REVIEW Always, Laila

Biarlah kenangan-kenangan indah di antara kalian tetap tersimpan. Luka di hati tidak akan pernah sembuh hanya dengan berdamai dengan hatimu, kamu akan temukan jawaban dari semua ini. (hlm. 228)

Begitu sederhananya kebahagiaan itu terlahir saat aku sekadar melihatmu untuk kali yang pertama, kedua, dan seterusnya tak ada habisnya…. (hlm. 50)

Setelah memesan bakso tahu dan teh botol, mulanya ia kebingungan mencari meja yang kosong. Butuh beberapa detik baginya untukmelihat seorang laki-laki yang sedang makan sambil membaca buku di pojok kantin. Salah satu tempat duduk di mejanya tidak terisi. Laila pun menghampirinya.

Laila adalah seorang perempuan cantik. Teramat cantik. Bukan, kata cantik pun masih kurang pas terdengar. Cuantik mungkin lebih tepat. Namun, kecantikannya itu tidak bisa ditangkap oleh kamera. Canon, Philip, Minolta. Ia adalah seorang perempuan terhormat. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang cintanya ia bagi tanpa pandang bulu. Perempuan yang hatinya untuk semua, tak mengenal warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu-abu, merah jambu. Perempuan yang akan dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua akan berebut menjadikannya mantu mereka. Laila adalah seorang perempuan yang takkan bisa berhenti untuk terus dicintai banyak manusia.

Sementara Pram, ia hanyalah seorang lelaki biasa, baik tingkah maupun rupa. Tapi, lelaki ini memiliki apa yang Laila cari: kunci membuka beribu bahasa, pintu menuju masa lalu, jendela mengintip masa depan. Pram mempunyai kantung berisi semua hal yang Laila suka: laci penyimpan keeping demi keping kenangan, dan peti untuk menaruh sebentuk rindu, segenggam cemburu, dan gairah menggebu.

Begitulah awal mula perkenalan mereka yang ternyata satu sekolah dan satu angkatan. Sembilan tahun telah berlalu. Dan kenangan itu kembali merenggut memori mereka.

Apakah kamu akan tetap mencintai aku, Pram? Dan menerima aku apa adanya? Atau sekadar mencintai kenangan kita? (hlm. 38)

Semua telah berubah. Tak ada lagi sapaan perempuan itu melalui telepon menjelang tengah malam, membisikkan ucapan selamat tidur. Tak ada lagi gelak tawa saat ia berhasil dengan kejutan-kejutan kecilnya. Tak ada lagi wajah cantik yang bisa ia pandangi tanpa rasa jemu itu. Tak ada lagi fantasi dia membangun sebuah restoran besar dengan orang-orang yang memuji makanannya. Dan saat ia pulang dari bekerja dan kelelahan, Laila menyambutnya penuh sayang, lalu membisikkan kata-kata bahwa perempuan itu sudah tidak sabar menungunya pulang. Semuanya memang berubah.

Kemudian, perasaan benci pada Laila tumbuh dalam dirinya, selain rasa rinsu tentu. Kebencian dan kerinduan ini terus mengganggunya dalam ritcher yang sama. Hanya kesibukan yang sangat dapat menghibur rasa sepi disudut hatinya, sampai tiba-tiba pemahaman itu datang.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Beginikah rasanya cemburu itu… Seperti sulit bernapas. (hlm. 96)
  2. Terkadang, seseorang lebih menghargai hidup justru sewaktu dirinya sakit. (hlm. 216)
  3. Mencintai gak membutuhkan alasan, tapi menikahi seseorang butuh alasan. (hlm. 218)

Kamu adalah kecoak…

Yang diciptakan dengan energi luar biasa walau evolusi selama jutaan tahun dan radiasi nuklir menimpa kamu tetap bertahan

Tidak!

Kamu adalah angin…

Yang membelai dahan-dahan dan menggoyang rerumputan tak pernah diam

Tidak!

Kamu adalah ksatria tanpa kuda…

Yang tak pernah mengeluh walau berjalan kaki menumpas musuh

Tidak!

Kamu adalah anak-anak domba yang harus kuhitung sebelum tidur

Tidak!

Kamu adalah sepotong ujung pelangi yang masuk dalam saku celana ke mana aku pergi selalu kubawa serta… (hlm. 208)

Ternyata ini novel lumayan lama. Ampe gak ngeh kalo GagasMedia pernah nerbitin ini. Ternyata (lagi) covernya berbeda dengan cetakan pertamanya yang kurang ciamik (mungkin di tahun 2004, cover itu udah kece ya).

Yang agak membingungkan adalah saat penempatan waktu. Seandainya cerita masa lampau di tulis miring atau font yang berbeda, tidak akan membuat rancu dan membolak-balik halaman dan menebak ini masa lampau atau bukan karena alur ceritanya maju mundur. Atau bisa dengan adanya tahun di atas tulisan.

