REVIEW Wanita-wanita Matahari

“Kau harus siap pada kenyataan yang datang padamu, cepat atau lambat.Ini hanya kesedihan kecil. Kesedihan paling dalam adalah kehilangan orang yang kau cintai, selamanya. Percayalah, kita akan bertemu lagi suatu hari. Aku pergi bukan untuk mati, tapi menjalani nasibku selanjutnya.”

Adalah Lili Kandhi. Kepergiannya ke Malang sebenarnya adalah untuk memisahkannya dari Dudita. Baik ayah maupun ibu, tak ada yang menyukainya. Ibu berkali-kali bilang padanya, kalau Dudita bukan teman yang baik untuknya. Dudita kerap mengajaknya tidak langsung pulang ke rumah. Kadang mereka nonton bioskop dulu, kadang mereka jalan-jalan ke mall atau tempat rekreasi, kadang mereka sekedar nongkrong di kafe. Dia tak pernah bisa menolak ajakan Dudita yang sangat baik padanya. Dudita berdampak buruk bagi kehidupan dan sekolah. Karena itu dia didaftarkan orangtuanya ke Pesantren Al-Falah.

“Kamu pasti akan baik-baik saja tanpa Ayah dan Ibu. Di sana temanmu banyak. Kamu pasti bisa belajar dengan tenang.” (hlm. 12)

Di pesantren itu, dia memiliki beberapa teman dekat diantaranya ada yang bernama Faha yang selalu berbicara dengan suara keras, sekalipun ia sedang berbisik-bisik. Ia selalu melucu. Ia juga sangat malas melipat pakaiannya dengan rapi. Buku-bukunya kerap berhamburan di kamar. Ia juga sangat jorok, jarang mandi. Faha tidak menutup hidung dam mulutnya saatbersin, begitu juga saat menguap. Saat makan, mulutnya berdecap-decap keras, tak jarang mengeluarkan sedikit isi ke dalam mulutnya. Seluruh sarungnyaber lubang dan robek. Ia terlalu banyak langkah dan panjang langkah. Bukan itu saja, sehabis makan, ia selalu lupa mencuci piringnya. Hingga, bekas makanan apalagi kuah kerap menimbulkan bau tak sedap di kamar. Nanti, di separuh cerita, kita bisa tahu kenapa Faha bersikap amat jorok seperti itu.

Lain halnya dengan Ganis. Dia sangat pendiam, jarang membaur dengan teman-teman. Kalaupun ia ikut berkumpul, ia lebih suka diam. Tubuh Ganis yang tinggi langsing, parasnya yang cantik dan bening, membuat kehadirannya terlihat mencolok. Ia selalu mengenakan jam tangan made in Swiss –di tangan kanannya. Ia selalu mengenakan kaus berwarna cerah dan kerudung simple dan bergaya modern. Sama sekali tidak norak. Sebaliknya, ia terlihat sangat casual. Tapi dengan gayanya yang mencolok itu, ia tampak sangat berbeda dengan kami semua. Apalagi, ia sangat pendiam. Ekspresinya terkesan tidak menghendaki siapapun mendekat padanya. Air mukanya yang dingin membuat siapa saja enggan mendekatinya.

“Kalau kau tahu, yang kuinginkan saat ini adalah mati. Setidaknya, orang yang mati tidak akan kecewa lagi. Atau, sekalipun ia mati karena kecewa, tak akan ada beban untuk menuntaskan kisahnya, karena segalanya telah dimulai dari awal.” (hlm. 95)

Kisah tiga wanita yang tumbuh dewasa mengalami problem yang berbeda. Jalan penuh liku yang musti ditempuh ketiganya. Banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapat. Segala sesuatunya pasti ada hikmah yang bisa kita petik di kemudian hari.

