REVIEW The Queen of the South

“Hanya Tuhan yang tahu kamu pergi ke mana, tetapi sangat jauh.” (hlm. 136)

Kita tidak punya pilihan selain bekerja dengan lurus. (hlm. 62)

Dua belas tahun telah berlalu sejak sore hari di kota Culiacan sewaktu Teres Mendova mulai berlari. Pada hari itu, awal perjalanan pulang pergi yang panjang, dunia rasional yang dipikirnya telah dibangunnya di balik bayangan Guero Davila mulai berguguran di sekelilingnya, dan dia tiba-tiba menemukan dirinya tersesat serta terancam bahaya.

Dia meletakkan telepon dan duduk beberapa detik diselimuti kengerian yang mencekam. Kemudian mulai berjalan hilir mudik di dalam kamar, membuka laci secara sembarang, dibutakan oleh kepanikan, sadar bahwa dia memerlukan tas untuk membawa barang yang dibutuhkannya untuk melarikan diri, tetapi mula-mula dia tak mampu menemukan tas yang diinginkan. Dia ingin menangisi kekasihnya, atau menjerit hingga tenggorokannya terasa sakit, tetapi kengerian yang mencekiknya menerpanya bagaikan ombak dashyat, mematikan semua emosi dan kemampuannya untuk bertindak. Seakan-akan dia telah melahap jamur dari Huautla atau menghirup lintingan ganja padat yang membakar paru-paru dan dipindahkan ke sosok tubuh yang tak dapat dikendalikannya.

Adalah Teresa Mendova. Wanita hidup di Las Siete Gotas, barrio miskin di Culiacan, dan dia putri seorang ayah keturunan Spanyol dan ibu berdarah Meksiko. Beberapa orang juga tahu bahwa dia keluar dari SD dan beberapa tahun kemudian bekerja sebagai pramuniaga di toko sombrero (topi Meksiko) di Buelna Mercado (pasar), kemudian menjadi pedagang valuta asing di Calle Juarez. Kemudian, pada suatu sore di perayaan Dia de los Muertos (Hari Kematian) – takdir meletakkannya di jalur kehidupan Raimundo Davila Parra, pilot kartel Juarez. Dalam dunia itu, dia dikenal sebagai “Guero” Davila. Guero adalah julukan dalam bahasa Meksiko untuk gringo berambut pirang, bermata biru, yang merupakan kebalikan dari sosok Guero karena dia seorang Chicano (warga Amerika keturunan atau asal Meksiko) dari San Antonio, tetapi nama itu menempel padanya.

Guero Davila alias Raimundo Davilla Parra hampir selalu menghabiskan uang secepat dia mendapatkannya dan sangat murah hati kepada teman-temannya. Dia dan Batman Guemes sering begadang pada malam hari, berpesta mendengarkan musik, menikmati alcohol, dan wanita untuk merayakan operasi yang sukses. Pada suatu waktu mereka bahkan pernah menjadi sahabat –carnale- itulah sebutan penduduk Sinaloa. Guera adalah seorang Chicano – dia dibesarkan di San Antonio. Dia memulainya sejak muda dengan mengirimkan ganja dalam mobil ke Amerika Serikat. Mereka sering mengantarkan ganja bersama-sama melewati Tijuana, Mexicali, atau Nogales, sampai para gringo memenjarakannya di sana.

Dia mendapatkan narkotika dari mantan polisi bernama Guadalupe Parra alias Lupe si China, atau Chino Parra, yang merupakan sepupu Guero dan memiliki sejumlah relasi. (hlm. 60)

Membaca kalimat di atas, sungguh mengusik hati. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja ya aparat hukum yang seharusnya mengayomi masyarakat justru menjadi dalang sebuah kriminal. Hal ini sepertinya sudah menjadi rahasia umum… ┐(´_`”)┌

Guero Davilla yang juga kekasih Teresa ini memberinya sebuah ponsel khusus dengan sebuah peringatan: jika ponsel itu berdering, itu artinya Guero sudah mati dan Teresa harus segera melarikan diri. Suatu hari, ponsel itu berdering. Teresa yang pendiam, kekanak-kanakan, dan penurut kini sendirian tanpa teman, ketakutan dan harus menyelamatkan diri. Dia dipaksa meninggalkan Meksiko dan kabur ke Spanyol.

