REVIEW Reckless

Perasaan apakah ini, yang mencabik-cabik bagian dalam dirinya bagai rasa lapar dan bahagia? Tidak mungkin ini cinta. Cinta hangat dan lembut, seperti gundukan dedaunan. Tetapi perasaan ini gelap, seperti bayangan di bawah semak beracun, dan menyerupai perasaan lapar. Sangat kelaparan. Pasti ada istilah lain untuk menggambarkan perasaan ini, karena tidak mungkin ada istilah yang sama untuk menggambarkan kehidupan dan kematian, atau bulan dan matahari. (hlm. 240)

Jacob berbalik dan pandangan matanya tertumbuk pada bayangannya sendiri. Cermin itu. Ia masih ingat benar hari ketika Ayah memasang benda itu di dinding. Cermin itu tergantung di antara rak-rak bagaikan mata yang gemerlapan, ngarai kaca yang memantulkan kembali bayangan melengkung dari segala sesuatu yang ditinggalkan John Reckless: meja tulis, pistol-pistol tua, buku-buku, dan putra sulungnya.

Kaca cermin itu tidak rata sehingga seseorang tidak bakal mengenali bayangannya sendiri, dan warnanya lebih gelap daripada cermin-cermin lain, tapi sulur-sulur mawar yang meliuk-luk di bingkai peraknya tampak begitu nyata hingga terkesan bisa layu kapan saja.

Cermin hanya akan terbuka bagi orang yang tidak bisa melihat dirinya sendiri. Jacob memejamkan mata. Ia berpaling kembali ke cermin itu. Meraba-raba dibalik bingkainya untuk mencari semacam kunci atau gerendel. Namun bayangan dirinya menatap tepat ke matanya.

Tangan Jacob tidak cukup besar untuk menutupi bayangan wajahnya yang distorsi. Tapi dinginnya kaca menempel di jari-jari Jacob seolah kaca itu selama ini menunggu jemarinya, dan tiba-tiba ruangan yang dilihatnya dalam cermin itu bukan lagi ruang kerja ayahnya. Jacob kontan berbalik.

Cahaya bulan menerobos masuk melalui dua jendela sempit dan menerpa dinding-dinding kelabu, dan kedua kakinya yang telanjang berdiri dilantai papan yang dipenuhi kulit-kulit biji dan tulang-tulang burung yang sudah digigit. Ruangan itu lebih besar daripada ruang kerja ayahnya, dan di atas kepalanya sarang laba-laba bergelantungan bagaikan tirai yang disampitkan ke kuda-kuda atap.

Di manakah ia? Jacob melangkah menghampiri salah satu jendela, cahaya bulan melukiskan pola-pola di kulitnya. Bulu-bulu burung bebercak darah tertancap di langkan yang kasar buatannya, dan jauh di bawah sana ia melihat tembok-tembok gosong serta bukit-bukit hitam dengan beberapa cahaya berkedip-kedip di kejauhan. Dan tinggi di langit yang bertabur bintang, tampak dua buah bulan, yang lebih kecil warnanya merah, semerah uang logam yang berkarat.

Jacob menoleh kembali ke cermin, dan di dalamnya ia melihat ketakutan terlukis di wajahnya. Namun, takut adalah emosi yang lama-lama ia sukai. Perasaan itu menariknya ke tempat-tempat gelap, memasuki pintu-pintu terlarang, dan menjauhi dirinya sendiri, bahkan kerinduan terhadap ayahnya bisa terlupakan dalam perasaan itu.

Jacob merasakan kaca cermin itu bagai sebongkah es ditengkuknya. Will melongok ke balik bahu, tapi cepat-cepat menundukkan kepala ketika Jacob menutup pintu ruang kerja rapat-rapat. Jacob sembrono sementara Will selalu berhati-hati. Jacob gampang naik pitam, Will lembut hati. Jacob tidak sabaran, Will kalem. Jacob menggandeng tangan adiknya. Will melihat darah dijari-jari sang kakak dan menatapnya dengan sorot mata bertanya, tapi Jacob mendorong anak itu tanpa suara ke dalam kamarnya.

Hanya ia yang boleh mengetahui apa yang tadi ditunjukkan cermin itu. Hanya dirinya sendiri. Jacob sudah pernah merasakan kehilangan ayahnya, dan dia tidak mau lagi kehilangan orang yang paling disayanginya di dunia; adiknya, Will.

