REVIEW Perang Bali

Perang Bali

Bahagialah jika seorang ksatria dapat kesempatan menunaikan tugas suci membela tanah airnya atau membela kebanaran untuk menghancurkan angkara murka. Jikaia gugur dalam perang, maka rohnya akan dipapak oleh bidadari-bidadari yang cantik untuk diantar ke Indraloka dan tempat yang indah sudah tersedia baginya.(hlm. 239)

Pada awal April 1946, Pak Rai dengan bantuan pasukan TRI Lautdi bawah pimpinan Waroka dan Markadi, berhasil mendarat kembali di pantai barat Bali, membawa bantuan senjata dan pasukan. Lalu beliau menuju pegunungan di Desa Manduk Malang,Tabanan dan bermarkas di sana.

Sebelumnya, pada tanggal 22 Februari 1946, di PelabuhanBenoa (Badung) telah berlabuh kapal-kapal Sekutu yang datang tanpa Belanda/NICA. Sebab Pemerintah Indonesia telah menyatakan akan menolaknya. Kemudian tentara Sekutu dan tentara Jepang berunding di Denpasar tentang perlucutan senjata yang diberlakukan kepada pihak Jepang dan pemulangan tawanan Jepang ke negara asalnya. Tetapi pihak pejuang tetap curiga terhadap kemungkinan kembalinya Belanda/NICA ke Indonesia, sehingga konsolidasi seluruh pejuang lebih dipergiat lagi.

Kecurigaan itu ternyata terbukti. Pada tanggal 2 Maret 1946,NICA kembali berlabuh di Pantai Sanur. Di bawah pimpinan Letnan Kolonel F.H.Termeulen, dengan cepat NICA menduduki seluruh Bali, termasuk wilayah raja-raja Bali yang menerimanya tanpa perlawanan. Para pejuang belum bisa melawan karena konsolidasi pasukan masih jauh dari sempurna. Ada beberapa tentara Jepang, dengan berbagai alasan, ikut bergabung pada masa konsolidasi itu untuk menuntaskan kemerdekaan Indonesia.

17 Agustus 1945, Indonesia memang sudah memproklamirkan kemerdekaannya. Tapi setelah itu, ternyata Indonesia belum benar-benar merdeka sepenuhnya. Contohnya saja Perang Bali yang diceritakan oleh I Gusti Ngurah Pindha dalam buku ini.

Buku ini adalah memoar I Gusti Ngurah Pindha, anak buah I Gusti Ngurah Rai, tentang perang gerilya di Bali. Ia menjadi saksi mata sekaligus pelaku sejarah perlawanan rakyat Bali yang gagah perkasa terhadap pendudukan Belanda di Pulau Dewata sepanjang 1946. Memoar sebanyak 6 bab ini ditulis selama 6 tahun, dari 1963 hingga 1968. Setiap bab diselesaikan dalam waktu satu tahun dan pernah dimuat secara bersambung di koran lokal Bali pada tahun bersangkutan.

Deskripsi sosok I Gusti Ngurah Rai:

Kalau saja tidak ada kumis menghiasi bibirnya, orang akan mengira Pak Rai yang bertubuh kecil itu adalah remaja umur 16 tahun. Kedua ujung kumisnya melengkung sedikit ke atas, sehingga beliau selalu tampakseperti orang tersenyum. Kalau beliau tertawa, kelihatan giginya yang kecoklatan karena nikotin rokok. Rokok yang nyaris tak pernah absent dari bibirnya. Rokok apa saja diisapnya. Beliau juga pecandu kopi. Terutama kopi susu. Tetapi kalau tak ada susu, kopi dengan gula pasir juga boleh. Kalau takada gula pasir, gula aren pun jadi. Dan kalau tidak ada gula aren, kopi tanpa gula juga diminumnya. Beliau suka memakai pakaian hijau dengan selempang kulit seperti seragam letnan Belanda  dulu dan memakai sepatu lars. Lencana Merah Putih di topinya tak pernah lepas. Satu keistimewaan lagi yang dimiliki Pak Rai dalam kepemimpinannya adalah dia bisa membuat setiap orang, kecuali musuh, yang pernah dekat dengan beliau, akan merasa paling disayang atau paling dicintai.

Selain I Gusti Ngurah Rai, ada banyak pejuang yang diceritakan dalam memoar ini. Ada I Gusti Putu Wisnu, I Nyoman Sayan, Bung Ali, dan pejuang-pejuang di Bali lainnya.

Yang paling ngilu adalah saat bercerita tentang Dewa Nyoman Jahen. Beratnya siksaan yang dialami oleh pejuang-pejuang kita dalam memperebutkan kemerdekaan di tanah air tercinta;

…Selain dipukul dengan kayu, diinjak-injak, ditendang, digantung, dimasukkan ke dalam drum yang berisi air, kepalanya juga disiram bensin dan kemudian dibakar….

