REVIEW Ojou!

Tetapi rasa suka itu bukan buih bukan?

Apa rasa suka itu bisa mengubah seseorang ?

Apa rasa suka bisa mengubah seorang gadis menjadi seorang prajurit yang rela berkorban? (hlm. 100)

Adalah Higuchi Lydia dan Kim Jeong. Mereka berdua adalah mahasiswa Kwang Han Daehakkyo (yang lebih dikenal dengan singkatan Kwangdae). Jeong adalah orang Korea asli dan Lydia adalah orang Jepang blasteran Indonesia. Ibunya dari Solo, Jawa Tengah.

Jeong adalah anggota Hi5, sebuah organisasi mahasiswa Korea, wujud nyata kebijakan Kwangdae untuk membantu mahasiswa asing. Seorang mahasiswa asing akan dipasangkan dengan seorang anggota Hi5 yang disebut partner. Jeong menjadi partner Lydia sejak gadis itu memulai pelajarannya di Kwangdae tahun lalu. Tugas Jeong sebagai partner adalah membuat Lydia senyaman mungkin tinggal dan belajar di Korea.

Sejak itu, setiap Selasa, mereka berdua akan bertemu di kafe, atau tempat lain untuk belajar bahasa Korea, atau kadang hanya duduk dan berbicara tentang hari-hari mereka.

Lydia tinggal di iHouse –International House, sebuah asrama bagi mahasiswa asing sepertinya. Tepatnya, iHouse Timur. Lydia suka tinggal di asrama itu. Apalagi dengan adanya Michelle. Lydia jadi tidak perlu kebingungan mencari teman saat ia tidak sedang ingin sendirian.Gadis itu hanya perlu berjalan beberapa langkah dan menggedor pintu Michelle.

Pertama kali bertemu, Lydia memanggil Jeong dengan ‘KimJeong-sshi’ dan gadis itu menggunakan jondaemal. Tetapi setelah beberapa bulan, Jeong meminta Lydia untuk memanggilnya dengan nama, tanpa embel-embel ‘sshi’. Lydia tidak biasa, karena menurutnya tidak sopan memanggil orang yang lebih tua hanya dengan namanya saja.

Sebenarnya Lydia sudah berpikir untuk memanggil Jeong dengan sebutan ‘oppa’. Tetapi setelah ingat tentang drama Korea yang terlalu mengekspos panggilan itu sebagai panggilan mesra, Lydia kehilangan minat untuk menggunakannya.

Alhasil, Lydia menggunakan banmal dan tidak pernah memanggil Jeong dengan namanya. Lydia lebih nyaman memanggil pemuda itu dengan sebutan ‘hei’ atau ‘kau’. Sementara Jeong sangat berharap Lydia bisa memanggilnya dengan nama, bukan dengan sebutan.

Jika Lydia ini tipe ceria di segala suasana, Jeong ini tipe cowok kulkas; dingin dan tertutup. Lydia tak tahu seperti apa Jeong sebenarnya. Bisa saja ia bersikap ramah dan sopan tetapi kadang Lydia merasa pemuda itu tertutup dan terlalu melindungi dirinya sendiri. Ia jarang mengutarakan isi hatinya, apalagi berekspresi membiarkan perasaannya menguap keluar. Karena itu, Lydia suka meledek dan menggoda Jeong. Dengan menggodanya, setidaknya pemuda itu bisa berekspresi dan Lydiabisa meyakinkan dirinya bahwa Jeong adalah seorang manusia, bukannya sebuah robot tak bernyawa. Lagi pula, ada keasyikan tersendiri saat menggoda pemuda itu. Seperti ada selembar halaman komik yang baru selesai ia baca dan mengetahui sedikit rahasia tentangnya.

“Kau pikir kita sekarang umur berapa? Baru 24 tahun! Apa kau sudah memintaku untuk segera menikah?”

“Ini namanya mempersiapkan masa depan.” (hlm. 45)

“Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak tertarik untuk pacaran?”

Karena aku lebih mementingkan pelajaran. Aku ingin segera mendapat gelar dokter dan mulai praktik. Itu saja.” (hlm. 47)

Baru kali ini Lydia merasa malu karena keluarganya. Memang benar ia seorang anak pimpinan gangster yang lebih suka mengandalkan otot daripada otak. Tetapi biasanya, Lydia tidak akan pusing tentang masa lalunya. Dia sempat dijauhi teman-temannya waktu SMP hanya karena mereka tahu Lydia anak Higuchi Saburo, seorang pria yang sempat keluar-masuk penjara karena memukul orang. Bukan karena seenaknya sendiri, melainkan karena ia tak tahu cara lain untuk membela diri ataupun melindungi Lydia selain dengan kekerasan.