Untuk bertahan hidup dalam sebuah dunia yang kejam, dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada sosok Teresayang lama dan menjelma menjadi sosok Teresa baru yang tangguh dan berani menghadapi kenyataan hidup yang keras penuh bahaya. Teresa pun terjun ke dunia gelap dan mengerikan yang pernah menrenggut nyawa kekasihnya, Guero. Teresa terseret ke dunia yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya…

Kita tidak bisa memilih aturan yang kita sukai, kita hanya mengikuti aturan yang diberikan kepada kita saat bergabung. Yang penting adalah reputasi dan rasa hormat. Seperti piranha. Kita lari terbirit-birit atau terluka, lainnya akan memangsamu. (hlm. 63)

“Jika kau mampu menjalankan bisnis dengan baik dan jujur dengan semua orang –maksudnya tidak aneh-aneh- kau tetap akan mendapatkan akhir yang buruk. Kau datang, masuk dengan mudah, karena alasan tertentu kau lebih dipilih daripada orang lain, kau bergerak naik, tapi sebelum menyadarinya para pesaing mulai memburumu.” (hlm. 64)

Arturo Perez-Reverte yang terlahir di Cartagena, Spanyol,pada 1951 mengabdikan dirinya untuk sastra sesudah hidup selama 21 tahun (1973-1994) sebagai reporter surat kabar, radio, dan televise, meliput perang dan konflik-konflik internasional.

Sebagai reporter ia telah meliput –di antara konflik-konflik bersenjata dan reportase internasional lainnya- perang di Siprus, pelbagai periode perang Libanon, perang di Eritrea, serangan 1975 di Sahara, perang Malvinas, perang di El Savador, perang di Nikaragua, perang di Chad, krisis Libia, kaum gerilyawan Sudan, perang di Mozambik, perang di Angola, kudeta Tunisia, revolusi di Rumania, Perang Teluk pertama, perang di Kroasia, dan konflik di Bosnia.

Berbekal dari pengalamannya yang telah banyak makan pahit manisnya saat meliput berbagai perang tersebut, Arturo Perez-Reverte mampu mendeskripsikan novel ini secara apik. Jujur, ini novel Spanyol yang pertama kali saya baca. Spanyol yang saya tahu hanyalah seputaran telenovela dan sepakbola ( ʃ⌣ƪ). Beruntung bapak peri mengirimkan buntelan ini. Mudah-mudahan ke depannya, Serambi makin banyak menerbitkan buku-buku asal Spanyol seperti buku ini.. (ɔ ˘⌣˘)˘⌣˘ c)

Kelebihan dari buku adalah kita bisa menyesuaikan kehidupan, cerita, dan pemikiran di dalamnya dan kita tidak pernah menjadi orang yang sama saat menutupnya sebagaimana saat membukanya untuk pertama kali. (hlm. 393)

Keterangan Buku:

Judul                            : The Queen of the South

Penulis                          : Arturo Perez-Reverte

Penerjemah                  : Fahmy Yamani

Penyunting                    : Anton Kurnia

Pemeriksa aksara         : M. Sidik Nugraha

Pewajah isi                   : Eri A. Adityawarman

Penerbit                        : Serambi

Terbit                           : Desember 2012

Tebal                            : 652 hlm.

ISBN                           : 978-979-024-394-1

 

Cover versi lain:

 

Read Big Challenge 2013

https://luckty.wordpress.com/2013/04/02/read-big-challenge-2013/

http://ngidambuku.blogspot.com/2013/02/are-you-strong-enough-to-read-big.html

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s