REVIEW Botchan

“Kau selalu berterus terang, sifatmu baik.” (hlm. 16)

“Tentu saja baik bagimu untuk tidak melakukan sesuatu yang salah; tapi selama kau tidak menyadari bahwa meskipun kau sendiri tidak melakukan sesuatu yang salah, kau tidak bisa mengandalkan orang lain melakukan hal yang sama, kaulah yang akan dirugikan….” (hlm. 91)

 

Aku hanya mengucapkan hal-hal yang selama ini kupegang teguh. Kalau dipikir-pikir, sebagian besar masyarakat malah mendorongmu bertindak jahat. Mereka seolah percaya tanpanya, kau tidak akan bisa sukses dalam kehidupan. Pada kesempatan-kesempatan yang langka, ketika mereka melihat seseorang yang berbicara terus terang dan jujur, mereka meremehkannya dan menyebutnya hijau, tidak lebih daripada anak-anak. Ketika mengajarimu etika di sekolah dasar dan menengah, mereka memberitahumu untuk tidak berbohong dan selalu bersikap jujur. Bahkan lebih berguna bagi dunia secara keseluruhan dan terutama si individu itu sendiri, kalau sejak awal mereka tidak melakukan itu dan blak-blakkan berani mengajarimu metode berbohong, seni tidak memercayai orang, dan siasat mengambil keuntungan dari orang lain. (hlm. 91)

Setelah Ibunya meninggal, Botchan tinggal bersama ayah dan kakaknya. Ayahnya tipe orang yang tidak berbuat apa-apa, yang hanya perlu sekilas melihat wajah sebelum berkomentar. Dengan kakaknya tidak pernah akur. Mereka selalu terlibat pertengkaran kira-kira satu kali dalam seminggu. Ketika ibunya meninggal, Kiyo, pembantu rumah mereka selama sepuluh tahun, Kiyo makin menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada Botchan. Kadang-kadang Kiyo akan membelikannya kue kintsuba yang bentuknya seperti bunga plum. Dia akan diam-diam membeli tepung dan menyimpannya, kemudian di malam-malam dingin, tanpa mengatakan apa pun, dia akan datang membawakan sup mie saat Botchan berbaring di tempat tidur. Ada saat-saat ketika dia bahkan membelikan Botchan semangkuk mie dengan sayuran.

Botchan kecil yang kerap disebut nakal, sebenarnya hanyalah berontak dengan keadaan yang dihadapinya. Begitupula saat dia tumbuh dewasamenjadi guru muda yang juga berontak dengan keadaan sekitar yang menurutnya tak sepaham dengannya. Sesungguhnya Botchan adalah pemuda yang tidak menyukai sesuatu hal yang penuh dengan kepura-puraan.

Pada dasarnya, aku memang tidak mampu mencemaskan sesuatu dalam jangka waktu lama, bahkan bila aku mau. Aku benar-benar tidak peduli pada efek kesalahan-kesalahanku itu di mata para murid, ataupun pada bagaimana reaksi si kepala sekolah dan kepala guru saat mengetahuinya. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku memang bukan orang bernyali baja, tapi di lain pihak aku orang yang teguh pada keputusan. Aku memutuskan bila keadaan sudah tidak memungkinkan bagiku di sekolah ini, aku akan pergi ke tempat lain. Terlebih lagi, aku tidakakan pernah rela berusaha bertingkah laku manis ataupun memuji anak-anak kampung itu di kelas. (hlm. 49)

 

“Selama saya jujur, saya tidak takut orang mengambil keuntungan dari diri saya.”

“Tentu saja kau tidak takut. Tentu tidak. Tapi kau akan dimanfaatkan. Kenyataannya, hal itu sudah terjadi pada pendahulumu. Jadi aku hanya memperingatkan, kau harus berhati-hati.” (hlm. 90)

Botchan tumbuh sebagai pemuda yang tidak takut akan segalanya, termasuk menentang sistem dan atasannya saat bekerja di sekolah. Terkadang, menjadi seseorang yang baru di sebuah lingkungan kerja, kita harus menyesuaikan dengan keadaan. Meski harus mengorbankan harga diri dan perasaan. Tapi tidak dengan Botchan. Dia merupakan representasi pemuda dengan jiwa dan semangat yang tak kunjung padam meski keadaan menyalahkannya. Ah, jarang sekali menemukan pemuda tipikal Botchan ini yang sekarang umumnya malah tergerus keadaan demi urusan perut.

