REVIEW The Night Circus

“Masa lalu menempelimu seperti gula halus yang menempel di jarimu. Sebagian orang bisa menyingkirkannya, tapi masa lalu masih ada, dalam bentuk rangkaian peristiwa dan hal-hal yang mendorongmu ke tempatmu saat ini.” (hlm.308)

“Cinta itu plinplan dan rentan. Cinta jarang bisa dijadikan landasan kokoh untuk sebuah keputusan, dalam permainan apa pun.” (hlm. 478)

Sirkus itu datang tanpa pemberitahuan. Tanpa pengumuman sebelumnya, tanpa papan reklame dan selebaran di tiang-tiang lampu kota, tanpa berita ataupun iklan di Koran setempat. Sirkus itu tiba-tiba muncul, padahal kemarin belum ada.

Tenda-tenda bergaris hitam dan putih menjulang tinggi, tanpa secuil pun selingan merah dan emas. Sama sekali tidak ada warna di sana, kecuali dari pepohonan di sekitarnya dan rerumputan di lapangan. Garis-garis hitam dan putih berlatar belakang langit kelabu; tidak terhitung banyaknya tenda dari berbagai bentuk dan ukuran beridiri di sana, dikelilingi oleh pagar besi tempa di dunia tanpa warna. Sekelumit tanah yang terlihat dari luar pun hitam dan putih, dilabur atau dikapur, atau entah diapakan dengan trik sirkus lainnya.

Tetapi, sirkus tidak dibuka untuk umum. Belum. Dalam hitungan jam, semua penduduk kota sudah mendengar tentang kedatangannya. Siangnya, kabar itu telah merambah kota-kota sebelah. Iklan yang tersebar dari mulut ke mulut lebih efektif daripada kata-kata dan tanda seru yang dicetak di atas pamphlet ataupun poster. Kabar ini begitu mengesankan dan luar biasa, penampakan mendadak sebuah rombongan sirkus misterius. Orang-orang mengagumi tenda-tenda tertingginya. Mereka memandang jam yang duduk tepat di balik pagar, yang sulit dijabarkan dengan kata-kata yang tepat oleh siapa pun.

Juga, tanda hitam bertuliskan putih yang tergantung di gerbang, yang berbunyi:

Buka Setiap Senja

Tutup Setiap Fajar

“Rahasia mengandung kekuatan. Dan, kekuatan itu sirna saat rahasia dibocorkan, jadi semua rahasia seharusnya dijaga dengan baik. Membocorkan rahasia, rahasia sungguhan yang penting, walaupun hanya kepada satu orang, akan mengubahnya. Menulisnya berdampak lebih buruk, karena entah berapa mata akan bisa membacanya, walaupun kau sudah sangat berhati-hati. Jadi, kalau kau punya rahasia, yang terbaik adalah menyimpannya sendirian, demi kebaikannya, juga kebaikanmu.”(hlm. 265)

Sewaktu kecil, saya dan adik-adik sangat suka dengan kedatangan sirkus, beda ya dengan pasar malam. Sirkus di tempat kami tinggal, belum tentu datang setahun sekali. Terakhir melihat sirkus adalah saat jaman putih abu-abu, itu pun saat sirkus datang di ibukota, yang jauhnya sekitar 2-3 jam dari tempat kami tinggal. Kedatangan sirkus memang selalu ditunggu-tunggu. Selalu takjub dengan segala atraksi yang ditampilkan. Dulu juga sempet mikir, bagaimana ya kehidupan para pemain sirkus yang hidupnya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain? Apakah tidak jenuh dengan kehidupan yang siklusnya sama dan hanya berulang?

