REVIEW Pizza, Love, and Other Stuff That Made Me Famous

Sebuah hidangan yang lezat merupakan anugerah istimewa dari para dewa.

–Walter Savage Landor-

“Yang pertama dan yang paling penting adalah kalian harus menghormati bahan yang akan kalian masak. Aku tidak merancang menuku sampai aku melihat dan mencicipi bahan-bahannya.” (hlm. 165)

Sophie berasal dari keluarga yang membuka Taverna Ristorante di kawasan Geogetown, Washington DC, saat usianya baru berumur tiga tahun. Nama restoran tersebut merupakan penghormatan untuk darah Yunani-Italia ayahnya. Neneknya seorang Italia, dari Orvieto, dan kakeknya adalah orangYunani, dari Thira. Setahun setelah mereka membuka restoran ini, ibunya meninggal karena pembengkakan kelenjar otakmendadak tanpa diketahui penyebabnya. Saat itu ibu sedang melipat pakaian. Seandainya tidak ada kejadian tersebut, hari itu hanyalah sebuah hari yang biasa saja di daerah pinggiran Virginia, tempat mereka tinggal. Tentu saja Sophie tidak ingat peristiwa tersebut, saat itu usianya baru menginjak empat tahun.

Ayahnya menyukai setiap pelanggan, khususnya mereka yang melihat makanan sebagai sebuah ritual, seperti dirinya. Bagi Antonio Nicolaides, makanan adalah tentang keluarga dan komunitas, sama pentingnya seperti rasa dan gizi. Itulah sebanyak kita bisa melihat ayah Sophie ini selalu berkeliling ruang makan setiap malamnya seperti seorang sosialita dengan energi berlimpah, berbincang dengan pengunjung, bertanya bagaimana hidangan mereka atau, jika mereka pelanggan, bertanya tentang bagaimana hasil operasi tulang pinggul mereka dan liburan terakhir mereka ke Disneyland.

Dalam empat jam, mereka menerima sekitar 172 pesanan, 57 hidangan pembuka, 193 keranjang roti, dan 36 pencuci mulut atau sekitar 0,716 hidangan per menit. Dengan kata lain, jangan berpikir, pokoknya masak saja. Dan begitulah, sabtu malamnya berlalu dalam rangkaian mencincang, mengupas,menghias piring saji, dan –bagian yang terbaik- mencicipi.

Kuliner sudah menjadi bagian hidup Sophie. Sampai suatu ketika Alex memberi Sophie formulir pendaftaran Kompetisi Kualifikasi Teen Test Kitchen.

“Ini adalah sebuah reality show untuk para koki remaja, dan ini adalah kesempatanmu. Kesempatan sekali-seumur hidup.” (hlm. 18)

Aku tidak akan menang, aku tahu itu, tetapi aku akan membuat sebuah hidangan yang sangat lezat. (hlm. 23)

“Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dalam hidupku daripada sekedar menjalankan restoran keluarga. Aku ingin punya restoran sendiri. Sebuah restoran yang benar-benar bagus sehingga banyak orang yang akan membicarakan dan menuliskan artikel tentangnya.” (hlm. 83)

Sophie mengikuti kompetisi itu. Tidak hanya menemukan teman-teman yang baru dikenal, dia juga mendapatkan pengalaman selama kompetisi. Pas mulai cerita di kompetisi, saya teringat acara reality show; Master Chef. Hanya saja, di buku ini pesertanya rata-rata masih remaja. Setiap minggu mereka ditantang dengan kuliner yang beragam, mulai dari belajar teknik dasar sampai masakan latin. Uniknya, hampir di setiap pergantian bab, penulisnya memberikan resep yang bisa kita pratekkan di rumah (ˆڡˆ)

Dalam penjurian, sudah terlihat kalau Patricia berperan sebagai polisi jahatnya. (hlm. 101)

Membaca gambaran sosok Patricia ini langsung teringat Chef Juna di Master Chef Indonesia. Setiap harinya, peserta tidak hanya diuji pengalamannya tentang kuliner, tapi juga diuji mentalnya, perasaannya diaduk-aduk.

Beberapa kalimat favorit:

1. Terkadang baik untuk merindukan seseorang. (hlm. 121)

2. Tidak ada artis yang menyukai karyanya sendiri. (hlm.161)

Buku unyu ini tidak hanya membahas tentang dunia kuliner, tapi juga hubungan antara ayah dan anak. Suka selipan ilustrasinya, sayangnya menu yang dideskripsikan dalam buku ini tidak ada ilustrasinya, coba kalo ada pasti bakal bikin air liur menetes ( ʃ⌣ƪ)

“Aku tidak tahu apakah aku masih mengenal dirimu lagi, Sophie. Ini bukan hanya tentang acara itu, ini tentang dirimu. Kau berpikir kau sudah menjadi seorang yang hebat dan tenar. Kau bukanlah orang yang sama dengan yang sebelum kau pergi.” (hlm. 283)

Keterangan Buku:

Judul                            : Pizza, Love, and Other Stuff That Made Me Famous

Penulis                          : Kathryn Williams

Penerjemah                  : Putra Nugroho

Penyunting                    : Ida Wajdi & Jason Abdul

Penyelaras aksara         : Novia Fajriani & Lian Kagura

Penata aksara               : Dini Handayani, Alia Fazrillah

Desain sampul              : Fahmi Ilmansyah

Ilustrasi isi                     : Aloysius Yustinus Alfa

Penerbit                        : NouraBooks

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 320 hlm.

ISBN                           : 978-602-7816-15-2

9 thoughts on “REVIEW Pizza, Love, and Other Stuff That Made Me Famous

  1. “Aku tidak tahu apakah aku masih mengenal dirimu lagi, Sophie. Ini bukan hanya tentang acara itu, ini tentang dirimu. Kau berpikir kau sudah menjadi seorang yang hebat dan tenar. Kau bukanlah orang yang sama dengan yang sebelum kau pergi.” (hlm. 283)

    Dari kutipan ini bisa jadi Sophie berubah setelah ikut acara itu. Ah, apakah ini benar?

    Iya, pertama kali baca reviewnya jadi keinget Master Chef. Katanya sih di tahun ini bakal ada Master Chef Kids, khusus buat anak-anak yang suka masak. Aku termasuk kategori ini nggak ya?

    Btw, dalam bukunya disebutkan nggak ya resep masakan yang disajikan di Taverna Ristorante ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s