bagi mereka bertiga. Rizal sibuk dengan handphone, Juni memegang dan membaca buku, dan David berkacamata serius membaca komik Conan. Khas PlotPoint, di dalamnya kita juga akan menemukan ilustrasi unyu yang berhubungan dengan isi cerita. Endingnya pun tak tertebak! ˇ)-c 

Yang disayangkan adalah banyak sekali typo yang ditemukan. Padahal jika melihat kolasi novel ini, sudah ada tim penyunting, pemeriksa aksara, dan penata aksara. Jadi terkesan novel ini buru-buru diterbitkan, mungkin mengejar filmnya yang akan segera tayang.

Kebanyakan novel adaptasi film terkesan hanya memindahkan skenario yang ada di dalam film. Begitulah kira-kira yang saya baca dari novel-novel adaptasi film. Setelah Biola Tak Berdawai-nya Seno Gumira Ajidarma dan Brownies-nya Fira Basuki, baru menemukan kembali buku apik hasil adaptasi film. Pintu Harmonika ini skenarionya ditulis oleh Ginatri S. Noer, dan diadaptasi ke novel oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti. Sangat jarang novel Indonesia hasil adaptasi film dikemas berbeda dari filmnya. Tiga novel ini memiliki sudut pandang yang berbeda dengan filmnya.

Bagi saya, surga di bumi adalah perpustakaan yang dilengkapi buku-buku unyu. Apakah surga yang terlintas dalam pikiranmu? (‾▽‾)♥(‾⌣‾)

Nothing last forever. Sekalipun sedih, kesadaran akan hal itu membuat gue akhirnya ada di titik melepaskan. Barangkali memang sudah waktunya kami melepaskan Surga karena kan dari awal, Surga hanya “dipinjamkan” buat kami. Barangkali Allah yang Mahatahu memutuskan bahwa kami sudah nggak membutuhkan Surga lagi. Tapi juga yakin, Surga akan selalu tetap hidup di hati kami sebagaimana Ibu bagi gue. (hlm. 131)

Keterangan Buku:

Judul                            : Pintu Harmonika

Penulis                          : Clara Ng & Icha Rahmanti

Cerita asli                     : Clara Ng, Ginatri S. Noer

Penyunting                    : Arief Ash Shiddiq

Perancang sampul         : Diani Apsari

Pemeriksa aksara         : Dias Rifanza Salim

Penata aksara               : Kuswanto

Desain                          : Teguh Pandirian

Ilustrasi                        : Herdiyani

Penerbit                        : PlotPoint Publishing

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 285 hlm.

ISBN                           : 978-602-9481-10-5

 

Trailer Pintu Harmonika

http://www.youtube.com/watch?v=l318XL5TanQ&feature=youtu.be

14 thoughts on “REVIEW Pintu Harmonika

    • Iya, dua-duanya juga favoritku. Apalagi Icha Rahmanti, lama banget nunggu buku berikutnya setelah Beauty Case..😀

  1. Aku juga pernah baca sekaligus mereview buku ini. Alhamdulillah, pernah diterbitkan di salah satu koran Jawa Barat bagian rubrik remajanya. Yaa, walaupun nggak nulisin tentang kutipan-kutipan, tapi begitulah *GJ ya’*

    Ceritanya emang bener-bener memikat banget. Pas baca cover-back nya, DIJUAL SURGA! Hah? Maksudnya? Agak bingung juga sih, tapi setelah baca keseluruhan isinya, W.O.W banget deh.

    Sosok Rizal itu impian aku banget, maksudnya impian untuk jadi selebtwit dan blogger terkenal. Ciyuss, pengen banget😀

    Sosok Juni yang sering banget kena masalah-masalah dari sekolahnya, hampir sama dengan sifat teman aku yang namanya juga Juni. Jangan…jangan…penulisnya terinspirasi karena dia lagi. Akakakak xD

    Kalau David, tentang ketidak-tahuan tentang Ayahnya, bikin ceritanya tak-tik-tuk penasaran dan sekali lagi, endingnya keren bingitz.

    Yaaa, aku suka sama buku ini, walau dengan typo yang bertebaran, seenggaknya aku fokus ke ceritanya.

    Mbak Luckty dapat tanda tangan crew Pintu Harmonika? Pengen juga😐 *dengan wajah memelas*

    @asysyifaahs

      • Waaah, sayang banget Mbak, padahal review-nya keren, bagus, dan ciamik badai lho!! *maaf virus syahrini* Berpotensi banget buat mejeng di majalan/koran. Kenapa gak dicoba? Siapa tau bisa jadi reviewer tetap, aku juga lagi coba nih…

  2. Buat saya, belum ada tempat seperti surga di duna ini…
    Namun, saya bersyukur kepada Allah, karena telah menghadirkan orang-orang yang membuat keadaan dan perasaan saya sperti disurga di dalam hidup saya, keluarga dan teman-teman saya..🙂

  3. aq juga punya bukunyaaaaa…
    dapet dari GA-nya mbak Ferina. Dan ada ttd crew pintu harmonika-nya juga.. (tapi aq belum bikin reviewnya *ziiiiing, memalukan)
    setuju banget, bukunya kesannya kayak buru-buru diterbitin yah..😦
    dan setuju juga, covernya lucuuuu. anakku aja (3tahun) suka banget !!

  4. Buat Aku surga ada di kamarku, saat kedua buah hatiku , mlungker di kaki dan di lenganku. Masing masing sambil membaca buku baru.
    Setelah itu saling berkomentar tentang buku yang sudah dibacanya, dengan ekspresi yang berbeda….serruuu

  5. Pingback: Clara Ng Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  6. Aku udah baca, udah review buku ini juga, tapi umm, ada beberapa hal yang kurang aku sukai di dalam buku ini. Aku hanya terkesan saat membaca sudut pandang david dan rizal saja :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s