REVIEW 30 Hari Keliling Sumatera

 

 

 

Bagiku, lawatan kali ini seperti menakar kemampuan diri sekaligus uji coba menjadi sembuh. (hlm. 9)

Jodoh memang tak bisa ketahui jalannya, walaupun terkadang bisa diatur.(hlm. 35)

Apa yang terlintas pertama kali saat mendengar kata SUMATRA?!? Aceh dikenal dengan serambi mekkahnya, Palembang dengan kuliner mpek-mpeknya, Lampung dengan gajahnya, Padang dengan rendangnya, dan lain-lain. Lewat tulisan Ary Amhir dalam buku ini kita akan diajak menelusuri Sumatra lebih dari itu.

Buku traveling ini tidak menjabarkan nikmatnya kuliner atau indahnya jalan-jalan yang selama ini banyak kita temui dalam buku traveling pada umumnya. Perjalanan yang dialami penulisnya ini lebih memuat unsur kehidupan atau budaya masyarakat lokal.

Dimulai dari perjalanan Menuju Pariaman, menghadiri undangan pernikahan temannya, Lisa. Kita akan diajak menguak budaya Pariaman. Dalam adat Pariaman, calon pengantin perempuan menjadi orang pertama yang mencicip makanan yang dimasak dari dapur. Ini maknanya untuk menjaga kesucian calon pengantin perempuan. Kita sering mendengar perihal mengapa lelaki Pariaman ‘dibeli’ dalam pernikahan.

Lelaki yang dipinang dengan sejumlah uang –khusus di Pariaman dan Padang- ini akan menghidupi dan menjaga istri dan keluarganya. Dia akan memberi istrinya keturunan yang bakal melestarikan orang-orang Pariaman. (hlm. 30)

 

Ah, andai kita paham adat Minang dengan perspektif yang lain, kita temukan juga indahnya. Apalagi kalau kita mampu membaca makna yang tersirat.(hlm. 32)

Banyak pengetahuan tentang budaya lokal yang dapat kita dapatkan dalam buku ini:

  1. Orang minat menganut prinsip matrilineal, adat yang diatur menurut garis keturunan ibu. Ini berarti perkawinan harus dilakukan dengan kelompok lain atau disebut perkawinan eksogomi. Ini juga berarti ibu memegang peranan penting dalam pendidikan, pengamanan kekayaan, dan kesejahteraan keluarga. Hal ini semata-mata dilakukan sebagai jaminan hidup keturunan suku. Bukan karena mau menang sendiri atau serakah. (hlm. 27)
  2. Asal muasal nama Minangkabau, dulu ada utusan Majapahit yang hendak menaklukkan Kerajaan Minangkabau. Dia menantang orang Minang adu kerbau dengan taruhan seluruh isi kapalnya. Tantangan ini diterima oleh Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabalang. Mereka mempertaruhkan kerajaan Minangkabau jika kalah. Dua datuk menang. Akal dan kecerdasan selalu bisa menaklukkan kekuatan fisik. (hlm. 46)
  3. Dalam bahasa Melayu, medan berarti tempat berkumpul atau palagan. Karena disitu dulu menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai daerah, mulai Hamparan Perak, Sukapiring, Binjai, dan lainnya untuk berdagang dan berjudi. (hlm. 73)
  4. Sejak 1877 Langkat diakui Belanda sebagai kesultanan sendiri. Konon, nama Langkat diambil dari nama pohon yang tumbuh subur di sana. Pohonnya tinggi mirip pohon langsat, tapi buahnya pahit dan kelat. (hlm. 98)
  5. Bukittinggi memang pantas digelari Paris van Sumatra. Ada triarga di sana: Gunung Marapi, Singgalang, dan Sago. Belum lagi ke-27 bukit yang mengepung bukit tertinggi ini. Sudah dingin hawanya, asri pula pemandangannya.
  6. Di Little India Penang, geliat kehidupan ala India baru dimulai saat malam menjelang. Perempuan bersari lalu lalang keluar-masuk toko dan restoran. Udara pun dipenuhi aroma masakan berkari. Dan tentu saja, alunan musik India membahana, meramaikan suasana. (hlm. 92)
  7. Masjid Raya Al-Mashun. Butuh tiga tahun bagi Th. van Erp menyelesaikan pembangunan masjid megah ini. Sejak 21 Agustus 1906 hingga 10 September 1909, dengan dana satu juta gulden.
  8. Museum Karo Lingga. Museum mungil berbentuk rumah adat Haru itu dijaga oleh seorang anak  kelas 5 SD. Rupanya dia menggantikan sang ibu yang sedang ke ladang. Tak banyak koleksi museum. Hanya pakaian adat Karo, alat musik tradisional, perangkat rumah tangga, dan aneka topeng yang digunakan dalam perayaan tradisional. (hlm. 110)

