REVIEW Negeri Di Ujung Tanduk

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh. Seperti jalan hidupmu. Orangtuamu dibakar, masa kanak-kanak dan remajamu penuh kesedihan, dibebani kenangan abu orangtua. Tapi lihatlah, kau menjadi seseorang yang begitu gagah, amat membanggakan. (hlm. 357)

Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang, lantas semua orang berdiri rapat dibelakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada? (hlm. 111)

“…bahwa bagi kami, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia.” (hlm. 20)

Negeri di Ujung Tanduk ini merupakan sekuel dari novel Negeri Para Bedebah. Sama halnya, seperti Sepotong Hati Yang Baru yang merupakan sekuel dari Berjuta Rasanya, sama-sama memiliki cerita yang setipe dengan buku sebelumnya, bahkan bisa dikatakan mirip.

Jika di Negeri ParaBedebah, Thomas di tokoh utama berprofesi sebagai konsultan muda di bidang ekonomi yang fasih luar dalam seluk beluk perekonomian, di Negeri di UjungTanduk, Thomas berkecimpung dalam hitam putih dunia politik.

Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik? Karena lihatlah, bukankah ada banyak partai politik di negeri ini yang tidak ubahnya seperti kerajaan. Pucuk pimpinannya adalah ratu, mewarisi kedudukan itu dari orangtuanya, dan orangtuanya mewariskan posisi itu ke anak-anaknya? Lantas orang-orang di sekitarnya adalah keluarga dekat, kerabat, sanak famili, yang bisa merangsek ke posisi penting tanpa harus susah payah meniti karir politik. Apa kata ratu, semua anggota harus dengar. Apa kata ratu, semua anggota harus tunduk. Omong kosong semua kongres, musyawarah, rapat, dan sebagainya. Omong kosong. Titah ratu adalah segalanya, di atas seluruh anggota partai. Ini membingungkan. Apakah partai itu sebuah kerajaan? Bukan lembaga paling demokratis di alam demokrasi? (hlm. 235)

Seperti kita ketahui, dunia politik adalah dunia yang tidak bisa dibedakan mana hitam mana putih. Kawan bisa jadi lawan. Main tusuk belakang. Menjatuhkan lawan tidak hanya dengan kekerasan, sekarang yang paling kejam adalah dengan cara pencitraan seperti yang menjadi isu hangat di dunia perpolitikan Indonesia. Siapa yang tidak searah, niscaya citranya diobrak-abrik. Yang benar menjadi salah, dan begitu pula sebaliknya.

Di zaman digitalisasi sekarang ini, dunia maya sangat berpengaruh sekali di dalam kehidupan nyata. Contohnya saja saat pemilihan presiden Amerika. Barack Obama berkampanye lewat facebook, merangkul kaum muda. Adik angkatan ada yang skripsinya meneliti tentang ini. Belum lagi contoh salah satu sebuah pemilihan gubernur di Indonesia. Ada banyak sekali ‘manusia maya’ yang menguasai politik. Saling menjatuhkan. Saling menikam. Tugas mereka menangani ramainya lalu lintas jejaring sosial. Mereka membaca bahkan ribuan bahkan jutaan kicauan di jejaring sosial, mencari pola arah percakapan, topik apa saja yang menarik, topik apa saja yang buruk di mata pemilih. Mereka juga memberikan rekomendasi strategi kampanye di dunia internet. Jejaring sosial adalah masa depan politik.Kuasai dunia maya, maka menaklukkan dunia nyata lebih mudah.

“Aku selalu percaya padamu. Tidak sepantasnya aku menganggapmu tidak bisa menjaga diri sendiri. Hati-hati, Nak. Lakukan apa yang hendak kau lakukan. Kau benar, kita akan memenangi konvensi partai itu. Aku akan berdiri gagah menghadapi semua kejadian, apa pun maneuver yang terjadi di sekitar. Apa pun harga yang harus kita bayar. Kau telah membuatku lebih berani, Nak.” (hlm. 117)

“Anak muda yang tidak bisa mendengarkan cerita masa lalu leluhurnya, seperti kau ini Tommi, tidak sabaran, suka memotong kalimat, maka tidak akan pernah menang bertarung dengan anak muda lain yang begitu menghargai masa lalu orangtuanya, seperti Lee, cucu Chai Ten itu.” (hlm. 129)

Entah kenapa, yang namanya buku sekuel biasanya kurang cetar dibandingkan buku pertamanya. Mungkin karena kita bisa menebak jalan ceritanya.Begitu juga dengan novel ini. Terlepas dari itu, salut sekali dengan penulisnyayang mampu mencoba genre yang belum ditulis sebelumnya.

Novel kedua ini merupakan representasi dunia politik Indonesia dengan segala carut-marutnya. Covernya dengan segala rupa manusia dengan tingkah polah monyet, menganalogikan bahwa dunia politik kita penuh dengan topeng dan segala kepura-puraan.

Jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua ceritahari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.

Kepedualian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar. (hlm. 358)

Keterangan Buku:

Judul                                        : Negeri Di Ujung Tanduk

Penulis                                      :Tere Liye

Desain & ilustrasi sampul          : eMte

Penerbit                                    : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                       : April 2013

Tebal                                        : 360 hlm.

ISBN                                       : 978-979-22-9429-3

36 thoughts on “REVIEW Negeri Di Ujung Tanduk

  1. yang buku Tere Liye ini belum saya baca… sejauh ini cuma ada dua karya tere liye yang saya konsumsi, pertama tentu saja Hapalan sholatDelisa, dan selanjutnya yang Angpao Merah’. saya tidak tahu kalo ternyata Tere menulis yang politik juga…:) Nice Post.

  2. Huft… Jujur aja ya, aku itu memang suka sama buku-bukunya Bang Tere, yang Hafalan Shalat Delisa, Serial Anak-Anak Mamak, Sepotong Hati Yang Baru, dan buku lainnya yang masih dalam proses penundaan membaca, tapi untuk buku Bang Tere yang dua ini, Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk, memang belum membeli dan masih kurang berminat untuk dikonsumsi, mungkin memang nggak jodoh kali ya. Hmm…at least, apapun itu ceritanya, aku selalu suka, bukan menyindir sih, mungkin lebih tepatnya mengkritisi terhadap permasalahan-permasalahan yang sedang jadi hot issue di negeri ini😀

  3. Lebih suka yg pertama. Yg paling saya sorotin endingnya kurang nendang, banyak bantuan dari pihak luar, ga nonjolin intelegensinya Thomas sendiri. Tapi emang bagus, saya kasih 4 dari 5 bintang buat novel ini. Keren.

    Baru dua seri novel ini karya Bang Tere Liye yg saya baca.

  4. Ketika baca-baca di goodreads banyak yang kecewa dengan buku lanjutan Negeri Para Bedebah ini, tapi menurut saya buku ini bagus, walau memang ceritanya sedikit bisa ditebak. walau begitu tidak mengurangi kecintaan saya pada karya Tere.

    • Iya, kebanyakan orang pasti ekspetasinya tinggi terhadap buku ini, apalagi yang udah baca Negeri Para Bedebah, tentu akan membandingkan keduanya…😀

      • Yah tapi pembaca memang berhak menilai buku yang telah dibacanya..

        Dalam tokoh ini saya suka banget dengan Guru Alim…
        Pemahaman akan datang sendiri di waktu yang tepat. Ahhhhhh Tere.

  5. Saya belum baca buku Tere Liye yang ini. Sepertinya menarik.
    Memang sih dunia politik itu tak jelas. Mana hitam dan putihnya. Saudara sekandung pun bisa menjadi lawan politik bagi saudaranya yang lain. Gak ada yang bisa ngebedain mana orang yang tulus baik ama kita ataukah yang hanya berpura-pura di dalam dunia politik. banyak yang menikam dari belakang. Politik itu tidak bersih dan kejam. “Loe manut gue Gue Tarik. Loe gak berguna Gua buang..”. Begitulah politik..

  6. Aq udah bnyk baca karyanya tere liye spt hafalan shalat delisa, moga bunda disayang Allah, kau,aku dn sepucuk angpau merah, sunset bersama rosie, bang tere selalu bisa membuat alur cerita mjd menarik.sayangnya aq belum pernah baca yg ini…semua buku aq pinjem dr perpusda *saking seringnya kesana sampe pengen kerja di perpusda😀

  7. Yang buat saya bilang ‘wah, iya’ di buku ini, di bab waktu Thomas ketemu sama petinggi KPK, di buku ini seperti menuliskan harapan penulis dan pembaca bagaimana seharusnya KPK yang patut dibanggakan. Nice review😀

  8. Saya tau saya tau, tere liye adalah salah satu pengarang terbaik yang dimiliki Indonesia.

    Dan saya tau, selalu berharap buku ini tapi tak kunjung terkabul *yaah ngarep sih.

    Kira-kira kalau saya ngasih buku ini buat ayah saya, cocok nggak ya? o.O

    Btw, nice reviu

  9. Buku ini wajib dibaca sama elit politik negeri yang busuk-busuk nih *ups* hhaha biar mereka bisa bercermin dari cerita yang ada dalam buku ini! Siapa tau bisa insyaf gitu haha *ups*

  10. Melalui novel ini, sepertinya sang penulis ingin menumpahkan segala kekecewaan terhadap dunia perpolitikan di Indonesia. Para politikus cenderung sibuk dg pencitraan, kekuasaan, dan korupsi. Lupa dengan rakyatnya, lupa dengan masalah moral bangsa. Terimakasih.

  11. Pingback: REVIEW Pulang | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s