REVIEW Lampau

Tiap kita memiliki sungai masa lalu. Sungai tempat pertama kali kau belajar dan mengarungi kehidupan. Kadang, kau tenggelam, lalu muncul lagi ke permukaan. Percayalah, selalu ada yang memberikan tangannya untukmu keluar daril ubuk terdalam sungai itu bila kau benar-benar akan tenggelam –bahkan Tuhan selalu berjaga di tepi sungai itu untukmu. Semakin jauh kau berenang, semakin kau pahami sungai itu. Namun juga akan banyak rintangan yang mengadang. Dan kaupun harus berjuang lebih keras lagi agar tidak mudah kalah dan menyerah.

Sungai masa lalu itu selalu berada di sana. Sungai yang menghilirkan kita di sini saat ini. menjadi kenangan, yang mungkin pahit, tetapi selalu ada rasa manis yang bisa kau cecap. Kau bisa setiap saat menengoknya, barangkali sambil mengingat kawan-kawan kecilmu yang ikut berenang bersama di sungai itu. Atau pelangi yang melengkung di atasnya, daun-daun kering yang terhanyut, dan kau jadikan itu sebuah foto yang selalu tersimpan rapi dalam ingatan terbaikmu. (hlm. 283)

Adalah Sandayuhan yang terlahir dari seorang Uli Idang, dukun yang namanya membuat gentar segenap hantu di hutan larangan Meratus –semua ilmu kesaktian merapat ke dirinya meminta untuk dipinang. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah sabda yang sanggup mengguncang rumpun-rumpun bambu, menghentikan angin kencang yang berembus, lalu mengubahnya menjadi desiran lembut.

“Setiap anak harus mengetahui nama yang disandangnya, apakah itu pemberian orangtuanya atau siapa pun.” (hlm. 7)

Inilah cerita dari sebuah nama Sandayuhan. Dulu, nenek moyang Meratus dengan nenek moyang orang Banjar adalah saudara, Sandayuhan dan Bambang Basiwara namanya. Sang kakak, Ayuh, adalah nenek moyang Dayak Meratus, dungu dan selalu tak bisa mengalahkan kecerdasan sang adik, Basiwara. Basiwara merupakan nenek moyang orang Banjar dan dikenal sebagai suku asli penduduk Kalimantan Selatan. Namun, Ayuh memiliki kekuatan fisik yang lebih dari Basiwara. Dari cerita turun temurun, yang paling terkenal adalah cerita Ayuh saat mengalahkan setan raksasa berkepala tujuh bernama Samili’ing. Samili’ing memiliki kekuatan mengubah orang dan benda-benda menjadi batu hanya dengan menatapnya. Namun, mantra Ayuh tak tertanding. Kekuatan Samili’ing pupus hingga tatapan mata setan raksasa itu justru menyergap tubuhnya sendiri dan kelak tebing cadas Gunung Kepala Pita diyakini sebagai Samili’ing yang telah berubah wujud menjadi batu. Nah, harapan Uli Sedang memberi nama anaknya Sandayuhan yang kerap dipanggil Ayuh adalah Uli Sedang ingin anaknya menjadi Ayuh seperti nenek moyang mereka agar kelak menjadi anak yang kuat dan menolong suku mereka dari kejahatan yang datang seperti raksasa Samili’ing itu.

Pada akhirnya, kita harus menyadari, ada banyak bayangan dan khayalan yang sebenarnya sering kali bertolak belakang dengan kenyataan yang kita temui.(hlm. 240)

Adegan paling favorit adalah ketika Ayuh berpamitan dengan ibunya saat akan pergi untuk sekolah di pondok, ini mirip banget saat saya hendak merantau pas kuliah:

“Walau berat, ibu relakan kau pergi menuntut ilmu. Maafkan juga ibu yang tidak bisa membiayai sekolahmu… sehingga kau sendiri berusaha untuk bisa tetap bersekolah. Di amplop ini hanya ada sedikit uang. Tidak banyak. Ibu tidak ingin kau pergi tanpa ada sesuatu pun yang bisa ibu berikan. Dan, ini adalah pakaian ayahmu dan ibu. Ini satu-satunya baju ayahmu yang tersisa, dan kain sarung ibu. Simpan dan bawalah kedua pakaian ini, agar kau selalu merasa kami berdua tetap ada dan menjagamu ke mana pun kau pergi…” (hlm. 156)

Tokoh paling favorit adalah Amang Dulalin, sepupu Uli Idang, yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia Balian. Ia justru lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku. Ia hanya bekerja ketika musim panen  tiba, dengan mengambil upah  memetik bulir-bulir padi. Untung saja ia tidak punya istri dan anak jadi cukup hanya memberi makan perutnya sendiri. Kamarnya dipenuhi buku-buku yang selalu dibacanya secara bergantian. Inilah awal mula Ayuh menyukai dunia literasi.

