REVIEW Papap, I Love You

“…menjadi ayah tidak cukup hanya menggendongnya. Ada tanggung jawab besar setelah ini.” (hlm. 99)

Apakah yang paling istimewa dari seorang anak? jawabannya adalah hatinya. Hatinya mempunyai daya kelenturan tinggi. Hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati memang menjadi ganjalan. Membuat hati kembali lentur dan siap menerima hal-hal baru. (hlm. 109)

Bagi Bima, berada pada titik terenah dalam hidupnya adalah seperti dilemparkan dalam panggung film layar bisu, film era tahun 1900-an. Ia masuk dalam scene, di mana casting pun tidak pernah ia lakukan. Sutradaranya adalah takdir. Adapun bintang utamanya adalah Rayna Suryadinata. Sedangkan dia? Tak lebih sebagai bintang figuran.

Adegan berlangsung slow motion dalam layar warna hitam putih. Suram. Pekat. Layarnya terkadang bergeliyut-geliyut. Musiknya? Suara akerdeon yang seperti kepayahan ketika meniti nada-nada minor.

Bintang utama tampil di hampir semua scene. Acting yang memesona. Mengundang decak kagum penonton. Bintang figuran? Cukup diterima saja ketika hanya ditampilkan sekali-kali dalam film. Toh penonton juga tidak akan terlalu mengingatnya. Ingin rasanya sebagai bintang figuran melakukan protes kepada sutradara. Ini film yang tidak adil.

Tetapi, apa daya. Mengucapkan satu potong dialog pun tak sanggup. Yah, namanya juga film bisu. Tidak ada dialog. Tidak ada sanggahan. Hanya wajah nanar tanpa ekspresi ketika melakoni perannya. Satu-satunya komunikasi yang menjembatani adalah title card, yang diselipkan di antara adegan. Isinya sebagai berikut:

Perkawinan kita sudah hambar.

Tidak ada solusi.

Kita pilih jalan masing-masing saja.

Dan layar film pun ditutup dengan tepuk sorai penontong untuk bintang utama. Itulah episode akhir perkawinan Bima dan Rayna setelah rentang enam tahun mereka jalani. Kalau digambarkan dalam titik-titik kurva, yang terbentuk adalah garis yang terus menerus tanpa ada upaya kenaikan sedikit pun. Dua tahun pertama ditandai dengan masa bahagia. Dua tahun berikutnya dalam masa gejolak. Dua tahun terakhir sebagai titik jenuh.

Puncaknya ketika Rayna mengajukan cerai. Bagi Bima, permintaan cerai Rayna satu hal yang sudah diantisipasi jauh-jauh hari. Mereka tidak melihat adanya celah komunikasi selama dalam masa titik jenuh. Rayna lebih banyak menghabiskan waktunya dengan urusan pekerjaan, juga urusan pergaulan dengan teman-teman sosialitanya. Tak terkecuali akhir pekan, ketika waktu seharusnya didedikasikan untuk Kaka, anak mereka. Sementara itu Bima lebih kerepotan dalam menyeimbangkan antara pekerjaan dengan mengurus Kaka sehari-hari. Tak jarang dia menyiapkan banyak alasan agar dirinya lolos dari tugas ke luar kota demi waktunya untuk Kaka.

Jadi, cerai memang jalan terbaik bagi mereka. Hanya saja, yang membuat Bima tidak habis pikir adalah alasan di balik perceraian itu. Mengingatnya kembali, Bima seperti mendapat tendangan telak di ulu hatinya.

Tuhan tidak pernah melesat dalam menakar besarnya ujian yang dibebankan kepada setiap hambanya. (hlm. 125)

“Kalau manusia saja tidak ada apa-apanya, mestinya kita nggak perlu kuatir ya kalau sedih, karena kesedihan kita juga tidak ada apa-apanya kan?” (hlm. 127)

Apakah permasalah sudah berakhir?!? Justru baru dimulailah kehidupan Bima pasca bercerai dari Rayna. Menjadi single parent tidaklah mudah. Selain harus memantau perkembangan anaknya, Kaka yang diasuh oleh mantan istrinya, Rayna, dia juga harus mengurusi ibu dan membiayai kuliah adiknya. Bima tipe manusia yang berdiri di zona nyaman. Padahal ada potensi yang bisa dikembangkan dari dalam dirinya. Sedangkan Rayna, mantan istrinya begitu semangat menggelora dalam meniti karir. Bima harus berubah, demi anak semata wayangnya, Kaka. Juga demi ibunya yang sakit-sakitan. Ada banyak yang harus dilakukan, dikerjakan demi orang-orang yang disayanginya. Juga demi cintanya.

“.. di mata kamu semua hal harus sempurna, padahal kesempurnaan yang kamu tuntut itu membebani orang-orang di sekelilingmu. Juga dirimu sendiri…” (hlm. 157)

“Capek juga hidup kalau segala hal diukur dengan standar tinggi.” (hlm. 332)

Dalam novel ini, tidak hanya disuguhkan bagaimana peran seorang ayah bagi anaknya, ikatan batin antara keduanya, tapi juga peran anak bagi keluarganya. Serta bagaimana seharusnya hidup yang bermakna. Hidup yang tidak berhenti di tempat. Hidup yang harus bergerak. Hidup keluar dari zona nyaman. Hidup yang lebih hidup!

“Kamu punya potensi. Jika ada kesempatan yang lebih bagus di tempat lain, jangan ragu mengambilnya! Ambil sebanyak mungkin tantangan yang ada. Itulah yang akan membuatmu hidup!” (hlm. 140)

Keterangan Buku:

Judul                : Papap, I Love You

Penulis              : Sundari Mardjuki

Foto                 : Sundari Mardjuki & Frank Rutschmann

Desain cover    : Irwin Yustiansyah

Editor               : Atmanani

Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : 2012

Tebal                : 424 hlm.

ISBN               : 978-979-22-8666-3

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

2 thoughts on “REVIEW Papap, I Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s