REVIEW Okei

Cinta selalu punya cara membuat segalanya tampak indah, mungkin begitu juga dengan indera. (hlm. 119)

Seorang wanita akan aman hanya jika ia bersikap waspada sepenuhnya.(hlm. 49)

Adalah Okei, anak dari seorang pengrajin kayu yang bermukim di Aizu –Wakamatsu. Seperti remaja pada umumnya, Okei jatuh cinta dengan seorang samurai muda yang baru pertama kali dikenalnya.

Adakalanya Okei berpikir tentang lawan jenisnya, tetapi ia hanya membayangkan bahwa kelak waktunya akan tiba bagi dirinya untuk menikah setelah ia menjadi wanita dewasa. Keluarganya memang tidak kaya, tetapi jerih payah ayahnya mencukupi kebutuhan mereka semua sekalipun pada saat-saat yang sulit. Okei selalu mengingat nasihat ayahnya; “Tak ada gunanya memandang ke atas, tak ada gunanya juga memandang ke bawah.” Okei yakin bahwa memang sudah seharusnya orang menjalani kehidupannya sesuai dengan kedudukan masing-masing.

Kemudian, datanglah samurai muda itu dan meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Memang terlalu dini untuk menganggapnya sebagai perasaan cinta; tetapi seumur hidupnya Okei belum pernah merasakan hal seperti itu.

Ksatria itu mulai memunguti kesemek dengan sigap dan menaruhnya ke dalam keranjang. Buah-buahan itu sudah matang sempurna dan siap dimakan. Tak ada seorang gadis rakyat jelata pun yang berani berbicara dengan seorang samurai, meskipun dari pangkat terendah… (hlm. 14-15)

Rakyat jelata sebelumnya tak pernah penasaran akan cara kerja pemerintahan militer yang telah memimpin mereka selama hampir 300 tahun dan mereka sendiri tak pernah tahu sampai sejauh mana kekuasaan Shogun. Selama itu semua berjalan sebagaimana adanya. Tetapi kini, setelah Shogun menyerahkan kekuasaannya kepada Kaisar Putra Langit, mereka justru merasa gelisah dibuatnya.

Jika kepemimpinan Shogun runtuh, maka kepemimpian Aizu pun akan mengalami hal yang sama. Setiap prajurit merasa terbebani atas hal tersebut; dan setiap wajah memancarkan keresahan tersebut.

Rakyat jelata memang takkan merasa malu bahkan jika mereka bersembunyi, tetapi ikatan sosial diantara penduduk kota membuat mereka sama sekali tak berpikir untuk mengungsi dalam situasi seperti itu. Prajurit, warga kota, dan petani telah hidup berdampingan selama banyak generasi di lembah ini bagaikan sebuah keluarga besar. Di luar perbedaan kelas sosial mereka, di antara samurai dan rakyat jelata telah terjalin ikatan perasaan dan tanggung jawab bersama; mereka semua terhubung satu sama lain.

Edo dan Shogun hampir tak pernah berkaitan dengan Aizu. Warga kota kecil ini menganggap dirinya sebagai anggota klan Matsudaira dari Aizu, sebuah wilayah besar dengan hasil panen beras sebanyak dua ratus delapan puluh ribu koku per tahun. Mereka tidak begitu mengetahui kepemimpinan Shogun di atas mereka, atau bagaimana hubungan penguasa mereka dengan Shogun tersebut; demikianlah memang kemerdekaan yang dinikmati oleh para penguasa feudal atau daimyo. Kakek dan nenek Okei, serta orang tua dan kakak adik mereka semuanya dilahirkan di tempat ini; mereka hidup dan mati di sini. Begitulah adanya selama beberapa generasi ini. Sulit untuk dipercaya jika ada pengaruh dari luar yang mampu membawa perubahan drastis di tempat ini. Apalagi Penguasa Aizu bukanlah daimyo biasa. Ia sangat menjunjung tinggi tradisi kuno dan ia juga berasal dari garis keturunan yang sama dengan kepemimpinan Shogun tersebut.

