REVIEW The Thirteenth Tale

Ada sesuatu dalam kata-kata. Di tangan yang ahli, mereka dapat dimanipulasi dengan tangkas, dan menjadikanmu tawanannya. Melibat tungkaimu seperti jaring laba-laba, dan ketika kau sudah begitu diperbudak sehingga tak dapat bergerak, mereka menembus kulitmu, memasuki darahmu, membekukan pikiranmu. Di dalam dirimu mereka melakukan keajaibannya. (hlm. 22)

Diam bukanlah tempat hidup alami bagi dongeng. Dongeng membutuhkan kata-kata. Tanpa kata-kata, dongeng akan menjadi pucat, sakit, dan mati. Dan kemudian kisah itu akan menghantuimu. (hlm.36)

Adalah Margaret Lea, penulis biografi muda. Ayahnya memiliki Toko Buku Antik Lea. Toko ini rumah sekaligus pekerjaannya. Baginya, ini sekolah yang lebih baik daripada  sekolah mana pun, dan sesudahnya toko ini juga menjadi universitas pribadinya. Toko ini adalah hidupnya

Dia suka menggali kembali kehidupan orang yang terkubur dalam buku harian di rak arsip yang tak pernah dibuka selama seratus tahun atau lebih. Memberi kembali napas kehidupan pada memoar yang tak lagi dicetak ulang selama puluhan tahun membuatku gembira, melebihi apa pun.

Manusia menghilang ketika mereka mati. Namun, ada pengecualian pada beberapa orang tentang hal ini. Karena dalam buku-buku yang mereka tulis, mereka tetap hidup. Kita dapat menemukan mereka kembali. Gurauan, nada suara, suasana hati mereka. Melalui tulisan, mereka dapat membuatmu marah atau membuatmu bahagia. Mereka dapat menghiburmu. Mereka dapat membuatmu bingung. Mereka dapat mengubahmu. Semua dapat terjadi, walau mereka telah meninggal. Seperti lalat-lalat di batu ambar, seperti mayat yang beku di dalam es, yang menurut hukum alam seharusnya sudah hilang, namun dengan mukjizat tinta di atas kertas, mereka tetap terjaga. Ini semacam keajaiban. (hlm. 35)

Seperti orang yang merawat kuburan, begitulah dia merawat buku. Membersihkannya, memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil, menjaganya tetap dalam kondisi baik. Dan setiap hari dia membuka satu atau dua judul, membaca beberapa baris atau halaman, membiarkan suara-suara mereka yang telah mati dan terlupakan menggema kembali dalam kepalanya. Apakah mereka bisa merasakannya, para penulis yang telah meninggal itu, ketika buku-buku mereka dibaca? Apakah sepercik cahaya muncul dalam kegelapan mereka? Apakah jiwa mereka tergugah oleh sentuhan benak orang lain yang sedang membaca karya mereka?

Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karaketeristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kau dapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng. –Vida Winter-

Adalah Vida Winter, adalah novelis muda yang penuh rahasia. Di paruh baya usianya, ia mengundang Lea membuatkan buku semacam autobiografinya. Rahasia demi rahasia terkuak. Tidak hanya rahasia Vida Winter saja, Lea pun ternyata memiliki rahasia yang tak kalah menegangkan!

Mahluk apakah diriku ini? Kekejian alami apakah yang telah memisahkan seseorang menjadi dua tubuh sebelum lahir, lalu membunuh salah satunya? Dan apakah aku yang tersisa ini? Separo mati, terpencil di dunia yang dihuni mahluk hidup pada siang hari, dan ketika malam tiba, jiwaku bergandengan dengan kembarannya dalam dunia antara yang berbayang-bayang. (hlm. 245)

Bilamana manusia yang sehat dapat merasakan seluruh jenis emosi yang berbeda, menunjukkan berbagai macam perilaku, si kembar boleh dibilang telah membagi seluruh tentang emosi dan perilaku itu menjadi dua dan masing-masing mengambil satu bagian. (hlm. 269)

