Posted in resensi

REVIEW (Not) Alone in Other Land

There is no motivation. Just do it, then you will like it. Saat kau sadar, kau sudah menikmati dirimu yang baru. (hlm. 239)

Belajar bahasa adalah langkah kecil untuk mulai mengerti budaya bangsa lain dan memicu persahabatan dan perdamaian dengan bangsa tersebut. Karena itu, belajar bahasa tidak akan bisa cukup hanya dengan belajar dan menghafal kata-katanya saja. Belajar bahasa membutuhkan kesabaran dan pengertian akan budaya si empunya bahasa tersebut.

Adalah Lia ke Korea, Fei ke China, dan Andry ke Jepang. Mereka bertiga menuturkan kisahnya dengan khas masing-masing. Menceritakan pengalamannya saat berada di negeri orang. Disisipi gambar-gambar yang mendukung. Cocok sekali untuk yang memiliki tujuan ingin bermukim di negeri orang. Banyak pengalaman hidup yang dapat kita resapi. Oya, di akhir buku juga diselipkan tentang pengetahuan ringan tentang negara yang mereka tempati. Sepertinya, ini buku terbitan Penerbit Haru yang paling saya suka! (‾▽‾)♥(‾⌣‾)

Annyeonghaseyo, Seoul – Lia Indra Andriana

Bahasa China, Korea, dan Jepang sebenarnya adalah satu rumpun. Korea dan Jepang juga mengenal ‘kanji’, yaitu tulisan China, meski saat ini tidak banyak anak muda Korea yang dapat membaca kanji dengan baik dan benar. Itulah sebabnya, orang China bisa mengubah nama mereka menjadi nama Korea, dan begitu pula sebaliknya.

Tulisan Korea yang dikenal sekarang ini diciptakan oleh seorang raja bernama Sejong yang merasa prihatin terhadap warganya yang tidak mampu membaca dan menulis karena kanji sangat sulit dipelajari. Akhirnya, ia pun menciptakan tulisan yang lebih sederhana untuk semua warganya.

“Hari ini… kamu cantik.” (hlm. 44)

Memuji orang itu sama menyenangkannya dengan dipuji. Pujian di sini bukan dalam arti menjilat. Pasti kita sendiri pernah merasakan mengagumi sesuatu, atau melihat seseorang dan merasa mereka ‘sedikit’ berbeda, memuji memang tak merugikan kok.

  1. Teman-teman yang positif thinking akan mudah sekali move on, sedangkan teman lain yang bertipe pemikir memerlukan waktu sebelum bisa move on dari sakit hatinya. (hlm. 49)
  2. Hal sepele seperti ‘menemani’ makan ternyata bisa membuat suasana hati seseorang menjadi baik. (hlm. 65)

Nihao, Shanghai – Fei

Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa yang paling banyak diminati orang-orang di dunia, bahkan disebut-sebut sebagai bahasa internasional kedua setelah bahasa Inggris. Karena banyak peminatnya itulah, banyak universitas di China menyediakan kelas khusus bahasa bagi yang ingin belajar bahasa Mandarin di sana.

  1. Bahasa memang sarana utama dalam berkomunikasi. Tanpanya, mungkin banyak kesalahpahaman bisa terjadi. Tetapi, adakalanya tidak mengerti justru lebih baik. (hlm. 119)
  2. Kadang, kehidupan asrama yang dipenuhi berbagai orang asing memang sedikit merepotkan. Apalagi, jika bertetangga dengan orang-orang yang superberisik dan tidak tahu diri. Tetapi di luar itu semua, banyak pengalaman seru yang diperoleh karena bisa bertemu dan belajar hidup bertetangga dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang. (hlm. 131)
  3. Mungkin memang hidup sendiri di negeri orang secara tidak langsung berhasil ‘memaksa’ saya tumbuh jadi pribadi yang lebih mandiri. Apa pun yang biasanya di rumah bisa minta tolong, kini saya harus belajar melakukan semuanya sendiri. (hlm. 149)

Aaaakkk…ada adegan di perpustakaan;

Bukan hanya karena perpustakaannya yang superbesar sampai delapan lantai dan juga modern, meliankan juga karena apa yang saya lihat di sana.

Gila! Ramai sekali!

Saat itu saya ke sana hari Minggu, loh. Hari libur. Weekend. Saat yang biasanya anak-anak muda akan berusaha kabur jauh-jauh dari lingkungan sekolah dan bersenang-senang di mal, main ke taman, atau hang-out di manalah, yang jelas bukan di lingkungan kampus, apalagi tempat penuh buku yang bernama perpustakaan.

Saya benar-benar tidak menyangka kalau ternyata pada hari Minggu begini, banyak juga orang yang suka ‘nongkrong’ di perpustakaan.

Di setiap lantai yang saya jelajahi, semuanya ramai orang. Ada yang terlihat sedang berduduk-duduk ngobrol di ruang sofa bersama temannya, ada yang terlihat serius merenungi buku di hadapannya, ada juga meja-meja baca yang tidak terisi orang tetapi di sana masih tertinggal beberapa buku, tas, dan juga botol minuman. Mungkin pemiliknya sedang mencari-cari buku referensi lain yang dibutuhkannya atau bisa jadi sedang keluar untuk refreshing sebentar.

