REVIEW Senja Milik Sandra

Penulis? Memangnya itu pekerjaan? Sekedar hobi, bolehlah. Tapi dijadikan sumber mata pencaharian? Apa kamu sudah gila?

Menulis itu kan bisa dilakukan semua orang. Lulusan fakultas teknik pun bisa jadi penulis, best seller malah. Enggak usah terlalu idealis, lah. Mentang-mentang lulusan sastra,terus mau jadi penulis, gitu? Hidup ini berat, Nak! Butuh uang! Dan kamu masih punya tanggungan! (hlm. 9)

“…Kamu enggak lihat, Kakak sudah setua ini, enggak punya aset, enggak punya kendaraan pribadi, tabungan tiris, laptop masih yang sama dengan Kakak pakai waktu Kakak kuliah dulu, ponsel juga enggak ganti-ganti, enggak punya semua yang sekarang dimiliki teman-teman Kakak.” (hlm. 11)

“Tapi semua teman Kakak juga enggak memiliki apa yang sekarang Kakak punya.”

“Apa itu?”

“Karya. Kakak punya sesuatu yang akan terus ada setelah Kakak meninggal nanti, ide yang Kakak tulis dalam novel dan cerpen Kakak itu, akan terus dibaca orang.”

“Atau mungkin tertumpuk di gudang.” (hlm. 11)

 

“…buat apa orangtuamu bela-belain kerja keras dari pagi sampai malam sampai kamu jadi sarjana? Lulusan dari universitas negeri terbaik pula! Buatapa, coba? Supaya kamu punya masa depan yang lebih cerah. Supaya bisa berbagi dengan orangtuamu, ikut menanggung kedua adikmu….” (hlm. 14)

Adalah Sandra yang sudah tujuh tahun lulus kuliah. Jiwa idealisnya masih melekat kuat dalam dirinya. Dia berpegang teguh bahwa dengan menulis dia bisa hidup. Ketika seorang manusia saat berstatus mahasiswa umumnya memiliki kadar idealis yang tinggi. Begitu lulus dan merasakan realita hidup ibarat seperti kejatuhan bom. Boom!!! Hidup yang dihadapi tak seindah bayangan. Ada banyak yang harus diurus. Ada banyak yang kita tanggung. Ada banyak problema yang dihadapi.

Sandra menulis dengan tema-tema yang berhubungan dengan kehidupan sosial, terutama kemiskinan, dengan orang-orang yang hidupnya kurang beruntung, dengan orang-orang yang katanya dipelihara oleh negara tapi hanya berhenti dalam bunyi suatu pasal yang hanya laku di pelajaran ketatanegaraan yang dijejalkan sejak usia dini.

Atas saran sahabatnya, Medi yang tak pernah patah semangat untuk mendorong Sandra terjun ke dunia kerja, akhirnya Sandra melamar pekerjaan menjadi guru di sekolah internasional yang gajinya dibayar dengan dollar.

“Aku bukan bilang ‘tetap punya penghasilan’, tapi ‘punya penghasilan tetap’, itu dua hal yang berbeda. Yang satu jumlahnya gak tetap, enggak rutin tiap bulan. Yang satu lagi rutin tiap bulan dengan jumlah yang sama. Mungkinl ebih kalau ada bonus prestasi.

“Tapi gimana dengan menulis? Memang, waktu awal debut menulismu dulu, cerpen-cerpen kamu memang dimuat di mana-mana. Tapi terus makin ke sini makin jarang. Penulis itu juga kayak artis. Menjamur. Kalau kamu enggak berpegangan kuat-kuat, kamu bisa kelibas!” (hlm. 15)

Ada dua tema yang diangkat di novel ini. Selain sosok Sandra dengan idealisme sebagai penulis, juga sebagai sosok yang mencari sahabatnya, Sitti Hawwa yang telah menghilang bertahun-tahun, korban dari sebuah aliran sesat.

“…sudah lama aku mengangap Islam adalah negara. Islam tak bisa tegak tanpa negara, begitu juga sebaliknya. Islam adalah negara, dan dalam beberapa hal, negara juga bisa jadi Tuhan. Apa pun yang kita lakukan bagi negara, berarti kita lakukan bagi Tuhan.”

“Dan kamu juga menganggap halal untuk mengambil harta orang lain di luar organisasimu?”

“…hamba-hamba yang salih adalah mereka yang ada di dalam Negara Karunia Alloh, negara yang berisi orang-orang yang percaya bahwa untuk membangun negarayang baik, harus berada di bawah negara Islam.” (hlm. 168-169)

Penduduk Negara Karunia Aloh wajib menjalankan Binayatul Aqidah yang terdiri atas tiga hal. Yang pertama, tilawah, yaitu merekrut orang-orang yang baru, misalnya orang tua mereka, teman-temannya, dan siapa punjuga. Yang kedua, takziyah, yaitu proses pembersihan akidah. Warga negara wajib membersihkan diri dengan cara membayar sejumlah uang. Yang ketiga adalah taklim atau pengajian bulanan. Dalam tiap kali taklim pun, warga wajib menyumbang sejumlah uang.

Kasus Sitti Hawwa ini jadi teringat film Mata Tertutup, merupakan film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Garin Nugroho serta dibintangi oleh Jajang C Noer dan M. Dinu Imansyah. Film ini berisi tiga cerita tentang wajah kehidupan beragama di Indonesia. Ada Rima (Eka Nusa Pertiwi), seorang gadis yang sedang gundah dalam pencarian identitas. Dalam kegamangannya, ia terlibat dalam NII. Ada Jabir (M. Dinu Imansyah), seorang remaja yang menjadi pengebom bunuh diri karena terdorong oleh kondisi keluarga dan kesulitan ekonomi. Ada juga Asimah (Jajang C. Noer), seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya: Aini. Anaknya menjadi menjadi korban penculikan orang-orang dari kelompok Islam Fundamentalis. Penculikan itu berlangsung ketika Asimah tengah berada pada proses perceraian. Asimah kian frustasi jadinya.