Waktu SMA, Lydia pernah dikeluarkan dari sekolah karena pihak sekolah akhirnya tahu siapa ayah Lydia. Saat itupun Lydia tidak ambil pusing. Gadis itu menyayangi ayahnya yang sudah melindunginya sepanjang hidup gadis itu. Memang bukan dengan cara yang biasanya seorang ayah lakukan untuk melindungi anak gadisnya, tetapi Saburo melindungi Lydia dengan caranya sendiri.

Tinggal di rumah yang dikelilingi oleh anggota gangster lainnya juga membuat Lydia tidak takut dengan kekerasan. Ditambah lagi, Takeshi mengajarinya aikido. Lydia tidak pernah merasa takut akan apa pun. Tetapi kanapa ia sekarang takut dibenci oleh Jeong? Karena itu Lydia juga benci dipanggil dengan sebutan Ojou…

“Dan memangnya lari dari masalah bisa menyelesaikan masalah?” (hlm.106)

Tidak ada yang lebih melegakan daripada mengetahui duduk permasalahan dan kemudian menyelesaikan masalah itu dengan damai. (hlm. 115)

Novel Ojou! ini merupakan lanjutan serial dari Hi! Kwangdae yang sebelumnya ditulis oleh Clara CancerianaClose to You. Ini merupakan buku ketiga yang ditulis oleh Andry Setiawan. Buku sebelumnya yang ia tulis; Then I Hate You So dan (Not) Alone in Other Land. Jatuh hati dengan gaya penulisannya, sangat deskriptif menggambarkan kehidupan Korea dan budayanya. Kalo gak liat nama pengarangnya, pasti kita menduga novel ini ditulis oleh penulis Korea. Takjub ya ada penulis Indonesia seperti ini. Rasa Korea-nya berasa banget, bukan sekedar tempelan belaka. Cocok tidak hanya bagi penggemar Korea, tapi juga Jepang! (´⌣`ʃƪ)

“Mungkin karena aku tidak ingin kehilangan seorang sahabat. Dan aku memutuskan untuk berubah demi mendapatkan kembali apa yang sudah kubuang. Aku rindu waktu-waktu dengan sahabatku itu.” (hlm. 191)

Keterangan Buku:

Judul                : Ojou!

Penulis              : Andry Setiawan

Penyunting        : NyiBlo

Desain cover    : DedyAndrianto

Penerbit            : Haru

Terbit               : 2013

Tebal                : 253 hlm.

ISBN               : 978-602-7742-11-6

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

47 thoughts on “REVIEW Ojou!

  1. Waktu itu pernah ada kuisnya di @penerbitharu sama akun K-Drama, cuma gak menang😦 Alur cerita awalnya hampir sama kayak buku yang pernah aku baca, sedikit mirip, tapi pas baca terus ke bawahnya, tentang tema ‘bela diri’ udah beda jalur lagi. Hihi…

    Pasti bukunya laris ya di perpustakaan SMAN 2 Metro? Hehe…

  2. Aku pernah ikutan kuisnya dipenerbit Haru tapi nggak menang
    pas ke tokbuknya lebih milih yang novel BII.
    novel ini seperti menggabungkan beberapa kebudayaan dari tiga negara ya, Jepang, Korea, Indonesia (Solo)
    sepertinya asik ada beladiri, cowok sedingin kulkas, dan gadis yang pantang menyerah.
    thanks atas reviewnya jadi ngerti segi cerita,
    aku paling susah mendiskripsikan tempat, semoga novel ini bisa menjadi referensiku

    salam

    • cowok sedingin kulkas itu sebutanku buat murid-murid cowok yang biasanya cuek ama fans-fansnya, jadi mereka hapal sapa aja yg disebut cowok kulkas…😀

      • Cowok kulkas itu biasanya anak basket, so cool, cuek, high-class, dan yaaa… biar kelihatan gimana gitu. Banyak banget ditaksir sama kaum hawa di sekolahan, tapi ujung-ujungnya sering dapat cewek yang biasa aja. Hihi… *pengalaman di sekolah*

      • Sama kayak buku Éclair, antara Indonesia, Rusia, dan Perancis. Perpaduan banyak unsur, salah satunya tentang perbedaan negara, bikin pembaca dapat ilmu tersendiri, misalnya tempat-tempat menarik, istilah-istilah tertentu, dan tipikal karakter orangnya, bisa jadi nilai plus untuk buku tersebut😀

      • Bikin cerita tentang Korea atau Jepang itu gak bisa langsung jadi, yaaa…maksudnya nggak kayak nulis cerita tentang pribadi orang Indonesia. Kita perlu cari referensi dulu, mulai dari segi latar, suasananya, sama ejaan tertentu.

