REVIEW Catatan Musim

Tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Hanya ketika ada seseorang yang mencintai dengan tulus, maka seseorang akan merasa sempurna.”(hlm. 267)

Tya tersenyum tipis mendapati kedatangan Gema. Ia sedang membaca sebuah buku. Setelah melihat Gema menyandarkan kanvas di depan pagar pendek shelter itu, ia pun kembali melanjutkan membaca. Setiap kali mereka berteduh bersama, kalau tak sedang membaca, Tya pasti sedang menghitung titik hujan. Gema tak tahu namanya. Merekai memang tak pernah mengobrol. Bisa dibilang, mereka hanya teman berteduh rutin saja, yang kemudian hilang dari kehidupan masing-masing jika hujan sudah reda.

Pernahkah suatu hari kamu berpikir bahwa ternyata dunia begitu sempit? Pertemuan-pertemuan tak disengaja dengan orang yang tak terduga kadang terjadi begitu saja. Seperti sebuah kebetulan. Namun, mungkin bukan. Mungkin semuanya memang sudah diatur demikian. (hlm. 16)

Begitulah kali pertama Gema yang hobi melukis dan Tya yang kemana-mana membawa buku untuk diterjemahkan. Mereka berteduh di tempat yang sama sambil menikmati rintik-rintik hujan yang selalu mampir membasahi Bogor si Kota Hujan.

Hingga suatu hari Ca epidermoida, suatu sel kanker yang menjalari Gema merenggut kakinya. Dia harus merelakan kaki kirinya diamputasi sampai perbatasan pergelangan kaki agar kanker itu tak semakin menyebar. Gema diterima di Universitas Charles-de-Gaulle-Lile III untuk belajar Arts. Saat itulah Tya baru menyadari bahwa selama ini diam-diam jatuh cinta kepada Gema.

Sementara Tya juga punya seorang sahabat di masa kecilnya. Jika kita mendengar seseorang yang bersahabat biasanya bertukar kirim kartu pos,beda halnya dengan Tya. Bersama Agam, mereka saling berkirim cangkir teh. Agam selalu mengiriminya cangkir polos. Semuanya polos. Berwarna macam-macam, tapi tak ada yang bermotif. Semuanya dari Agam di kota seberang.

Oya, omong-omong soal saling berkirim cangkir jadi mikir, kalo di kehidupan nyata ada gak ya yang mau rela ‘cuma’ ngirim cangkir lewat pos padahal jarak memisahkan lumayan terbentang, beda kota bahkan beda negara loh! Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Memang sih, cinta mah apa pun bakal dilakukan. Jangankan cangkir, kirim gajah juga dijabanin kalo udah masalah cinta. #eaaa #SalahFokus #abaikan

Beberapa musim berikutnya, Tya mendapat surat pemberitahuan bahwa dirinya diterima S2 di Universitas Lille III. Itu berarti ada kemungkinan Tya bisa bertemu kembali dengan Gema. Tetapi Perancis itu luas. Mereka tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Gema menggeluti hobi barunya, melukis di atas kaca. Sedangkan Tya ikut kegiatan klub baca.

Paling suka dengan adegan ini:

Aku mengikuti bapak itu masuk. Kayu berwarna coklat tua menyusun rumah itu dengan cantik. Wangi kayu yang sangat aromatik itu menyeruak begitu angin bertiup. Beberapa rak buku berdiri kokoh di sudut ruangan, dipenuhi dengan banyak sekali buku dengan satu judul yang sama. Ulysses, dari berbagai macam bahasa. Bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jepang, dan yang lain. Malangnya, tak kutemukan versi Bahasa Indonesia di sana.(hlm. 93)

Ternyata jalan tak semudah yang dibayangkan. Ceritanya bagus. Saya aja baru tau kalo Lille itu salah satu tempat di Perancis. Covernya juga menggoda. Tema dan settingnya menarik. Kisah pilu tentang ketidaksempurnaan. Mencintai tidak butuh sesuatu yang sempurna. Saling mencintai dan melengkapi itulah yang membuat cinta menjadi sempurna. Ada pesan moral yang kita ambil di novel ini; jika kitamencintai seseorang jangan ragu untuk mengikuti kata hati. #KasihKacaBuatDiriSendiri#KacanyaKeburuPecah

“Nggak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna, Gema. Aku menyayangimu apa adanya.” (hlm. 183)

Beberapa kalimat favorit:

  1. “Membaca novel terjemahan itu sama aja dengan makan jeruk yang udah hilang sarinya. Hambar.” (hlm. 17)
  2. “Melukis adalah mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan kata-kata.” (hlm. 18)
  3. “Menerjemahkan, mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan gambar.” (hlm. 18)
  4. “Cinta seharusnya memang gak mencari seseorang yang sempurna. Cinta mengajarkan kita buat mencintai ketidaksempurnaan seseorang dengan sempurna.” (hlm. 43)
  5. “Kamu memang seharusnya berlari ke masa depan, bukannya ke masa lalu.” (hlm. 52)
  6. “Apa seseorang boleh merasa tak pantas untuk dicintai? Bukankah manusia memang tak ada yang sempurna?” (hlm. 122)
  7. “Kalau kita bisa mencintai dengan tulus, aku yakin kita pasti akan mendapatkan balasan perasaan yang setara dengan cinta kita.” (hlm. 43)
  8. “Mencintai itu butuh pengorbanan. Bukankah lebih enak dicintai? Dicintai membuat kita merasa istimewa.” (hlm. 43)

Keterangan Buku:

Judul                : Catatan Musim

Penulis              : Tyas Effendi

Editor               : eNHa

Proofreader      : Patresia Kirnandita

Penata letak      : Dian Novitasari

Desain sampul  : JeffriFernanndo

Penerbit            : GagasMedia

Terbit               : 2012

Tebal                : 270 hlm.

