REVIEW Balada Ching-Ching

“Karena hidupmu sempurna. Mungkin bagimu itu tidak sempurna, tapi kalau dibandingkan dengan kami –kau sungguh harus bersyukur.” (hlm. 61)

“Harapan kami tak lebih dari sekelumit mimpi. Semua yang berarti bagi kami sudah habis digerogoti perang….” (hlm. 62)

“Pernah merasakan tikaman pisau di dadamu, lalu membayangkan apa jadinya jika isi perutmu dicungkil keluar oleh orang-orang yang pernah kauanggap teman?” (hlm. 69)

Terdiri dari tiga belas cerpen yang ditulis oleh Maggie Tiojakin. Cerpen-cerpen ini sebelumnya rata-rata pernah dimuat dalam versi Bahasa Inggris. Beberapa diantaranya adalah Liana, Liana pernah diterbitkan diWriter’s Journal (2004) dengan judul Waiting for MotherLuka pernah diterbitkan sebelumnya di Other Voices dengan judul CrushKawin Lari pernah diterbitkan di La Petite Zine dengan judul He Said, She Said.Di Balik Sebuah Tatapan pernah diterbitkan di The Jakarta Post dengan judul The Look.

Anatomi Mukjizat menjadi cerpen pembuka. Sebagai seorang pekerja medis, Malik sudah terbiasa menghadapi kematian, baik itu yang datang mendadak ataupun secara gradual. Kerudung hitam yang dikenakan oleh malaikat maut mudah ia kenali dari jarak ribuan meter, tanda-tandanya pun jelas, namun sesekali ada saja mukjizat yang mengusir malaikat maut itu pergi sebelum ia datang menghampiri pasien yang sekarat. Malik tidak tahu faktor apa yang mendatangkan mukjizat tersebut, karena seandainya ia tahu, maka ia akan memanggilnya setiap waktu.

“Hidup ini ditangan Tuhan. Kita tidak bisa mengubah takdir Tuhan.”(hlm. 8)

Paling favorit adalah Dua Sisi. Merepresentasikan pasca tragedi Sebelas September. Kita akan melihat dari dua sisi yang berbeda lewat tokoh Andari Maimar dan Aysha.

Ia berpikir kalau saja ia ingat tanggal beberapa hari itu, maka mungkin ia masih bisa mengendalikan hidupnya seperti kemarin; berjalan kaki ke kantor, mampir di sebuah kedai kopi untuk sarapan, berkutat dengan angka seharian.(hlm. 53)

“Kau percaya bahwa agama adalah penyebab kita saling memerangi satu sama lain?”

“Bukankah itu yang kau perjuangkan sekarang?”

“Semua itu tidak ada hubungannya dengan agama. Hanya politik yang tak kenal manusia. Kau mungkin berpikir bahwa aku punya alasan untuk bersuka cita di atas penderitaan orang lain. Manusia macam apa aku bila aku menyimpan niat-niat buruk seperti itu? Kenyataannya adalah bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat menghapus sejarah….” (hlm. 79)

“Kau punya semangat. Kau punya mimpi dan harapan akan dunia yang lebih baik. Dunia di mana semua orang boleh hidup berdampingan bersama denganperbedaan-perbedaan mereka. Suatu hari, aku berharap untuk tinggal di dunia seperti itu. Namun, saat ini kami hanya bisa berlari. Entah sampai kapan.”(hlm. 81)

Saya belum pernah membaca tulisan langsung Maggie Tiojakin ini. Sebelumnya, saya baru membaca tulisan terjemahannya, antara lain Kisah-kisah Tengah Malam dan Fiksi Lotus. Nah, kebetulan lihat buku kumcer ini pas ada bazar diskon. Covernya yang sederhana tapi justru bikin penasaran (berbentuk jendela) dan di dukung warna merah makin menambah rasa minat untukmembaca kumcer ini.

Balada Ching-Ching yang menjadi judul dalam kumcer ini, isinya merepresentasikan kehidupan kaum minoritas etnis China di Indonesia. Walau jalan ceritanya mudah ditebak, tapi saya menyukai cerpen tipe-tipe kritik sosial macam ini.

Layak dikoleksi untuk pecinta kumcer! (´⌣`ʃƪ)

Keterangan Buku:

Judul                            : Balada Ching-Ching

Penulis                          : Maggie Tiojakin

Penerbit                        : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : Juni 2010

Tebal                            : 175 hlm.

ISBN                           : 978-979-22-5828-8

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

9 thoughts on “REVIEW Balada Ching-Ching

  1. Cerita tentang kaum minoritas yang terabaikan ya, Mbak? Hmm… Sebenarnya lumayan tertarik untuk membaca, apalagi mengenai perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan saat ini, bisa dari suku, agama, ras, golongan, kepercayaan, dan yaa…semua perbedaan yang bikin hidup lebih berwarna.

    Bisa menyadarkan kita juga tentang arti sebuah perbedaan. Perbedaan itu bukan halangan, tapi bisa menjadi kekuatan *yyeeaaah

    @asysyifaahs

  2. kok gak ada gambar bukunya kak ???
    Balada Ching ching yaa ??? tentang etnis Cina ?? kayanya seru pengen bacaaaaa😥 Kaum Cina biasanya gak kenal Nyerah kak .. makanya deh tuh Cina Keren banget. Duh apa coba haha sotau banget aku hahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s