Novel ini sedikit banyak membahas seputar seseorang yang kembar. Glek, ceritanya bikin merinding disko loh. Padahal cita-cita pengen punya anak kembar. Abisnya suka gemes kalo liat keponakan yang kembar. ( ._.)/|[JODOH]|

Beberapa kalimat favorit:

  1. Orang-orang yang hidupnya tidak diimbangi kecintaan terhadap uang dalam dosis yang sehat menderita obsesi parah terhadap integritas pribadi. (hlm. 76)
  2. Hidup adalah kompos. (hlm. 79)
  3. Kita kadang-kadang menjadi sangat terbiasa dengan kengerian yang ada pada diri kita, dan lupa betapa ngerinya hal tersebut bagi orang lain. (hlm. 90)
  4. Ketika seseorang bukan apa-apa, ia akan menciptakan sesuatu. Mengisi kekosongan. (hlm. 181)

Banyak bertebaran kalimat tentang BUKU:

  1. Setiap buku memiliki nadanya sendiri. (hlm. 27)
  2. Walaupun selera makanku semakin rendah, selera membacaku terlalu tinggi. Begitulah awalnya panggilan jiwa. (hlm. 33)
  3. Ada dua hal yang kami sepakati: ada terlalu banyak buku di dunia ini untuk dibaca dalam satu kehidupan saja, jadi kau harus memberikan batasan di suatu tempat. (hlm. 53)
  4. Tentu saja orang selalu mengharapkan sesuatu yang istimewa ketika membaca hasil karya penulis yang belum pernah dibacanya. (hlm. 57)
  5. Aku selalu menjadi pembaca; aku telah membaca pada semua tahap kehidupanku, dan tak sekali pun kegiatan membaca tidak membuatku bahagia. (hlm. 57)

Aaaakkkkk…ada kalimat yang paling favorit nih! ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

Tempat apa yang lebih baik untuk membunuh waktu selain perpustakaan? Cara apakah yang lebih baik untuk mengenal seseorang selain menyelidiki buku-buku pilhannya dan caranya merawat buku? (hlm. 71)

Suka sekali dengan buku ini. Seperti The Book Lost of Things, buku ini menceritakan buku-buku. Aroma bukunya sangat kental. Terlebih lagi, tema yang diangkat kelam. Ampe bikin bulu kuduk berdiri baca ini… ( ʃ⌣ƪ)

Kehidupan penulisnya perlu waktu untuk membusuk sebelum dapat digunakan untuk memberi makan suatu cerita fiksi. Harus dibiarkan terurai. (hlm. 79)

Keterangan Buku:

Judul                : The Thirteenth Tale

Penulis              : Diane Setterfield

Alih bahasa       : Chandra Novwidya Murtiana

Editor               : Siska Yuanita

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : 2009 (Cetakan Kedua)

Tebal                : 608 hlm.

ISBN               : 978-979-22-4129-7

 

Cover asli:

Cover versi lain:

Read Big Challenge 2013

https://luckty.wordpress.com/2013/04/02/read-big-challenge-2013/

http://ngidambuku.blogspot.com/2013/02/are-you-strong-enough-to-read-big.html

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

17 thoughts on “REVIEW The Thirteenth Tale

  1. aku suka banget buku ini, gothic sedikit horror gitu yaaa…btw cover yang ada anak kembarnya bikin merindinnnggg :p

    • beneran mbak, itu cerita tentang anak kembar bener-bener bikin merinding. padahal aku suka banget kalo liat anak kembar.. >.<

  2. Pingback: Rapid Fire Question about Books | Luckty Si Pustakawin

  3. suka sama buku ini😀 dari covernya udah ngena (menurutku, buku bagus juga bisa diliat dari covernya :p) dan ternyata isinya ga ngecewain. setuju sama pendapat luckty, aku juga suka kalimat ini “Tempat apa yang lebih baik untuk membunuh waktu selain perpustakaan? Cara apakah yang lebih baik untuk mengenal seseorang selain menyelidiki buku-buku pilhannya dan caranya merawat buku?”. Jadi tambah semangat buat ngerawat buku2 kita😀

  4. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  5. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  6. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Girl on Paper | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s