Beberapa kalimat favorit:

  1. “Kau kira, hidup bisa seindah yang kita inginkan?” (hlm. 165)
  2. “Tak ada yang bisa kita duga dari hidup ini. Kita hanya menyiapkan kematian kita, tapi juga kekuatan batin kita saat kita kecewa pada nasib.” (hlm. 166)
  3. “Kita memang tak boleh merasa paling menderita di dunia ini. Siapa yang membuat kita bahagia, jika bukan diri kita sendiri.” (hlm. 201)
  4. “Kemungkinan buruk akan datang kapan saja. Dan kita harus siap menghadapinya.” (hlm. 211)
  5. “Yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. Yang buruk menurut manusia belum tentu buruk di mata Allah.” (hlm. 223)
  6. “Cinta tidak mengenal ruang dan waktu. Dia akan selalu menjadi pemenang.” (hlm. 265)

Aisyah Qahar adalah novelis kelahiran Mojokerto. Alumnus Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya ini banyak menulis cerpen dan novel. Kini, ia tinggal di Malang, Jawa Timur.

Keterangan Buku:

Judul                : Wanita-wanita Matahari

Penulis              : Aisyah Qahar

Editor               : Arini Hidajati

Tata sampul      : Gobaqsodor

Tata isi             : Bambang

Pracetak           : Antini, Dwi, Yanto

Penerbit            : DIVA Press

Terbit               : 2011

Tebal                : 345 hlm.

ISBN               : 978-602-978-712-2

29 thoughts on “REVIEW Wanita-wanita Matahari

  1. suka sama kalimat
    “Kita memang tak boleh merasa paling menderita di dunia ini. Siapa yang membuat kita bahagia, jika bukan diri kita sendiri.” (hlm. 201)
    :’)

  2. “Yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. Yang buruk menurut manusia belum tentu buruk di mata Allah.” (hlm. 223)

    karena quotes tsb lahir pada halaman 223,maka dari itu kita sebagai manusia jangan selalu merasa benar ya guys:) karena apa yang kita lihat benar,sesungguhnya belum tentu di mata Allah benar;) think again!:)

  3. judulnya cantik😀 aku belum pernah baca buku yang berkisah di pesantren, dan abis baca review mba lutcky rasanya jadi pengen baca buku ini juga tapi timbunanku masih banyak T^T aku penasaran sama kisahnya Ganis, kayaknya dia misterius banget ya.. dan aku paling suka kalimat ini, “Kita memang tak boleh merasa paling menderita di dunia ini. Siapa yang membuat kita bahagia, jika bukan diri kita sendiri.” (hlm. 201)

  4. Judulnya melawan kebiasaan. Seringnya, perempuan dilambangkan sebagai bulan, tetapi di sini justru matahari. Ada maksud, tentunya. Satu hal yang kemudian menjadi satu fakta dari apa yang diuraikan di atas, bahwa manusia itu berhak menentukan hidupnya masing-masing, dan kita memang kuasa untuk itu. Hanya saja kita tidak dapat menentukan risiko yang akan di dapat. Sekali lagi, perjuangan memang tak pernah usai…

  5. Wah Mbak Luckty ngga mau spoiler akhir ceritanya aaah kan penasaran jadinya hehehe. Sepertinya itu buku lama ya, kira-kira masih ada ngga ya di toko buku atau mungkin ada e-booknya hehehe

  6. Latar belakang Pesantren sedikit menyeret rasa penasaranku. Karakter tokoh utamanya sepertinya bukan tipe cewek patuh. Saat masuk ke pesantren pun ada rasa enggan yang cukup besar yang coba dilawannya. Apalagi Dia harus bertemu orang-orang yang membuat hidupnya semakin terasa pengap. Itu sih yang bisa aku dapat dari review mbak Luckty.
    Menarik juga, apalagi judulnya yang merubah image perempuan semakin terlihat kuat dan berani karena di lambangkan dengan matahari.

  7. Dari judul dan cover novelnya, kayaknya menceritakan 3 cewek tangguh ya? *sotoy ih…

    tapi eh, di pesantren? waw, nggak biasa. menarik tuh kayaknya. grrrr… bete ih,lagi2 tersihir sama review kak luckty yang bikin penasaran pengen baca cerita lengkapnya..😀

  8. Suka banget sama kalimat :
    “Yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. Yang buruk menurut manusia belum tentu buruk di mata Allah.” (hlm. 223)
    Makasih reviewnya Luckty ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s