REVIEW Rakhalila

Cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi kita berhak mengejar cinta sampai dapat. Tidak ada jalan buntu dalam menjalin cinta, namun hanya ada tikungan yang harus kita lalui. (hlm. 145)

Raka Wijaya namanya, Raka biasa ia disapa. Pria semester akhir Universitas Lampung yang entah kapan lulusnya. Menyelesaikan skripsi bukan tujuan utama hidupnya. Raka memang merasa tidak nyaman dengan kuliahnya. Kuliah yang diambilnya sekarang bukan kemauannya, masuk Fakultas Pertanian adalah kemauan ayahnya, dikarenakan sang ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pertanian Lampung. Ayahnya berharap Raka mengikuti langkahnya menjadi seorang PNS. Namun apa daya, tidak ada secuilpun jiwa pertanian di hati Raka. Kuliahnya berantakan, indeks prestasinya tidaklebih dari 2,00 –sangat memprihatinkan. Jiwanya adalah sastra, ia penggemar berat Kahlil Gibran. Saat teman-teman kampusnya membaca tentang pertanian organik, ia malah asyik dengan Sayap-sayap Patah karya Kahlil Gibran. Sebab itulah ia tertinggal dalam bidang akademis dari teman-temannya. Saat teman-teman lainnya sibuk mengumpulkan laporan praktikum, ia sibuk mengisi artikel tabloid kampus dengan cerpen, puisi, dan tulisan lainnya. Kuliah hanya dijadikan sampingan dari hobinya. Impian besarnya adalah menjadi seorang penulis best seller, hidupnya setiap hari tidak pernah dilewatkan untuk menyelesaikan novelnya. Ya, novel, bukan tugas-tugas dan pelajaran kuliah, novel pertamanya adalah bentuk tanggung jawab pada orangtuanya.

Bukankah setiap anak berhak menentukan jalan hidupnya sendiri? Lalu bukannya tugas orang tua membimbing? Bukan melarang. (hlm. 82)

Berawal dari perpustakaan. Raka dan Khalila, dua insan manusia yang sama-sama rajin berkunjung ke perpustakaan kota akhirnya jatuh cinta. Tidak jadi soal jika mereka sama-sama masih sendiri. Sayangnya masing-masing telah memiliki pasangan.

Dengan langkah yang sedikit gontai karena kantuk ia berjalan di antara rak-rak buku menuju toilet, namun tiba-tiba pandangan Raka tertuju pada seorang gadis berjilbab hijau yang duduk di bangku sudut ruangan; di dekat pintu menuju toilet. Gadis tersebut tampak masih sibuk mengetikkan sesuatu ke laptopnya. Sejenak Raka terpaku. Ia merasa ada sesuatu hal tentang gadis ini, tampak familiar dimatanya. Raka terperangkap akan pesona Khalila, seolah Khalila tebar pesona di depannya, pesona yang menyapa hati Raka. (hlm. 11)

Cinta membuat Raka dan Khalila selalu saling merindukan, hati mereka seakan saling memprotes jiwa mereka saatmereka tidak bertemu. Komunikasi mereka selalu terjalin dengan baik, sesekali mereka bertemu itupun diam-diam, Raka memakluminya karena Khalila milik Alvin. Raka mencoba mendewasakan hatinya, dalam hal ini Raka cukup tahu diri akan kedekatannya dengan Khalila meskipun cinta selalu mendesak Raka mengucap namanya dan menerjemahkan maknanya, namun Raka sekuat hati menahan cintanya itu. Tidak mau ia menyakiti dan mengecewakan Icha dengan cara ini.

Kini rencana Tuhanlah yang selanjutnya akan menemukan kisah Raka dan Khalila. Apakah cinta akan menegur mereka, atau hanya sebatas mengagumi?

“Kita harus memperjuangkan untuk salah satu yang terbaik dan jaga kebaikan dari cinta lainnya untuk memotivasi kita agar lebih baik. (hlm. 133)

“Hidup tak sesederhana itu. Cinta tak selamanya memberi kebahagiaan.” (hlm. 188)

Sebuah novel yang mengangkat masalah passion dibalut dengan kisah percintaan para tokohnya. Poin lebih dari novel ini adalah mengangkat setting tempat tinggalnya yaitu Metro, lengkap dengan zona khas Metro seperti Taman Kota, Pustakardok, Masijid Taqwa, Stadion 24, SMA Negeri 2 Metro, bahkan Rumah Makan Gelompong.

