REVIEW Cinderella in Paris

Jika cinta layak diperjuangkan, jangan pernah menyerah untuk mendapatkannya. (hlm. 36)

Wanita kadang terlalu berpikiran implisit. Kita mengharapkan laki-lakidapat menebak apa yang kita inginkan, hanya dari gerak tubuh atau kata-kata yang biasanya bersayap dan tidak langsung ke apa yang kita mau. (hlm. 174)

Manusia terkadang mengartikan kebahagiaan sebagai bagian dari masa depan dan bukan masa kini. (hlm. 283)

Wanita yang sudah menikah dan berusia tiga puluh tahunan kebanyakan berpenampilan modis, berambut panjang lurus tergerai laksana model di iklan sampo, berkulit mulus bening seperti iklan pemutih wajah, dan berkarakter manis dan feminim. Setidaknya, begitulah tampilan luar mereka ketika berhasil menggaet seorang lelaki untuk menikahi mereka. Apakah setelah menikah mereka berubah, baik penampilan fisik –terutama setelah melahirkan- maupun karakter? Itu masalah nanti.

Bagaimana dengan Saras Ratiban, si tokoh utama dalam novel ini? Citranya sama sekali jauh dari kesan perempuan manis yang sedang diidam-idamkan banyak lelaki Indonesia. Mungkin inilah penjelasan terbaik, mengapa sampai saat ini dia masih jomblo.

Rambut hitam sebahu agak bergelombang dengan tekstur mengembang yang kaku seperti sapu ijuk, membuat rambutnya mirip sirai singa yang keluar dari segala arah tidak beraturan jika dipotong model shaggy. Wajahnya rata-rata campuran seperti peranakan tionghoa dan Jawa; mata tajam agak kecil seperti kucing, hidung mungil yang puncaknya hanya mencapai 2,5 sentimeter, dan bibir atas dan bawah tebal. Tinggi 155 sentimeter dan berat badan 48 kilogram. Itulah Saras Ratiban.

Tips pertama dari Saras Ratiban; ubahlah penampilan agar kelihatan chic, update, dan menarik hingga lelaki menyadari kehadiranmu. Itu bukan satu-satunya tips yang ada dalam novelini. Banyak sekali bertebaran tips ala Saras Ratiban. Bikin senyum-senyum sendiri (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’)

Dimulailah perjuangan Saras Ratiban dalam urusan cinta. Layaknya Cinderella, Saras Ratiban jatuh bangun mengejar cinta hingga keliling dunia. Dimulai dari kisahnya bersama Aden, teman satu kantor hingga Stephane yang cintanya bermuara ke Paris. Akankah Saras Ratiban berhasil menaklukan cintanya?!?

“Jangan pernah hiraukan orang-orang usil yang memacu kita untuk mengambil tindakan emosional tanpa pikir panjang asal menikah dengan seseorang hanya demi status dan hanya karena sudah tidak tahan mendengar omongan orang. Yang menjalani pernikahan toh kita sendiri, bukan orang lain. Lebih baik hidup sendiri, mandiri, dan bahagia daripada menikah dengan orang yang salah dan hidup menderita.” (hlm. 265)

Baca buku ini pas banget di tengah kepungan pertanyaan; “Kapan nikah?!?”. Mungkin, saya satu-satunya manusia yang selalu nyengir jika disodori pertanyaan itu. Ketika yang lain langsung panas atau minimal hidungnya kembang-kempis, saya ya malah cuma nyengir alias belum pengen. Apalagi balik ke kampung halaman, di mana saat saya menuntut ilmu di pulau seberang, teman-teman sebaya menikah. Setelah lulus, mereka sudah berbuntut, bahkan ada yang sudah memiliki dua anak. Tidak ada yang salah, semua punya pilihan hidup masing-masing. Bahkan saya sangat menikmati yang namanya kesendirian. Jalan sendiri. Punya uang makan, gak punya uang ya tidur aja. Sudah terbiasa gak bergantung dengan orang lain. Yang suka sibuk justru saudara, kalo bapak sih gak pernah tuh nanya-nanya. Beliau dulunya juga menikah di usia matang, toh belum pensiun anaknya sudah bisa cari makan sendiri. Saat ini dalam pikiran saya adalah kerja dan membahagiakan adik-adik, itu dulu. Lha, kok malah curcol?!? ~~~(/´▽`)/

“Hidup ini adalah anugrah. Gusti Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat dunia ini saja semestinya kita bersyukur. Kebahagiaan itu ada di dalam. Rejeki dan jodoh itu sudah ditetapkan Gusti Allah tinggal bagaimana usaha kita menjemputnya. Ojo kesusu, ojo kemrusung, dan jangan pernah berprasangka buruk kepada Tuhan. Jika Gusti Allah sudah menetapkan sesuatu untuk kita, pasti akan kita terima. Lha wong semuanya ada masanya dan akan indah pada waktunya.” (hlm. 281)

Dengan menggunakan kata ganti orang pertama, penulis seakan terjun langsung sebagai tokoh utama. Saking terhanyutnya dengan penggunaan kata ‘aku’, seolah-olah kita membaca kisah nyata yang dialami penulisnya. Atau ini memang kisah nyata penulisnya?!? #uhuk #eaaa #KemudianHening (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

Ada banyak sekali kalimat favorit dalam novel ini:

