REVIEW For Better Or Worse

“Pernahkah kamu berada dalam situasi saat kamu ingin sekali melarikan diri tanpa menoleh ke belakang sama sekali?” (hlm. 112)

Adalah July dan Martin yang telah menikah hampir sepuluh tahun. Memiliki dua buah hati yang melengkapi kebahagiaan mereka; Ernest dan Emili. Seperti keluarga muda pada umumnya, hari-hari mereka dilalui dengan kesibukan masing-masing anggotanya; sang papi yang sibuk bekerja, anak-anakyang selalu riuh ramai ketika bangun pagi untuk berangkat sekolah, dan sesekali mami ikut arisan untuk berkumpul bersama sahabatnya sekedar melepas penat rutinitas yang sama setiap harinya.

Suara malaikat mungil berambut ikal itu seperti sebuah alarm sore untuk kami semua. (hlm. 7)

Hingga badai itu datang. Martin, sang papi kena PHK. Tiga huruf yang mematikan. Tiga huruf yang paling ditakuti oleh semua orang yang berjuang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Terutama ketika kenyataan itu didapat begitu mendadak.

“Kita akan pikirkan jalan keluarnya, ya. Pasti ada jalan keluarnya.” (hlm. 52)

“Kita menjalaninya berdua, bukan kamu aja. Ini kapal kita, setidaknya kalau kamu berhenti mendayung, aku punya tenaga untuk membantu kamu.” (hlm. 52-53)

Sebulan sudah berlalu. July bisa melihat situasi keluarganya bukan berjalan ke depan, melainkan malah jalan di tempat. Masalah terbesarnya adalah tak satu pun lamaran yang dikirimkan oleh Martin ke perusahaan-perusahaan yang dia tuju mendapatkan respon yang baik. Panggilan wawancara sih, banyak, bahkan hampir setiap minggu selalu ada panggilan wawancara. Tahapannya pun kadang sudah nyaris. Beberapa kali Martin dipanggil untuk wawancara tahap kedua dan ketiga. Akan tetapi, semuanya nihil. Tidak ada satu pun yang mengabarkan bahwa Martin diterima dan bisa bekerja secepatnya. July tahu tidakada sesuatu yang instant. Mencari pekerjaan tidak seperti memilih pakaian di toko baju, yang bisa asal pilih dan coba-coba. Juli mulai merasakan dan mencium ketegangan dan keputusasaan. Martin memang tidak mengatakan bahwa dirinya putus asa, kesal atau marah. Dia hanya diam. Masalahnya, Martin tidak pernah diam. Martin yang diam bukanlah Martin yang July kenal selama sepuluh tahun ini. Martin yang diam baginya adalah sebuah pertanda buruk.

Apa yang dialami July dan Martin ini banyak terjadi di kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata. Meski saya belum menikah, saya belajar banyak dari saudara atau teman yang sudah menikah, ternyata merajut rumah tangga itu tidak gampang. Nggak cuma modal cinta. Diperlukan mental yang kuat baik lahir maupun batin. Novel ini bisa dijadikan kado pernikahan bagi teman atau saudara loh #eaaaa (‾▽‾)♥(‾⌣‾)

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. “Setiap orang patut untuk bahagia. Tapi caranya berbeda-beda. Terkadang kita memang harus melewati suatu masa atau peristiwa. Kita nggak bahagia terus-menerus.” (hlm. 82)
  2. “Dia tidak perlu merasakan apa yang orantuanya rasakan.” (hlm. 194)
  3. “Masak kita marah lama-lama sama orang yang kita sayangi?! Orang kan nggak ada yang sempurna.” (hlm. 243)
  4. “Hidup itu emang harus ada masalah, Kalau nggak, mana seru. Hidup bakal terlalu lempeng, lurus, dan rata.” (hlm. 254)
  5. “Memutuskan nggak seperti asal milih telur di pasar. Hati harus tenang, begitu juga pikiran. Pikirkan juga segala kemungkinannya.” (hlm. 269)
  6. Masa lalu bukan untuk sesuatu yang diulangi, melainkan dijadikan pelajaran. (hlm. 321)
  7. Di balik setiap kesusahan, pasti akan ada jalan. Sekecil apa pun, seperti cuaca yang panas menyengat menggila, pasti akan ditutup dengan rintik hujan yang menyejukkan. (hlm. 322)
  8. “Kita nggak akan pernah tahu apa yang ada di depan kita. Semuanya masih misteri. Kalau kita mau tahu, kita harus melewatinya dulu.” (hlm. 340)
  9. “Awan hitam nggak selalu diam di tempat. Semua akan segera berlalu.” (hlm. 340)

Keterangan Buku:

Judul                            : For Better Or Worse

Penulis                          : Christina Juzwar

Penyunting                    : Pratiwi Utami

Perancang sampul         : Arya Zendi

Ilustrasi sampul            : Shutterstock

Pemeriksa aksara         : Pritameani & Yusnida

Penata aksara               : Gabriel & 4drian

Penerbit                        : Bentang Pustaka

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 352 hlm.

ISBN                           : 978-602-7888-56-2

Ehm…dapet tanda tangan penulisnya:

Pose bersama buku ini😀

WP_20140409_023

WP_20140403_003

WP_20140403_005

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review For Better or Worse

 

20 thoughts on “REVIEW For Better Or Worse

  1. Kata Mamah, keluarga kami juga pernah ngerasain hal kayak gini. Abah sih bukan di-PHK, cuma menganggur aja, yaa… bisa dikatakan pernah menjadi orang yang dicap jadi pengangguran. Dulu, keadaan keluarga nggak sebaik sekarang, untuk makan daging goreng buat Syifa kecil aja susah, alhasil cuma dikasih asupan nasi sama ikan asin goreng dan teman sekawannya kayak sambel.

    Nggak papa sih, akibatnya malah suka banget sama sambel.

    Dan sejak banyak melamar, kadang Abah juga rada pilah-pilih, sesuai kemampuan dan kemauan. Katanya kalau nggak karena itu, ngejalaninnya bakal susah.

    Buku ini keren buat belajar kalau hidup nggak selamanya di atas, kita juga harus siap ketika menerima keadaan jatuh ke bawah. Nice review😉

  2. “Masa lalu bukan untuk sesuatu yang diulangi, melainkan dijadikan pelajaran”. Yup benar sekali, karena masa lalu adalah guru yang paling baik dan berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s