REVIEW Surat Dahlan

Barangkali aku cuma punya harapan yang bertumpuk di setiap kepala. Itu sebabnya kunamai kepalaku dengan kebun harapan. Kebun yang segala jenis bibit bisa tumbuh di sana. Lucunya, aku tak pernah tahu, atau mungkin belum tahu, bibit apa yang paling tepat ditanam di kebun harapan itu. (hlm. 27)

Adalah Dahlan Iskan muda yang merantau ke Samarinda. Meninggalkan tanah kelahirannya, Kebon Dalem. Bagaimana pun, Dahlan mencoba bertahan di sini. Beliau yang memilih jalannya sendiri. Dan sadar bahwa memilih bukan perkara mudah. Selalu ada ketakutan. Semacam perasaan cemas yang mengintai setiap waktu. Cemas yang selalu diawali oleh kalimat ‘jangan-janganaku salah pilih’. Dahlan percaya, beliau harus memanfaatkan peluang. Dahlan termasuk orang yang tidak percaya bahwa kesempatan itu hanya datang sekali. Tidak, kesempatan itu selalu datang. Berkali-kali. Sebab itulah tak layakmerawat rasa cemas. Kecemasan yang melemahkan. Bertambah-tambah dengan rindu yang rajin memilin-milin ulu hati. Lagi, dan lagi. Mencoba menepis rasa rindu itu. Sebisa-bisa membenamkannya. Musababnya sederhana, Dahlan tak ingin rindu menyeretnya pulang ke kampung halaman.

Penyakit pertama yang diidap para perantau adalah rindu kampung. Penyakit ini menyebabkan hasrat ingin pulang yang akut. Bagi mereka yang bisa melewati masa kritis, akan bertahan di tanah rantau. Sebaliknya, mereka yang tak mampu sembuh dan seluruh benaknya digerogoti bakteri rindu, akan pulang ketempat asal dengan gelar yang menyakitkan: orang-orang kalah. (hlm. 15)

Hampir sebagian besar bagi para perantau pasti pernah merasakan sindrom rindu kampung. Atau istilah kerennya home sick. Saya pun pernah mengalaminya di awal-awal kuliah. Jauh dari rumah. Jauh dari orang tua. Jauh dari saudara. Serba sendiri. Harus bisa mengatur segala sesuatunya sendiri. Suasana baru. Lingkungan baru. Bertemu dengan teman-teman baru. Dan pengalaman baru.

Alangkah naïf jika hidup hanya berkisar pada sekolah, tumbuh meremaja, kuliah dan dapat gelar sarjana, lalu kawin dan punya keturunan. (hlm. 27)

Di separuh cerita, akan disajikan bagaimana sosok Dahlanmuda dalam perjalanannya menempuh cita-cita dan cinta. Penuh semangat. Penuhliku. Penuh gejolak. Penuh warna. Ketika memasuki fase kuliah, umumnya mahasiswa terdoktrin dengan rasa idealisme yang tinggi. Sayangnya, ketika suatu saat nanti telah terjun ke dunia kerja, dunia yang sesungguhnya, rasa idealisme tersebut pun akan berangsur menguap dengan seiring berjalannya waktu. Terdesak dengan kebutuhan dan tuntutan hidup yang kian kejam.

Dahlan Iskan memangkas stigma tersebut. Ketika beliau masih kuliah, idealisme tertancap kuat di hatinya. Hal itu tak berubah ketika karir beliau makin menanjak seperti sekarang ini. Sederhana dan bersahaja. Dan yanglebih penting adalah jiwa idealisme yang membentuk karakternya ketika memasuki bangku kuliah, tidak pernah lulus. Tetap konsisten. Dibuktikannya ketika pertama kali mendapatkan pekerjaaan hingga di posisi sekarang ini.

“…karena menurutku yang paling berat di dunia ini adalah memegangamanah.” (hlm. 361)

“Apa yang kita yakini benar belum tentu dianggap benar oleh oranglain.” (hlm. 75)

“Kadang kita luput mensyukuri anugerah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lalai menjaganya.” (hlm. 283)

Selain memperjuangkan cita-citanya, Dahlan juga berjuang keras meraih cintanya. Meski beberapa kali harus jatuh bangun menghadapinya. Krisis percaya diri seorang pemuda yang merasa belum mapan menjadikan alasannya selalu mundur teratur saat meraih cinta. Hingga kerap beberapa kali kalah dengan takdir yang menghadangnya. Salah satunya adalah saat memperjuangkan hatinya yang telah terpaut oleh Nafsiah, yang sekarang telah menjadi istrinya..ˇ)-c

Cinta. Itu salah satunya.

Ada banyak hati, di luar sana, yang mendoakan aku dengan sepenuh cinta.(hlm. 4)

 

Cinta adalah lautan yang penuh kegelapan. Menceburkan diri ke dalamnyaadalah kebodohan yang paling fatal. (hlm. 43)

Buku ini memang mengupas kehidupan seseorang, tapi bukan termasuk autobigrafi. Tapi lebih tepatnya disebut novel, karena disisipi banyak cerita dan tokoh fiktif. Surat Dahlan ini merupakan sekuel dari novel mega bestseller; Sepatu Dahlan. Dan masih ada seri ketiganya. Selalu suka dengan racikan kata yang ditulis Daeng Khrisna Pabichara.. (✽ˆ⌣ˆ✽)

Banyak orang menganggap dirinya kurang beruntung sebelum ada perempuan atau lelaki yang mencintainya. Ada yang bahkan sampai bunuh diri, merampas hak Tuhan dalam urusan nyawa. Sebagai akibat kesalahan keyakinan, banyak yang mengira cinta adalah penyelamat. Kemudian, orang-orang yang berkeyakinan seperti itu menikah. Kemudian, mereka akan saling melukai, menyakiti. Setelah itu, mereka pilih cerai sebagai jalan kebahagiaan, atau bertahan demi keselamatan hubungan dengan terus berpura-pura. Kadang mereka menyatakan, dariTuhan-lah musabah kehadiran cinta itu, dan menyalahkan Tuhan ketika mereka gagal merawat hubungan. (hlm. 44)

Keterangan Buku:

Judul                            :Surat Dahlan

Penulis                          :Khrisna Pabichara

Penyunting                    :Suhindrati Shinta & Rina Wulandari

Penyelarasa aksara       :Putri Rosdiana, Novi Khansa, A. Fathoni

Desain isi                      :elcreative

Ilustrasi isi                     :Sweta Kartika

Desain sampul              :Tyo/RAI studio

Penerbit                        :Noura Books

Terbit                           :Januari 2013

Tebal                            :396 hlm.

ISBN                           :978-602-7816-25-1

One thought on “REVIEW Surat Dahlan

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Memorable Quotes | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s