  1. Zaman boleh berganti dan negara boleh saja berbangga dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun nyatanya, masih banyak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya menikah dengan orang dari suku yang sama. (hlm. 30)
  2. Ah, mengapa Tuhan menurunkan bakat merayu pada laki-laki? (hlm. 99)
  3. Dalam perjalanan, buku adalah ice breaker terbaik untuk dua orang yang saling tidak mengenal dan ternyata berhasil. (hlm. 138)
  4. Ternyata lebih sakit diperlakukan menyebalkan dan dikhianati oleh orang-orang yang semula dekat dengan kita, yang dulu kita sebut ‘sahabat’. (hlm. 140)
  5. Seorang sahabat seharusnya mendukung dan membantu sahabatnya mewujudkan mimpi, bukannya menyabotase kebahagiaan sahabatnya. (hlm. 140)
  6. Kita baru dapat menyebut seseorang sebagai sahabat setelah teruji dengan waktu. (hlm. 149)

Selain mengangkat tema lajang, menariknya novel ini mengemas dunia traveling. Kita bisa tahu tipikal manusia dari beberapa negara. Tiap negara memiliki ciri dan budaya yang berbeda. Plusnya, adanya glosarium di akhir cerita untuk membantu kita saat membaca istilah asing.

Pemandangan yang lazim di Eropa adalah orang lebih senang menunggu dengan membaca buku atau majalah daripada ngobrol atau sibuk dengan telepon seluler seperti orang di Indonesia. (hlm. 110)

Hal yang amat disayangkan adalah tidak disuguhinya potret-potret cantik yang dideskripsikan dalam novel ini; Arc de Triomphe, Musee du Louvre,  Muséedu Louvre, Château de Versailles, Kastil Benedictinedan masih banyak tempat yang disajikan dalam novel ini. Poin lebih dari novel ini adalah penulisnya berhasil mengdeskripsikan bahwa Paris tidak hanya Eiffel yang fenomenal itu. Banyak sekali tempat yang bisa dijamah baik dari sudut sejarah maupun nuansa romantis Paris.

Sayang banget. Padahal penulisnya punya banyak sekali foto-foto ciamik itu. Ni hasilstalking facebook penulisnya:






Perkenalan saya dengan penulisnya diawali dengan membaca postingannya di facebook yang berjudul “Hi, My name’s God, and I’m the gretest director in this universe” sekitar tahun 2010. Suka banget tulisan di artikel tersebut, kita diajak bagaimana mensyukuri hidup; “Peranan yang berat membuat kita bisa mensyukuri saat di masa depan atau di masa lalu kita pernah diberi peranan yang sangat menyenangkan dan mudah memainkannya. Peranan yang berat membuat kita semakin piawai memainkan skenario kehidupan tanpa mengeluh.”

Oya, saya juga suka tulisannya di artikel berjudul ‘Jodoh’ yang sangat nyambung dengan inti sari novel ini; “Jika Tuhan hanyalah makhluk biasa seperti manusia, pasti Dia akan sangat menikmati mainanyg bernama jodoh. Dia bisa menggerakkan satu manusia untuk bertemu dengan manusia lainnya. Menggerakkan seseorang untuk tersenyum, yang kemudian dibalas senyum, sehingga mereka berkenalan. Ada kalanya kita hanya berjodoh berada di suatu tempat di saat yang tepat sama, tetapi jodoh kita hanya itu, tidak ada senyuman, tidak ada sapaan, tidak ada perkenalan, bahkan mungkin kita tidak menyadari orang itu berada di tempat yang sama.Tuhan tidak menggerakkan kedua orang ini untuk bertemu. Ada kalanya kita berjodoh, berada di suatu tempat diwaktu yang sama, berkenalan, bersahabat, tetapi Tuhan hanya memberikan waktu sekian bulan atau pun tahun untuk saling mengenal.” 

Keterangan Buku:

Judul                                        : Cinderella in Paris

Penulis                                      : Sari Musdar

Editor                                       : Anin Patrajuangga & Fanti Gemala

Desainer sampul & ilustrasi       : Fanny

Penata isi                                  : Yusuf Pramono

Penerbit                                    : PT. Grasindo

Terbit                                       : 2013

Tebal                                        : 318 hlm.

ISBN                                       : 978-602-251-103-8

 

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

14 thoughts on “REVIEW Cinderella in Paris

  1. Reviewnya keren🙂 usut punya usut ini nih yang katanya penggambaran latar paris yang detail itu yaa?😀 reviewnya w-o-w banget! ada quotesnyya,gambarnya, pendapat pribadinya dan yang paling penting bisa membuat yang baca review ini jadi gereget dan makin tambah penasaran untuk baca review ini.

    Overall, nampaknya tidak ada typo yang berseliweran atau pun tercecer, rapih dan tertata, gambarnya juga bikin ngiler buat bisa benar-benar menapakkan kaki disana ;3 huwa !!!

    Terus mereview dengan baik untuk mbak luckty (^^)9 semangat ’45 hehe ikutan #GiveawayPustakawin Hope me luck🙂 ini review ke => *6

  2. Mba Luckty…. reviewnya keren abis , lengkap banget…. aku pernah ikutan Giveaway buku ini dari Goodreads tp belom beruntung… baca review Mba jadi lumayan terobati penasaranku:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s