Dalam posisi seperti ini, bisa disimpulkan bahwa jika kepemimpinan Shogun runtuh, maka kepemimpinan Aizu pun akan mengalami nasib yang sama. Setiap prajurit merasa terbebani hal tersebut; dan setiap wajah memancarkan keresahan tersebut.

“Jika saja perang itu berlangsung dengan benar, kita tak akan kalah.”(hlm. 31)

“Kalau kita kalah, semuanya akan hancur lebur dari sisi mana pun kita melihatnya. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah berjuang untuk menang.” (hlm. 34)

Banyak pengetahuan tentang budaya Jepang yang bisa kita ketahui lewat novel ini:

  1. Seorang pria harus membuang sehelai cawatnya untuk menghindarkan kesialan selama tahun yang kurang beruntung tersebut. Berbeda halnya dengan kaum wanita; di tahun kesialan mereka, sudah menjadi kebiasaan untuk membuang sebatang tongkat peniup yang sudah terpakai. (hlm. 19)
  2. Iteki adalah sebuah istilah kuno yang dihidupkan kembali setelah kedatangan Kapal-kapal Hitam, sebagai bagian dari gerakan kinno-joi untuk membantu Kaisar dan mengusir orang asing dari negeri ini. (hlm. 113)
  3. Pedang-pedang para samurai adalah kelas yang memperoleh kehormatan dari maut di dalam pertempuran; pedang bagi mereka sama seperti istri-istri dan putri-putri mereka. (hlm. 115)
  4. Di Jepang, hubungan yang benar antara pria dan wanita harus melalui seorang perantara. Cinta yang romantis dianggap vulgar dan tidak diizinkan ada di dalam lingkungan samurai. (hlm. 116)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Memang benar, tetapi tak pantas rasanya berhenti di tengah-tengah pekerjaan yang belum selesai. (hlm. 16)
  2. “Bisnis adalah bisnis. Kita hanya sekedar mencari uang. Masa bodoh dengan urusan kepercayaan di negara antah-berantah ini.” (hlm. 97)
  3. Kesempatan adalah pengejahwantahan keinginan Tuhan. (hlm. 117)

Waktu baca anak judulnya; Kasih Tak Sampai Seorang Samurai, ekspetasi saya adalah kisah seorang samurai lengkap dengan percintaannya. Ternyata kisah samurai hanya menjadi pembuka di kehidupan Okei saat remaja. Lalu, mana kisah samurai yang kasihnya tak sampai itu?!?#GarukKepalaKarenaBingung (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’)

Terlepas dari itu, kita bisa mengambil hikmah dari kisah Okei ini. Kita juga bisa mendapat gambaran tentang Jepang pada masa itu. Selalu salut dengan penulis Jepang, bisa memasukkan unsur sejarah dalam balutan novel disertai bumbu roman.

Keterangan Buku:

Judul                            : Okei

Penulis                          : Mitsugu Saotome

Penerjemah                  : Istiani Prajoko

Penyunting                    : Fenty Nadia Luwis

Pemeriksa aksara         : Diksi Dik

Pewajah isi                   : Eri Ambardi

Penerbit                        : PT. Serambi Ilmu Semesta

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 596 hlm.

ISBN                           : 978-979-024-405-4

 

New Authors Reading Challenge 2013

http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/01/new-authors-reading-challenge-2013.html

https://luckty.wordpress.com/2013/02/12/new-authors/

13 thoughts on “REVIEW Okei

  1. tebel ya bukunya :3
    tapi kayaknya menarik nih,
    bosen gak mbak baca nya?
    soalnya kadang baca buku tebel , baru separo jalan udah bosen gegara ceritanya kurang menarik gitu

  2. Ini bisa dibilang novel zaman dahulu ya, ketika nuansa Jepangnya kerasa banget, ada cerita samurai-samurai gitu.

    Tapi kalau baca novel gini suka nggak ngeh di hati, karena walaupun genrenya romance tapi kalau settingnya zaman dahulu susah ngebayangin😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s