…mereka mengumpulkan tangkai-tangkai sate tersebut untuk kemudian ditusuk-tusukkan ke kaki pemuda yang malang itu…

…sebelah kakinya diikat dengan tali pada ujung yang satu dan ujung lainnya diikatkan pada oto…

…beberapa buah petasan sebesar kaleng susu digantungkan di leher korban, kemudian dinyalakan. Petasan meletus dan membakar hangus muka serta kepala korban.. (hlm. 107-109)

Ada banyak sekali bertebaran kalimat dalam buku ini yang mengobarkan semangat perjuangan:

  1. “Tidak ada mundur-munduran. Kita bertempur sampai titik darah penghabisan. Apa itu mundur? Bikin malu saja!” (hlm. 25)
  2. Bertempur itu untuk menang, bukan untuk mati. (hlm. 27)
  3. “Seandainya kita melawan dan semua gugur di sini, apa boleh buat. Tidak mengapa. Tetapi kalau kita ditangkap hidup-hidup, diikat dengan tali, lalu dipertontonkan dan dihinakan di hadapan rakyat, alangkah malunya.” (hlm. 32)
  4. Seorang prajurit tidak boleh menyerah dalam pertempuran dengan alasan apa pun. Kalau pelurumu habis, pergunakan bayonetmu! Kalau bayonetmu patah, pergunakan tanganmu untuk memukul! Kalau tanganmu patah, pakailah gigimu untuk menggigit! Dan kalau gigimu patah, pergunakan matamu untuk mematahkan semangat musuh! (hlm. 69)
  5. Rupanya rakyat tidak terlalu mengharapkan kami dapat menguasai kota dan menghancurkan NICA sama sekali. Mereka sudah cukup bangga kalau pejuang-pejuang mereka dapat membunuh Belanda. (hlm. 87)
  6. Saya lebih baik mati daripada tidak memenuhi janji yang sudah diucapkan. Saya akan turut berjuang bersama saudara-saudara hingga kemerdekaan Indonesia benar-benar tercapai. (hlm. 130)
  7. “Kalau rakyat sampai memihak musuh, itu bukan salah mereka, tetapi karena kita yang bodoh atau musuh yang pintar. Maka, jangan membenci mereka.” (hlm. 147)

Penulisnya, I Gusti Ngurah Pindha  menuturkan hal ini bukan bermaksud membangkitkan dendam terhadap Belanda. Sama sekali tidak. Penulis hanya ingin anak-anak atau cucu kita kelak yang tidak melihat perjuangan pahlawan-pahlawan kita agar mengetahui beratnya perjuangan yang dilakukan oleh kakek ataupun para leluhur mereka. Bukan hanya berteriak-teriak mengajukan tuntutan dan mosi-mosisaja.

“Setiap orang Belanda yang memakai seragam militer dan bersenjata boleh dibunuh, karena kita sudah merdeka. Berarti tidak boleh ada bangsa lain dengan kekuatan senjata menginjakkan kaki di negeri ini tanpa seizin kita.” (hlm. 410)

Keterangan Buku:

Judul                            :Perang Bali

Penulis                          :I Gusti Ngurah Pindha

Penyunting                    :Endah Sulwesi, Salahuddien Gz

Pemeriksa Bahasa Bali:Desak Pusparini

Pemindai Aksara          :Muhammad Bagus SM

Pembikin Sampul          :Iksana Banu

Penata Letak                :MT Nugroho

Penerbit                        :Dolphin

Terbit                           :2013

Tebal                            :450 hlm.

ISBN                             : 978-979-1701-04-4

 

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

3 thoughts on “REVIEW Perang Bali

  1. Buku sejarah memang keren, apalagi dibalut dengan bahasa yang komunikatif, serasa kita berada di tempat kejadian. seneng banget ada buku ini, salah satu portal buat kita untuk menengok kebelakang, bahwa rakyat Indonesia jaman penjajahan benar-benar rela melakukan segala cara, demi 1 hal, MERDEKA. terbebas dari penjajahan. kalo baca buku sejarah tu macem2 rasanya, antara gregetan, terharu dan puas. salaha satu yg bkin gregetan, kaya kalimat ini =”termasuk wilayah raja-raja Bali yang menerimanya tanpa perlawanan”, dan juga, aku setuju sama pendapat luckty, tentang hal yang bikin ngilu =
    …Selain dipukul dengan kayu, diinjak-injak, ditendang, digantung, dimasukkan ke dalam drum yang berisi air, kepalanya juga disiram bensin dan kemudian dibakar….

    …mereka mengumpulkan tangkai-tangkai sate tersebut untuk kemudian ditusuk-tusukkan ke kaki pemuda yang malang itu…

    …sebelah kakinya diikat dengan tali pada ujung yang satu dan ujung lainnya diikatkan pada oto…

    bener-bener miris ngedenger itu semua.
    semoga kita sebagai generasi penerus bisa mempertahankan kemerdekaan yang telah di dapat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s