“Bakat alam adalah fenomena yang patut dipertanyakan. Niat yang besar mungkin ada, tapi kemampuan yang sudah ada sejak lahir merupakan hal langka.” (hlm. 21)

“Karena segala sesuatu membutuhkan energi. Kita harus mencurahkan upaya dan tenaga pada apa pun yang ingin kita ubah.” (hlm. 28)

Adalah Marco dan Celia yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Mereka sama-sama ditakdirkan menjalani kehidupan di dunia sirkus. Bukan sirkus biasa. Le Cirque des Reves bukanlah sirkus biasa yang pernah kita kunjungi. Kita bisa takjub dengan adanya Labirin Awan, khayalan-khayalan kita yang menjadi kenyataan, menikmati sari apel terlezat di dunia, ada Pohon Permohonan,dan wanita cantik dengan gaun penuh untaian surat cinta.

Wajah palsu Marco memang tampan, tapi terlalu disengaja. Seolah-olah dia menyadari daya tariknya, sesuatu yang sangat mengusik Celia. Dan ada yang lain, kehampaan sebagai hasil dari ilusi itu, kesan bahwa dia tidak sungguh-sungguh hadir.

Namun, kini orang yang berbeda berdiri di hadapan Celia, jauh lebih nyata, seolah-olah penghalang di antara mereka telah disingkirkan. Marco merasa lebih dekat, walaupun jarak di antara mereka tetap sama, dan wajahnya masih bisa dibilang tampan.

Intensitas tatapan Marco bertambah dengan mata itu; Celia bisa memandangnya lebih dalam tanpa terganggu oleh warnanya. Celia bisa merasakan lehernya memanas, dan dia berhasil mengendalikan diri sehingga rona wajahnya tidak terlihat di bawah cahaya lilin. Kemudian, dia menyadari keberadaan hal lain yang dikenalinya.

Celia tidak tahu yang mana yang lebih buruk. Mengetahui bahwa untuk mengakhiri permainan ini salah seorang dari mereka harus mati, atau kemungkinan bahwa dirinya tidak bermakna bagi Marco. Bahwa dirinya adalah bidak di papan catur. Menanti untuk dijegal dan ditaklukkan.

Takdir mengharuskan mereka untuk saling melawan satu sama lain. Ternyata urusan hati berkata lain. Kata hati tidak bisa dibohongi, namun apa daya mereka harus berkompetisi lewat berbagai wahana dan atraksi. Tidak hanya itu, ada bahaya besar yang mengintai mereka. Orang-orang di sirkus satu per satu tumbang…

“Maaf, aku tak ingin menjadikan semua ini rumit.”

“Aku menghabiskan sebagian besar kehidupanku untuk belajar mengendalikan diri. Untuk mengenal diriku luar dalam, agar semuanya tertata dengan sempurna. Aku kehilangan kendali saat bersamamu. Itu membuatku takut dan aku takut karena aku sangat menyukainya. Aku tergoda untuk membiarkan diriku hanyut bersamamu. Melepaskan kendali.” (hlm. 413)

Aaaakkk…suka banget dengan dua tokoh utama di novel ini.Marco dan Celia ternyata sama-sama menyukai buku dan gemar membaca:

