REVIEW Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)

Kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya. Padahal nurani kehidupan tak pernah sekali pun bergeser dari kedudukannya di tengah. Apabila ayunan ke kanan bercorak hitam misalnya maka ayunan ke kiri dalam banyak hal adalah kebalikannya. (hlm. 321)

Srintil sudah membuktikan dirinya lahir untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Dan meskipun dalam tradisi seorang ronggeng tidak dibenarkan mengikatkan dengan seorang lelaki, namun ternyata Srintil tidak bisa melupakan Rasus. Ketika Rasus menghilang dari Dukuh Paruk, jiwa Srintil terkoyak. Srintil tidak bisa menerima keadaan ini, dan berontak dengan caranya sendiri. Sikap ini menjadi penentu dalam pertumbuhan kepribadiannya. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dengan dukunnya.

Menjelang usia dua puluhan kedirian Srintil mulai teguh. Dia bermartabat, tidak lapar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk, dan menampik laki-laki yang tidak disukainya. Rasus sendiri sering ditundukkannya dalam dunia angan-angan dan Srintil merasa menang. Sementara dua pengalaman penting menggores lintasan kehidupannya. Pertama, ketika dia harus menjalankan peran sebagai gowok. Kedua, ketika pada akhir potongan lintasan hidupnya secara tidak bisa dimengerti oleh Srintil sendiri, ronggeng itu terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1945. Srintil yang bermartabat, cantik, dan masih sangat belia harus berhadapan dengan ketentuan sejarah yang sekali pun tak pernah dibayangkannya.

Cerita yang kisahnya abadi, justru kisah-kisah yang berakhing sad ending. Seperti halnya Romeo dan Juliet, kisah Srintil dan Rasus juga kandas karena takdir yang memisahkan mereka meski cinta telah lahir sejak mereka masih kanak-kanak.

Novel ini sempat dilarang, konon katanya ada hal-hal tabu yang bisa mengancam pemerintahan pada masa itu. Saya membacanya cukup telat, sekitar tahun 2009-an. Penasaran kenapa dulu novel ini dulunya dilarang, pas baca ternyata tidak mengkhawatirkan seperti kebanyakan pendapat orang. Justru novel ini represtasi kehidupan masyarakat Indoensia di zaman pasca kemerdekaan. Di zaman ketika Indonesia mengalami pergolakan politik yang cukup pelik. Kalau tidak ada novel-novel seperti ini, kita tidak tahu bagaimana rupa sejarah Indonesia yang sebenarnya, yang kita tahu hanya dari buku-buku sejarah sekolah.

Banyak kalimat favorit:

  1. Masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali dikenang. (hlm. 14)
  2. Dalam hidup ini orang harus nrimo pandum; ikhlas menerima jatah, jatah yang manis atau jatah yang getir. (hlm. 141)
  3. Hidup adalah berperan menjadi wayang atas sebuah cerita yang sudah dipastikan dalam pakem. (hlm. 242)
  4. Kekuasaan adalah hulubalang sejarah yang sepanjang waktu dipertahankan dan diperebutkan. (hlm. 248)
  5. Apabila kematian adalah keperkasaan kodrati maka kehadirannya, bahkan baru gejalanya, sudah mampu membungkam segala gejolak rasa. (hlm. 256)
  6. Sebuah keangkuhan situasi yang amat ditakuti bisa roboh hanya oleh seloroh dan sedikit akal bulus. (hlm. 267)
  7. Nurani adalah kemudi kehidupan yang hakiki karena dikendalikan langsung dengan kasih sayang Ilahi. (hlm. 269)
  8. Menyerah kepada kunci waktu adalah kelemahan dan keputusasaan yang harus dibuang jauh. (hlm. 277)
  9. Jiwa yang sudah mampu tersenyum dan tertawa adalah jiwa yang mulai menangkap makna kebetahan hidup. (hlm. 284)
  10. Di mana saja, pada zaman apa saja, perempuan cantik tidak sama dengan perempuan yang buruk. (hlm. 287)

Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu sastra Indonesia yang mendunia. Sudah terbit dalam edisi bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Lebih dari lima puluh skripsi dan tesis (Leiden dan Lund. Univ. — Sweedia) telah lahir dalam novel ini. Salah satu teman pas SMA pun mengambil novel ini sebagai objek penelitian skripsinya. Lintang Kemukus Dini Hari adalah buah karya yang keempat, merupakan satu dari trilogi tentang Ronggeng Dukuh Paruk.

Seperti kita ketahui, Ronggeng Dukuh Paruk telah diangkat kelayar lebar dan disutradarai oleh Ifa Afiansyah. Meski versi filmnya tidak se-booming novelnya, versi filmnya meraih berbagai penghargaan di dunia perfilman.

Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaaannya. Maka hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Boleh jadi karena rasa ketertarikannya dengan keaslian alam maka Ahmad Tohari tidak betah hidup di kota. Jabatannya dalam staf redaksi kelompok Merdeka, Jakarta,yang dipegangnya selama dua tahun ditinggalkannya. Kini dia kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya. Seperti halnya Ahmad Tohari, saya lebih menyukai suasana desa dibandingkan gemerlapnya ibukota. Bagi saya, di desa tak punya uang pun masih bisa makan, di kota punya uang belum tentu bisa makan.

Saya suka dengan tulisan-tulisan beliau. Tidak hanya novel ini, saya sudah membaca Bekisar Merah dan Orang-orang Proyek. Tulisannya sangat khas dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Ahmad Tohari. Novelnya yang pertama Di Kaki  Bukit Cibalak ditulisnya pada tahun 1977. Kemudian Kubah (PT Dunia Pustaka Jaya) terbit 1980 dan dinyatakan sebagai karya fiksi terbaik tahun tersebut oleh Yasyasan Buku Utama. Gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh Paruk (1981),

Kedudukan sejarah sebagai guru kehidupan tak mungkin disingkirkan. Kedewasaan dan kearifan hidup bisa dibina, baik dengan sejarah tentang kepahlawanan dan budi luhur maupun dengan sejarah tentang pengkhinatan dan kebejatan manusia. (hlm. 277)

Keterangan Buku:

Judul                                        : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis                                      : Ahmad Tohari

Ilustrasi dan desain sampul        : Adi Permadi

Penerbit                                    : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                       : 2009 (Cetakan Keempat)

Tebal                                        : 405 hlm.

ISBN                                       : 978-979-22-0196-3

 

9 thoughts on “REVIEW Ronggeng Dukuh Paruk

  1. ohh dulu dilarang karena mungkin settingnya yang nyerempet2 G30S kali ya? penasaran sama buku ini deh🙂 sama filmnya juga..

    • iya, aku heran aja ama buku-buku Sastra Indonesia yang dulunya sempet dilarang, ternyata pas kita baca langsung gak seberbahaya yang diduga, justru kita jadi tahu sejarah bangsa kita sendiri.

  2. Pingback: Baca Bareng BBI Januari – Desember 2013 | Mia membaca

  3. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Pagi Gerimis + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s