REVIEW Her Sunny Side

“Apakah kau sendiri juga menganggap bertemu denganku adalah takdir?”

 “…menyimpan perasaan pada seseorang bahkan setelah beberapa tahun hanya akan membebaninya, makanya sampai hari ini aku terus merahasiakannya. Aku takut dianggap aneh.” (hlm. 140)

‘…hidup ini singkat kan? Jadi, kalau tidak melakukan apa yang ingin dilakukan, aku bisa rugi.” (hlm.119)

Pernah gak terbayang dalam hidup bisa bertemu teman masa lalu di satu kantor? Itulah yang dialami oleh Kosuke Okuda dan Watarai Mao.

Status Mao memang sebagai karyawan tetap Lara Aurore, perusahaan pembuat lingerie yang kini sedang berkembang pesat. Sedangkan tugas Kosuke adalah merancang iklan yang dapat menarik perhatian kaum perempuan usia 20-an, konsumen utama Lara Aurore yang dibuktikan berdasarkan hasil angket.

“…hal yang tak pernah terbayangkan beberapa bulan lalu karena kemungkinan kau akan memilih agen tempatku bekerja nyaris nol. Padahal, kita sama-sama tidak tahu apa yang akan kita lakukan setelah aku pindah saat kelas 3 SMP. Siapa yang menyayangkan kita akan bertemu lagi di ruang tunggu perusahaan lingerie yang terkenal Lara Aurore di Ebisu?” (hlm. 31)

Dulunya Mao adalah remaja kerap di-bully teman-temannya dan susah menangkap materi pelajaran di sekolah. Mao selalu bermasalah dalam kegiatan kelompok; sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sekolah. Hal-hal seperti ‘bekerja sama dengan yang lain’ baginya ibarat penebusan dosa.

Sifatnya yang seperti itu paling sering muncul di acara seperti Festival Olahraga. Pertama-tama, dia tidak bisa menyesuaikan langkah saat memasuki arena. Hanya di nomor lompat jauh saja ia berhasil meraih nomor satu. Lain cerita dengan nomor Balapan Kaki Seribu, setelah menempuh jarak 50meter, ia akan berhenti di tengah jalan sehingga formasi timnya berantakan.

Akibat ‘penghianatan’ itu, dimulailah gerakan ‘Ganggu Mao’. Dimulai dari sandal yang hilang, lap basah yang dijejalkan di dalam meja, sampai foto Mao dari Festival Olahraga yang bagian matanya  dilubangi jangka. Reaksi anak-anak di kelas terhadap Mao terbagi dua; ada yang mengganggu Mao, sementara yang lainnya memanas-manasi. Dari pihak guru pun ada yang memanfaatkan nilai-nilai Mao yang buruk untuk menjadikannya target bulan-bulanan di kelas.

Tanpa bermaksud besar kepala, Kosuke yakin dulu Mao pernahjatuh hati padanya. Dialah satu-satunya anak laki-laki yang selalu diikuti dan diajaknya mengobrol. Mungkin terlalu dini untuk menyebutnya sebagai rasa cinta,tetapi paling tidak Kosuke bisa merasakan luapan perhatiannya.

Kosuke sendiri juga menyukai Mao, tetapi tidak pernah menjawab perasaannya karena malu. Ya, malu. Kosuke tidak ingin bersama-sama dengan anak yang selalu diganggu. Kini setelah melihatnya tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang jelita, Kosuke bisa kembali mendekatinya semudah membalik telapak tangan.

Memang bukan sesuatu yang aneh karena kini umur mereka telah memasuki usia 25 tahun, tetapi tetap saja ada perasaan aneh yang timbul. Sebelum reuni dengan Mao, Kosuke menjalani hidup tanpa berurusan dengan percintaan. Menurutnya, tidak ada yang aneh dengan itu, malah dia merasa sangat santai. Kini setelah bertemu Mao, barulah timbul perasaan menderita yang tak tertahankan olehku seorang diri. Kadang tanpa sadar Kosuke selalu mencari sosoknya di stasiun atau kota, atau suaranya yang seolah terdengar di telinganya menjelang tidur dan malah membuatnya terjaga.

“Tapi tetap saja kau disampingku, kan? Setiap pulang sekolah kau tidak pernah marah karena aku memaksa  mengikutimu. Bisa bersama Kosuke selama di sekolah bagiku yang waktu itu sangat membenci sekolah adalah suatu kebahagiaan. Itu karena Kosuke memang baik.” (hlm. 57)

Sederhana saja. Yang dicintai Kosuke bukan riwayat hidup atau nama Mao, melainkan sifatnya yang angin-anginan tetapi selalu siap membantu siapa saja, juga kebodohan sekaligus kebaikan hatinya. Seperti itulah Mao yang dicintainya. Tak peduli walaupun nama dan masa lalunya ibarat pasir yang mengalir jatuh dari telapak tangan, namun perasaan cinta itu masih tertinggal di sana.

Ada kalimat menggelitik yang menjadi favorit dalam buku ini:

  1. “…jumlah bra yang terjual tidak ditentukan oleh banyaknya papan iklan yang dipasang di Stasiun Shibuya atau Shinnjuku. Menurut survey yang pernah dilakukan oleh perusahaan kereta api, tidak ada gunanya memajang sederetan papan iklan dengan model berpose setengah telanjang…” (hlm. 7)
  2. “Ini dari tabunganmu? Kau sendiri yang bilang hemat pangkal kaya, tetapi untuk apa uang sebanyak ini? Bukankah ini uang hasil kerja kerasmu?” “…ini uang yang kuperoleh dari bekerja. Selama bukan hasil dari pekerjaan jahat, tidak apa-apa kan menggunakannya?”(hlm. 111)

Sebelumnya, novel-novel terbitan Haru yang saya baca adalah novel-novel berlatar Korea, dan baru novel inilah yang saya baca berlatar Jepang. Waktu baca di awal, saya pikir ini ceritanya datar aja, tidak ada konflik yang bikin geregetan. Nah, pasdi ending baru berasa tak terduganya dan bikin JLEBB!! (´⌣`ʃƪ)

Nah, coba ingat-ingat. Belajar dari pengalaman kisah Mao dan Kosuke. Jika punya cinta masa kecil, apakah kau sudah mengutarakan pada orang yang dituju? Jangan sampai menyesal di kemudian hari yaaa… ( ʃ⌣ƪ)

Selalu ada kegetiran yang bisa mengiringi sebuah kebahagiaan saat kita menyukai seseorang.

