REVIEW Penjual Kenangan

Hidup terlalu singkat,

Kata seorang kekasih menggugat cintanya yang pergi.

Bagaimana jika tak ada lagi cinta esok lusa?

Bagaimana jika jauh ternyata tak berapa lama jaraknya?

Kekasih itu menggugat.

Ia menangis.

Kenangan; satu-satunya yang paling berharga,

Dimungkiri oleh cintanya.

 

Hidup terlalu singkat, katanya lagi.

Sambil mengemasi sisa-sisa harap dan siap pergi.

“Semoga ada persimpangan di depan sana.

Agar aku bisa menjual kenangan dan rindu yang menyiksa,” lirih hatinya, perih.

Ada sebelas cerpen yang ditulis dalam buku ini. Awalnya saya mengira mengira Penjual Kenangan ini adalah novel, ternyata kumcer atau novella ya? Ada Carano sebagai pembuka yang kental dengan adat Minang. Bercerita tentang kisah pilu seorang perempuan yang terikat adat dan dihianati kekasihnya yang telah bersamanya selama lima tahun.

Perempuan itu pengagung cinta. Namun, ia juga tidak akan bisa hidup dengan orang yang tidak mencintainya, orang yang tidak ia percayai, lagi. Kini, sakit telah membuat dirinya sadar bahwa ia akan mampu melewati semua ini sendiri. Tanpa laki-laki itu. Ia telah dikhianati satu kali, dan rasanya begitu sakit. Ia tak akan membiarkan lagi itu terjadi untuk kali kedua –merasakan sakit yang lebih lagi, ia rasa, ia tidak akan mampu. (hlm. 35)

“Kau sedang dilamun ombak, Nak. Kau harus perkuat kapal layarmu. Kata orang, nahkoda selalu yakin esok akan ada matahari, Nak, karena itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan yang tak bertepi sekalipun. Dan, ada doa yang selalu menyertai mereka, dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan… Ah, Nak, bersabarlah…. Suatu hari, kau akan menemukan kebahagiaan lebih dari semua ini, percayalah, Nak.” (hlm. 37)

Penjual Kenangan yang dijadikan judul dalam buku ini menceritakan seorang gadis yang menjual kenangan pada seorang laki-laki yang dilihatnya setiap hari di bangku taman. Meski singkat, endingnya tak terduga.

Seperti jendela yang menyetia,

Kenangan ini pun tak akan pernah lelah.

Aku selalu ada sela untukmu dan harapan yang kau bawa.

Kisah-kisah yang disajikan absurd. Tidak hanya bertutur tentang cinta, tapi juga kehidupan sosial, seperti yang termuat dalam Percakapan Nomor-nomor, Tengarai Langit dan Nelangsa. Ada kisah Kunang-kunang hingga Tembang Cahaya. Mungkin ekspetasi saya yang terlalu tinggi; cover yang keren badai plus kalimat di belakang bukunya yang menarik hati. Jadi, saya berharap lebih pada isi ceritanya. Apalagi saat membaca tulisan Widyawati Oktavia sebelumnya di Silang Hati yang meresap ke hati. Sayangnya, isi ceritanya tidak seperti ekspetasi awal. Meskipun begitu, penulisnya banyak menuliskan quotes yang ciamik.

Kau, berbahagialah. Jangan menengok kembali kenangan kau-aku itu. Itu bukan lagi tentang kita. Itu hanyalah tentang kau-aku. Kau bisa melihat perbedaannya, bukan? (hlm. 58)

“Aku ingin punya sayap dan bisa terbang. Aku ingin pergi dari balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang ada di balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang kau ceritakan.” (hlm. 65)

Saat matahari datang esok, saat itu pula aku akan menebar abu kisah-kisah yang membuatku jatuh cinta kepadamu, Petualang. Malam ini, dongeng-dongengmu, percakapan kita, dan segala harap yang diendapkan hujan akan kubakar di perapian. Aku akan melupakanmu. Abunya akan menebar ke segala arah. Habis bersama angin sebelum sampai kepadamu. Engkau akan sudah sangat jauh dalam perjalananmu. (hlm. 67)

Apakah harus kukumpulkan setiap kepingan kehilangan untukmu? Agar kautahu. Kepergianmu menyimpan kepingan-kepingan kehilangan untukku, Petualang.(hlm. 66)

Teriakan dan lolongan yang kata orang lahir dari rasa takut akan kematian. Sebenarnya, semua itu lahir bukan dari rasa takut akan kematian. Melainkan, dari rasa takut karena kematian itu tidak akan pernah menghampirimu.(hlm. 124)

“Aku sudah menanti orang untuk membeli kenangan terakhir ini. Saat aku menghanyutkan segalanya di sungai ini, aku menyisakan kenangan ini untukdiriku. Kenangaan yang pernah menjadikan hari-hariku penuh bahagia dan kupikirakan selamanya. Tapi, ternyata kenangan ini hanya menyiksaku. Kenangan yang terlalu indah untuk kusimpan.” (hlm. 133)