Buru-buru saya mengajak Juliet keluar dari sana sebelum saya ikutan stress. Sambil berjalan keluar, saya bertanya pada Juliet kenapa perpustakaan bisa begitu ramai di hari Minggu seperti ini.

Jawabannya pun bisa membuat saya antara geli, juga kagum. Beberapa sengaja datang ke perpustakaan untuk numpang tidur karena di dalam tidak berisik, juga ada AC. Beberapa untuk numpang pacaran, tetapi memang kebanyakan datang untuk belajar di sana.

Kata Juliet, banyak yang sengaja datang pagi-pagi dan baru pulang saat malam hari. Itu sebabnya banyak orang yang membawa serta tas dan botol minumannya karena mereka memang bersiap untuk seharian nongkrong di perpustakaan.

Bahkan, tambah Juliet lagi, menjelang dan saat musim ujian, biasanya sejak pagi-pagi perpustakaan belum dibuka pun sudah banyak yang mengantre di depan pintu. Begitu perpustakaan akhirnya mulai beroperasi, semua yang sudah mengantre itu akan langsung menyerbu masuk dan segera berebut mengambil tempat masing-masing. Setelah itu, mereka akan belajar di situ sampai larut, dan keesokan harinya mereka kembali pagi-pagi mengantre di depan pintu perpustakaan.

Mau tidak mau, saya pun jadi membandingkan. Di Indonesia juga banyak kampus yang memiliki perpustakaan yang tidak kalah besar dan tidak kalah modern, tetapi kebanyakan malah lebih sering kosong-melompong. Bahkan saat musim ujian.

Saya pun jadi berpikir, mungkin ini salah satu sebabnya kenapa sekarang China bisa maju lebih pesat dari Indonesia, padahal sampai beberapa waktu lalu China masih lebih miskin dari Indonesia. Ini karena semua orangnya pekerja keras dan begitu kompetitif, bahkan sejak masih sekolah. Benar-benar perlu kita contoh tuh. (hlm. 137-139)

Konnichiwa, Tokyo – Andri Setiawan

Persahabatan bukan hanya tentang diri kita menerima orang lain, tetapi juga membiarkan diri kita diterima orang lain. (hlm. 200)

Paling menarik adalah saat penulisnya menuturkan pengalamannya saat mengikuti sebuah International Camp yang diselenggarakan oleh Ashinaga Ikuekai, sebuah organisasi nirlaba yang memiliki visi untuk menyelamatkan anak-anak yatim dengan jalan memberi mereka beasiswa. Salah satu caranya adalah program Sejarah Diri – “Jibun-shi”. Membuatnya merasa berpikir bahwa melupakan masa lalu dan lari dari masa lalu bukanlah cara yang tepat untuk membantu kita melupakan kesedihan yang ditimbulkannya. Masa lalu adalah alat bagi kita untuk bisa mengerti orang lain.

“Yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri.” (229)

Keterangan Buku:

Judul                : (Not) Alone in Other Land

Penulis              : Lia Indra Andriana, Fei, dan Andry Setiawan

Penyunting        : NyiBlo

Desain cover    : Dedy Andrianto

Ilustrasi isi         : Angelina Setiani

Penerbit            : Haru

Terbit               : November 2012

Tebal                : 978-602-7742-06-2

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

16 thoughts on “REVIEW (Not) Alone in Other Land

  1. Belajar bahasa memang sangat menyenangkan, karena dengan belajar bahasa kita juga bisa tahu kebudayaan si pemakai bahasa tersebut. Budaya terbentuk karena bahasa dan bahasa meneruskan budaya. Jadi belajar bahasa itu kayak pribahasa ‘sambil menyelam minum air’. Suka banget pokonya, karena itulah saya kuliah ngambil jurusan Bahasa Inggris, karena saya sangat tertarik dengan kebudayaan Inggris terutama kehidupan kerajaannya. Berharap banget bisa kuliah S2 di Inggris 🙂

  2. Judulnya yang berarti ucapan ‘Hallo’ ya… Keren lah, belajar bahasa itu menyenangkan kok. Pepatah bilang, kamu belum bisa menguasai lebih dari dua bahasa asing belum bisa disebut orang. Hahah… Aku sendiri, selain Inggris tentu saja, lagi belajar sedikit-sedikit bahasa Jerman, Jepang, sama secuil Korea. Apalagi sebagai Duta Bahasa xD *bukan maksud pamer lho*

    Nggak kebayang kalau di dunia ini nggak bahasa, nggak akan mungkin orang bisa berkomunikasi.

    Seharusnya aku udah dapat buku ini, tapi di tobuk susah nyarinya x_x

  3. AAAAAAK jepang korea, aku suka dua-duanya mhehehe suka sama drama-drama dan filmnya sih x))

    Kadangkala yang bikin kita ‘males’ untuk ke luar negeri ya karena kendala bahasanya sih nggak fasih inggris lah, apalagi bahasa asing yang lain tapi memang belajar bahasa asing itu perlu ya..

    Judul buku ini menurutku unik, selain tulisan yang sama-sama berkesinambungan satu sama lain sama ada disisipin unsur budayanya juga ya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s