Oya, novel ini bakal difilmkan. Judulnya sesuai judul novel aslinya; Hidamari no Kanojo/陽だまりの彼女.Berikut trailernya:

http://www.youtube.com/watch?v=atLheTOqzJA


Keterangan Buku:

Judul                            : Her Sunny Side

Penulis                          : Koshigaya Osamu

Penerjemah                  : Faira Ammadea

Penyuting                      : NyiBlo

Cover & layout              : Dedy Andrianto

Penerbit                        : Haru

Terbit                           : Maret 2013

Tebal                            : 224 hlm.

ISBN                           : 978-602-7742-12-3

Cover asli:

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

11 thoughts on “REVIEW Her Sunny Side

  1. Wah, jadi kepengen baca novelnya ‘Her Sunny Side’ setelah baca Reviewnya bu Luckty, ceritanya cess dihati.

    Saya termasuk penggemar komik sekaligus novel yang berlatar belakang jepang, apalagi yang berkisar romansa indah seperti yang ditawarkan oleh buku yang berjudul ‘Her Sunny Side’ ini, wah tokoh Mao dalam novel ‘Her Sunny Side’ ini terlihat hebat ketika dia dijadikan obyek pem-bullyan dia tetap bisa menolong dan berbuat baik, dan Kosuke yang setia menemani Mao bukan karena namanya itu keren sekali, namun karena sifat Mao yang baik dan tetap seperti itu walau dia di bully sekalipun.

    Kisah cinta yang indah antara Mao dan Kosuke sangat indah. pas sekali dengan cover novel ‘Her Sunny Side’ terlihat hangat dan menyentuh, lewat Review ini saya jadi semakin ingin membaca novel romansa hangat ini.

    “…Waktu baca di awal, saya pikir ini ceritanya datar aja, tidak ada konflik yang bikin geregetan. Nah, pasdi ending baru berasa tak terduganya dan bikin JLEBB!! (´⌣`ʃƪ)”
    wah jadi makin peasaran apa sih endingnya yang sampai bikin JLEBB itu, pasti gereget baget ya, wah keren nih novel ‘Her Sunny Side’

    “…Jika punya cinta masa kecil, apakah kau sudah mengutarakan pada orang yang dituju? Jangan sampai menyesal di kemudian hari yaaa… ( ʃ⌣ƪ)”
    wah… jadi sedih, saya belum mengutarakannya sampai saat ini. padahal orangnya udah melalang buana, dan nggak ada kesempatan ketemu lagi, hiks *saya harap dengan membaca novel ‘Her Sunny Side’ dapat mengobati rasa sedihku

    Kutipan favorite di Review ini:

    “Selalu ada kegetiran yang bisa mengiringi sebuah kebahagiaan saat kita menyukai seseorang.”

    sangat Jleb ( •ᴥ•)a

  2. “cinta masa kecil?”
    “apakah kau sudah mengutarakan pada orang yang dituju?”
    ini kok aq banget yaa… hehe *curcol

    apalagi yg ini “jangan sampai menyesal dikemudian hari yaa”
    bener2 sudah terjadi dalam hidup ku..😦
    #JLEBB BANGET

  3. Huaaaa….baca review ini saya malah ingat sama si Jojo, katanya sih cinta monyetku. Ho, surat-suratan. Tapi awalnya juga nggak mulus langsung surat-suratan gitu. Awalnya dulu kan dia anak baru, bayangin aja kelas 3 aku sudah bernai kirim surat cinta, ya walaupun disobek-sobek sama dia. Tapi bukan aku namanya kalau menyerah begitu saja, hoo…getol banget tebar pesona sama dia yang akhirnya mulai di kelas 5 malah dia yang ngejar-ngejar aku. Hahaha.
    Tapi sayangnya pas lulus SMP dia menghilang begitu saja karena sekolah di Solo. Lost contact deh, sekarang pernah bertemu? Aku malah bertemu dengan ponakan Jojo, kembar bookkk, karena yang ngajar dia di TK ya aku.
    Berharap ketemu, sampai akhirnya memang ketemu juga. itu juga di jalan dan lagi-lagi aku lah yang agresif. Aku cari-cari nomor HP dia, dan aku SMS. Tapi ya, sekadar tanya kabar. Karena saat ini aku sudah bertunangan dengan laki-laki lain.

  4. “Selalu ada kegetiran yang bisa mengiringi sebuah kebahagiaan saat kita menyukai seseorang.”
    hmm, true. pengen baca… tertarik gara2 baca review ini. apalagi ketika dibilang kalo akhirnya #jlebb. aduh jleb gimana ini teh. baru tau juga kalau haru nerbitin novel yg berlatar jepang. aku baru baca yg koreanya aja. semoga secepatnya bisa punya novel ini… *elus elus kantong kosong* hehehe😀

  5. Pingback: Wishful Wednesday #19: Buku-buku terbitan Haru | Luckty Si Pustakawin

  6. Pingback: Sindrom Korea Bersama Haru | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s