Bukannya aku penipu atau pengecut, tapi harus kuakui aku hanya punya keberanian yang terbatas. Mendengar seseorang memanggilku ‘sensei’ dengan suara keras, membuatku mengalami perasaan kosong yang sama saat mendengar meriam tengah hari yang ditembakkan dari lahan istana dengan perut kosong. Aku mengatasi jam pertama sebaik yang aku bisa dan berhasil melewatinya tanpa diserang pertanyaan apa pun. Ketika aku kembali ke ruang guru, Hotta bertanya bagaimanasejauh ini. Aku menjawab dengan sekenanya dan jawaban itu sepertinya cukup membuatnya puas.

Aku mengambil beberapa batang kapur dan meninggalkan ruang guru untuk memulai jam kedua, mereka seolah berjalan menuju daerah musuh di kancah pertempuran. Waktu sampai di kelas, aku mendapatkan anak-anak dalam kelas ini semuanya lebih besar daripada di kelas sebelumnya. Berhubung tubuhku tipikal orang Edo yang kecil, aku tidak merasa diriku menebarkan aura otoritas, bahkan setelah berdiri di podium. Bila kondisi membutuhkan, aku tidak akan gentarmenghadapi seorang pesumo professional, tapi melihat empat puluh murid berjejer di depanku, aku menyadari diriku tidak memiliki kemampuan untuk mendominasi mereka hanya dengan lidah. Tapi aku berpikir, sekali aku menunjukkan kelemahaman apa pun di depan anak-anak kampung ini, akan sulit bagiku mengembalikan kendali, jadi aku memulai pelajaran dengan suara keras mantap juga memberi tekanan pada getaran lidahku demi memberi bobot pada setiap kata. (hlm. 44)

Natsume Kinnosuke, yang lebih luas dikenal dengan nama pena Soseki, lahir di tahun 1867, setahun sebelum Restoraji Meiji. Periode Meiji merupakan masa proses perubahan pada berbagai area budaya, ketika pada masa inilah gerbang Jepang terbuka untuk mengizinkan masuknya aliras deras ide-ide dunia Barat. Proses perubahan ini paling terlihat di bidang sastra.

Kontak pertama Soseki dengan dunia sastra selain Jepang adalah di tahun 1881 ketika ia, di usia 14 tahun, selama setahun mempelajari sastra Cina di sekolah. Kecintaan Soseki pada satra Cina menetap dalam dirinya sepanjang hidup, dan pengaruhnya terkadang bisa dilihat dalam karya-karyanya.

Kata Botchan tidak dapat diterjemahkan karena berbagai nuansa yang terkandung di dalamnya. Pada dasarnya kata itu merupakan panggilan sopan untuk para anak laki-laki, terutama ketika mereka masih kanak-kanak.

Keterangan Buku:

Judul                                        : Botchan

Penulis                                      : Natsume Soseki

Alih bahasa                               : Indah Santi Pratidina

Sampul & ilustrasi cover           : Martin Dima

Penerbit                                    : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                       : September 2012 (Cetakan Kelima)

Tebal                                        : 224 hlm.

ISBN                                       : 978-979-22-8749-3

Cover asli:

Cover versi lain:

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

4 thoughts on “REVIEW Botchan

  1. Bochan merupakan sebuah refleksi kehidupan di Jepang pada zaman dulu.
    Seorang bocah nakal yang kemudian menjadi seorang pengajar.
    Yang hebat dari dia, dia selalu memegang teguh pendirian walaupun hidup di tanah rantau.

    • Yup, pelajaran hidup yang paling keren dari seorang Botchan adalah kekonsistenannya dalam bependirian, jarang banget nemu pemuda yang teguh pendiriannya kayak Botchan ini di masa sekarang… :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s