Banyak kalimat tentang cinta yang bertebaran dalam novel ini:

  1. Takdir terkadang membawa kita melesat jauh dari apa yang semestinya kita pelajari. (hlm. 14)
  2. Di dunia ini nggak ada yang kebetulan. Semua ada maksudnya. Tunggu aja kejutan apa yang terjadi nanti. (hlm. 18)
  3. Hubungan jarak jauh memang cukup sulit dijalani, kepercayaan merupakan hal terpenting dalam menjalani hubungan ini, begitu pun dengan komunikasi. (hlm. 23)
  4. Cinta terlalu rumit untuk dipahami manusia manapun di jagat raya semesta ini. (hlm. 81)
  5. Semuanya terasa wajar dan normal bila cinta sudah berbicara, tanpa memandang status seseorang yang dicintai. Cinta tak pernah mengenal batasan apapun itu. (hlm. 102)
  6. Kalau emang cinta jangan takut, tapi jaga dan perjuangkan semuanya. Jodoh enggak ada yang tahu. (hlm. 112)
  7. Cinta bukan tentang saling memiliki namun bagaimana cara kita mencurahkan dan memperlakukannya. (hlm. 123)
  8. Percayalah, Tuhan tidak akan pernah memberi rasa cinta pada umatnya tanpa ada maksudnya. Cinta itu tak ada yang tak terbalas, semua hanya masalah waktu dan bagaimana cara meyakinkannya dan menyadarkan bahwa semua itu benar-benar cinta. (hlm. 143-144)

Menemukan beberapa typo, dan penjilidannya rada kurang kuat. Gak kebayang nanti kalo dipinjem banyak murid, apakah novel ini bisa awet… ( ʃ⌣ƪ)

Terlepas dari itu, novel ini layak dikoleksi. Apalagi membaca kisah perjuangan penulisnya yang tidak pantang menyerah. Tetap semangat ya, ditunggu karya berikutnya! (‘-‘)9

Yang jelas mimpi itu terwujud karena buah dari ketekunan, kegigihan dan kenekatan dalam mengambil keputusan, juga sebuah keyakinan, bermimpilah, lalu bangun dan wujudkan mimpi itu! (hlm. 288)

Keterangan Buku:

Judul                : Rakhalila

Penulis              : Galih Aditya

Owner              : Cahyo Wicaksono

Editor               : Gilang Jaka Pramana

Desain sampul  : GilangJaka Pramana & Galih Aditya

Model sampul   : Halimahtussadyah

Foto oleh          : Aditya Gumantan

Penerbit            : Alif Publishing

Terbit               : 2013

Tebal                : 332 hlm.

Beberapa murid unyu foto bareng penulisnya:

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2013/01/04/2013-indonesian-romance-reading-challenge/#comment-959

http://lustandcoffee.wordpress.com/2013-indonesian-romance-reading-challenge/

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

11 thoughts on “REVIEW Rakhalila

  1. wow, satu novel lagi yang punya banyak pelajaran buat pembacanya , sip deh😀

    kalo kurang kuat jilidnya, enaknya di gimana in ya mbak biar lebih awet?

  2. hm, aku baru tau ada penulis yang latarnya di lampung hehe *norak* ini buku pertama yang aku tahu ini juga berkat revieewnya mbak luckty😀

    setelah baca reviewnyaa buku ini banyak mengandung perjuangan untuk mendapat kebebasan dan perjalaanan penuh cintaaa :)) so sweet yaaah ^^ Aku suka dengan cara mbak luckty mengungkapkan kekurangan suatu buku namun tidak terkesan menjatuhkan😉

    Terus mereview dengan baik untuk mbak luckty (^^)9 semangat ’45 hehe ikutan #GiveawayPustakawin Hope me luck🙂 ini review ke => *26

  3. Waah settingnya Lampung ya mbak? kota tempat saya lahir 19 tahun yang lalu hehehe, tapi sekarang saya tinggal di Bengkulu dan Alhamdulillah sebentar lagi buku saya dan teman” dengan setting Bengkulu akan launching🙂

  4. waah, ini penulisnya dari lampung dan juga setting-nya di Metro? menarik nih buat dibaca sesama orang yang tinggal di lampung🙂. btw seumur-umur aku baru satu kali loh ke Metro (dalam rangka kondangan pula) dan suka dengan tatanan kota di sana: jalan dengan pinggirannya irigasi, taman kotanya. pengin main ke Metro lagi

  5. Pingback: REVIEW Diary to Sovia | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s