REVIEW If

If

“…jodoh adalah takdir. Kita hanya bisa mengikutinya.” (hlm. 229)

Tidak mudah di kala kita sedang patah hati, lalu ada seseorang datang menawarkan sekeranjang kasih sayang. (hlm. 185)

“…Hadapi kenyataan pahit ini. Jangan sekali-kali menyalahkan takdir. Tuhan memberikan jalan yang terbaik untukmu.” (hlm. 198)

…aku tidak bisa menjaga hati. Terlalu banyak kejadian yang membuatku tidak bisa mengelak dari kenyataan… Aku telah jatuh cinta padanya. (hlm. 85)

Adalah Dr. Kinanti Kamaratih yang bisa disapa Kika ini sedang gila. Tepatnya sedang tergila-gila pada seseorang yang tidak jelas nama dan asal-uslnya. Dia tidak peduli apakah orang itu masih bujang, sudah punya pacar, sudah menikah atau sudah duda. Atau bahkan kalau ternyata laki-laki itu vampir sekalipun.

Dia terlalu menarik untukku. Tapi perjumpaan berikutnya yang selalu terjadi di setiap Jumat sore di toko buku itu membuatku meyakini suatu obsesi semu. Aku bilang semu, karena aku lebih suka melihatnya dari jauh, memperlihatkan kelabat tubuhnya yang proporsional berputar-putar melewati rak-rak buku tanpa ada keinginan untuk berkenalan dengannya. Begitu saja aku merasa senang, dan rutinitas yang mengurai adrenalin itu sudah kulakukan selama dua bulan ini. (hlm. 11)

Cowok itu biasanya hanya sebentar mampir di Uranus. Melewati deretan rak buku novel lalu ke bagian rak buku-buku agama, selanjutnya ke bagian rak buku bestseller. Paling lama lima belas menit saja dia berada di sana, selanjutnya segera ngacir dengan mobil Escudo warna hitam, bahkan aku sampai hafal nomor polisinya. (hlm. 12)

Suatu kebetulan tantenya yang maniak gajah, memaksanya untuk menemaninya (lagi!) ke Thailand. Dan, dalam rombongan perjalanan tersebut ada laki-laki yang selalu diamatinya di toko buku Uranus! Akankah Kika memanfaatkan kesempatan ini secara maksimal?!? ˇ)-c 

Poin lebih dari buku ini adalah memasukkan unsur-unsur beraroma kempo. Kempo adalah seni bela diri dengan permainan tangan. Olahraga ini tidak hanya mengajarkan seni bela diri, tetapi juga dasar falsafah yang kuat yang diturunkan dari Shorinji Kempo.

Kempo sama sekali tidak menonjolkan dan memamerkan kekuatan, justru mengajarkan bahwa kekuatan harus disimpan dan dikeluarkan bila sangat diperlukan. Itu pun dengan tujuan tidak untuk menyakiti lawan, tetapi hanya untuk melemahkan. Oleh sebab itu, Kempo sering disebut sebagai ‘beautiful art of self defense’, dan merupakan seni bela diri tertua yang melahirkan beberapa aliran seni bela diri baru seperti karate, aikido, yudo, dan ju-jit-su.

Di Indonesia, kempo mulai dikenal pada tahun 1966. saat itu ada tiga pemuda Indonesia yang baru kembali dari menimba ilmu di Jepang. Ketiga pemuda itu adalah Ginanjar Kartasasmita, Indra Kartasasmita, dan almarhum Uthin Syahraz. Ketiga pemuda ini mendirikan organisasi yang diberi nama PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia) sebagai wadah perkumpulan seni bela diri  kempo secara nasional. PERKEMI juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo Sedunia atau WSKO (World Shorinji Kempo Organization) yang berpusat di Kuil Shorinji Kempo di kota Todatsu, Jepang.

Tidak jauh berbeda dengan Jakarta dan Surabaya, Bangkok masih terkesan belum bersih dan rapi seperti Singapura. Beberapa sudut kota tampak kumuh. Yang membedakannya dengan kota-kota besar di Indonesia adalah banyaknya biksu berbaju oranye terang berjalan-jalan disepanjang jalan. Lainnya adalah hampir di semua sudut kota ditemukan baliho foto Raja dan Ratu Thailand yang sangat dicintai rakyatnya: Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit yang tetap cantik di usia tua. Raja dan ratu ini sangat welas asih dan memperhatikan kehidupan rakyat kecilnya. Raja yang baik hati tetapi jarang tersenyum itu membuka banyak ladang pertanian dan perkebunan milik kerajaan dan hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat kecil yang membutuhkan.

Perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain serta kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman.

–Shorinji Kempo-

Keterangan Buku:

Judul                : If

Penulis              : Evy Ervianti

Desain & ilustrasi cover: Yustisea Satyalim

Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Januari 2010

Tebal                : 240 hlm

ISBN               : 978-979-22-4965-4

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

5 thoughts on “REVIEW If

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s