        Misalnya, untuk panggilan wanita, akan berakhiran dengan -ya. Contoh, Yoen Hyo-ya.

        Apalagi untuk mendalami sebuah karakter Korea, nggak bisa asal-asalan, kita harus bener-bener teliti, teliti gimana kepribadian orang Korea. Jelas beda dong sama orang Indonesia. Hehe…

        Adapun untuk tahu seluk-beluknya, kita bisa kok jadi penggemar K-Lovers, nggak harus melulu artisnya lho ya, kan bisa tentang wisata dan kebudayaannya. Selain nambah wawasan, ada juga ajang perlombaan yang bisa bikin kita diberangkatin ke Korea nya langsung, jadi tahu betul tentang Korea itu sendiri. Hihi…😀

    • Mungkin kebanyakkan buku Korea yang beredar di Indonesia lebih mengarah ke hal ‘percintaan’, dan biasanya laki-laki kurang menyukainya. Jenis buku yang disukai laki-laki adalah seperti tentang pariwisata atau lebih mengarah ke ‘filosofi’, atau mungkin komik. Pokoknya gak berasa ‘ke-cewek-an’ deh.

      Sebetulnya, di Korea nya sendiri sudah banyak beredar buku demikian, manhwa namanya. Layaknya manga di Jepang, manhwa ini juga banyak genrenya, percintaan pun ada, hal untuk laki-laki pun ada. Tapi sayang, mungkin industri di Indonesia belum gencar memasarkan adaptasi manhwa ini. Hehe…😀

      • Hihi, oke🙂 Memang ada juga laki-laki yang suka baca novel percintaan, tapi memang lebih suka ke hal yang lain sih. Bahkan kebanyakkan nggak suka baca buku, mereka mah tinggal praktis aja, nonton film atau dengerin lagu.

    • Udah mulai banyak kok, dan sayangnya kebanyakan setting Korea-nya cuma tempelan. Nah, kalo ini berasa kayak korea ‘beneran’ karena penulisnya pernah tinggal di sana. Jadi feel-nya dapet!😉

  3. Sebagai orang yang menyukai segala sesuatu (termasuk cowok-cowok ;D)
    Jepang dan Korea saya suka sekali membaca Ojou. Ceritanya begitu menyeentuh. Selain itu kita sedikit-sedikit juga tambah pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Korea. Harus angkat jempol tinggi –tinggi nih buat pengarangnya yang notabene orang Indonesia tapi sukses mengangkat cerita bercita rasa Jepang dan Korea. Benar-benar bisa ‘menipu’ pembacanya.

  4. tentang persahabatan gadis korea,,,persahabatan emang tak lekang oleh waktu,,,sahabatku sekarang adalah suamiku yang terpaut 6 tahun lebih tua dari aq,,,hehehehe,,,salam kenal ya,,,,

    • gyahahaha….khas Korea yaa… Padahal pas aku nanya ama guru dari Korea (asli) di sekolah, rentang umur orang Korea menikah kisaran 27 ke atas, umur dewasa…😉

  5. Pada awalnya saya kurang berminat dengan buku tersebut. Tapi setelah membaca review di sini jadi merasa terntantang untuk melahap bacaan ini dalam sekejap. Pasti bukunya bagus apalagi pengarangnya dari Indonesia. Thanks kak, sudah bantu aku untuk mau membaca buku ini.

  6. Pingback: Wishful Wednesday #19 | Luckty Si Pustakawin

  7. Pingback: Sindrom Korea Bersama Haru | Luckty Si Pustakawin

  8. Pingback: [Haru Syndrome's Waiting Room] Luckty: ‘Ojou!’ Unsur Korea dan Jepang-nya Mendominasi | Luckty Si Pustakawin

  9. Awalnya nggak tertarik sama sekali karena udah males liat novel berbau kokoreaan/jejepangan yang kebanyakan cuma tempel sana sini doang. Tapi baca review ini jadi beneran pengin baca deh….. .___.

    *masukin wishlist juga*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s