  1. Anak itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca. Dan menulis, tentu saja. Dia menyalin bagian-bagian penting dari buku-buku yang dibacanya, mengutip kata-kata dan simbol yang semula tidak dipahaminya tapi kian diakrabi oleh jemari bernoda tintanya lantaran berkali-kali disalin dengan garis-garis yang semakin tegas. Dia membaca buku-buku sejarah, mitologi, dan novel. Perlahan-lahan, dia mempelajari bahasa-bahasa asing, walaupun masih kesulitan mengucapkannya. (hlm. 36)
  2. Bagaimanapun, dia tetap belajar secara mandiri. Dia masih menyimpan buku-buku catatan yang penuh berisi simbol dan abjad asing, mengkaji catatan-catatan lamanya, dan mencari unsur-unsur baru untuk dipikirkan. Dia membawa  buku catatan kecil ke mana-mana dan menyalin isinya ke buku yang lebih besar setelah penuh. (hlm. 45)
  3. Celia cukup puas dengan pengaturan ini, dan memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk membaca. Dia menyelinap keluar untuk mengunjungi toko-toko buku, heran karena ayahnya tidak pernah menanyakan dari mana buku-buku barunya berasal. (hlm. 65)
  4. Dia berdiri selama beberapa waktu di tempat Celia berdiri berjam-jam sebelumnya, mengamati rak-rak buku dan dinding berkaca patri yang telah diakrabinya. Dia tidak bisa menebak apa yang diperbuat Celia di sana. Dan, dia tidak menyadari keberadaan sepasang mata yang menatapnya dari kegelapan bayangan. (hlm. 212)
  5. Ada terlalu banyak buku dan tidak cukup rak untuk menampung semuanya, sehingga tumpukan-tumpukan terlihat di atas kursi-kursi Cina antic dan bantal-bantal bersarung sari. (hlm. 455)
  6. Buku-buku besar di meja juga bergerak lebih lambat selagi Marco membuka-buka sejumlah catatan, mencoret-coret, dan membuat perhitungan di atas berlembar-lembar kertas. Berkali-kali, dia mencoret berbagai lambang dan angka, menyingkirkan buku-buku dan menggantikannya dengan yang lain, lalu kembali menekuni buku-buku yang semula disingkirkan.
  7. Celia Bowen duduk di meja yang dikelilingi tumpukan buku. Perpustakannya penuh sesak sejak lama, tapi alih-alih meluaskan ruangan, dia membiarkan buku-bukunya menjadi ruangan. Tumpukan buku difungsikannya sebagai meja, sementara buku-buku lainnya menggantung dari langit-langit bersama sangkar-sangkar emas besar berisi beberapa ekor merpati hidup. (hlm. 499)

Novel yang memiliki ketebalan 610 halaman ini akanmengantarkan kita pada tidak hanya atraksi dan wahana dalam sirkus yang tidakbiasa, tapi juga tentang sebuah pengorbanan yang harus ditempuh dalam hidup,meski nyawa taruhannya. Cocok sekali untuk pembaca genre fantasi! (´⌣`ʃƪ)

“Itu hanyalah masalah sudut pandang, perbedaan antara lawan dan kawan. Kau melangkah ke satu sisi, dan orang yang sama bisa menjadi salah satunya, keduanya, atau yang lain. Sulit untuk mengetahui wajah mana yang tulus. Dan, kau punya sangat banyak masalah untuk ditangani selain lawanmu.” (hlm. 479)

Keterangan Buku:

Judul                : The Night Circus

Penulis              : Erin Morgenstern

Penerjemah      : Berliani Mantili Nugrahani

Penyunting        : Prisca Primasari

Proofreader      : EmiKusmiati

Deasin sampul  : WinduTampan

Penerbit            : Mizan

Terbit               : Januari 2013

Tebal                : 610 hlm.

ISBN               : 978-979-433-754-7

Cover asli:

https://i0.wp.com/www.fortmacconnect.ca/wp-content/uploads/2013/10/Erin-Morgenstern-The-Night-Circus.jpg

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

11 thoughts on “REVIEW The Night Circus

  1. fokus ceritanya di percintaanMarco-Celia kah? kirain gelap gitu ceritanya…. (gara-gara judulnya ada kata “night” :p)

  2. dari dulu ingin baca buku ini tapi belum kesampaian T^T waktu mau beli malah udah kehabisan. aku pikir ceritanya bakal kejam dan penuh mistis haha tapi ternyata ada kisah cintanya juga. makasih reviewnya, mba. jadi semakin tertarik untuk baca😀

  3. @FJ : Di gramedia daerahku (Tangerang) harga novel ini udah nyentuh IDR 35.000 loh, lagi ada Buku Obral Mizan soalnya.

    Aku sendiri belum baca bukunya, tetapi setelah melihat review dari kak Luckty jadi kepengen baca nh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s