Banyak orang Melayu yang terusir ke tepian. Semakin banyak pendatang, khususnya dari Jawa dan bagian lain Sumatra, di Langkat. Di Tanjung Pura sendiri, ekonomi didominasi pendatang dari Aceh, Padang, dan Cina. Danorang-orang Jawa serta Batak menguasai bidang pertanian. Apa yang terjadi dengan orang Melayu asli?

Sawit Sang Idola menjadi ulasan paling favorit. Belantara Sumatera sudah menipis. Kebun-kebun karet dan persawahan berganti wajah menjadi kebun sawit. Yang membuat ngilu, sawitisasi dilakukan dengan segala cara. Di antaranya dengan membabat hutan lindung, menggunduli belantara Sumatera sampai nyaris plontos. Di musim hujan langganan banjir, saat kemarau rawan kebakaran hutan.

Sungguh berbeda kondisi bertanam sawit dengan karet. Karet tak butuh pemeliharaan khusus sebelum bisa dipanen. Ketika mulai menghasilkan getah pun, pemilik karet tak dituntut memiliki buruh penyadap getah. Dia bisa menyadap karet sendirian sesuka hatinya. Tak disadap pun, getah karet tak membusuk atau berkurang. Lain halnya dengan sawit. Jika tak dipanen, buah sawit akan membusuk. Jika tak dipupuk, pohon sawit tak berbuah.

Jika kita menelusuri jalanan Sumatra, kita akan disuguhi perkebunan sawit dan karet. Masyarakat pada umumnya, sangat bergantung dengan dua komoditas tersebut. Selain tidak butuh proses yang rumit, hasil yang dihasilkan pun menggiurkan. Sekali panen, pendapatan yang dihasilkan bisa jauh berkali lipat dibandingkan dengan yang bekerja di kantoran. Makanya, tak jarang kasus perebutan lahan menjadi sorotan utama.

“Hanya bertanam karet yang kami mengerti karena sudah turun-temurun. Kalau sawit kami tak paham. Orang trans yang biasa tanam sawit di sini.” (hlm. 241)

Tiga puluh dua bab yang disajikan untuk mengupas Sumatra lebih dalam. Naik Kereta Api Kelas Duamenjadi penutup yang apik.

“Jangan bayangkan kereta api di Sumatraseperti di Jawa.” (hlm. 268)

Riwayat kereta api di Sumatra tidaklah sekomunal di Jawa. Di Jawa, kereta api sengaja dibuat sebagai alat transportasi massal, mengangkut orang dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan kereta api di Sumatra tak bisa dipisahkan dari keberadaan perkebunan dan tambang batubara sejak masa kolonial Belanda. Di bumi Andalas ini, manusia kalah pamor dengan hasil tambang atau kebun. Manusia hanya warga kelas tiga yang tak menghasilkan banyak keuntungan.