Di balik cermin,

Ada dunia berisi tokoh-tokoh dongeng yang paling mengerikan…

Dalam perjalanan Jacob menyelamatkan nyawa adiknya, kita diajak menelusuri kehidupan dongeng yang familiar di telinga kita, seperti; Putri Tidur, Rapunzel, Orang Kerdil bahkan Rumah Kue.

Meski ini kisah fantasi, terlihat jelas ada pesan moral didalamnya. Bahwa perjuangan yang gigih tidaklah akan sia-sia meski nyawa taruhannya. Kisah Jacob ini representasi kehidupan kakak beradik. Betapa berartinya saudara dalam kehidupan kita.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Kekuasaan. Bagaikan anggur bila kau memilikinya. Bagaikan racun bila kau kehilangannya. (hlm. 94)
  2. Bahwa, secara keseluruhan, balas dendam bukanlah ide yang baik. (hlm. 113)
  3. “Untunglah hati seorang wanita jauh lebih welas asih daripada potongan batu yang gedabak-gedebuk di dalam dadamu itu.” (hlm. 161)
  4. Dasar lelaki. Mereka semua sama. gila atau waras, tetap saja mereka laki-laki. (hlm. 91)

Bila para Peri jatuh cinta, mereka akan mengungkapkan semua rahasia dalam tidur mereka; kau hanya tinggal mengajukan pertanyaan yang tepat. (hlm.166)

Sang Peri Gelap. Ia mengubah musuh-musuhnya menjadi anggur yang ia minum atau menjadi besi yang digunakan kekasihnya untuk membangun jembatan-jembatan. Bagi seorang Peri, ada banyak hal lain yang lebih buruk daripada kematian. Glek, hati-hati ya jika jatuh cinta dengan Peri… ┐(‾▿‾┐) (┌‾▿‾)┌

Bahwa siapa pun yang mencintai salah satu dari mereka pasti selalu menjadi gila; bahwa mereka tidak punya hati, sama seperti mereka tidak punya ayah ataupun ibu. Setidaknya bagian itu benar. Ia meletakkan tangan di dada.Tidak ada hati. Kalau begitu, dari mana cinta yang ia rasakan ini berasal? (hlm. 141)

Selain menuliskan kisah fantasi yang ciamik, ilustrasi yang juga dibuat oleh Cornelia Funke ini juga tak kalah menakjubkan. Goresan ilustrasinya rapi dan detail. Sayangnya cover versi Indonesia ini kalah kece dibandingkan cover aslinya. Gak ada cerminnya coba?!? Aaakkk…jadi pengen baca tulisan Cornelia Funke lainnya, lagi ngincer Pangeran Pencuri. Kalo serial Inkwolrd sebenarnya udah punya sih, cuma masih di timbunan…  ( ʃ⌣ƪ)

Ia juga belajar bahwa dunia ternyata tidak masuk akal dan bahwa tidak ada yang namanya akhir bahagia. (hlm. 79)

Keterangan Buku:

Judul                : Reckless

Penulis              : Cornelia Funke

Alih bahasa       : Monica Dwi Chresnayani

Editor               : Barokah Ruziati

Desain sampul  : MartinDima

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Februari 2012

Tebal                : 376 hlm.

ISBN               : 978-979-22-8008-1

Cover asli:

Cover versi lain:

14 thoughts on “REVIEW Reckless

  1. Sampul versi Indonesianya jelas nggak banget bila dibandingkan dengan versi lainnya itu. Jujur aku kurang begitu suka cerita fantasi walaupun tentu saja selalu ada pesan moral di dalamnya, karena biasanya setiap tokoh selalu merefresentasikan karakteristik dari manusia pada umumnya….

  2. Ia juga belajar bahwa dunia ternyata tidak masuk akal dan bahwa tidak ada yang namanya akhir bahagia. (hlm. 79)

    Hmm sedikit tidak setuju dgn kutipan diatas hahaha~ karena menurut saya, Tuhan tidak mungkin menutup kisah umatnya dengan tidak bahagia, walaupun terkadang buruk, tapi selalu ada hikmah di baliknya. Bukankah hikmah yang dipetik adalah salah satu jalan menuju bahagia? hehe *peace^^

  3. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Girl on Paper | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s