Aaakkk… gak salah pilih novel ini. Suka ama ide ceritanya, seperti kembali ke Bandung masa lampau (1995-2004) dengan segala isinya. Penulis mampu mendeskripsikannya secara detail. Tapi kenapa percakapannya gak ada aroma Sunda-nya ya?!? Suka juga ama dunia jurusan Teknik Penerbangan yang ternyata itu adalah jurusan yang ditekuni sang penulisnya. Seandainya dunia Teknik Penerbangan digali lebih dalam lagi, tentu lebih kece. Ditambah lagi ending yang tak tertebak dan sedih!

Terlepas dari itu, suka banget ama novelnya. Sederhana tapi memikat. Ditambah lagi banyak berserakan puisi yang ciamik. Wah, ini kalo dibaca murid jelas puisi-puisi di sini bakal jadi status di facebook deh…😀

Jadi tertarik ama karya penulisnya setelah novel ini; Love for Show (2007) ama Ruang Rindu (2007). Yay, satu lagi penulis cowok yang tulisannya bikin meleleh… ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

Gemuruh di hatiku mereda sendirinya, langit menjadi lebih cerah, dan udara tak lagi menyesakkan dada.

Mungkin karena telah kutemukan definisi lain dari cinta.

Makna tak lagi berasal dari pertemuan dan rasa rindu membuatku bahagia. (hlm. 238)

Keterangan Buku:

Judul                            : Always, Laila

Penulis                          : Andi Eriawan

Penyunting                    : Denny Indra

Desain sampul              : Dwi Anissa Anindhika

Penata letak                  : Wahyu Suwarni

Penerbit                        : GagasMedia

Terbit                           : 2013 (Cetakan Kedua)

Tebal                            : 240 hlm.

ISBN                           : 979-780-630-8

Nemu typo:

Pera saan (hlm. 4)

Mema merkan (hlm. 76)

Cover edisi lama:

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

26 thoughts on “REVIEW Always, Laila

  1. saya baca blog ini pas saya lagi puasa hihihihi…^_^ jadinya saya langsung kebayang bakso tahu dan teh botolnya,,,jadi,,,ngiler dech…salam kenal ya bagi si penulis blog,,,semoga reviewnya tambah oye,,,

  2. Akhirnya…muncul juga review Always, Laila. Nunggu banget pas baca TL Mbak Luckty yang #NowReading buku ini. Dilihat dari covernya juga menarik, kalem, dan flow banget…

    Ada tentang Teknik Penerbangannya? Pasti penulisnya alumni SMKN 12 Bandung *yakali* Ayah pernah nyuruh aku sekolah disana, kan satu-satunya sekolah penerbangan di Indonesia *saat itu*

    Hihi…Reviewnya keren, nambah keren kalau aku bisa baca langsung😀

      • Oh, Mbak Luckty pernah di 13? Aku punya saudara juga disana, katanya sih sekolahnya asyik, tapi gak tau .-.

    • Dibandingkan dengan Laila, lebih menyukai sosok Pram yang apa adanya, pengertian meski sedikit tengil. Malah gak begitu suka Laila, karena dia merasa ‘sempurna’, cenderung egois, terbukti saat sudah bersama Pram masih PHP-in Bubung…😀

  3. dari reviewmu sih aku bisa lihat sebenernya ceritanya sederhana, tapi dikemas dengan diksi yang sangat kaya. kata2 yang sebenernya ga akan terpikirkan oleh saya kalo saya menjadi laila.

  4. Suka gambar cover barunya, nuansanya kalem. sosok Laila tergambar terlalu ‘sempurna’. Sering kagum sama pengarang yang bisa menggambarkan alur maju mundur cerita dengan apik.

  5. saya sangat suka dengan novel yang gaya bahasa nya seperti ini karena lebih emosional di hati. gak seperti novel-novel alay yang sentuhan emosionalnya kurang

  6. Hai Mbak Luckty, sukaa banget dengan review nya, jadi ingin membaca dan memiliki novel Romance ini, apalagi diikuti dengan diksi tulisan yang ciamik. Saya juga suka dengan kalimat: “Mencintai tidak membutuhkan alasan, tetapi menikahi seseorang membutuhkan alasan” 100% agree ^^

  7. aku baca buku ini tahun 2004. 8 kali cover to cover. dulu masih jaman friendster . aku tulis di fs ku ” aku uda baca buku ini 8 kali dan belum bosen”. kl di fs kan profil yg ngunjungi fs kita kliatan. nahh . nongol deh andi eriawan. aku add dehh.. hehe .. tapi fs tinggal cerita. dulu di fb lamaku jg berteman dg dia. tp fbnya uda tewas. yg baru uda sent request blom di approve. haha

  8. baca reviewnya kakak jadi pengen hunting novel ini !!
    apalagi baca quote ini ! >>> Terkadang, seseorang lebih menghargai hidup justru sewaktu dirinya sakit. (hlm. 216)

    setuju 99,9% saya mba😀
    hunting ahh, nantii…

  9. Bener, novel ini simpel tapi menarik ya, kak. Romantisnya beda gitu rasanya. Menurutku, mungkin krn penulisnya cowok? Dunno. Yang jelas berasa aja bedanya sama novel romance yang ditulis penulis cewek. Hehe. Dan kece ya, settingnya masa kuno gitu, jarang kan. Love it! Great review, kak. Keep posting!😀

  10. Pingback: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca versi @lucktygs | Luckty Si Pustakawin

  11. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s