Seandainya foto-foto yang dimuat dalam buku ini ditampilkan berwarna, tentunya menjadi nilai plus. Selamat menikmati rasa Sumatra ala Ary Amhir ini… (´⌣`ʃƪ)

“..hanya roh jahat saja yang melekat pada manusia dan menyebabkan penyakit. Jadi kita harus menjaga diri, hati, dan perbuatan.” (hlm. 135)

Keterangan Buku:

Judul                            : 30 Hari Keliling Sumatera

Penulis                         : Ary Amhir

Penyunting                    : Endah Sulwesi

Pemindai kasara           : Salahuddien Gz

Penggambar sampul      : Iksaka Banu

Penata letak                  : MT Nugroho

Foto-foto                     : Ary Amhir

Penerbit                        : Dolphin

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 278 hlm.

ISBN                           : 978-979-1701-05-1

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

46 thoughts on “REVIEW 30 Hari Keliling Sumatera

  1. pertama kali kalau lihat kata “sumatera” pasti langsung teringat sama padang, hahaha juga teringat sama seorang temen dari padang yang pernah tayang di indigo trans tv yang ‘tahu’ terjadinya gempa padang sebelumnya. terus jadi inget sama masakan padang \(*^*)/ huray!! tuhkan jadi kepengen makan masakan padang -.- dan teringat sebuah cerita dari majalah yang judulnya “membeli laki-laki” hueheheh adat mereka yang unik dimana disana ada adat pihak perempuan yang melamar… lady’s first!

  2. Sumatra memang indah mbak, masih khas dengan budaya melayunya

    jadi inget punya satu sodara yang sekarang ada di aceh, dia sering menceritakan keindahan alam yang ada di aceh

  3. saya asli keturunan pariaman . Adat “meminang lelaki” itu memang benar adanya tetapi keluarga saya sudah tidak menerapkanya hehe. Sumatra memang tidak semaju di pulau jawa. tapi pemandangan hutanya masih perawan dan bangga disana memakai bahasa daerah untuk berbicara sehari-hari

  4. ini bukunya lumayan tebel ya buat cerita nonfiksi traveller, klo aq baca paling cuma berapa lembar udah baca yg lain:D
    hehhehehe..
    tapi, krn mbk luckty buat reviewnya jelas dan gamblang, malah enak bacanya dan udah tau sebagian isi bukunya seperti apa :))

  5. Sumatera, aku suka pulau itu. Dulu, Ayah pernah kerja disana, tepatnya Padang, yaaa…bisa dibilang itu adalah tempat terjauh untuknya sebelum sekarang berada di Banjarmasin. Jadi, nggak heran, aku suka banget masakan Padang…Hehehe…

    Aku belum pernah kesana, cuma dengerin cerita temen-temen, kayaknya asyik. Katanya, disana orangnya beragam, walau gak banyak tempat seramai di P. Jawa, tapi alam hutannya memang masih lebat.

    Kalau di Pariaman, ada adat ‘membeli’ laki-laki, di Kalimantan sebaliknya. Laki-laki yang ‘membeli’ perempuan, bukan mahar, tapi sejenis penebusan untuk orangtua gitu. Indonesia memang eksotis ya🙂

      • Iya, berarti mereka itu transmigram yang mudah adaptasi…Banyak banget rumah makan Padang, bahkan di daerah kampung juga ada. Kapan ada Rumah Makan Sunda di luar Pulau Jawa😀

  6. percaya gak, dulu pas awal-awal kuliah, temen-temenku yang asli dari ranah minang dbela-belain makan hanya sekali tapi bisa makan di warung Padang daripada makan biasa tapi lidah gak cocok… lidah Sumatra kan kuat di bumbu…😀

    • Iya, orang Padang itu emang jago, rasa dari masakannya gak berenti gitu aja setelah makan. Tiap bulan, kadang bela-belain buat makan masakan Padang minimal 2 kali. Hahaha, untung deket rumah ada😀

      Tapi, kalau soal rasa pedasnya, hampir sama lah ya sama orang Sunda. Rendang, sambel ijo, terus apalagi tuh, lumayan lah kalau level pedasnya ada. Tapi, bumbunya memang beda sih😀

