REVIEW Perempuan Yang Melukis Wajah

“Ini kisah tentang cinta. Sesuatu yang kita rasakan ketika bertemu seseorang… seseorang yang sanggup menghentikan detak jantung dan meluruhkan segenap gelisah.” (hlm. 139)

“Aku ingin menjadi seperti dirimu. Memberi tak mengharap kembali. Engkau bersinar sepanjang hari, memberi napas dan kehidupan bagi penghuni bumi, tapi tak pernah berharap imbalan. Begitu ikhlas. Bagaimana kau bisa begitu?”

“Kenapa engkau hendak menjadi seperti diriku, memberi tak meminta kembali?”

“Usahlah kau gusar dan semak hati. Setiap jalan punya tikungannya sendiri. Pada masanya nanti, kau akan sampai juga di ujung jalan itu: kearifan”(hlm. 43)

Sebelas cerita pendek yang ditulis delapan penulis dengan benang merah yang sama; hujan. Hujan selalu punya cerita. Hujan seringkali menjadi saksi bisu kisah hidup manusia. Hujan dengan sejuta kenangan.

Waktu aku kecil, ibuku pernah bilang, dalam setiap butir hujan yang turun ke bumi, ada satu malaikat yang menenami. (hlm. 95)

 

Dinaungi langit yang muram, perempuan itu datang. Badannya dibungkus mafela kelabu. Hujan baru saja lesap bersama matahari di barat. Rembulan dan bintang sebentar lagi datang. Senja termangu sendiri di tepi cakrawala –singgasananya yang nirmala. (hlm. 137)

 

Hujan di kotaini telah berubah menjadi kutukan. Diam-diam ia telah menjadi malaikat pencabut nyawa atau Dewa Syiwa yang suka merusak apa saja. Bahkan, hujan bisa menjadi monster yang memorak-porandakkan hidup, memisahkan seseorang dari kekasih, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya. (hlm. 145)

Jatuh hati dengan tulisan Hanny Kusumawati. Suka semua sebelas cerpen di kumcer ini, selain memiliki kesamaan tema hujan, kumcer ini bersifat absurd. Hampir tidak ada typo. Jenis fontnya juga nyaman untuk membaca. Sayangnya kenapa paragrafnya tidak rata kiri kananya?

Aku ingin lelehan air mataku di hari Minggu Palma itu mengalir sejauh-jauhnya agar kamu tak pernah tahu, bahwa suatu hari aku pernah menangis untukmu. Lebih tepatnya, mungkin untuk kebodohanku. (hlm. 37)

Penggalan cerpen diatas berjudul Daun Palma yang ditulis Wisnu Nugroho ini langsung mengingatkan saya akan novel Paulo Coelho yang berjudul Di Tepi Sungai Piedra,  Aku Duduk dan Menangis. Berikutnya kutipan dari novel tersebut:

Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh ke sungai ini -dedaunan, serangga, buluburung- akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku akan berakhir, dan akhirnya aku pun melupakan semuanya.

Banyak sekali bertebaran kalimat favorit:

  1. …cinta pada pandangan pertama hanya diperuntukkan bagi mereka yang beruntung. Mereka yang kurang beruntung, sebaliknya, harus berurusan dengan cinta pada pandangan terakhir. Cinta bukan hadir pada saat mereka saling menyapa, ketika berkata ‘hai” atau “halo”, tetapi justru pada saat mereka harus berpisah dan saling berucap “selamat tinggal”. (hlm. 9)
  2. Seberapa banyakkah yang benar-benar kita ketahui tentang orang yang kita cintai? Sedikit sekali. Menariknya, semakin lama kita menghabiskan waktu bersama orang yang kita cinta semakin sedikit kita merasa mengenalnya. (hlm. 24)
  3. Bagaimana kehilangan tanpa menerbitkan kesedihan? (hlm. 43)
  4.  “Kadang-kadang kita hanya ingin lari sejenak, pergi sejenak, tanpa kehadiran orang lain dan suara-suara keramaian.” (hlm. 59)
  5. Setiap pilihan punya konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kita, kita sudah bukan anak-anak lagi. (hlm. 75)
  6. Ternyata ada jarak yang begitu jauh antara kedekatan raga dan kedekatan rasa. (hlm. 103)
  7. Karena bukankah setiap orang memiliki mekanisme tersendiri untuk melarikan diri dari dunia? (hlm. 107)
  8. “Namanya hidup, selalu ada masalah, kan?” (hlm. 110)
  9. “Lucu, bagaimana kamu bisa merasa terikat kepada seseorang yang selalu ada untukmu bahkan saat orang-orang terdekatmu tidak menginginkanmu…” (hlm. 113)
  10. “Jalan hidup telah membawa kita ke tempat yang berbeda, kita masing-masing sudah memiliki kehidupan sendiri.” (hlm. 133)
  11. “Bahwa sesuatu yang bukan milik kita memang selalu menggoda untuk kita kuasai, meski pada akhirnya toh selalu berantakan.” (hlm. 141)

