REVIEW The Great of Two Umars

Orang yang melakukan kebaikan balasannya pasti ada. Dengan begitu, kebaikan takkan pernah sirna dari mayapada. (hlm. 121)

Di antara para pemimpin yang adil dan terkenal dalam sejarah Islam adalah Umar ibn al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz. Keduanya terkenal adil, tegas, serta peduli terhadap aparat dan rakyatnya. Mereka telah mengisi ranah sejarah peradaban Islam sebagai pemimpin hebat dan fenomenal. Bedanya, Umar ibn al-Khatab memerintah saat masih banyak sahabat Rasul yang senantiasa menyokong dan menolong dalam kepemimpinannya. Sedangkan Umar ibn Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah Bani Umayyah, hanya sedikit yang menyokong dan menolong dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

Kita bahas yang pertama. Dari sekian banyak khalifah yang ada, Umar ibn al-Khatabmenjadi favorit saya sejak jaman pelajaran Sejarah Islam di bangku SD. Betapa tidak, meskipun keras tapi sesungguhnya hatinya lembut. Sungguh, ia tak terpengaruh oleh orang-orang terdekat untuk menegakkan keadilan. Ia marah terhadap siapapun yang bermaksud mendistorsi keadilan, bahkan termasuk anak dan istrinya. Ia marah kepada siapa saja yang mencoba campur tangan dalam urusan pemerintahan. Namun, di lain pihak, ia pasti mendengar orang yang memberi nasihat atau ide kepadanya.

Umar memang tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan. Anaknya yang bernama Abdurrahman ketahuan minum khamar dengan temannya hingga keduanya mabuk. Umar geram, anaknya menerima hukuman cambuk hingga wafat.

“Sesungguhnya Allah telah membinasakan umat sebelum kalian karena apabila ada di antara kalangan terhormat bersalah, hukum tidak ditegakkan. Tetapi, jika orang kecil yang bersalah, ia dijatuhi hukuman seberat-beratnya.” (hlm. 82)

Tidak hanya sekali kejadian. Anaknya yang bernama Abu Syamsah dalam keadaan mabuk memperkosa seorang wanita hingga melahirkan seorang bayi. Umar juga tak ragu menegakkan keadilan. Anaknya harus dicambuk seratus kali demi menebus dosanya itu.

Umar berkata; “Inilah balasan bagi orang yang bermaksiat kepadaTuhannya dan dihinakan oleh dosanya!” (hlm. 88)

 

“Anakkku, jika engkau hidup, aku akan memelukmu. Namun, jika engkau mati, aku akan bertemu denganmu besok di akhirat.” (hlm. 89)

Saya baru tahu kisah anak-anak Umar ini setelah membaca buku ini. Merinding sekali membacanya. Luar biasa sekali Umar ini. Jadi teringat kasus seorang anak menteri yang mabuk dan menabrak hingga menyebabkan nyawa seseorang melayang tapi cuma dihukum ringan, hadewh… ƪ(▿‾┐) ƪ(‾▿‾)ʃ (┌‾▿)ʃ

Ada banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dari kisah Umar ibn al-Khathab ini:

  1. Umar tidak pernah mau sedikit pun menerima hadiah, sekalipun itu hanya sepotong paha kambing. Hendaklah kalian berhati-hati, jangan sampai kalian menerima hadiah-hadiah sebab semua bentuk hadiah pada hakikatnya adalah suap.” (hlm.129)
  2. Khalifah adalah orang yang tidak membeda-bedakan manusia. Sebab sesunguhnya manusia di atas dunia adalah sama. Dan ketakwaanlah yang meninggikan derajatnya.
  3. Bila kita mendengar istilah blusukan yang dilakukan Jokowi, sesungguhnya Umar lebih dahulu memulainya. Tiap malam dia mendatangi rakyatnya tanpa sepengatahuan rakyatnya. Tentu tahu kan kisah terkenal saat Umar menemui seorang ibu yang sedang merebut batu untuk anak-anaknya yang sangat kelaparan? Umar langsung turun tangan memeriksa kondisi rakyatnya. Umar langsung memikul sendiri karung gandum sampai ke gubuk wanita miskin tersebut. Ia langsung memasaknya, dan setelah matang, ia sendiri yang menyuapi anak-anak yang kelaparan itu. “Apakah engkau akan sanggup menggantikanku di neraka kelak?” (hlm. 196)

Beda lagi dengan cerita Umaribn Abdul Aziz.  Lahir dari keluarga Bani Umayyah. Ayahnya bernama Abdul Aziz ibn Marwan ibn Hakam ibn Abil Ash ibn Umayyah ibn Abdu Syams ibn Abdu Manaf. Ibunya bernama Laila (Ummu Ashim) bint Ashim ibn Umar ibn al-Khathab.

Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik menunjuk Umar menjabat Gubernur Madinah al-Munawwarah. Umar masih berusia 25 tahun. Awalnya, Umarmenolak. Ia menerima jabatan itu setelah diminta dengan sangat, tetapi dengan tiga syarat; pertama, akan memimpin dengan benar dan adil, tidak mendzalimi siapa pun dan tidak berlaku sewenang-wenang kepada siapa pun serta bertanggung jawab penuh terhadap Baitul Mal. Kedua, dia diperbolehkan melaksanakan ibadah haji pada tahun pertama karena saat itu dia belum pernah melaksanakan ibadah haji. Ketiga, dia diperbolehkan memberikan sumbangan kepada penduduk Madinah.

Masa kepemimpinan Umar ibn Abdul Aziz sangat singkat. Hanya dua tahun, lima bulan, dan empat hari. Namun, ia berhasil menghidupkan kejayaan Islam sebagaimana masa pendahulunya. Ia membuat prestasi dan kebijakan yang menguntungkan rakyat. Ia mengembalikan fungsi Baitul Mal, memperbaiki birokrasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghapus pajak-pajak tambahan dan retribusi, mengadakan uji kelayakan bagi calon gubernur atau pejabat negara, menghormati dan memuliakan para keturunan Nabi, dan lain-lain. Kekhalifahan Umar ibn AbdulAziz adalah bukti sejarah yang membantah anggapan bahwa negara yang menerapkan hukum dan syariat Islam rentan terhadap problem dan krisis.

Beruntungnya, Umar ibn Abdul Aziz punya istri yang setia bahkan hidup dengan segala kesederhanaan. Jika Fatimah lapar dan kedinginan, dia hanya berucap; “Andai saja jarak antara kami dan jabatan khalifah berjarak sejauh Timur dan Barat. Demi Allah, kami tidak pernah gembira sejak jabatan khalifah masuk kepada kami.” (hlm. 267)

Ketika kita berada di suatu tempat yang sepi, Allah selalu mengawasi kita. Begitu juga ketika kita berada di tempat yang ramai. (hlm. 137)

Keterangan Buku:

Judul                            : The Great of Two Umars

Penulis                          : Fuad Abdurrahman

Proofreader                  : Moh. Sidik Nugraha

Pewajah isi                   : Nur Aly

Desainer sampul           : AM. Wantoro

Penerbit                        : Zaman

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 346 hlm.

ISBN                           : 978-602-17919-0-5

6 thoughts on “REVIEW The Great of Two Umars

  1. “Sesungguhnya Allah telah membinasakan umat sebelum kalian karena apabila ada di antara kalangan terhormat bersalah, hukum tidak ditegakkan. Tetapi, jika orang kecil yang bersalah, ia dijatuhi hukuman seberat-beratnya.” (hlm. 82)

    Hmm buku ini wajib dibaca oleh para penegak hukum di Indonesia nih mbak!! Biar mata mereka terbuka untuk menegakkan hukum secara adil! Tidak seperti saat ini, hukum di Indonesia benar-benar berat sebelah *ups*, Mungkin hanya hukum akhirat yang akan mengadili para koruptor di Indonesia *ups* hahahaha~
    Smoga mereka yang mencoba menyogok hukum, membaca buku ini! Dan sadar bahwa masih ada hukum Allah di atas sana! Amin *berapi-api*😀

  2. The Great of Two Umars pengen banget baca buku ini. khalifah Umar emang khalifah yang paling terkenal. Apalagi beliau yang dipilih Allah untuk masuk Islam setelah mendengar doanya nabi Muhammad. good review mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s