  7. wah Sumatera..khususnya ranah Minang, Sumbar, memang luar biasa..🙂
    aq jga berdarah Minang..
    pernah mencoba menetap disana kurang lebih dua tahun tepatnya di daerah Lubuk Basung, Agam, Sumbar, saat aq kelas 5 SD.

    selama dua tahun tinggal disana, jadi bisa bahasa Minang, mempelajari budaya Minang (di sekolah) dan menyisakan kenangan yg tak terlupakan pastinya..🙂

    ya, kini Sumatera, Sumbar, tanaman sawit menjadi tanaman yang dinomorsatukan, gara2 tanaman sawit, pohon2 kelapa pun ditebangi, padahal sebelum sawit menjadi primadona, kelapa lah yg lebih dulu menjadi komoditas unggulan.

    masih mengenai Sumbar, batu bara dan kereta api lokomotif serta daerah Sawahlunto adalah hal yg tidak dapat dipisahkan.. begitu juga dengan kota Bukittinggi, yang terdapat Big Ben nya Indonesia disana, yaitu “Jam Gadang” juga menjadi tempat wisata yg menarik..

    untuk garis keturunan berdasarkan garis keturunan Ibu (matrilineal) di ranah Minang, memang sungguh menjunjung tinggi “Ibu” atau perempuan, ini juga yg menjadi acuan, bahwa setiap orang yang satu suku (berdasar suku Ibu) tidak boleh menikah karena dianggap masih saudara atau satu keturunan atau sedarah,, meski terkadang sama sekali tidak memliki hubungan darah..

    oh ya mba, untuk poin 2. itu kan ada nama “Datuk Parpatih Nan Sabalang” seinget aq itu “Datuk Parpatih Nan Sabatang” *mungkin typo ya*🙂

    pokoknya untuk buku 30 Hari Keliling Sumatera dan juga review nya mba luckty ini, bener2 “Rancak Bana”,,hehe😀

    #keinget kampuang nan jauah dimato

  8. Mbak luckty pintar me-review buku 30 hari keliling sumatera ya. #muji-muji biar jadi pemenang Giveaway Edisi Lebaran. Ulasan upacara pernikahan adat Minang dan filosofi yang terkandung didalamnya serta asal usul nama beberapa tempat dapat membuat orang tertarik membacanya. Mengulas Museum Karo Lingga yang dijaga anak kelas 5 SD dan bagaimana Manusia hanya warga kelas tiga setelah hasil tambang dan kebun meyakinkan orang kalau 30 hari keliling sumatera bukan Buku traveling biasa.

  9. membaca tentang budaya lokal, jadi pengen berkunjung kesemua tempat bersejarah di Sumatra. pasti menyenangkan. kapan ya??? -___-

  10. pengennnnn,,,mupeng,,,jalan2,,,seumur hidup belum pernah ke sumatera,,,cuma dengar ceritanya saja,,,liat jembatan ampera di TV doankkk,,,,mupenkkkkkk,,,,,

  11. membaca buku traveling memang mengasyikkan
    Dalam review juga perlu ditambahka uraian untuk siapa buku ini bermanfaat dan buku2 lain yang pernah ditulis oleh penulisnya
    Salam hangat dari Surabaya

    • Untuk buku-buku lainnya yang pernah ditulis, saya belum pernah membacanya, jadi kurang begitu paham. Mudah-mudahan ke depannya bisa membaca tulisan lain dari penulis ini…🙂

    • iya nih, kisah traveling yang gak hanya mengupas sisi kulinernya aja, tapi fokus ke sejarah adat dan istiadat…😉

  12. Nggak ada bosennya kalau baca buku travelling! suka jadi semangat dan berandai-andai kalau kalau jadi pergi ke Pulau Sumatera. Mengupas habis perjalanan ke Sumatera nih, lengkap!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s