REVIEW Memori

Mahoni. Seorang arsitek. Seumur hidup, dia tidak pernah dan tidak mau meniru, termasuk membuat rancangan berdasarkan contoh tertentu. Desain-desainnya selama ini sangat spesifik. Dia berkreasi untuk jiwa, mencipta sesuatu yang indah, yang mampu menggerakkan perasaan orang lain.

“Kita arsitek. Kita mendesain sesuai harapan kita.” (hlm. 120)

“Kompromi tidak akan membunuhmu. Kau tidak akan kehilangan jati dirimu…” (hlm. 138)

Ketika tinggal kembali di rumah papanya, ada banyak kenangan yang berhasil menyelinap ke luar dari peti usang di lubuk hatinya. Kumpulan kenangan itu seperti kartu-kartu domino yang berdiri berdekatan membentuk barisan rapi yang panjang. Ketika kartu yang berada di ujung terjatuh karena sentuhan, yang lain segera mengikuti satu per satu tanpa bisa dihentikan hingga semua kartu rebah. Begitu pula dengan kehidupan Mahoni, memiliki karir cemerlang di Virginia, mendadak harus kembali ke Indonesia, demi orang yang disayanginya yaitu papa yang terakhir kali ditemuinya saat wisudanya. Kehidupan Mahoni pun berubah drastis. Sigi, anak papanya dengan perempuan lain harus diurusnya. Apa rasanya bagi Mahoni yang tiba-tiba harus menjadi seorang kakak dari orang yang bertahun-tahun dibencinya? Keadaanlah yang memaksa Mahoni untuk menghadapinya.

Tidak hanya itu, dia juga tak sengaja bertemu Simon. Seseorang dari masa lalu yang memasuki relung hatinya. Keadaan sudah tidak sama seperti dulu lagi. Kini, di samping Simon sudah ada Sofia. Setiap kali Mahoni memikirkan perempuan itu, ia teringat Mae, ibunya. Membuat Sofia berada di posisi yang serupa dengan Mae adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Mahoni melihat sendiri bagaimana Mae hancur karena keputusan Papa dan Grace. Tidak ada yang lebih pahit daripada apa yang dialami oleh Mae. Karena itu, Mahoni merasa tidak sanggup merebut Simon dari Sofia. Itu sama saja dengan yang dilakukan oleh Grace terhadap papanya, mengambil dari dirinya dan Mae.

Seringkali Mahoni tidak bisa memahami segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Kepingan-kepingan peristiwa yang membentuk dan memengaruhi keputusan-keputusan yang telah dan akan dibuatnya. Perpisahan dengan Mae. Kehadiran Grace dan Sigi. Kecelakaan mobil yang memaksanya kembali ke Jakarta. Dan impiannya menjadi arsitek ternama tinggal selangkah lagi.

Pilihan berat bagi Mahoni. Mae harus terluka karena papa dan Grace. Sementara itu, Sofia harus terluka karena dia dan Simon. Lelaki itu muncul lagi di kehidupannya setelah sekian lama, empat tahun. Dia mengungkapkan perasaan yang sama dan berkata menginginkannya. Mereka melukai seseorang dalam perjalanan hidup, lalu harus melalui masa sulit karena itu. Tetapi, untuk apa? Pada akhirnya, Mahoni tetap tidak tahu apakah mereka nantinya memang ditakdirkan bersama.

“Dunia tidak segelap bayanganmu, Mahoni. Tidak semua berakhir seperti Papamu dan Mae.”

Meski Windry sudah menulis beberapa buku, baru Memori inilah saya membaca tulisannya. Tutur bahasa dan gayanya bercerita sangat mengalir. Novel ini memiliki ketebalan halaman lebih dari 300, tidak terasa jemu membacanya. Setelah Winna Efendi, saya menjatuhkan pilihan akan mengoleksi juga buku-buku GagasMedia yang ditulis seorang Windry, langsung jatuh cinta dengan tulisannya.

Keterangan Buku:

Judul                : Memori

Penulis              : Windry Ramadhina

Editor               : eNHa

Proofreader      : Resita Wahyu Febiratri

Penata letak      : Dian Novitasari

Desain sampul  : Jeffri Fernando

Penerbit            : GagasMedia

Terbit               : 2012

Tebal                : 304 hlm.

ISBN               : 979-780-562-X

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

18 thoughts on “REVIEW Memori

  1. Ini novel Gagas pertama yang bener-bener aku suka. Meskipun dialognya g wajar karena pake EYD aku suka ceritanya yang nggak cheesy dan light kayak novel lain yang segenre

  2. Pingback: #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  3. Pertama kali aku baca Novel karya mba windry itu Montase baru memori ini.
    kalau montase saya kasih 4 bintang. kalo memori saya kasih 5 bintang full !
    Di memori saya langsung terpana dengan karakter-karakter mahoni dan simon.
    penggambaran masa lalu Mahoni sungguh mengesankan. begitu rapi dan mengalir. membuat saya bisa dengan mudah masuk kedalam cerita. berasa nonton gitu ^^

    sungguh karya yang patut diacungkan JEMPOL !! *two thumbs up* mba windry …

  4. Mbak Windry Ramadhina selalu memukau, selalu!
    Saya suka Memori, saya suka karakter Mahoni. Ceritanya brilian!

    Selain itu yang London juga amazing😀
    Tinggal penasaran yang Montase u,u

    Nice review, mba. Kita sependapat loh, bahasanya mengalir~~~

  5. Ih, ih, ngiri deh. Aku selalu ngidam pengen baca novel ini tapi nggak kesampean mulu:/ Dan review kk bikin aku makin pengen baca deh. Makasih, kak ‘3’ hehehe doain aku kesampean baca novel ini yaaa. Nice review! Keep posting😀

  6. Awal baca review ini, saya kira mahoni itu laki-laki, ternyata perempuan…
    Pengin baca ini deh…
    Tapi, menurut saya covernya kurang menarik, saya lebih suka cover yang montase..

  7. Awalnya aku juga kira Mahoni laki laki xD.Covernya not bad lah.Aku udah lama nandaiin buku ini di list.Tp belum kebeli beli.Yap,kantong anak SMP yg bentar lagi pengumuman tau sendiri lahhh…xD/Kok jd curhat/.Btw,Reviewnya NICE.Bahasanya mudah dipahami dan bikin aku pingin baca buku iniii.Udah mau nyoba baca di Online book,tapi mengurungkan niat karena malas mengscroll dan banyak yg dipotong halamannya.Hehehe,Good review Mba Luc<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s