“Aku telah hanyutkan segala mimpi di sungai itu, juga seluruh harapanku. Semua telah hanyut, mungkin sudah hilang di samudra. Yang tertinggal hanya kenangan ini. Kenangan yang hanya berputar-putar di ruang yang sama, tak beranjak ke mana pun. Setelah lelah berputar, kenangan ini akan mencekikku. Aku tidak punya lagi apa yang dapat mengelanakannya: harapan.” (hlm. 134)

“Aku tak bisa hidup hanya dengan cerita; cerita-cerita panjang tentang cinta di sepanjang jalan yang akan kita lalui. Sementara, aku meninggalkan cinta yang sebenarnya, yang telah membuatku hidup.” (hlm. 204)

Tuh kan…banyak kalimat #JLEBB. Mungkin jika setiap cerita digali lebih dalam, misalnya dijadikan novel tersendiri akan lebih berasa untuk mendalami isi cerita dan peran para tokohnya.

Ah, kau selamat tinggal… Biarlah, aku saja yang akan menjaga kenangan kita. Aku akan hidup dalam kenangan kita, hingga aku menua, dan mencapai titik terakhir usia. Aku memiliki kenanganmu, ah, meski bukan memilikimu. (hlm. 57)

Keterangan Buku:

Judul                            : Penjual Kenangan

Penulis                          : Widyawati Oktavia

Penyunting                    : Gita Romadhona & Yulliya Febria

Proofreader                  : Syafial Rustama

Penata letak                  : Erina Puspitasari

Illustrator isi                  : Gama Marhaendra

Desainer sampul           : Dwi Anissa Anindhika

Penerbit                        : Bukune

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 214 hlm.

ISBN                           : 602-220-089-X

Yang mau novel ini, bisa ikutan Birthday Giveaway di blogku yaaa…😉

https://luckty.wordpress.com/2013/05/21/birthday-giveaway/



2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

20 thoughts on “REVIEW Penjual Kenangan

  1. Sebuah kumpulan cerita yang menyentuh saat saya membacanya di Review ini, saya sangat penasaran dengan kisah Penjual Kenangan.

    Dengan plot sosial dan setting yang menarik, dapat kutemukan di cerita dengan adat yang kental di Novel Penjual Kenangan, semakin aku menyelami membaca Review ini semakin penasaran aku sama beberapa cerita yang ada di dalam novel penjual kenangan.

    apalagi Review ini menyertakan beberapa quotes yang ngena plus cess di hati pas bacanya, keren deh:

    “Aku ingin punya sayap dan bisa terbang. Aku ingin pergi dari balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang ada di balik pelangi ini. Aku ingin melihat apa yang kau ceritakan.” (hlm. 65)
    sebuah quotes yang bikin cess di hati, keren deh bu Luckty yang milih quotesnya aku paling suka yang ini rasanya kok ngena banget. keren.

    jadi kepengen baca Penjual Kenangan, sipp. makasih bu, Review nya, bisa ngalir pas dibaca. salut.😀

  2. Aku suka sama judulnya. Setiap orang memiliki kenangan. Terkadang seseorang ingin melupakan kenangan-kenangan yang ada. Ah tapi tak perlu melupakannya. Sesekali kita bisa berkelana ke dalam kenangan masa lalu. Sesekali tertawa, mengingat ada kenangan lucu di sana. Sesekali menangis, menginat ada kenangan sedih di sana.

  3. kalo Penjual Kenangan aq udah baca semuanya..
    pokoknya keren banget deh ceritanya,,
    apalagi covernya itu.. jendela yg menyetia.. hehe😀

    karena udh pernah ketemu sama penulisnya (mba Iwied) *sok kenal* hihihi🙂
    jadi gak heran kalo Penjual Kenangan ini emang mba Iwied banget meski nggak terlalu “sastra banget” seperti biasanya..
    #sok tau ya aq😀

  4. :’) “Penjual Kenangan yang dijadikan judul dalam buku ini menceritakan seorang gadis yang menjual kenangan pada seorang laki-laki yang dilihatnya setiap hari di bangku taman. Meski singkat, endingnya tak terduga.” ingin sekali baca utuh bagian yang ini. mengingatkanku sama kumpulan cerpen juga yg isinya bercerita ttg orang yg asing bagi satu sama lain…

  5. Baru dateng, langsung baca bukunya nih. Baru selesai baca Carano, udah lumayan setengah terpikat. Aaaaa, terimakasih Mbak Luckty. Coba aku dikasihnya buku yang bertanda-tangan itu *ini anak minta hati minta jantung juga* ><

  6. Pingback: GIVEAWAY #bukukevin | Luckty Si Pustakawin

  7. Dari judulnya aja sudah bikin penasaran. “penjual kenangan” jadi menimbulkan banyak pengertian. Sumpah ini buku bikin penasaran banget😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s