ISBN               : 979-780-471-2

Nemu banyak typo:

Kude-kap (hlm. 13)

Memean (hlm. 17)

Senatau (hlm. 119)

Jemudian (hlm. 125)

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

25 thoughts on “REVIEW Catatan Musim

  1. Itu aku suka quotes no. 4 nya…

    “Cinta seharusnya memang gak mencari seseorang yang sempurna. Cinta mengajarkan kita buat mencintai ketidaksempurnaan seseorang dengan sempurna.” (hlm. 43)

    Aaah iya, hari ini bersyukur banget bisa merasakan perasaan cinta kepada *uhuk* yang dulu sempat lenyap *eeaaaak…*cinta sih iya, tapi tau namanya aja nggak, jadi dipanggilnya Jaket Merah deh* *kece bingits* *ini salah fokus*

    The last, reviewnya keren (y) *sambil masih mikir lagi*

      • Nggak kok, beda kelasnya juga .-. *jadi gak disebut cinlok kan?* *eh* *abaikan*

        Aku rada-rada bingung atau terkejut atau entah apa, Mbak Luckty cepet ya bacanya, hadiah #unforgotTEN dari Gagas hampir dibaca semua, tiap sehari sekali ada aja reviewnya. Aku baca yang Penjual Kenangan belum selesai, baru beberapa bab itu pun gak sekali duduk. Rahasianya apa sih? *kasih tahu atau kalau nggak….*

  2. orang yang tulus mencintai kita adalah ibu. ibu rela berkorban apa aja demi anaknya. Hiks hiks,,,tiba-tiba kangen ibu,,,semoga ibuku selalu diberi kesehatan,,,bagi penulis blog salam kenal ya,,,

  3. Review yang cukup realistis dan mengena.
    Dalam setiap novel tentu ada tokoh utama dan tokoh pendamping yang masing-masing memiliki karakter.
    Selain itu juga perlu ada evidence(biasanya dikutipkan beberapa kalimat) yang menunjukkan kebenaran karakter si tokoh
    Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

    • Mungkin yang agak ganjil dari tokoh ini adalah penasaran ama kampus yang deket katedral di Bogor. Kayaknya disekitaran daerah itu gak ada kampus… tapi yaa…namanya juga novel, kan fiksi😀

  4. Trus-trus Tya dan Gema ketemu lalu pacaran begitu? *pertanyaan salah fokus*😀
    Yang jadi pertanyaan saya kenapa Tya dan Agam harus kirim-kiriman cangkir? kenapa bukan souvenir atau apa gitu yang menjadi cirikhas suatu negara. Sayangnya di review ini tak disebutkan alasannya, dan mungkin dibukunya memang tak disebutkan alasannya?
    Namanya cerita fiksi diperlukan ketajaman imajinasi penulisnya, tapi menurut saya kisah Tya dan Gema ini terlalu nggak masuk akal. Masak iya sih mereka cuma bertemu kala hujan saja lalu tiba-tiba jatuh cinta? meskipun Bogor kota hujan tapi kan gak setiap hari hujan, toh?

    • Alasan Tya dan Agam saling berkirim cangkir ada alasannya kok di novelnya. Jatuh cinta gak mengenal tempat dan waktu, aku pernah ngerasain itu…😀 #MalahCurcol

  5. Review yang memiliki pesan moral “jika kita mencintai seseorang jangan ragu untuk mengikuti kata hati”.
    Sungguhkah seperti itu, terkadang kata hati tidak sesuai dengan apa kata manusia di sekitar Kita, dan apa kata dunia.
    Yang unik ,kenapa kemana mana bawa cangkir? apa tujuannya untuk tempat air hujan?..wallaah..gak nyambung yaa
    Tapi setuju banget dengan penulisnya, semuanya berbau keromantisan. Hujan, Perancis dan couple cangkir.

  6. Haha,,benar jatuh cinta nggak mengenal jarak, waktu dan tempat. Beda kalau sudah jadian, jadi banyak itungan. Well, saling melengkapi memang mengasikkan, ketidaksempurnaan kita kadang-kadang menjadi magnet yang kuat buat menarik pasangan kita.

    Oya saya setuju banget dengan quote no 1, “Membaca novel terjemahan itu sama aja dengan makan jeruk yang udah hilang sarinya. Hambar” (Hal 17). Benar-benar tidak ada sarinya, kadang malah jadi rancu tak berperi.

  7. author ini adalah salah satu author yang masuk list favorite.. kalo novel karyanya keluar langsung dibuuruu..
    tapi sayang buku yg ni saya belum baca ..

    dari reviewnya kaka bagus banget !!! jadi kepengen ^^

    kakak ga review karyanya Tyas yang lain ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s