REVIEW Satu Hari Berani

Mengapa satu hari berani?

Karena kita butuh satu hari itu dalam hidup untuk memulai sesuatu yang baru menuju arah positif. Dengan melakukan hal yang kita takuti, itu merupakan cara terbaik untuk mengatasi rasa takut kita terhadap hal tersebut. Dan dengan begitu, berarti kita telah siap –atau sedang dalam proses- melakukan sesuatu perubahan.

Di dalam kumpulan cerpen ini, kita akan menemukan hal itu. It’s all about changing your attitude, your heart, your point of view –yourself, to be ‘a better you’. Tokoh-tokoh di sini; mulai dari the well-known Hanafiah people sampai orang biasa seperti Kisa, Ellie, dan teman-temannya, akan membagi kisah mereka dalam menghadapi rasa takut, tidak nyaman, dan sikap (yang awalnya) apatis terhadap keadaan dan kejadian di sekitar mereka sebagai remaja.

“Kenapa ya kita harus belajar?”

“Ya biar pinter, biar lulus sekolah. kamu gak tahu apa ya, kalo Indonesia semakinbutuh generasi yang pinter dan berilmu? Biar bisa membantu negeri ini keluar dari krisis berkepanjangan. Mulai tahun-tahun mendatang kan giliran generasi kita puter otak mikirin ini.”

“Kenapa jadi kita yang mesti mikir ya, dengan dibebani kegagalan seperti itu?”

“Nggak ada gunanya nyalahin dan menyesali yang udah terjadi. Anggap aja itu tantangan. Dan tantangannya seperti itu tuh yang bakal membentuk manusia Indonesia seutuhnya –kalau dijalani sungguh-sungguh.” (hlm. 21-22)

Kalimat tersebut ada dalam cerpen yang berjudul Matahari Yang Tidak Terik. Kisahnya memang sederhana, tapi ada banyak hikmah yang kita dapatkan. Betapa sesuatu yang kelihatannya sepele, tapi bisa sangat berguna bagi orang lain.

Kisah paling mengharukan tertuang dalam cerpen Surat Ketujuh. Kisah Hania yang bercita-cita keliling Indonesia. Ia berhasil terpilih menjadi tenaga sukarela, mewakili golongan siswa sekolah menengah, oleh NGO (*Non-Governmental Organization) yang memang sangat peduli akan perbaikan Nanggoe Aceh Darussalam pasca tsunami. Di sana, Hania akan bertugas sebagai guru cadangan untuk anak-anak SD yang putus sekolah karena bangunan sekolahnya hanyut terbawa banjir. Dia membawa beberapa buku cerita dan majalah anak-anak. Ia punya segudang buku bagus yang membuat kamarnya terlihat seperti perpustakaan mini. Dan keputusannya untuk menjadi relawan itu akan sangat berpengaruh besar terhadap hidupnya.

Beberapa kalimat favorit:

  1. “Ingin jadi lebih oke? Tingkatkan kualitas diri dengan rajin belajar..” (hlm. 19)
  2. ‘…manusia modern seutuhnya kan gak cuma yang pintar secara akademis, tetapi juga peka terhadap lingkungan sekitar dan berjiwa sosial tinggi…” (hlm. 23)
  3. “…dalam sekejap mata sebenarnya begitu mudah berbuat baik lho. Dimulai dari hal-hal kecil saja.” (hlm. 25)

Seperti kumcer tulisan Sitta Karina yang sebelumnya pernah saya baca, selalu memiliki ciri khas dalam memotret kehidupan remaja. Bisa memosisikan sebagai remaja dan segala macam permasalahan yang dihadapi. Dan selalu bisa menyelipkan pesan moral dalam tulisannya meski hanya berbentuk cerpen. Racikan sederhana yang memikat.

Buku-buku seperti inilah yang cocok untuk dijadikan koleksi perpustakaan sekolah. mampu memompa semangat remaja untuk maju dan melakukan sesuatu, jangan hanya sekedar mengaduh dan berkeluh kesah dengan keadaan.

Keterangan Buku:

Judul                : Satu Hari Berani

Penulis              : Sitta Karina

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Februari 2008

Tebal                : 184 hlm.

ISBN               : 978-979-22-3528-9

4 thoughts on “REVIEW Satu Hari Berani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s