Film itu diputar di sekolah-sekolah. Sayang, filmnya agak berat jadi untuk kalangan pelajar malah gak begitu menangkap isi cerita yang sebenernya bagus banget. Nah, novel ini juga mengangkat isu yang sama. Perekrutan atau bahkan penculikan untuk pendirian sebuah negara dengan alasan agama. Dulu, jaman kuliah menemukan ada beberapa teman yang berpikiran seperti ini. Seperti halnya Sandra yang gak habis pikir dengan Adam yang berprofesi dosen dan lulusan dari luar negeri, saya juga nggak ngerti dengan pemahaman beberapa teman yang punya pikiran sempit seperti itu. Fanatik itu boleh, kedalam diri kita, tapi bukan berarti membentengi diri dari kehidupan luar.

Salut dengan tema yang diangkat. Sayangnya kurang dalam saat mengeksplorasi kasus Sitti Hawwa. Ternyata, saya baru tahu kalau Senja Milik Sandra itu sekuel dari Tinta Cinta Sitti Hawwa. Ukuran fontnya kalau bisa diperbesar, lumayan imut jenis font-nya untuk ukuran yang bermata minus, hehe… Oya, itu kenapa tulisan di sinopsis belakang cover rada membayang? Jadi susah untuk dibaca. Menemukan typo yang agak fatal, salah menuliskan nama tokoh; “…tak tahu menahu tentang hilangnya Sandra.” di halaman 47. Kata Sandra seharusnya Hawwa. Terlepas dari itu, suka dengan endingnya yang tak tertebak. Kisah Sandra atau Sitti Hawwa berpotensi untuk dilanjutkan lagi. Masih banyak kasus yang belum terpecahkan… (✽ˆ⌣ˆ✽)

Keterangan Buku:

Judul                : Senja Milik Sandra

Penulis              : Della Firayama

Desain sampul  : @upiakmayya

Penerbit            : Dirayya Publisher

Terbit               : April 2013

NB:

Nove lini bisa dipesan di dirayya (dot) publisher (at) gmail (dot) com. Harga Rp45.000,00. Ada diskon 10% sampai 15 Mei 2013.

Atau beli di Website NulisBuku: http://www.nulisbuku.com/books/view/senja-milik-sandra

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

12 thoughts on “REVIEW Senja Milik Sandra

  1. Senja Milik Sandra.

    Menulis itu kan bisa dilakukan semua orang. Lulusan fakultas teknik pun bisa jadi penulis, best seller malah. Enggak usah terlalu idealis, lah. Mentang-mentang lulusan sastra,terus mau jadi penulis, gitu? Hidup ini berat, Nak! Butuh uang! Dan kamu masih punya tanggungan! (hlm. 9)
    Super nge-Jleb, soalnya pernah kepikiran jadi penulis. sesosok tokoh Sandra yang Idealis, mencerminkan banyak mahasiswa. apalagi mengingat bahwa Sandara lebih mengangkat realita kehidupan kedalam karya-karyanya. mencerminkan suatu keritikan terhadap negara yang seperti ini.

    “Penduduk Negara Karunia Aloh wajib menjalankan Binayatul Aqidah yang terdiri atas tiga hal…
    penasaran sama Penduduk Negara Karunia Aloh. dengan Sitti Hawwa teman Sandra yang sedikit misterus itu.”

    “…Begitu lulus dan merasakan realita hidup ibarat seperti kejatuhan bom. Boom!!! Hidup yang dihadapi tak seindah bayangan. Ada banyak yang harus diurus. Ada banyak yang kita tanggung. Ada banyak problema yang dihadapi…”
    . komentarnya bikin nerawang ke masa depan. kok jadi merinding. kuharap saya mempunyai kehidupan yang baik dalam kuliah maupun setelah kuliah.

    Review yang keren, apalagi dengan adanya Sitti Hawwa, jadi kepincut baca Tinta Cinta Sitti Hawwa.

  2. wahhh merasa tertampar niy dengan kisahnya. sederhana tapi hampir sama dengan apa yg aku alami *halah*
    eh meskipun diterbitkan bukan dari penerbit mayor, pantas kok kalo coba di kirim ke penerbit mayor, sederhana tapi ada plusnya

  3. Mbak makasih reviewnya….memang bener hisup tidak seindah bayangan, ada banyak yang ditanggung, dan banyak problema yg dihadapi….
    Btw asyik banget ya menularkan minat baca kepada anak2 murid…, asyik banget baca rame2…. salut sama mba luckty ^^

  4. Aduh setelah membaca buku ini saya merasa sedikit tersindir hehe. Saya pengen banget jadi penulis dan sangat bercita-cita menjadi penulis, so setelah baca review ini jadi penasaran pengen baca bukunya sampai habis😀

  5. Yah, begitulah kenyataannya…

    banyak yang pesimis sama orang-orang yang memilih berdedikasi sebagai penulis, pelukis, ataupun seniman…

    Katanya nggak menjanjikan…

    tapi, kalau itu sudah menjadi pilihan, penghalang akan diihadang!

  6. Review nya keren, kak…
    Aku pengin jadi penulis…
    Tapi, pengin juga jadi dokter sama pengusaha…
    Nanti, sambil jadi dokter, jadi pengusaha sama penulis juga…
    Sambil menyelam minum air..
    Semoga Tuhan mengabulkan do’aku ini…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s