REVIEW Tak Sempurna

Setiap hari kami bangun pagi, terhipnotis untuk selalu datang lagi ke sekolah, berbaris rapi mengantrekan diri untuk seolah senang hati mendapatkan tekanan-tekanan, menjalani penderitaan, memikul beban-beban yang tak pernah kami inginkan.

Demi masa depan? Entah nabi mana yang mengajari bahwa sekolah akan menjamin masa depan yang baik. Kenyataannya, jutaan pengangguran berijazah sekolah setiap tahun mengantre di perusahaan-perusahaan yang dimiliki orang-orang putus sekolah! aneh! Aku setuju bahwa manusia perlu ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan modal penting untuk mendapatkan masa depan yang baik, tetapi bisakah semua itu tak dimonopoli dan dikalengkan di pabrik-pabrik pengetahuan bernama sekolah? Ah, aku benci mengatakan ini: aku benar-benar benci sekolah, tapi aku tak punya pilihan lainnya. (hlm. 10)

Inilah sekolahku. Di sini, guru-guru bergossip tentang gaji dan tunjangan yang tak cukup untuk membayar pinjaman mereka di bank. Sialnya, mereka lebih sering mengajar dengan sisa-sia tenaga, menghadapi kami dengan wajah yang kuyu, kurang vitamin. Di saat-saat tertentu, mereka juga melampiaskan kekesalan dan kemarahan mereka kepada kami. Menyebalkan.

Di sekolah ini, aku ragu benarkah kami akan memiliki masa depan? Benarkah pendidikan merupakan modal utama untuk sukses di hari-hari nanti? Aku tak menemukan kebahagiaan di sini, terutama di dalam kelas, kecuali saat jam istirahat. Aku tak bahagia saat belajar, tetapi aku bahagia saat bermain atau mengobrol. Pertanyaannya, mengapa aku harus bermain dan mengobrol dengan cara membayar uang sekolah yang mahal?

Secara keseluruhan, aku tak bahagia dengan sekolah. dan bisakah seseorang mempercayakan masa depannya pada sesuatu yang tak membuat dia bahagia? Bagiku, sulit melakukannya. Sekolah hanya semacam penjara kebebasan yang punya jam istirahat dan waktu liburan. Benar-benar menyebalkan. (hlm. 50)

Rama Aditya Putra. Rama dan teman-temannya menyebut diri mereka Lazard. Lazuardi terdengar seperti tempat bermain anak-anak. Permusuhan antara Chibanx dan Lazard sudah terjadi sejak lama, belasan tahun usianya, klasik. Puncaknya, 14 September 2011, setahun lalu, salah satu teman kami, Andri, terbunuh dalam sebuah penyerangan yang dilakukan Chibanx secara tiba-tiba.

Andri adalah teman yang solider. Dia selalu mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingannya sendiri. Dia meninggal dengan luka-luka para di sekujur tubuhnya. Andri meninggal justru saat hendak menolong Bram yang tengah dikeroyok anak-anak Chibanx. Rama dan kawan-kawannya ingin membalas dendam; darah harus dibayar darah. Nyawa dibayar nyawa.

Tawuran pelajaran sekolah menjadi potret buram dunia pendidikan Indonesia. Pada 2011, setidaknya terjadi 128 kasus tawuran antar pelajar. Hingga September 2011, angka itu melonjak signifikan lebih dari 100%, yakni 330 kasus tawuran dan telah menewaskan 82 korban jiwa.

Tawuran perkelahian kelompok atau tawuran di kalangan pelajar sesungguhnya sudah bermula sejak 1970-an. Namun, dulu hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Saat ini, berbagai peristiwa tawuran pelajar menjalar ke berbagai daerah di Indonesia. Angka peristiwa tawuran pun melonjak tajam dari tahun ke tahun. Menyebabkan puluhan korban jiwa melayang sia-sia di punggung-punggung jalanan. Ironis, pelajar yang semestinya santun dan ramah sebagai output pendidikan sekolah, justru berubah beringas menjadi berandalan-berandalan jalanan.

Laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak menunjukkan fakta mengejutkan. Sepanjang Januari hingga September 2012, telah terjadi lebih dari 103 kasus tawuran pelajar. Korban yang ditimbulkan pun tidak sedikit; 48 orang pelajar luka berat, 39 luka ringan, dan 17 meninggal dunia.

Tawuran pelajar adalah refleksi bobroknya kehidupan bermasyarakat kita.remaja yang tidak toleran, agresif, dan main hakim sendiri menunjukkan banyak hal tentang keluarga, sistem sosial, nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Tawuran antar pelajar sudah menjadi penyakit kambuhan, celakanya hingga saat ini belum ditemukan obat mujarab untuk mengatasinya. Sementara korban terus berjatuhan.

Buku yang ditulis oleh Fahd Djibran ini mendeskripsikan kegalauan seorang pelajar dalam menghadapi masa depannya. Tidak hanya itu, merepresentasikan pendidikan Indonesia secara hitam putih. Dikemas apik dengan sisipan lirik-lirik lagu yang dibuat oleh Bondan Prakoso & Fade2Black mulai dari album pertama,Respect sampai album terakhir, Respect & Unity for All. Suka banget covernya, bercak-bercak darah yang menghiasi seragam sekolah, sesuai dengan tema yang diangkat dalam novel ini; tawuran. Sayangnya, masih ditemukan ada beberapa typo.

Sekolah, bagiku, telah dan selalu mempersempit cara berpikir dan daya imajinasiku. Sekolah mungkin mengajari kita cara berpikir kritis, problem solving, dan berbagai soft-skill kreativitas lainnya, tetapi di akhir: semuanya diukur dengan ujian! Ironis, sebab kita hanya diperbolehkan mengikuti “satu jalan”. Sesuatu yang ditentukan dengan seragam. Semua jawaban kita dalam ujian, sehebat apa pun cara kita menjawabnya, sekreatif apapun cara kita menemukan solusi bagi sebuah persoalan, selama tak sesuai dengan kunci jawaban, guru-guru akan memberi kita tanda silang berwarna merah dan mungkin membuat kita tak lulus ujian. Itulah sebabnya mereka yang tak memiliki cara berpikir dan isi pikiran yang sama dan seragam dengan para guru, sistem dan kurikulum akan dianggap bodoh, tak lulus, tak memenuhi syarat, dan seterusnya. Di sekolah, yang dianggap pintar adalah mereka yang bisa menyelesaikan soal-soal – bukan mereka yang bisa menyelesaikan persoalan. (hlm. 239)

Beberapa kalimat favorit:

  1. “Memang menyakitkan bahwa orang yang kita cintai hidup bahagia tanpa kehadiran kita di dalamnya, namun lebih menyakitkan jika kita bersama-sama dengannya tetapi gagal membuatnya bahagia.” (hlm. 154)
  2. “Kita akan lebih punya harga diri jika mengedepankan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan. Kita akan punya harga diri ketika kita bisa menghargai dan mencintai orang lain. Menolong satu sama lain!” (hlm. 220)

Sesuai judulnya, hidup yang kita jalani memang tak sempurna. Ada banyak yang harus kita korbankan untuk mendapatkan kesempurnaan yang kita inginkan. Hidup bahagia tidak harus dengan sempurna. Karena dengan tak sempurna, kita justru jadi lebih memahami apa itu hidup yang sesungguhnya. Bacaan yang bagus tidak hanya untuk pelajar, tapi juga orangtua, guru, atau pemerhati pendidikan dan moral bangsa. Membaca ini lebih sempurna jika diiringi dengan alunan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang memang menjadi bagian dari novel ini.

Keterangan Buku:

Judul                : Tak Sempurna

Penulis              : Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black

Penyunting        : Tussie Ayu R.

Konsep desain  : Futih Al Jihadi

Eksekusi           : Futih Al Jihadi dan Caesar Resi Lot Octodema

Penerbit            : Kurnia Esa

Terbit               : Februari 2013

Tebal                : 243 hlm.

ISBN               : 978-602-7618-15-2

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

2 thoughts on “REVIEW Tak Sempurna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s