Keterangan Buku:

Judul                            : Perempuan yang Melukis Wajah

Penulis                          : Ainun Chomsum, Fajar Nugros, Hanny Kusumawati, Karmin Winarti, M.Aan Mansyur, Mumu Aloha, Ndoro Kakung, Wisnu Nugroho

Editor                           : Siska Yuanita

Foto sampul & Isi         : Marrysa Tunjung Sari

Desain sampul              : Marcel A.W.

Layout                          : @bayu_kimong

Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : Juni 2012

Tebal                            : 162 hlm.

ISBN                           : 978-979-22-8551-2

22 thoughts on “REVIEW Perempuan Yang Melukis Wajah

  1. reviewnya keren sekali lingkapnya….. dan aku seneng banget bisa menemukan review ini… akan lebih senang lagi kalau bisa menemukan buku ini…. ehem… apakah aku masih bisa mendapatkan buku ini yah kira kira? menurut kalian? ^___^

    Aku suka sekali cover yang seperti ini …. mengingatkan aku akan karya fotografi melow para sahabatku…. atau juga gambar daun sederhana di atas cover buku Tere Liye yang Daun Jatuh tidak Pernah Membenci ANgin… ^_^ sederhana dan bercerita lebih banyak tentang hati dan penjiwaan…

    salam kenal

    • salam kenal kembali… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

      Ehhh..masak sih gak nemu buku ini? Aku beli pas ada diskonan di gramedia…😀

  2. Aahh, benar-benar dibikin jatuh hati sama reviewnya. Dilihat dari cover, kayaknya anggun gitu ya, kelihatan flow banget, aku suka…aku suka.

    Hujan. Aku juga suka hujan. Kata Mamah, ”hujan itu berkah, tiap rintiknya mengundang beribu nikmat yang luar biasa, tergantung darimana kita mengambil pandangannya, kalau sisi baik hasilnya pun demikian, begitupun sebaliknya”. Hujan itu selalu bikin aku ingat semua kenangan-kenangan di dalamnya, semuanya.

    Ada juga teman aku yang benci banget hujan, katanya ”hujan itu nyebelin, nyusahin, apalagi hewan-hewan jelata *eh melata sering berkeliaran saat hujan, kayak cacing, ular, banyak deh!”

    Apalagi, ini kumcer, tiap penulis pasti punya karakter dan ciri khas masing-masing, selain bisa membaca cerita yang berbeda, juga sebagai pembaca bisa mengenali gaya penulisan yang bisa dijadikan contoh. K.E.R.E.N

    @asysyifaahs

    • Hujan itu selalu bikin aku ingat semua kenangan-kenangan di dalamnya, semuanya.

      –> aaakkkk…setuju bangeeeettt…😉

  3. yes, suka sekali dengan ini : “Aku ingin menjadi seperti dirimu. Memberi tak mengharap kembali”. Itulah memberi yang sejati.
    Juga tentang HUJAN, how I like the rain, sampai2 anak keduaku namanya mengandung kata itu ~> Saiba. Pangeran kecilku yg hadir di tengah derai hujan. Ya hujan beneran, ya hujan cinta dari orang tuanya yang rindu luar biasa akan kehadirannya *emalahcurcol
    “dalam setiap butir hujan yang turun ke bumi, ada satu malaikat yang menemani”, yes it’s true…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s