REVIEW Hawa

“Kadang-kadang kita memang perlu mengingat kenangan lalu, tapi sekali dua kali saja, jangan terlalu sering. Bukankah kita tidak hidup di masa lalu? Jadi apa yang membuatmu takut menciptakan kenangan baru?” (hlm. 102)

Demi menghindari rasa malu dan beban tidak jadi menikah, Hawa bersama ayah dan adiknya, Luna mengungsi dari Pontianak ke Sejiram. Rasanya separuh semangat hidupnya ikut rontok bersama kehancuran rencana pernikahannya sebulan lalu. Hari berlalu begitu saja tanpa Hawa menyadari pergerakan waktu. Lupa hari dan tanggal, tak peduli sudah jam berapa. Kadang ia merasa waktu berlari sangat cepat, kadang amat sangat lambat. Hawa seperti hidup di luar dirinya. Ia tidak merasakan apa-apa selain sesak dan sakit. Sakit di mana-mana. Sakit di hati, mata, kepala, mungkin juga di otaknya. Ia merasa sangat lelah.

Suasana pagi mana lagi yang pantas dikeluhkan? Bukankah hidup itu indah jika dapat dinikmati sebagaimana mestinya? Saat harus bekerja, segenap pikiran pun fokus untuk bekerja. (hlm. 70)

Praba, ayah Hawa sebagai single parent, terkadang tak mudah berlaku seimbang. Sejak kepergian istrinya, Amara, tujuh tahun lalu, Praba terpaksa melakoni dua tugas dan tanggung jawab yang berat. Ia harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua putrinya dalam waktu bersamaan. Butuh kesabaran dan pengertian ekstra.

Jika kenangan adalah nyanyian, maka keheninganlah yang menjadi alat musiknya. (hlm. 42)

Sementara itu, ada Landu yang berprofesi sebagai polisi di Desa Sejiram. Tugas di pedalaman tidak menjadi beban. Ia telah menyatu dengan irama penduduk kampung sejak bulan pertama ditugaskan di kampung itu. Landu cepat beradaptasi. Ia merasa miris jika ada beberapa rekan kerjanya yang baru datang dari kota mengeluh saat pertama ditugaskan di daerah pedalaman. Tidak banyak yang menyadari betapa seharusnya kita bersyukur mendapat pekerjaan yang layak. Apalagi bila dibandingkan dengan orang-orang yang masih sibuk menulis surat lamaran pekerjaan atau berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menunggu kepastian diterima bekerja atau tidak.

Sudah lama ia tidak jatuh cinta. Terakhir kali pacaran sebelum menjadi polisi. Perasaan ingin memiliki seorang perempuan atau perasaan sejenisnya, nyaris tidak pernah hinggap di hatinya dalam beberapa tahun terakhir. Ibu, rekan kerja, bawahan, bahkan atasannya berkata sikap Landu terlalu dingin terhadap perempuan. Landu terlalu pemilih, terlalu cuek, terlalu sibuk, dan cenderung ambisius. Hati kecil Landu menyangkal. Ia percaya, suatu saat nanti ia akan menemukan perempuan yang mampu membuatnya rela mati hanya untuk berdiri di samping perempuan tersebut. Ia akan menikmati rasanya jatuh cinta. Semua akan indah pada waktunya. Ia hanya perlu menunggu momen sempurna itu tiba.

“Mereka punya hak untuk bicara seperti itu. Kita punya hak untuk menutup telinga. Introspeksi diri sajalah. Yang penting tetap siaga kapan pun dan di mana pun. Tetap berbuat baik kapan pun dan di mana pun. Sesederhana itu.” (hlm. 20)

Hingga tibalah Hawa dan Landu bertemu yang berawal dari kecerobohan Hawa. Pertemuan-pertemuan berikutnya seperti sudah diskenariokan oleh Tuhan. Banyak permasalahan yang belum tuntas. Dari awal cerita mengangkat problem Hawa yang batal menikah, tapi tidak ada penyelesaian lebih lanjut dengan mantan tunangannya itu, Abhirama. Dari awal gak habis pikir, Hawa memutuskan Abhirama menjelang pernikahan mereka hanya gegara pacarnya itu membatalkan sesi foto pre-wedding di Bali?!? Omaygat, untuk ukuran perempuan dewasa yang sedang menuju pelaminan sungguh kekanakan sekali sikap Hawa ini. Dipikirnya menikah itu hanya urusan dua insan manusia?!? Apa kabar beberapa vendor wedding organizer yang terjun langsung mengurusi pernikahan mereka? Apa kabar pula pihak keluarga calon mempelai pria?!? Gilingan banget kalo ada manusia macam Hawa ini.

“Kupikir pribadimu seperti buku. Hanya akan terbaca setelah membuka lembaran-lembarannya. Penuh kejutan. Kupikir begitu…” (hlm. 134)

Banyak kalimat favorit berserakan dalam novel ini:

  1. Ketika mencintai, kita harus siap kehilangan. Tapi siapa orang yang benar-benar siap menerima kehilangan? (hlm. 43)
  2. Sekuat apa pun seorang lelaki, ia tetap perlu ruang diri sendiri dan untuk air matanya. Ruang bernama sepi. (hlm. 52)
  3. Cinta punya takdirnya masing-masing. (hlm. 55)
  4. Beberapa kesedihan akan sembuh seiring waktu. (hlm. 56)
  5. Kita butuh ruang sendiri untuk menghadapi kesedihan. (hlm. 62)
  6. Perempuan butuh ruang sendiri. Ada hal yang membuatnya tidak mau berbagi. (hlm. 98)
  7. Ikuti kata hati sajalah. Hati selalu bisa memandang lebih jelas ketimbang mata. (hlm. 118)
  8. Kadang-kadang sikap mampu berbicara lebih jelas dibandingkan kata-kata. (hlm. 155)
  9. Menangislah, kalau itu membuatmu lega. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah… (hlm. 204)

Awww…endingnya gak disangka! Sayangnya kurang klimaks saja. Poin lebih dari buku ini adalah mengangkat setting lokal; Desa Sejiram, salah satu tempat di pulau yang jarang diangkat ke sebuah ceritafiksi. Nuansa budaya lokalnya lumayan kental diangkat, coba digali lebih dalam. Terakhir baca novel yang bersetting Kalimantan adalah Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah-nya Tere Liye. Covernya pink unyu gitu. Setelah membaca seri AMORE Juara 1 dan 2, jadi penasaran ama Juara 3; Heart Quay karya Putu Felisia. Suka dengan filosofi hidup ibarat bunga dandelion yang menjadi unsur utama baik cover maupun ilustrasi di novel ini.

Hidup bagaikan dandelion. Bunga ini disebut prajurit angin karena mereka menebarkan benihnya dengan bantuan angin, terbang ke mana pun angin membawa. Bisa saja mendarat di tanah yang subur, ke danau dan tanah yang gersang. Kita sebenarnya perlu belajar dari bunga kecil ini bagaimana menerima kenyataan hidup. Dandelion yang terbawa angin tidak tahu di mana ia akan jatuh dan bagaimana kelak Tuhan menentukan cerita selanjutnya. Bahagia, sedih, atau hilang selamanya tanpa sempat menjadi dandelion baru. (hlm. 245)

Keterangan Buku:

Judul                : Hawa

Penulis              : Riani Kasih

Editor               : Raya Fitrah

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Juli 2013

Tebal                : 256 hlm.

ISBN               : 978-979-22-9759-1

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

2 thoughts on “REVIEW Hawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s