  1. “Bila kau ingin melihat dunia, mengintiplah lewat buku-buku itu.” (hlm. 37)
  2. Seorang peminjam buku yang baik adalah tidak baik menolak sebuah buku yang direkomendasikan oleh sang peminjam. Sebab bila kita menolak, bisa-bisa menyinggung perasaannya, dan seakan-akan tidak percaya kalau buku itu bagus. (hlm. 41)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Untuk bisa mengunjungi daerah, kota, dan negeri lain, tidak harus memiliki harta yang banyak. Cukup dengan ilmu. Ilmu bisa membawamu kemana saja. (hlm. 52)
  2. “Membaca novel, buku-buku cerita, atau buku apa saja, maka kau bisa mengunjungi tempat-tempat yang kau inginkan. Tempat-tempat yang tidak pernah kau bayangkan.” (hlm. 52)

Dari remaja menuju fase dewasa, Ayuh harus menempuh jalan yang panjang dan berliku. Bahkan nyawanya pernah jadi taruhannya. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk di dunia kepenulisan, sementara ibunya, Uli Idang menginginkannya kembali untuk meneruskan ilmunya menjadi Balian di desanya. Jalan mana yang harus dipilih Ayuh? Endingnya donk, bikin geregetan… (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’)

Setelah Rahasia Sunyi-nya Brahmanto Anindito, akhirnya saya menemukan lagi novel bersetting lokal kental terbitan GagasMedia. Penulisnya yang lahir dan besar di Kalimantan, sangat pas mengambil setting adat istiadat suku Dayak Meratus. Nah, suka deh novel-novel tipe begini. Kalau bukan lagi penulis Indonesia, siapa lagi yang mampu mengeksporasi budaya kita yang berlimpah ruah ragamnya? Semoga, GagasMedia makin sering menerbitkan novel-novel khas nuansa lokal seperti ini yaa…

“Jangan diambil hati.Memang untuk meraih mimpi itu banyak tantangannya. Termasuk menaklukkan hati ibumu. Percayalah, hatinya nanti pasti meleleh seperti es batu.” (hlm. 154)

Keterangan Buku:

Judul                : Lampau

Penulis              : Sandi Firly

Editor               : Gita Romadhona & eNHa

Proofreader      : @ceriamawardi

Penata letak      : Wahyu Suwarni

Desain sampul  : LevinaLesmana

Penerbit            : GagasMedia

Terbit               : 2013

Tebal                : 346 hlm.

ISBN               : 979-780-620-0

25 thoughts on “REVIEW Lampau

  1. Hihi…baru dipost di WP, mmm… komentar apa ya? Nggak lucu ah kalau misalnya sama banget kayak komentar waktu di fb😀

    Intinya, aku bener-bener serius ciyus miapah takjub sama hasil-hasil review Mbak Luckty, walaupun memang review itu berdasarkan dari buku, tapi ada ‘kesan unik tersendiri’ yang reviewer lain jarang punya *emaap nggak ada maksud modus, ini ciyusan*

      • Tapi kan ada satu ciri yang lain, apalagi Mbak Luckty mah sering welcome sama pengunjung baru, pernah sih aku blog-walking ke salah satu anggota BBI, mau nanya nggak dijawab😐

  2. btw, ada 5 buku yang kita dapet sama, mba.😀

    suka kata-katanya Uli pas mau melahirkan, dia bilang sama dukun bayinya kalo dia sama dengan ibu2 lain yang orang biasa aja, ga perlu mandang dia kedudukannya apa di desa itu. padahal si dukun bayi udah takut duluan nangani proses kelahiran bayinya karena yang lahiran kan orang terpandang di desanya, yang paling ditakuti, hehe.

  3. Hai Mbak Luckty, membaca review ini saya membayangkan suku aseli penduduk Kalimantan. Saya sangat suka novel atau cerita yang berlatar kebudayaan dan sejarah. Apalagi kebudayaan Indonesia. Saya sangat sepakat dan kita *toss, bahwa untuk bisa mengunjungi beberapa kota atau negara impian itu tidaklah harus kaya raya, tetapi cukuplah dengan ilmu. Alhamdulillah !

    • Ada satu lagi novel yang terasa kental nuansa lokal; Rahasia Sunyi yang menguak kehidupan ranah Kerinci. Ada postingan reviewnya di sini😉

  4. tak ingin masa laluku yang pahit terjadi dimasa depanku..

    lampau, cukup jadikan pelajaran berharga untuk hidupku..

    seorang ibu, ada di sepanjang masa hidup kita🙂

  5. kalo diliat dari kutipan2 bukunya, buku ini agak berat ya? *bener gak sih?*
    soalnya kalimat2nya itu banyak fiksinya gitu :3

    hmm, agak2 mirip novel sastra sih kayaknya *sotoy kumat
    😀

  6. Mata ini terasa mengerjap-ngerjap mengeja judul Lampau. Bisa juga diartikan silam. Masa silam penuh kenangan,bukan. Lebih menelusuri kebawah ternyata mengambil nilai-nilai kedaerahan hingga bisa jadi media pembelajaran siapapun yang belum pernah berkunjung ke tempat tersebut. Lalu ada cuplikan resensi seperti :
    Dari remaja menuju fase dewasa, Ayuh harus menempuh jalan yang panjang dan berliku. Bahkan nyawanya pernah jadi taruhannya. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk di dunia kepenulisan, sementara ibunya, Uli Idang menginginkannya kembali untuk meneruskan ilmunya menjadi Balian di desanya. Jalan mana yang harus dipilih Ayuh?
    Wah kayaknya mengena denganku sekali, yang saat ini mencari jati diriku lagi yang hilang pada masa silam untuk kembali bisa mengasah ketajaman tulisan. Yaaaah aku ingin mengulangi jiwaku dalam dunia kepenulisan yang tenggelam belasan tahun.
    Seandainya bisa baca buku ini secara full, aku harap bisa mengambil hikmah pentingnya. AMiiin

    • Wah, mirip ama kisah si Ayuh ini, mengalami pergolakan batin mewujudkan mimpinya menjadi penulis atau kembali ke kampung halaman untuk mewarisi keahlian ibunya, dilema yang berart…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s